Monday, 16 October 2017

[REVIEW] Alamie, Mie Instan tanpa MSG


Halo, siapa nih di sini yang golongan #AntiMicin?
Hihi. Mau pro atau anti micin sih, suka-suka ya! Itu pilihan masing-masing dan memang untuk lidah yang sejak kecil telah ‘dilatih’ untuk mengecap lezatnya micin, dia tak bisa bohong kalau makanan yang diberi bumbu tambahan itu akan muncul sensasi ‘umami’nya.
Saya termasuk anak yang dibesarkan dengan micin lho! Aduh bahasanya kok ‘dibesarkan’ ya. Hihi. Maksudnya ibu saya adalah orang desa yang terbiasa masak dengan tambahan micin. Untungnya beliau bukan orang yang berlebihan untuk memberi penyedap satu ini, secukupnya dan hanya untuk menyempurnakan rasa saja, tanpa membuat lidah eneg atau ada rasa yang tertinggal setelah menyantap makanan. kecuali rasa susah move on karena masakan ibu selalu paling enak buat anak-anak dan keluarga.

Setelah ada kasus temuan zat yang mengandung babi pada salah satu merk micin, ibu saya mulai sedikit mengurangi penggunaan micin dan beralih ke bumbu kaldu. Meskipun sama saja, ada kandungan MSG-nya. Untunglah lama kelamaan beliau makin jarang menggunakan bahan-bahan itu untuk masak kecuali masak sayur bening dan saat menjamu tamu.
Setelah menikah dan tinggal di rumah mertua, baru saya temui keluarga yang sejak dulu tidak pernah menggunakan micin dan sejenisnya. Salut! Meskipun beliau tak menolak membeli makan di luar yang hampir pasti menggunakan bumbu penyedap. Namun dengan tidak menggunakan micin, risiko-nya adalah pengeluaran untuk membeli bumbu terutama bawang merah-putih menjadi lebih banyak dibanding jika memakai micin. Iya, biar masakan makin sedap pakai bawang-nya banyak.
Tapi saya dan suami (terutama) masih tetap suka mie instan, lho! Makanan satu ini selalu menjadi ‘penyelamat’ saat lapar melanda atau kehabisan makanan di malam hari, atau sekadar tamba pengen alias ngobatin keinginan makan mie instan yang sudah memuncak.
Tahu sendiri kan bagaimana kandungan bumbu mie instan yang kaya micin tapi selalu ngenganin itu. Yah, gimana lagi. Lidahnya sudah terlanjur setia sama mie instan. Meski begitu kami membatasi makan mie instan, mengusahakan agar tidak sering-sering mengkonsumsi. Kalau bisa malah cukup sebulan sekali saja, meskipun nyatanya kadang seminggu sekali/dua minggu sekali.
Suatu hari seorang teman memberi bingkisan yang di dalamnya terdapat mie instan ALAMIE, mie instan tanpa MSG.
Saya penasaran, dong! Biasanya makan mie instan ya nikmatnya karena rasa micin itu, eh ini ada mie instan tanpa micin. Kaya apa rasanya? Enak nggak ya? Hihi.
Mie ini diproduksi oleh UKM di Jogjakarta dan kebanyakan dipasarkan secara online ke seluruh wilayah Indonesia. Harganya relatif lebih mahal dibanding mie instan biasa, yaitu berkisar 4-6ribu. Sama seperti mie instan pada umumnya, memiliki varian mie instan rebus dan goreng.
Bumbu penyedapnya tidak terbuat dari MSG melainkan terbuat dari kaldu jamur. Make sense sih ya, kalau kita masak jamur tiram dan sejenisnya, tanpa diberi bumbu penyedap pun rasanya sudah seperti diberi penyedap. Sedangkan minyak bawangnya asli terbuat dari minyak yang diberi bumbu bawang.
Tak kalah unik adalah mie-nya yang beraneka warna. Warna ini dihasilkan dari campuran pewarna alami yaitu dari sayur dan buah. Selain sebagai pewarna alami, tambahan sayur/buah ini menjadi tambahan nutrisi di dalam mie. Sayur dan buah yang digunakan diantaranya buah naga, bayam merah, bayam hijau, dll.
Namun mie-nya sendiri masih terbuat dari terigu sih, masih belum gluten free. Coba ya, masukan buat produsennya untuk membuat Alamie versi gluten free agar sehat dan aman dinikmati oleh setiap orang terutama ibu hamil dan anak-anak atau untuk yang sedang diet dan menjalani program hidup sehat.
Bagaimana rasanya?
Hm... jujur waktu pertama kali mencoba, lidah tak bisa berpaling dari mie instan berMSG yang biasa dimakan. Iya, rasanya tetap ingin membandingkan dengan micin-micin itu. Apa ya? Rasanya cenderung taste less (bukan no taste loh ya). Mungkin karena saking biasanya makan mie instan yang berMSG dan rasanya cenderung asin.
Kali kedua mencoba, lidah sudah bisa mentolelir sehingga terasa lebih nikmat dan terasa kaldu jamurnya. Meskipun untuk rasa keseluruhan tetap kalah dengan yang bermicin. Wajar sih ya, namanya micin terbuat dari berbagai bahan tambahan sedangkan mia Alamie terbuat dari bahan alami. Sayangnya saya belum pernah mencoba Alamie rebus, sehingga belum bisa membedakan bagaimana rasanya.  
Tapi si Hasna yang biasanya merecoki saat ayah/bunda-nya makan mie instan pun tetap lahap makan Alamie, lho! Artinya bagi lidahnya mie ini lezat. 
Yang paling saya suka adalah tekstur mie-nya yang lembut namun tidak lembek. Jadi saat dimakan pun tidak membuat eneg. Porsinya pun tidak terlalu besar untuk saya. Kalau untuk laki-laki sepertinya harus makan 2 bungkus supaya kenyang. Hehe.
Untuk kemasannya, masih menggunakan plastik bening dengan tambahan kertas berlabel di dalamnya. Keuntungannya, kita bisa melihat mie yang berwarna-warni karena plastik bening tersebut. Namun kemasan jadi terlihat kurang eksklusif. Iya sih, karena masih produk UKM untuk cetak plastik seperti mie instan yang full color itu pasti membutuhkan biaya yang lebih besar.
Inovasinya sudah keren menurut saya. Karena ada yang peduli dengan micin dan segala bahan tambahan yang terdapat dalam mie instan sehingga membuat mie yang cukup sehat, tanpa micin dan tanpa pengawet.
Semoga sukses untuk produsen dan seluruh distributor/reseller Alamie. Semoga makin kuat bersaing dengan mie instan keluaran perusahaan raksasa yang sudah menjamur di Indonesia. Semoga juga tidak berhenti hanya pada Mie instan tapi juga merambah produk lainnya supaya masyarakat disuguhi banyak alternatif makanan sehat.
Semoga bermanfaat,
Salam,

18 comments:

  1. Aku paling gak bisa menolak mie. Tapi suka begah juga kalau makan mie terus. Wahh ada yg tanpa micin, harus nyoba nihh.. Mksh yaa reviewnya mba

    ReplyDelete
  2. Sebagai mie lovers harus coba nih...

    ReplyDelete
  3. Wah aku dah gak kuat mie instan, kadang tergoda mencicipi kalau suamiku bikin sesekali, tapi icip dikit perut langsung sakit, maagku sudah menahun soalnya, jadi jarang banget beli, kecuali mie godog masih, tergoda juga nyoba ini 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, mba vita magh- ya? moga teratasi Mba.. aku pun dulu pernah gitu alhmd sekarang nggak begitu

      Delete
  4. Anak2 aman dong ya makan mie instant ini. Kapan2 nyoba beli ah buat si kakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum Mba, lebih aman lagi kalo dia bisa bikin yang gluten free :D

      Delete
  5. Bisa jadi alternatif nih, suami paling hobi sama makanan yang namanya mi. Kemarin-kemarin khawatir aja, kan merk-merk lain vetsinnya buanyaaakk banget

    ReplyDelete
  6. Selama ini kalo masakin mie instan sih udah aku kurangi bumbunya. Jadi aku tambahkan bawang putih agar terasa enak. Kalo ada yg tanpa micin, enak juga ya gak usah nambahin bumbu sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. AKu juga gitu Mba, jadi boros bawang :P

      Delete
  7. Pernah denger merk ini tapi di sekitar saya kayaknya belum ada yang jual. Kalo misalnya ada, kapan2 mau coba juga ahh *I am noodle lover too 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba gugling di olshop mba, banyak yang jual ko :)

      Delete
  8. Waaa penasaran. Pengen cari ah di olshop, siapa tau ada yang jual :D

    ReplyDelete
  9. wah boleh nih dijadikan alternatif. terimakasih infonya :)

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam