Sunday, 15 October 2017

Pejuang itu Bernama IBU


Beberapa bulan setelah menikah, seorang kenalan memberi nasihat. "Seorang perempuan yang tidak berbakti kepada ibunya, biasanya akan luluh hati saat ia hamil, melahirkan dan mengasuh anak. Ia akan merasakan betapa beratnya perjuangan ibunya."
Beliau mengatakan begitu karena saat bertemu beliau memandangi wajah saya yang pucat dan terlihat lemas. Lalu bertanya apakah saya sedang hamil? Saya jawab belum tahu karena belum periksa, dan baru beberapa hari terlambat menstruasi. Hal yang sangat biasa buat saya terlambat mens beberapa hari, karena siklus panjang dan hampir selalu mundur beberapa hari dari jadwal bulan sebelumnya.
Benar sekali apa yang beliau sampaikan. Menjalani masa-masa kehamilan yang berat adalah perjuangan panjang bagi seorang calon ibu. Bukan menafikan mereka yang belum dikaruniai momongan, mereka pun sangat bisa merasakan perjuangan ibu dengan peran-peran dalam rumah tangga yang dipegang.

Setiap kehamilan itu istimewa. Ada yang sejak awal harus bedrest dan menjalani kehamilan dalam kondisi yang lemah, tak bisa makan, ada pula yang segar bugar hingga melahirkan. Ada yang awalnya terasa begitu berat lalu mendadak mudah, ada pula yang mudah sejak awal. Semuanya adalah anugerah yang patut disyukuri dan dijalani dengan ikhlas.
Belum lagi perjuangan untuk melahirkan dan menjadi puncak rasa sakit. Proses ini pun dialami oleh setiap orang dalam kondisi yang berbeda. Ada yang kontraksi terasa cepat dan mudah lalu begitu saja bayi telah keluar dari rahimnya bahkan saat masih di rumah. Ada pula yang mengalami si adik bayi tak bereaksi sehingga harus dipacu, ada juga yang harus menjalani proses operasi caesar demi ikhtiar keselamatan keduanya.
Lagi-lagi, semua harus disyukuri karena Allah telah memberikan segala sesuatu sesuai dengan kapasitasnya, sesuai porsinya. Tak perlu saling menghujat atau saling mencari kesalahan di luar diri sendiri. Iya, saya masih miris ketika banyak ‘kicauan’ dan memandang rendah para ibu yang (terpaksa) menjalani bedah perut alias operasi caesar untuk melahirkan anaknya. Toh semua juga terjadi atas kehendak Allah, dan manusia hanya bisa berusaha untuk mencari jalan terbaik.
Menjalani kehamilan ke dua ini, saya banyak bertemu dengan para ibu yang begitu besarnya berjuang untuk anak-anaknya.
Oia, dulu waktu melahirkan anak pertama pun saya sudah bertemu dengan salah seorang ibu super, yang terpaksa operasi caesar karena ada masalah dengan bayi kembar dalam kandungannya. Si kembar harus dikeluarkan meskipun kondisinya belum cukup sehat. Dokter mempertimbangkan hal itu untuk ikhtiar penyelamatan si kembar juga ibunya.
Setelah operasi selesai, kondisi si kembar yang belum stabil dengan berat badan relatif kecil dan organ dalam belum sempurna, mereka harus dirawat di rumah sakit yang berbeda dengan ibunya. Si ibu di kamar perawatan bersama saya, beliau operasi sehari sebelum saya masuk RS, sedangkan si kembar dirawat di RS lain yang memiliki peralatan lebih memadai.
Tiap hari si ibu yang masih terbaring itu harus memerah ASI sambil menahan perih bekas luka sayatan di perut. Belum lagi harus terganggu dengan suara jerit tangis anak saya yang cukup keras. Sesekali ayahnya menemani, atau suaminya datang menjenguk sambil mengambil persediaan ASIP (ASI Perah) dan mengabarkan kondisi si kembar. Saya mendengar kabar si kembar makin membaik pun ikut merasakan senang.
Kemarin saat kontrol ke dokter di rumah sakit, saya bertemu dengan calon ibu yang tak kalah tangguh. Usianya masih muda, 20 tahun. Ia tengah mengandung anak pertamanya dan kembar. Usia kandungan memasuki 35 pekan namun kondisi bayi ternyata kurang baik karena berat badannya turun. Kondisi ibunya pun tak jauh berbeda, tekanan darahnya terus-terusan naik dari pekan ke pekan.
Dokter memutuskan untuk segera melakukan tindakan. Hari itu juga ia harus opname untuk memperbaiki pola dan asupan makanan, dan hari Ahad (hari ini) dijadwalkan operasi SC. Semoga operasinya berjalan lancar dan semuanya selamat. Kami bertemu dua kali di ruang tunggu RS tapi belum sempat bertukar nomor telepon.
Ada juga calon ibu yang sedang hamil anak kelima, dan semua anaknya lahir normal. MasyaAllah... betapa besar perjuangan dan karunia yang diberikanNya.   
Selain mereka, saya bertemu juga dengan beberapa ibu yang sedang menjalani program hamil (promil). Ah, perjuangan mereka pun sangat layak untuk diapresiasi. Tak sedikit biaya yang harus  dikeluarkan untuk konsultasi dan membeli obat. Belum lagi jika menjalani program lain dengan biaya puluhan bahkan ratusan juta.
Pernah suatu hari saat membeli air kelapa muda, bertemu dengan seorang ibu hamil. Sambil menunggu kami pun ngobrol ringan dan saling bertanya usia kehamilan. Tanpa diminta, beliau pun bercerita betapa perjuangannya untuk bisa mendapatkan momongan. Juga tentang adik iparnya yang harus mengeluarkan dana ratusan juta demi menjalani berbagai program yang disarankan oleh dokter.
Subhanallah... maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dusatakan?
Jika hamil itu berat dan melahirkan pun sakitnya lebih berat, mengapa banyak ibu yang ingin hamil dan hamil lagi setelahnya?
Karena hamil-melahirkan-menyusui adalah fitrah perempuan. Juga ibadah berat yang tak mudah dijalani namun jika berhasil maka pahala Allah menanti.
Tentu, tak cukup sampai di sini, perjuangan seorang ibu masih panjang. Ibu yang full di rumah dan 24 jam nonstop disibukkan dengan urusan rumah tangga, maupun ibu bekerja yang membantu suami dan tak berlepas dari anak-anaknya. Setiap orang memiliki kapasitas masing-masing yang berbeda.
Semangat berjuang, Ibu. Engkau berlelah hari ini, insyaAllah akan memetik hasilnya saat anakmu besar kelak.  Yang belum hamil semoga disegerakan dan Allah berikan di waktu yang paling tepat. Yang sedang hamil semoga senantiasa diberi kesehatan dan melahirkan dengan mudah lancar serta selamat semuanya. Yang telah melahirkan semoga dimudahkan menyusui dan juga selalu diberi kesehatan. Yang bekerja maupun di rumah, semoga senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah. Aamiin...
*hanya sebuah pengingat terutama untuk diri sendiri
Semoga bermanfaat,

Salam, 

8 comments:

  1. Aku juga pengen punya anak lagi. Senang lihat mereka tumbuh, berceloteh, :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... semoga diijabah ALlah, Mba Nisa :*

      Delete
  2. Beratnya perjuangan seorang ibu sama sekali gak kerasa pas melihat mereka tumbuh. Dulu pas punya anak pertama saya kapok punya anak lagi, tahu-tahu sampe 7 kali melahirkanšŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaALlah... 7 kali :* Tabarakallah Mba..

      Delete
  3. Saya saat ini lagi hamil, mbak. Bener banget...jadi keinget mama. "mama dulu gini juga gak ya? Mama dulu ngidam apa ya?" pokoknya jadi terus inget kehebatan mama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga dimudahlancarkan hamil dan melahirkannya ya Mba.. :* Salam buat mamahnya

      Delete
  4. Kalo lihat baby tuh pengen punya lagi, hihii... San bener sih, aku dekat sama ibu sejak hamil. Dulunya kan jaman gadis dekat sama bapak aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi. nanti tinggal gendong cucu Mba.. :*

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam