Friday, 3 June 2016

Jangan Sepelekan Gigi Berlubang (Pengalaman Periksa Gigi di Puskesmas Tlogosari Kulon Semarang)

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum, Temans.
Sebentar lagi memasuki bulan ramadhan, maafkan segala kesalahan saya ya! Semoga kita bisa menjalankan ibadah di bulan ramadhan dengan sebaik-baiknya. Aamiin..
Salah satu hal yang menjadi masalah saat puasa adalah bau mulut. Penyebab bau mulut bisa karena banyak faktor yang bermasalah di sekitar rongga mulut hingga tenggorokan. Gigi berlubang, sisa makanan di lidah, sisa makanan di gigi, dll. Problem yang paling umum biasanya masalah gigi berlubang.
Inilah yang saya alami sejak beberapa waktu yang lalu, saya tidak ingat kapan tepatnya tapi masih ingat suatu hari saat makan jambu biji tiba-tiba terasa nyeri di gigi geraham kiri bawah bagian tengah. Setelah kulihat ternyata ada sebutir biji jambu nyangkut di sana. Hff... gigi berlubang nih... batinku waktu itu mulai khawatir. Selanjutnya, tidak langsung kuperiksakan karena masih bisa kugunakan untuk makan dengan normal. Sesekali memang ada sisa makanan yang tertinggal di sana tetapi dengan mudah bisa dicungkil menggunakan tusuk gigi.
Saya jarang sikat gigi?

Tidak juga, terbilang rajin sikat gigi pagi dan malam. Mungkin sesekali terlupa saat terlalu capek dan tidur (dulu) saat menidurkan si-kecil. Niatan untuk periksa gigi selalu kutepis sendiri. Lama-kelamaan lubang di gigi makin membesar dan mulai susah digunakan untuk mengunyah. Walhasil, mengunyah makanan selalu dengan gigi bagian kanan. Bisa ditebak, gigi bagian kiri jadi kotor dan muncul karies.
Pernah bertanya-tanya ke teman yang seorang dokter gigi tentang perawatan gigi berlubang dan biayanya. Hm.. kata beliau sekitar 300 – 500 ribu. Hm.. masih prioritas yang lain dulu kalau biayanya sebesar itu.
Suatu hari adik cerita kalau dia periksa gigi ke puskesmas dan biayanya murah (oia, kami tidak eh belum mendaftar BPJS). Langsung terpikir untuk periksa gigi juga di puskesmas dekat rumah yang jaraknya hanya sepelemparan batu. Tapi berbagai aktivitas dan tidak ada yang jaga si-kecil akhirnya terlupakan. Hingga pekan kemarin saat Hasna periksa ke puskesmas (yang akirnya harus periksa ke dokter bedah di R.S Roemani), saya ikut mendaftar untuk periksa gigi


Puksesmas Tlogosari Kulon
Registrasi dengan Kartu Keluarga
Kami datang ke puskesmas hari senin sekitar pukul 9 pagi. Pengunjung yang masih antri dan duduk di ruang tunggu cukup banyak, kebetulan kulihat di papan pengumuman hari Senin adalah salah satu jadwal periksa kehamilan dan anak. Kalau tidak salah ingat, saya pernah 2 kali datang ke puskesmas itu, yang pertama untuk periksa radang tenggorokan dan kedua kalinya untuk imuninasi Hasna. Petugas yang menjaga di loket pendaftaran terkesan kurang ramah, tapi cuek saja lah, mungkin beliau lelah setiap hari berurusan dengan pasien dengan aneka keluhan dan masalah.
Beliau bilang kalau sudah pernah periksa ke puskesmas, apalagi rumahnya di Tlogosari Kulon harusnya sudah punya kartu berobat. Kujawab bahwa waktu periksa dulu hanya diminta KTP dan diberi kertas pasien lalu antri di depan ruang periksa. Meski bapaknya tetap ngeyel, begitulah kenyataannya. Bahkan masih kuingat juga ekspresi beliau dulu waktu saya akan imunisasi. Datang, tanya ke loket dan dijawab dengan nada ketus setengah membentak (eh, maaf.. bukan bermaksud.. sepertinya memang nada bicara beliau begitu) ditanya keperluan apa, lalu diberi kertas untuk dibawa ke ruang KIA.
Beliau menanyakan KK, ya jelas kami tidak bawa lah! Hehe. Akhirnya registrasi menggunakan KTP kami berdua dan mendapatkan kartu periksa berupa kertas kecil warna pink. “Jangan lupa setiap berobat kartu ini dibawa!” kata beliau mengingatkan.
Ruang pendaftaran di puskesmas Tlogosari Kulon
Periksa Gigi
Setelah menerima kartu pasien dan menyerahkan ke ruang arsip, saya antri di depan ruang periksa gigi. Sekitar 30 menit nama saya dipanggil langsung oleh seseorang. Masuk ke ruangan itu, ternyata cukup nyaman. Ada meja dan kursi dokter (eh, ternyata yang memanggil tadi langsung dokternya!), dua set perelatan periksa gigi, wastafel, dan rak serta lemari kaca di sekelilingnya untuk menyimpan berbagai perlengkapan.
“Kenapa giginya, Bu?” tanya dokter dengan ramah. Wow! Rasanya senang sekali mendengar pertanyaan beliau yang super ramah dan bersahabat.
Setelah bertanya sedikit, beliau memintaku naik ke kursi periksa.  Tidak ada masalah, semuanya bagus, kata beliau. Setelah kukatakan ada gigi berlubang di geraham kiri bawah beliau pun memeriksa lagi dan menemukannya.
“Lubang kecil saja ko Bu.. sakit kalau buat makan?” saya mengiyakan dan beliau mengambil alat untuk mengebor gigi.
“Wah, ternyata di dalam sudah besar lubangnya!”
Gubrak! Rasanya seperti tidak percaya begitu selesai di bor kudekatkan ujung lidah ke gigi itu dan memang ada lubang yang menganga besar di sana. Duuuh!! Terlambat sekali periksa giginya.
“Kalau repot nggak ada yang jaga sikecil, boleh ko Bu dibawa ke sini, ikut masuk nanti duduk di kursi,” saran beliau yang sebelumnya menyayangkan kenapa saya baru periksa dan kujawab tidak ada yang menjaga sikecil yang aktif. Tentu, tak perlu kuceritakan pada beliau betapa si-kecil akan mengeksplorasi ruangan itu jika dia ikut masuk.
Peralatan Periksa Gigi
Setelah di bor, beliau membersihkannya dengan mencungkil kotoran-kotoran yang masih tersisa di dalamnya. Terakhir, menempelkan ‘sesuatu’ yang terasa dingin.
“Sudah saya tambal ya..”
What?! Dasar saya awam sekali kalau urusan gigi, sampai tidak tahu kalau yang terakhir beliau tempelkan dan terasa dingin adalah ‘adonan’ untuk menambal gigi sementara. Tidak ada 10 menit lho, prosesnya. Dokter gigi Any (kulihat dari bagde nama di dadanya) bekerja dengan cepat dan cermat. Keren deh, ibu!
Setelah itu saya harus membayar ke kasir sebesar Rp. 20.000 lalu kembali lagi ke ruangan periksa gigi untuk menyerahkan nota dokter dan menerima resep, dibekali antibiotik tapi tidak kuminum karena tidak terasa nyeri.
“Seminggu lagi kontrol ya Bu..” kata dokter Any lagi.
Kontrol Tambalan Gigi
Seminggu setelahnya, karena sudah berpengalaman di hari sebelumnya saat periksa gigi, tak ada kendala berarti saat akan kontrol. Kami datang pukul 11 siang, karena sebelumnya di rumah crowded sekali. Oia, saya ditemani adik yang akan momong Hasna selama bundanya diperiksa.
dokter Any di ruang kerjanya
Setelah dipanggil dan masuk ke ruang periksa lalu melewati prosedur seperti biasa, dokter Any segera menyiapkan peralatan. Tapi, ternyata beliau dengan nada cukup tinggi menanyakan kenapa datangnya siang, hari itu banyak sekali pasien bermasalah, kata beliau.
Dalam hati jadi merasa tidak enak atas kejadian itu (yeah! Meskipun kalau melihat di jadwal puskesmas melayani hingga pukul 13.00, mungkin dokter Any juga punya tugas lain yang harus diselesaikan).
“lain kali kalau periksa pagi saja ya, Bu. Dari Senin – Sabtu bisa, tapi ya itu.. pagi!” katanya masih dengan nada kesal.
dokter gigi Any yang ramah
Ow! Ternyata tambalan sementaranya harus dibor lagi, dibersihkan, baru diberi tambalan baru yang permanen. Rasanya waktu dibor yang ke dua ini lebih ngilu dibanding yang pertama. Setelah selesai, lagi-lagi beliau bekerja dengan singkat dan cermat sehingga tidak memakan waktu lama, saya diminta membayar ke kasir. Kali ini biayanya Rp. 30.000.
“Jangan makan dulu sebelum dua jam ya Bu, setelah itu tidak apa-apa.”
“Baik, Bu.” Dan saya pun masih menanyakan beberapa hal terkait perawatan gigi.
Terakhir, saat berterimakasih dan meminta maaf (lagi) karena datang siang, dokter Any menjawab dengan ramah dan ceria. Lega, artinya beliau tadi kesal hanya karena capek banyak pasien, bukan karena beliau ketus dengan pasien yang periksa di puskesmas. Setidaknya, selain dokter Any ada juga bidan yang bertugas posyandu di RW yang tak kalah ramah juga.
Semoga lebih banyak petugas seperti mereka yang ramah dan melayani pasien dengan tulus. Periksa saat sedang sakit lalu diterima dengan ketus itu rasanya lebih sakit dari sakit yang sedang diderita, lho... meskipun memang pekerjaan dokter dan perawat juga menumpuk dan bikin capek. Hihi, jadi serba salah ya! Intinya nggak boleh baper aja mungkin.
Klinik KIA lebih bagus dari sebelumnya
Penyebab Gigi Berlubang
Saya dulu tahunya gigi berlubang (hanya) disebabkan oleh bakteri, karena kebiasaan sikat gigi yang tidak benar, dan makanan manis seperti permen. Ternyata ada banyak penyebabnya yaitu:

Bakteri
Bakteri penyebab gigi berlubang sulit untuk dihilangkan karena mereka sangat mirip dengan bakteri berbahaya lainnya yang hidup di rongga mulut. Adapun jenis bakteri penyebab gigi berlubang antara lain adalah :
·         Bakteri Lactobacillus acidophilus. Bakteri ini biasanya hidup dipermukaan gigi yang dapat menyebabkan kerusakan gigi seperti gigi berlubang pada anak-anak usia 3 hingga 12 tahun.
·         Enam spesies bakteri streptokokus. Bakteri ini menyerang permukaan halus di sisi gigi, yaitu sisi yang biasanya menyentuh gigi yang berdekatan. Lubang gigi yang timbul pada sisi ini sulit untuk terdeteksi secara visual dan biasanya dapat dideteksi dengan menggunakan sinar-x.
·         Bakteri Odontomyces viscoses. Bakteri ini hidup di belakang lidah dan menyerang daerah sementum. Sementum adalah lapisan luar yang keras dari akar gigi (bagian bawah dua pertiga dari gigi yang biasanya dikubur di tulang gigi). Akar gigi dan sementum akan terbuka dan lebih rentan terhadap serangan bakteri ini, terutama pada pasien yang telah berusia lanjut atau pada pasien dengan penyakit gusi.
(sumber: halodokter.com)

Timbulnya Plak pada Gigi
Plak adalah lapisan tipis (biofilm) lengket yang melapisi gigi yang mengandung mikroorganisme yang baik maupun jahat yang bergabung dengan sisa-sisa makanan. Plak terbentuk dengan tekstur agak kasar yang terlihat pada gigi belakang terutama di dekat dengan gusi. Jika plak terus menumpuk, maka hal tersebut dapat menyebabkan karang gigi. (halodokter.com)
Nah, sepertinya ini juga yang terjadi pada saya karena sejak dulu punya masalah dengan plak. Saat SD dan ada mahasiswa UGM KKN di desa saya, gigiku waktu itu kuning seperti jagung buluk. Alhamdulillah ada salah satu mahasiswa kedokteran gigi yang berbaik hati membersihkan karang gigiku sehingga menjadi putih bersih.
Baca kisahnya dalam Senyum Dokter Kecil.

Pola Makan
Pola makan yang tidak baik seperti terlalu banyak makanan manis dan mengandung karbohidrat tinggi akan lebih banyak memicu gigi berlubang.

Kebersihan mulut yang buruk
Sering lupa menggosok gigi sebelum tidur? Kebiasaan buruk ini bisa menjadi penyebab gigi berlubang juga karena memicu timbulnya bakteri dari sisa-sisa makanan yang masih melekat di sela-sela gigi.
Bahkan dalam hadits nabi pun  ada perintah untuk menjaga kebersihan mulut dengan bersiwak. Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka bersiwak  setiap hendak menunaikan shalat.” (HR. Bukhari)
Merokok

Mengkonsumsi alkohol

Mulut kering
Mulut kering disebabkan karena produksi air liur yang rendah. MasyaAllah, ternyata air liur pun manfaatnya banyak ya. Bisa diatasi dengan memperbanyak minum air putih nih.

Kebiasaan ngemil
Aw! Ini sih saya banget yang tidak bisa tidak ngemil. Bahkan kalau mau belajar, baca buku, atau ngetik sekalipun yang dibawa adalah camilan. Padahal, ngemil terutama yang mengandung zat asam akan menyebabkan gigi berlubang juga.

Gusi surut
Baru tahu ternyata gusi surut bisa memicu kerusakan gigi. Hm.. sudah lama beberapa gigi saya menjadi sensitif saat mengkonsumsi yang manis atau es, ternyata gusinya seperti ‘terangkat’ ke atas dan bagian akar gigi sedikit terlihat. Pantas saja saya jadi punya masalah dengan gigi.

Cara menyikat gigi yang tidak benar
Cara menyikat gigi yang benar adalah dari atas ke bawah, bukan dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Kalau yang ini pasti sudah paham dan mahir ya, temans. J
Fyuh.. ternyata setelah membaca penyebab-penyebab itu, tidak hanya tiga yang ada di gigi saya. Hm.. semoga setelah ini bisa ‘tobat’ dan makin rajin menjaga kebersihan gigi dan mulut. Aamiin..
Mengatasi Gigi Berlubang Secara Alami
Gara-gara sakit karena gigi berlubang inilah akhirnya tanya-tanya sama mbah gugel seputar mengatasinya. Ternyata ada beberapa bahan alami yang bisa mengobati gigi berlubang, yaitu:

Jeruk Nipis
Caranya, siapkan 1 butir jeruk nipis lalu peras airnya. Teteskan sedikit demi sedikit ke gigi yang berlubang setiap 10 menit. Lakukan sampai air habis. Kandungan vitamin C dalam jeruk nipis lah yang akan membantu mengobati sakit gigi.
Garam
Caranya, larutkan satu sendok garam ke dalam segelas air lalu gunakan untuk berkumur. Larutan garam seperti ini juga bisa mengatasi sariawan, lho.
Belimbing Wuluh
Punya pohon belimbing wuluh di depan rumah dan buahnya melimpah? Hm.. selain menambah segar sayur asam atau pepes (aduh, mendadak lapar nih) bisa juga digunakan untuk mengatasi sakit gigi. Caranya, ambil belimbing wuluh lalu cuci bersih. Setelah itu dimakan dengan tambahan garam untuk mengurangi rasa asamnya. Kunyah dengan menggunakan gigi yang sakit. Aw! Saya malah terbayang ngilunya.

Minyak Cengkih
Atau kita kenal dengan cengkeh. Caranya, teteskan minyak cengkeh ke dalam kapas, lalu tempelkan pada gigi yang berlubang. Selain itu, bisa juga dengan diteteskan ke dalam segelas air lalu gunakan untuk berkumur. Minyak cengkeh mengandung anti inflamasi, anti oksidan, anti bakteri dan sifat anestesi.
Bawah Putih
Bawang putih mengandung antibiotik yang tinggi. Caranya, ambil 1 sinung bawang putih, kupas dan cuci sampai bersih. Tumbuk sampai halus dengan tambahan garam lalu oleskan pada gigi yang sakit.
Bawang Merah
Caranya dengan mengunyah langsung bawang merah. Jika tidak kuat dengan rasa pedanya, bisa dengan menggosokkannya ke gigi yang sakit
Daun Jambu Biji
Caranya dengan mengunyah beberapa lembar daun biji jambu lalu gosokkan pada gigi yang sakit.
Lada atau Merica
Caranya dengan mencampurkan lada atau merica tumbuk dengan garam dalam jumlah yang sama sampai membentuk pasta. Setelah itu oleskan pada gigi.
Biji Asam Jawa
Sangrai biji asam jawa lalu tumbuk halus. Setelah itu, oleskan pada gigi
Rupanya, beberapa tips yang ada di kesehatangigi.blogspot.co.id ini sangat populer di kampungku seperti garam, minyak cengkih, bawang putih, biji asam jawa, dan jeruk nipis. Well, saya hanya pernah mencoba beberapa diantaranya.
Semoga bermanfaat, ya temans.
Salam,

Sumber:
www.halodokter.com
www.kesehatangigi.blogspot.com


21 comments:

  1. Harus dijaga kebersihan gigi dan mulutnya ya, karena semuanya makanan masuk ke mulut juga, harusnya kalau kata dokter periksa gigi rutin tiap 6 bulan sekali, saya paling2 ke dokter gigi bersihin karang gigi dah 2x, sama cabut gigi bungsu 4x hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget Mba..
      Kadang suka kurang aware sama urusan gigi

      Delete
  2. Saya juga baru saja ngobrak-abrik gigi yang berlubang.
    Konon gigi berlubang yang dibiarkan bisa berefek ke jantung
    Saya memanfaatkan BPJS, murah meriah.
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam, Pakdhe..

      Alhamdulillah kalau tercover bpjs ya pakdhe

      Delete
  3. Mba, aku lupa nih belum balik lagi. Dah seminggu lebih. Aduuuuh, tar pas balik diomelin deh pasti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi. Ayo Mba balik lagi mumpung belum puasa ^^

      Delete
  4. Aku juga bermasalah dengan gigi dari kecil. Banyak lubang dan plak. Dulu waktu SD ibuku rajin bawa ke puskesmas untuk ditambal, sekarang udah tua kubiarkan aja nih lubangnya hihi.

    Btw, bagus ya puskesmas tlogosari :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, puskesmasnya ada rawat inap juga

      Delete
  5. Aku aja kapok ngebiarin gigi berlubang..hasilnya patah dan harus operasi gigi, setelah itu masih ada efeknya yaitu Dry Socket yang bikin demam, sakit kepala, nyeri campur aduk. Sekarang lebih rajin deh..merawat gigi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba.. Masih ingat cerita mba ika beberapa waktu yg lalu

      Delete
  6. Satu Gigi saya sudah hampir habis kayak keropos (bukan berlubang), tapi belum tergerak untuk ke dokter Gigi hikz

    Di puskesmas jauh lebih murah ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mba diperiksain sebelum menjalar.
      Betul di puskesmas lbh murah :)

      Delete
  7. Hampir 6 bulan dikasih tau dokter gigi kalau ada gigi berlubang. Begitu nanya ke admin, biaya tambal, hmmm... nggak jadi deh.
    Mau ke puskemas, masih takut. Ada trauma di puskemas. Huhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba ke puskesmas lain kalo bisa.. ^^


      Iya, aku kan jg dl takut sama biaya tambal gigi di dentist. Hehe

      Delete
  8. Dulu, gigi saya berlubang yang berlubang berhasil ditambal. Tapi, tidak sampai 2 tahun, sekitar tambalannya jadi berlubang sampai akhirnya tambalannya hilang dan giginya jadi keropos. *Efek usia atau karena faktor lain, ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu diperiksakan lagi mungkin Pak Irham.. :)

      Delete
  9. pernah dulu wkt kuliah pernah dines di puskes,,,tapi waktu tamat aku kerja di praktek dokter gigi, jd gk tau gimana rasanya periksa atau cabut gigi di puskes

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malah langsung ke dokter giginya di klinik dong Mba.. :)

      Delete
  10. kalau tidak ada BPJS mbak murah juga? ane mau cabut gigi ni ngk usah di tambal

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam