Thursday, 24 September 2015

Belajar dari Ibrahim


Idul Adha, salah satu perhelatan di bulan haram saat umat islam dari seluruh dunia berkumpul menunaikan satu kewajiban, berhaji ke Baitullah.
 
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat musim haji selalu muncul rasa senang melihat saudara-saudara yang mendapat panggilan kesana. Ada juga rasa iri, kapan giliranku, Yaa Rabb... sembari tak henti berdo’a agar diberi kesempatan untuk menunaikan rukun islam ke lima itu. 

Idul adha kali ini, keluarga kecil kami belum bisa menunaikan ibadah qurban. Uuh.. malu rasanya dengan mereka yang bisa berqurban setiap tahun dengan berbagai usaha. Semoga pahala dari hewan qurban yang dikeluarkan adik ipar dan bapak mertua tahun ini terciprat juga untuk kami. Semoga tahun-tahun berikutnya kami bisa beribadah dengan segala keutamaannya. Aamiin.. 

Menunggu disembelih

Idul Adha, hari raya yang maknanya begitu besar, tentang pengorbanan, tentang keikhlasan, tentang perjuangan dan tentang tawakkal kepada Allah. Ah, merinding tubuh ini kala mengingat kisah perjalanan Ibrahim. Ibrahim yang seorang anak tukang patung tapi mencari kebenaran hakiki dan akhirnya dengan bimbingan Allah menegakkan tauhid.
Tentang perjuangan, betapa Hajar yang ditinggalkan hanya bersama bayi Ismail di tengah gurun harus berlarian menuju bukit shafa dan marwa untuk mencari air, dan Allah memberikan kuasaNya saat Hajar sampai pada titik dimana dia tak mampu lagi mencari. Allah semburkan mata air di dekat kaki kecil Ismail. Allahu akbar!

Beliau orang yang kekayaannya melebihi orang-orang di sekitarnya. Unta, domba dan binatang ternak lainnya jumlahnya ribuan. Namun saat ditanya oleh syetan yang meragukan gelar ‘khalilullah_kekasih Allah’ yang disematkan kepadanya. Beliau menjawab bahwa semua harta, binatang ternak dan semua yang dimilikinya adalah titipan Allah yang Ia berhak mengambilnya kapan saja. Bahkan jika Allah mengambil anaknya, Ismail pun akan diberikan. Maa syaa Allah... betapa ia adalah orang yang selalu menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah.

Hingga akhirnya Allah memerintahkannya untuk menyembelih Ismail, putra kesayangan hasil penantian selama puluhan tahun. Sami’na wa atha’na, begitulah Ibrahim menerima perintah Allah.
Mungkin selama ini kita (eh, saya) terlalu manja, dan terlalu malas untuk beribadah lebih banyak dari yang dipikirkan. Jika mendengar kisah-kisah perjuangan rasulullah, sahabat-sahabiyah terdahulu, para nabi dan rasul di zamannya... maa syaa Allah... hanya bisa menutup muka rapat-rapat karena tak ada seujung kukunya pun.

Mendengar khutbah idu adha tadi pagi, saya berlinang air mata. Betapa tidak? Khatib mengingatkan tentang ketaqwaan kita kepada Allah dengan Ibrahim sebagai teladannya. Tak lupa beliau menyampaikan bela sungkawa kepada syahid-syahidah di masjidil haram khususnya yang wafat dalam tragedi crane. Bahkan baru beberapa jam terakhir layar kaca dan media sosial didominasi berita seputar musibah di Mina, ratusan jama’ah haji meninggal karena berdesak-desakan. Subhanallah... Englaulah yang mengatur semuanya, Rabb... termasuk kapan dan di mana hamba-hambaMu kau panggil. Ditengah banyaknya musibah dalam ibadah haji tahun ini semoga mereka menjadi haji mabrur dan menjadi syahid di sisi Allah. Aamiin.. Saya pun berfikir, jika suatu saat Allah memanggil sudah siapkah? Astaghfirullah...

Sebuah lagu nasyid lawas tiba-tiba berdendang di otak saya, yang membuat air mata makin menderas mengalir.  

Belajar Dari Ibrahim (Nasyid by Snada)
Sering kita merasa taqwa
Tanpa sadar terjebak rasa
Dengan sengaja mencuri-curi
Diam-diam ingkar hati

Pada Allah mengaku cinta
Walau pada kenyataannya
Pada harta, pada dunia
Tunduk seraya menghamba

Reff:
Belajar dari Ibrahim
Belajar taqwa kepada Allah
2x
Belajar dari Ibrahim
Belajar untuk mencintai Allah

Malu pada Bapak para Anbiya
Patuh dan taat pada Allah semata
Tanpa pernah mengumbar kata-kata
Jalankan perintah tiada banyak bicara

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam