Tuesday, 30 January 2018

Menata Kembali Resolusi 2018



Bismillahirrahmanirrahim,
Penghujung Januari, saya malah ingin merevisi beberapa resolusi 2018 yang sudah sebagian saya tuliskan. Kebetulan juga sesuai dengan tema #ArisanGandjelRel yang diadakan oleh komunitas Blogger Gandjel Rel kesayangan. Kali ini yang dapat arisan adalah si Mbak kantoran Lestari yang akrab disapa Taro dan yang sering bikin envy sama kisah jalan-jalannya.
Pertama, Menyiapkan diri dan mental untuk hidup merantau di luar pulau

Iyes! Saya berencana untuk pindah mengikuti suami yang ditugaskan di Bali. Ini sebenarnya kejutan di pertengahan bulan Januari. kejutan yang membuat saya bengong, speechless antara percaya dan tidak. ya, selama ini selalu berdoa jika suami mendapatkan pekerjaan lain, semoga cukup di Jawa syukur bisa di Jateng supaya lebih dekat dengan orangtua. Namun ternyata takdir berkata lain.
Maka PR saya adalah untuk menyiapkan diri saya yang belum pernah merantau jauh dari keluarga apalagi sampai luar pulau. Apalah kalau dibandingkan antara Wonosobo – Semarang, yakan?. 
Tak hanya menyiapkan diri sendiri, saya juga harus memikirkan masak-masak mengenai dua balita yang harus kami bawa serta. Sebenarnya anak-anak adalah penghibur sepi bagi kakek neneknya di Semarang. Namun tak tega jika kami menitipkan si kakak yang aktif kepada Mbahnya, apalagi tanggung jawab pendidikannya adalah di tangan kami. Mohon doanya semoga kami bisa bersabar dengan Hasna dan Hasna pun bisa menemukan ritme yang lebih nyaman buat semua. Aamiin...
Sebenarnya, membayangkan merantau bersama dua balita dan suami yang bekerja dari pagi sampai petang sudah membuat saya ketar-ketir. Namun, sebagai istri tentunya (jika memungkinkan) membersamai suami itu lebih utama. Dan lagi, saya melihat teman-teman saya yang memiliki anak lebih dari 2 pun bisa sukses mendidik anak-anaknya di perantauan. Tentu bukan hal yang mudah, namun semua ada masanya dan badai pasti berlalu. Aamiin...
Kedua, saya harus belajar gaya hidup minimalis
Saya termasuk orang yang sering merasa sayang ketika akan membuang barang-barang tertentu apalagi yang saya anggap memiliki kenangan. Alasan yang sentimentil! Namun begitulah kebanyakan perempuan (((nyari pembenaran))).
Ingin beres-beres kamar ala konmari, saya belum sanggup. Huhu... T.T ya gimana dong, ada kertas cantik alias paper doily saat dapat nasi kotak aja senangnya minta ampun dan kalau masih bersih buru-buru mengamankan untuk props foto-foto. Nahloh! Maafkan mamak yang sedang demen ngoleksi printilan foto dari barang bekas, ya karena kalau mau semuanya beli modalnya gede, Buk! Untuk urusan hobi fotografi, sepertinya harus dimulai dari nol lagi karena belum tentu memungkinkan membawa semua props itu.
Yang jadi PR adalah buku-buku anak yang nggak mungkin minimalis banget. Yeah, padahal koleksi buku anak juga belum banyak-banyak amat, tapi lumayanlah punya beberapa meskipun belum punya set buku anak yang keren-keren itu. Hihi.
So, mulai hidup minimalisnya dari urusan sandang dan papan. Nyari rumah kontrakan yang mungil aja (ini sih sebenarnya alasan ekonomis juga. ahahahah). Trus punya perabotan rumah secukupnya dan seperlunya saja supaya saat harus pindahan lagi tidak terlalu ribet memindahkan seabrek isi rumah.
Untuk pakaian, sepertinya harus meniru Om Mark yang punya selemari baju tapi warna dan modelnya sama. Hihi. Ya nggak gitu juga kali ya, tapi benar-benar diminimalkan pakaiannya. Mungkin hanya membawa pakaian rumahan dan pakaian warna netral untuk bepergian serta sarimbit batik dan setelan kebaya untuk persiapan jika di sana ada acara formal yang butuh busana nasional.
Tapi, saya masih bingung bagaimana untuk anak-anak. Urusan pakaian, sehari saja mereka berganti berapa kali. Belum lagi pakaian untuk bepergian, dll. Mainan yang menggunung, sepeda, dan masih banyak lagi. Hfff... pusing....! hahahah.
Menyiapkan stok permainan anak
Jika saya ikut pindah sebelum Hasna selesai PAUD, artinya sepanjang hari kami akan berada di rumah bertiga. Ini PR pentingnya karena si kakak yang super aktif itu. Bagaimana caranya supaya betah di rumah karena pasti kami juga butuh adaptasi dengan lingkungan terlebih dahulu sebelum membiarkan si kakak bermain di sekitar rumah.
Masih banyak yang harus kami persiapkan sebelum mengantarkan si Kakak bisa sekolah TK di sana. Sebenarnya, saya agak gentar dan galau. Tertohok juga sih, karena sering sesumbar ingin bisa keliling Indonesia untuk traveling namun begitu dikasih kesempatan untuk merantau ke Bali sudah kebingungan.
Tenang. Bali masih bumi Allah juga, kata teman saya waktu itu.
Benar, tak ada yang perlu ditakutkan jika kita menganggap setiap rintangan sebagai tantangan yang harus dipecahkan dan teka-teki yang akan mendewasakan kita.
Well, di manapun berada yang penting selalu ‘di mana bumi dipijak di situ langit di junjung’.
Doakan kami ya Temans, dan semoga di belahan bumi manapun berada, ukhuwah itu tetap nyata.
Salam,

 

10 comments:

  1. Semoga bisa sukses dierantauan ya Mbak, dimanapun asalkan tetap bersama-sama keluarga :)

    ReplyDelete
  2. Amiin, semoga dimanapun Mbak berada bisa sukses, rezeki mengalir, dan sehat selalu ^^

    ReplyDelete
  3. Semangat mbak e, semoga dimudahkan

    Aq udah nyoba mengurangi beberapa barang di rumah, sebagian baju yang sudah jarang dipakai, aq bagi-bagi ke sodara di kampung, barang-barang juga sama. yang agak berat timbunan buku, setiap mau bersih2 kok masih sayang haha

    ReplyDelete
  4. Selamat menempuh perubahan mbak. Good luck!

    ReplyDelete
  5. Yakin aja Rin, ada Allah yang membersamai kita. Jadi di mana pun tempat tinggal kita, itu lah tempat terbaik yang dipilihkanNYA

    ReplyDelete
  6. Semangat mbak. Semoga betah di perantauan dan tentunya semoga rejeki makin lancar.

    ReplyDelete
  7. Semangat rin..insyaallah dimudahkan apalagi bareng suami insyaallah lebih berkah

    ReplyDelete
  8. Semangat Rin... Insyaallah lancar semuanya. Betah di perantauan emang paling enak deh ngumpul Ama suami. Berkah insyaallah

    ReplyDelete
  9. wahh..mbak arin mau pindah ke luar kota ya...smoga dimudahkan semuanya ya mbak ...semuanya bumi Allah swt

    ReplyDelete
  10. Mending segera nyusul rin merantau bersama suami kan menikah dan berumahtangga harus bareng ketik susah dan senang, dan percayalah merantau itu memperluas rezeki baik uang, batin, dan teman, dan percaya deh dengan merantau rezeki bertambah dan banyak ilmunya, plus kalau aku sih senang merantau, 7 tahun di bandung, 9 tahun di semarang dan sekarang baru mulai di jakarta 😀

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam