Thursday, 31 March 2016

Jika Waktuku Tersisa 8 Hari Menuju Ajal


Bismillahirrahmanirrahim,
Teman-teman, apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Allah dalam setiap aktivitas kita. Aamiin.
"Kematian yg paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yg menancap di selembar kain sutera.
Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yg tersobek ?" (HR Bukhori)
Berbicara tentang kematian, apa yang terlintas dalam pikiran? Kalau saya yang pertama adalah sakitnya sakaratul maut seperti dalam hadits di atas. Dalam riayat lain mengatakan rasanya seperti tusukan 300 pedang. Bisa terbayangkan betapa sakitnya? Sangat jauh melebihi nyeri di perut pasca operasi caesar.
Lalu pertanyaan selanjutnya pun muncul: sudahkah kamu siap menghadapinya bila saatnya tiba?! Mau tak mau kita harus siap dengan apapun yang terjadi.  Yakin sudah siap? Apa saja yang sudah kamu siapkan untuk bekal menuju hari itu dan hari-hari panjang setelahnya?!
Astaghfirullah, hanya bisa merenung dan menangis dalam hati. Bayangan kematian beberapa keluarga dan sahabat pun terlintas. Mbah kakung yang berpulang setelah bermimpi beliau dalam perjalanan menunaikan ibadah haji. Sampai wafatnya impian beliau untuk menunaikan ibadah haji belum terlaksana. Lalu Mbah putri yang meninggal di pangkuan anak kesayangannya, belum genap sehari setelah kuantarkan beliau menuju rumah bulik. Ada pula teman yang meninggal pada malam menjelang akad nikahnya. Teman yang lain dipanggil Allah hanya sebulan pasca melahirkan anak pertama yang telah dinanti selama tiga tahun lamanya. Rahasia kematian, siapa yang tahu?.

Sudah punya bekal apa? seberapa banyak? sudah siap mati?
Lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul “Sudah punya bekal apa?!”
Entahlah, karena tugas kita hanya untuk beribadah sebaik-baiknya, untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya, untuk memberi manfaat seluas-luasnya agar saat nanti jatah kita berkunjung di dunia ini telah habis, kita bisa tersenyum menyambut datangnya malaikat maut. Ikhlas menerima titahNya dan orang-orang yang kita tinggalkan pun ridha dengan keputusanNya.
Aku tak pernah membayangkan jika suatu saat malaikat maut datang tapi bukan untuk mencabut nyawaku melainkan memberi peringatan, Arin! Jatahmu di dunia ini tinggal 8 hari lagi! Siapkan dirimu sebaik-baiknya! Mungkin begitu kalimatnya dengan suara yang menggelegar. Tubuhku pun merasakan getaran hebat, ketakutan yang sangat menyergap. Entah jika itu benar-benar terjadi aku masih bisa berfikir waras atau tidak.
Kalau memang benar adanya, 8 hari menjelang kematian adalah waktu yang sangat singkat dibandingkan 10.460 hari yang telah kulalui. Banyak ulama megatakan bahwa menjelang kematian seseorang telah ada tanda-tanda yang diberikan Allah padanya, hanya saja sebagai manusia sering lupa dan mengabaikannya.
Mungkin saat itu tak akan ada lagi pikiran buruk dan jahat untuk menuju maksiat. Dalam hati yang ada hanya Allah dan Allah serta memotivasi dan meningkatkan kebajikan. Kenapa? Karena aset waktu yang kita punya itu tak akan ada lagi. Setelah nyawa tercabut maka pintu taubat telah tertutup. Sanggupkah untuk menerima siksa yang pedih?! Dan aku pun lagi-lagi hanya bergidig ngeri membayangkan setiap hal.
Ibu, maafkan anakmu ini yang jarang sekali menjengukmu, jarang menanyakan kabarmu bahkan sekedar lewat SMS atau telpon di pagi hari. Maafkan aku yang terlalu disibukkan dengan berbagai macam urusan hingga melupakanmu. Terkadang saat aku ingat untuk menanyakan kabar, aku sadar ternyata hari telah meninggi dan kau pasti tengah berjibaku dengan pekerjaanmu yang menggunung.
Ya, aku harus menghabiskan waktu berharga itu bersamanya barang beberapa hari. Meminta maaf dan ridha darinya, meminta do’a-do’a dari ketulusan hatinya, dan memanjakannya. Aku sadar semua itu tak mampu menggantikan pengorbanannya sejak aku masih dalam rahimnya hingga menjadi seorang perempuan dewasa.
Juga ibu mertuayang rela kurepotkan dari hari ke hari, yang ikhlas membimbing dan menemaniku bahkan dalam masa-masa sulit. Ibu yang tak pernah mengumbar aib anak-anaknya, yang tak pernah berbicara kasar meski kami berbeda pendapat. Ibu yang dengan lapang menerima seorang perempuan tak dikenal tiba-tiba merebut perhatian putra terkasihnya. Semoga ia pun ridha dan Allah yang membalas setiap tetes keringat pengorbanannya.
Suamiku. Ridha-nya adalah yang paling penting dan utama saat ini karena aku berada dalam tanggung jawabnya. Semoga jerih payahnya untuk menghabiskan waktu untuk mencari nafkah selalu Allah catat sebagai amal kebaikan. Semoga kasih sayangnya kepada keluarga akan melahirkan anak-anak shalih/ah yang mendoakan orang tuanya. Mendoakanku.
Oia! Aku pun harus melihat lagi adakah aku mempunyai hutang dan janji yang belum tertunaikan? Aku sangat tidak ingin hal ini menjadi penghalangku kelak. Aku pun harus menyelesaikan semua amanah yang ada di pundakku saat ini, tak ada lagi alasan untuk menunda-nunda. Apa jadinya nanti jika pertanyaan Allah sampai padaku tentang amanah yang seharusnya kuemban tetapi malah kusepelekan?!
Lalu harus segera membayar hutang puasaku yang masih beberapa hari. Aku tersadar, hari-hari yang sebelumnya aku terlalu bersantai dan banyak alasan untuk menunda qadha puasa ramadhan. Masih menyusui, lupa sahur, dehidrasi dan banyak hal lain yang membuat puasaku batal.
Memperbaiki kualitas ibadah, itu juga prioritas. Jika selama ini shalat, puasa, tilawah Al-qur’an dan sebagainya hanya untuk menunaikan kewajiban tanpa ada ruh yang mengiringi maka
Setelah itu, aku harus menyiapkan sehari khusus untuk menanam pohon. Bukankah menjaga lingkungan itu sunnah? Bahkan dalam salah satu riwayat disebutkan ada perintah untuk menanam sebiji kurma di tangan meskipun kiamat telah datang. Menanam pohon agar jika pohon itu tumbuh lalu bermanfaat untuk banyak orang maka aku pun seperti mendapat angin segar sama seperti yang mereka dapatkan.
Bagaimana dengan sedekahmu, Arin?! Apakah selama ini masih lebih memikirkan hidupmu dan keluargamu sendiri dibandingkan orang-orang menderita di sekitarmu? Sudahkah kamu melihat mereka dan tidak hanya berkutat dengan masalah – masalahmu yang mungkin tak ada habisnya itu? Kapan lagi kau peduli jika tak pernah meluangkan waktu khusus untuk memikirkan mereka?! Aaargh! Ini seperti suara-suara malaikat yang kuiyakan dengan tangis.
Hanya 8 hari, cukupkah? Untuk ibu, suami, janji pada teman-teman dan amanah, membayar hutang, menanam pohon, sedekah, dan sederet rencana lainnya. Mungkin mata ini tak sanggup lagi terpejam untuk membayar kesalahan dan kelalaian yang telah lalu. Hanya bibir yang terus menerus mengucap dzikir dan istighfar, bertaubat dan memohon ampunan dariNya. Harus cukup karena hanya itu tenggat waktunya.
Terakhir, aku ingin tetap menulis. Karena menulis adalah ibadah, pun dengan setiap nafas yang terhela. Semoga kata-kata sederhana yang kutorehkan bisa mencerahkan para pembacanya, agar pahala mengalir meski ragaku telah berkalang tanah.

Sebuah quote membuatku makin tergugu, ‘kematian bukanlah satu hal yang harus ditakuti, tapi kepulangan yang dirindukan’. Ya, itulah hakikat pulang yang sesungguhnya karena hanya sejenak kita singgah di dunia ini.
Semoga, bisa menyambutnya dengan senyum terikhlas dan mendapat husnul khatimah. Aamiin..
Pergi dengan husnul khatimah, aamiin..

19 comments:

  1. Mbak arin bagus banget tulisannya, sangat menginspirasi

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Makasih sharingnya mba. Reminder banget nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mba Indri.. salam kenal :)

      Delete
  4. Reminder buatku juga nih, pengen ikut tapi badan lagi butuh istirahat. Aku jadi pompom girl aja buat teman-temanku yang ikut GA ini. Tulisanmu bikin aku nangis, jadi ingat hutang-hutang janji pada teman dan kerabat, hikss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba.. banget-banget. nulis ini sambil gemetaran ga karuan

      Delete
  5. jadi pengingat kita untuk siap-siap bekal mati ya mbak ARin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, harus siap kapanpun ya :)

      Delete
  6. mrinding mbak bacanya... syarat mati gak harus tua ya :(

    ReplyDelete
  7. kematian itu pasti, sayang kadang kita justru lupa mempersiapkannya. Justru bersibuk diri dengan urusan-urusan dunia yang tak pasti :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, lebih banyak kita (eh aku) lalai

      Delete
  8. Terimakasih tulisannya Mba, kayaknya ada paragraf yg kelewat tambahan penjelasannya Mba :) Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..
      Terimakasih kembali, Mba. GA ini membuat saya ingat mati benar-benar.

      btw saya belum nemu paragraf yang mana yang dimaksud :(

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam