Friday, 23 October 2015

Aku Mencintai Suamimu



Bagi seorang perempuan, terutama istri bagaimana rasanya jika ada seseorang wanita yang tiba-tiba menghampiri dan mengatakan ‘Aku mencintai suamimu’. Apa hendak dikatakan? Marah? Tersinggung? Atau malah mempersilakan wanita itu untuk tetap mencintai suaminya?

Ya, mencintai memang fitrah, sunnatullah yang akan muncul dalam setiap hati manusia normal. Mungkin ia berupa simpati, empati, atau entah rasa apa yang sulit dijelaskan tapi membuat hati hangat, pikiran dan do’a tertuju pada yang dicinta. Ah, memang tak akan habis dan tak akan sempurna mengungkapkan tentang cinta, meskipun seluruh kata telah terucap.
Sebagian mungkin tak sudi mempersilakannya untuk tetap mencintai suami tercinta. Meskipun jika wanita itu yang lebih dulu mencintai. Meskipun wanita itu telah lebih jauh mengorbankan apa yang dia punya untuk seseorang yang sekarang menajdi suami orang lain.
Biarkan saja, toh pernikahan yang menjadikan halal, bukan segala bentuk hubungan sebelum ikrar suci itu diucapkan...

Tidak-tidak. Tidak sesederhana itu; karena dalam pernikahan ada hati yang lebih berat melepas ankanya selain ayah dan ibumu. Iyalah ibu suamimu. Sangat pantas jika ia berkata ‘AKU MENCITAI SUAMIMU’

Ya, laki-laki yang sejak dalam kandungan telah ia bela, telah ia rawat sedemikian kasih bahkan jika nyawa taruhannya pun akan diberikan, tiba-tiba setelah dewasa ia harus membagi cintanya pada wanita yang bahkan baru saja dikenalnya. Oh, tentu sakit menjadi seoarng ibu yang terduakan.
Mertua. Satu kata ini sering menjadi momok bagi perempuan yang hendak menikah, takut mertuanya galak, takut begini begitu yang semuanya hampir menyalahkan mertua. Tapi kenyataannya tak sedikit mertua yang baik hati dan sayang anak menantunya. Tak jarang pula menantu yang jahat kepada mertuanya.

Bagaimanapun, ia adalah orangtua kita. Perempuan yang telah melahirkan dan menyayangi suami kita. Kewajiban seorang istri adalah taat pada suaminya, dan kewajiban seorang anak laki-laki adalah taat kepada ibunya. Maka sampai kapanpun, kewajiban suami adalah untuk menaati ibunya dalam kebaikan. Untuk itu para istri, mari kita bantu suami agar tetap berbakti kepada ibunya. Dan tak lupa tetap berbakti kepada orangtua.

Allahummaghfirlana waliwalidaina warhamhum kamaa rabbayana shaghira..
Yaa Allah... sayangilah orangtua-orangtua kami seperti mereka menyayangi kami sejak kecil. Aamiin..

2 comments:

  1. Akan lain ceritanya kalo yang mengatakan itu perempuan lain yang bukan ibu atau saudari suami...*duh...duh jangan sampe deh...:p

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam