Monday, 13 November 2017

7 Tips Agar Berhasil Melalui Persalinan VBAC



Assalamu'alaikum, Temans.
Bagi seorang perempuan, persalinan bisa menjadi hal yang traumatis. Namun tak jarang yang tetap berjuang dan melalui semua masa dari hamil-melahirkan-membesarkan anak meskipun semuanya tak mudah.
Pernah mendengar celutukan 'Nggak bosan hamil dan melahirkan, Bu? Rajin banget!"
Bagi saya, justru orang-orang seperti itu sangat keren karena nggak takut punya anak banyak dan sabar sekali dengan segala rasa yang mengiringi masa kehamilan dan melahirkan.
Bagi mereka yang mendapat kesempatan untuk melahirkan pervaginam (normal) dari anak pertama hingga anak bungsu, bersyukurlah. Dan bagi yang harus menjalani operasi caesar pun tetap harus bersyukur karena ikhtiar operasi tersebut adalah upanya penyelamatan ibu dan bayi.
Alhamdulillah baru-baru ini saya merasakan persalinan pervaginam. Praktis saya telah merasakan persalinan SC untuk anak pertama dan normal untuk anak kedua.

Mana yang lebih enak? Hm.. Dua-duanya tentu menimbulkan rasa sakit karena itu hal alami. Namun saya akui persalinan normal jauh lebih cepat pemulihannya dibanding persalinan SC. Jika tak ada masalah, cukup observasi 24 jam di RS,  ibu dan bayi sudah diperbolehkan pulang. Jika operasi SC, minimal harus berada di RS selama 3 hari.
Rasanya sungguh amazing! Dan bagi saya, persalinan normal justru tidak menimbulkan trauma meskipun rasanya saat gelombang cinta (baca: kontraksi) datang sampai menunggu bukaan lengkap itu sungguh 'sedap bin nikmat'.
Temans ada yang sedang ikhtiar melahirkan VBAC juga? Semoga pengalaman saya ini bermanfaat dan menambah semangat ya!
Dan inilah tips yang saya praktikkan dan juga saya kumpulkan berdasarkan sharing dengan Teman-teman yang berhasil VBAC sebelum saya.

1. 'Merayu' Allah
Hampir semua teman saya yang berhasil melalui persalinan VBAC, menjawab hal senada saat saya minta sharing-nya.
"Saya sampai nangis-nangis berdo'a setiap habis shalat, Mba."
"Jangan sampai meninggalkan Qiyamullail setiap hari, Mba."
"Pokoknya kencengin doanya deh!"
Dan kalimat-kalimat lain yang hampir sama.
Kenapa harus? Karena bagi Allah, Kun fayakun!
Dia lah yang punya kuasa atas diri kita. Pernah dengar tentang 'The Power of Du'a?' semacam itulah, karena lewat doa-doa itu kita 'merayu' Allah.
Bisa jadi telah divonis harus SC ternyata bayinya bisa lahir spontan tepat di hari yang sudah dijadwalkan dokter untuk tindakan. Atau bisa juga semuanya berjalan lancar dan normal ternyata ada hal yang membuatnya harus berakhir di kamar operasi. Jika ikhtiar telah dilakukan, maka melahirkan SC atau normal adalah 'rejeki' yang harus diterima.

2. Yakin Dan Mensugesti Diri Sendiri Bisa Melahirkan Normal
Saya selalu mengingat pelajaran dan motivasi yang dibangun oleh instruktur senam hamil di RS. Roemani. Senam yang diperuntukkan bagi ibu hamil 7 bulan ke atas ini dipandu oleh Bidan Naning, bidan senior di BKIA (Balai Kesehatab Ibu dan Anak) Roemani.
Sebelum memulai senam, beliau selalu mengawali dengan memperkenalkan diri karena selain peserta senam lama, selalu ada peserta baru di tiap pekannya. Setelah memperkenalkan diri, beliau melanjutkan dengan membuat 'kesepakatan' dengan peserta bahwa semua setuju dan percaya untuk melahirkan normal. Urusan jika kelak harus SC diserahkan kepada Allah dan ahlinya (baca: dokter).
Beliau mengibaratkan buah mangga, yang jika sudah masanya untuk matang maka jika tidak dipetik dia akan jatuh sendiri. Begitu pula kehamilan, jika sudah masanya maka si bayi di dalam rahim akan mencari jalannya sendiri, akan lahir sendiri kecuali dalam kasus tertentu.
"90% perempuan bisa melahirkan normal, karena itu alamiah. Jadi tidak perlu merisaukan nanti saya bisa normal atau tidak. Yakin dan percaya insyaAllah saya bisa melahirkan normal!" kata beliau menyemangati.

3. Ikut Senam Hamil
Saat hamil anak pertama, saya ingin mengikuti senam hamil. Namun hasil sharing dengan beberapa teman, mereka mengatakan senam hamil tidak begitu penting,  tak banyak manfaatnya maka saya pun urung mengikuti senam hamil.
Saya baru mengikuti senam hamil saat kehamilan kedua ini sudah memasuki 7 bulan dan dr. Prima 'mewajibkan' saya untuk bergabung senam hamil Roemani.
Bersyukur sekali menjadi bagian dari keluarga senam hamil Roemani, karena selain mendapat banyak ilmu seputar kehamilan, menyusui, dan bayi kami juga mendapat banyak teman. Selain itu bisa konsultasi gratis dan sering dapat merchandise jika ada sponsor saat edukasi setelah senam penting *haha.
Tujuan senam hamil adalah untuk melatih otot-otot yang berhubungan dengan persalinan supaya lebih lentur. Jika otot lentur maka saat menjelang persalinan tidak lagi 'kaget' dan kaku. Ini termasuk otot bagian dubur sehingga bisa mengurangi risiko terkena wasir setelah proses melahirkan.
Kami diajarkan untuk melatih otot kaki, perut, area dubur, dll. Dan yang tak kalah penting adalah belajar beberapa posisi mengejan serta cara mengejan yang benar.
Jadi,  siap untuk senam hamil?
Jika memungkinkan, berlatih yoga dan pilates juga akan sangat berguna.

4. Menjaga Asupan Makanan agar BBJ Tidak Besar
Ibu hamil diet? Bukannya bumil harus banyak makan agar nutrisi bayinya terjaga? Saya pernah mengucapkan kalimat senada saat seorang teman bercerita diminta diet oleh dokternya. Dan ternyata, saya sendiri harus mengalaminya.
Ini yang harus dipahami bersama. Diet-nya bumil itu adalah diet dari asupan karbohidrat dan gula. Kenapa? Agar bayinya tidak terlalu besar. Bagi yang tidak ada riwayat SC pun, melahirkan bayi dengan BBJ besar tentu lebih berat bukan? Jadi biar di dalam kecil, gedein pas sudah lahir saja.
Banyak dokter yang menyarankan jika ingin VBAC maka BBJ tidak boleh lebih dari BBJ persalinan sebelumnya.  Meskipun pada beberapa kasus BBJ besar tidak masalah, namun secara umum akan meringankan faktor risiko jika BBJ lebih kecil. Kasihan rahim yang sudah ada bekas sayatannya jika mengembang terlalu besar dan terlalu kencang mengejan.
Mengurangi asupan karbohidrat dan gula ini dimulai sejak trimester 3, dan menggantinya dengan memperbanyak konsumsi makanan berprotein tinggi terutama protein hewani. Jadi harap bersabar dan hati-hati bagi yang suka ngemil roti, dan makanan manis (ehm, itu sih saya 😅). Tenang, tetap kenyang ko makan lauk protein tinggi tanpa nasi/karbo lain. Misalnya pagi sarapan 2 butir telur rebus, siang makan 2 potong ayam, malam 2 potong daging sapi, dengan selingan buah yang tidak mengandung banyak gula.
Saat hamil anak pertama dulu pun saya diingatkan bidan untuk tidak banyak makan nasi/roti dan karbo lainnya saat masuk trimester 3. Padahal saat itu saya paling doyan ngemil roti, eskrim dan coklat. Lahir Hasna dengan BBJ 3,3.
Alhamdulillah saat ikhtiar VBAC dengan diet karbo-gula, si bayi lahir dengan bobot 2,9 kg.

5. Menjaga Agar tidak Terjadi Kasus Ketuban Pecah Dini (KPD)
Untuk riwayat sectio karena KPD, dokter dan bidan selalu menyarankan untuk berhati-hati jangan sampai terjadi hal yang sama lagi.
Bagaimana supaya bisa mencegah KPD? Yaitu dengan banyak minum, tidak menahan pipis, dan menjaga kebersihan area V.
Dengan banyak minum akan membuat ibu hamil sering buang air kecil, hal ini baik untuk pergantian cairan di kandung kemih. Maka saat ingin pipis jangan sampai ditahan-tahan. Jika terlalu sering menahan pipis, risiko terkena ISK (Infeksi Saluran Kemih) semakin besar, urin akan menjadi pekat, mengandung bakteri dan bakteri tersebut bisa naik ke rahim yang menyebabkan ketuban pecah.
Kebersihan area V juga harus dijaga dengan sering berganti celana dalam dan menggunakan celana dalam yang menyerap keringat.
Bidan juga pernah mengingatkan untuk berhati-hati (maaf) saat berhubungan suami-istri agar tidak menekan rahim dan menyebabkan KPD.

6. Rajin Berjalan Kaki
Berjalan kaki juga merupakan saran dari dr. Prima dan bidan Naning. Jika Teman-teman membaca buku KIA (buku pink-nya bumil) pasti juga mendapatkan informasi bahwa sebaiknya bumil rajin berjalan kaki 30-60 menit setiap hari.
Baiknya, berjalan kaki setelah matahari terbit sehingga lebih sehat. Para calon bapak harus siap menemani istrinya jalan-jalan ya, supaya ada teman ngobrol selama berjalan kaki.
Saya termasuk yang kadang malas untuk jalan kaki pagi apalagi tidak ditemani. Beruntung setelah mendapat 'wejangan' dari dokter, justru suami saya yang paling rajin menyeret-nyeret untuk jalan kaki di pagi hari.
Alhamdulillah bermanfaat juga buat suami karena katanya setelah tiap pagi menemani jalan kaki badan jadi lebih enteng dan fresh. Oia, sejak 2 pekan sebelum HPL saya bahkan jalan kaki tiap pagi dan sore.
Siap, Temans?
Dengan memperbanyak jalan kaki akan membantu janin di dalam perut berada pada posisi siap melahirkan (kepala di bawah dan masuk panggul).
Dulu saya malah mendapat info menjelang melahirkan sebaiknya jalan kaki dan naik/turun tangga, dan ini saya praktikkan saat menjelang kelahiran Hasna. Rupanya hal tersebut kurang tepat, karena justru dengan banyak naik/turun tangga, posisi kepala bayi yang sudah di 'jalannya' akan goyah lagi.
Jadi paling baik adalah jalan,  sujud,  dan jongkok-berdiri.

7. Rutin Bersujud dan Jongkok-Berdiri
Sujudnya yang seperti apa sih?
Kehamilan pertama dulu saya sering diingatkan oleh bidan untuk memperbanyak sujud. Jadi saya sujud seperti sujud saat shalat. Ternyata, untuk membantu mendorong janin agar masuk panggul, sujudnya berbeda dengan saat shalat (Meskipun sujud saat shalat juga membantu sekali lho!)
Jadi, posisi sujudnya dengan meletakkan telapak tangan sejajar dengan telinga, lalu turunkan dada hingga menyentuh lantai/alas sujud, dan naikkan pinggul semampunya.
Hm..  Kalau nggak ikut senam hamil saya nggak tahu sujud yang benar untuk bumil seperti itu. Sujud seperti ini bisa dilakukan rutin setiap setelah shalat.
Selain sujud, berlatih jongkok-berdiri juga sangat bermanfaat.
Caranya dengan mengempiskan perut, menarik otot area dubur (seperti senam kegel), lalu jongkok perlahan-lahan sampai hitungan kurang lebih 10-15. Setelah itu naik perlahan dan lakukan kembali gerakan jongkok-berdiri. Gerakan perlahan saat jongkok itulah yang akan membantu mendorong janin masuk panggul. Jika melakukan gerakan ini jangan lupa pegangan ya, pegangan suami/meja/kursi atau apa saja yang kuat.
Tips ini berdasarkan pengalaman saya,  ya Temans. Bisa jadi orang lain mengalami hal yang berbeda. Namun begitu semoga bermanfaat bagi yang sedang ikhtiar untuk persalinan VBAC. 
Jangan lupa untuk selalu mencari informasi dan sharing dengan ibu yang punya pengalaman VBAC juga. Ada banyak grup Facebook yang bisa menjadi tempat sharing atau bertukar pengalaman dan informasi seputar VBAC. Jadi nggak perlu galau dan tetap semangat ya!

Baca: Pengalaman Melahirkan VBAC
Banyak faktor yang memengaruhi seperti ketebalan rahim, kondisi bekas jahitan, besarnya bayi, dll. Tapi yang jelas, takdir itu ada di ujung ikhtiar. Urusan kelak berhasil VBAC atau kembali ditakdirkan untuk SC adalah hak prerogatif Allah, tugas kita hanya untuk ikhtiar dan 'merayu'Nya.
Semoga bermanfaat dan terus semangat!

Salam,

2 comments:

  1. Tipsnya sangat bermanfaat. :D Buat para bumil wajib baca ini. :D

    ReplyDelete
  2. Semangat buat yang mau lahiran. :)

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam