Monday, 5 June 2017

Lindungi Hutan Kita dengan HCS Approach Toolkit Version 2.0




Assalamu’alaikum, Temans.
Ngomong-ngomong soal hutan, seringkali kita merasa miris ya dengan kondisi negara kita. Indonesia merupakan paru-paru dunia karena memiliki wilayah hutan terluas di dunia. Namun sayangnya, dari tahun ke tahun luas hutan di Indonesia semakin berkurang karena adanya pembalakan liar, perambahan hutan, alih fungsi hutan, juga kebakaran hutan. Kebakaran hutan bahkan selalu menjadi masalah yang merembet ke negara tetangga khususnya Singapura dan Malaysia. Masyarakat di wilayah Kalimantan dan Sumatera seringkali mengalami masalah gangguan asap yang menyebabkan aktivitas manusianya terhambat. Tentu, hal ini berimbas pada masalah ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan masalah lain secara global. Belum lagi kerugian yang diderita akibat kebakaran hutan tersebut.
Kebakaran yang terjadi entah disebabkan oleh kesalahan manusia (human error) maupun karena proses alami, harus tetap diantisipasi agar masalah tersebut tidak terus terulang. Bayangkan saja jika setiap tahun terjadi masalah yang sama, akibatnya anggaran negara terkuras untuk masalah tersebut, saudara-saudara kita di sana pun mengalami penderitaan. Jarak pandang yang minim, kurangnya oksigen, listrik mati, dan segenap dampak buruk lain.

Seperti dilansir oleh kompas.com, setiap tahunnya ada 684.000 hektar hutan di Indonesia yang hilang. Data ini diambil dari Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berdasarkan data dari Global Forest Resources Assessment (FRA) yang juga mengatakan bahwa Indonesia mengalami kerusakan hutan urutan ke-2 dunia setelah Brazil.
Untuk itu, perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan terpadu dan sinergis antara masyarakat, pemerintah, juga badan-badan dan organisasi terkait. Jangan sampai kekayaan alam yang melindungi keanekaragaman hayati dan hewani di Indonesia musnah begitu saja.


Tentang High Carbon Stock Approach dan Peluncuran Toolkit Versi 2.0
Tanggal 3 Mei yang lalu bertempat di Bali, telah diluncurkan toolkit terbaru versi 2.0 High Carbon Stock Approach. Ini merupakan metodologi baru untuk melindungi hutan alam dan mengindentifikasi hutan untuk dialihfungsikan secara aman dan bertanggung jawab. Program ini merupakan kerjasama antara industri dan lembaga non pemerintah (LSM).
High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit merupakan terobosan untuk secara bersama-sama melindungi hutanalam sekunder yang tengah mengalami renegerasi dan menyimpan berbagai potensi manfaat bagi kehidupan manusia dalam alam sekitar.
Grant Rosoman selaku Co-Chair dari High Carbon Stock (HCS) Steering Group mengatakan: “Selama dua tahun, para pemangku kepentingan telah menyatukan berbagai upaya untuk menyepakati satu-satunya pendekatan global untuk menerapkan praktek 'Non-Deforestasi'. Metodologi yang dihasilkan telah memperluas persyaratan sosialnya, pengenalan dan penerapan terhadap data cadangan karbon,yang mencakup teknologi baru termasuk penggunaan LiDAR, untuk mengoptimalisasi konservasi dan hasil produksi serta dapat diadaptasi bagi petani-petani kecil.”
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa HCS Approach hadir untuk menanggapi kekhawatiran masyarakat tentang rusaknya hutan tempat mereka menggantungkan hidup. Juga terhadap satwa, tanaman lindung, iklim dan sebagainya yang tergantung pada hutan.
“Kami menyambut positif atas diterapkannya metodologi ini dalam skala yang luas untuk mendukung hak-hak dan mata pencaharian masyarakat lokal, menjaga kadar karbon hutan dan keanekaragaman hayati serta kegiatan pengembangan terhadap lahan-lahan olahan secara bertanggung-jawab,” tambahnya.
Versi terbaru HCS Approach Toolkit 2.0 ini melengkapi versi pertama yang telah dirilis pada April 2015. Penyempurnaannya pada metodologi baru, penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, serta topik-topik baru dan masukan-masukan dari berbagai kelompok kerja HCS Approach Steering Group.
Dengan telah dilengkapinya HCS Approach Toolkit Versi 2.0, HCS Steering Group saat ini dapat fokus pada uji coba metodologinya, agar dapat disesuaikan bagi para petani kecil, serta memperkuat persyaratan sosial yang dikembangkan sebagai bagian dari proses konvergensi HCS.


Tentang HCS Steering Group
HCS Approach Steering Group adalah sebuah organisasi yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan. Organisasi ini dibentuk pada tahun 2014 untuk mengelola HCS Approach. Steering Group (SG) dibentuk sebagai upaya untuk menghentikan praktik penggundulan hutan. Tugasnya adalag untuk mengawasi pengembangan lebih lanjut dari metodologi, termasuk penyempurnaan terhadap definisi, objektif dan hubungan dengan pendekatan-pendekatan lainnya. SG pun memandu implementasi dari metodologi tersebut, berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan dan melakukan terhadap model dari metodologi tersebut.

Penggunaan HSC Toolkit ini tentunya sangat bermanfaat bagi keberlangsungan hidup hutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Hutan bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan bijak dan memperhatikan fakrtor-faktor yang dapat merusak maupun mengganggu stabilitas kehidupan di dalamnya.

Semoga makin banyak masyarakat dan terutama pelaku usaha yang berhubungan dengan pemanfaatan hutan untuk semakin sadar pentingnya keberadaan paru-paru dunia tersebut.  

Semoga bermanfaat,
Salam,


3 comments:

  1. Selamat Hari Bumi Mbak Arina..

    Kalau dari event yang pernah diselenggarakan KLH, sebagian tugas yang mirip dengan tanggung jawab HSC, MPH atau KLH -- Masyarakat Peduli Hutan atau Kelompok Peduli Hutan.

    Bagaimanapun, semoga semakin banyak pihak terkait yang juga makin tinggi kepeduliannya pada hutan, serta lingkungan hidup yang terbarui umumnya.

    Aamiin.

    Maaf, sekadar penambah info saja ^_^

    ReplyDelete
  2. Bagus semakin banyak yang peduli terhadap lingkungan, semakin hijau dan lestari alam kita. go green :)

    ReplyDelete
  3. setiap tahun ada 684.000 hektar hutan yang hilang? wahh sedihnya. Bagaimana nasib anak cucu kita kedepan ya, ketika hutan menjadi sumber mata air yang utama juga. Duh duh semoga banyak pihak yang segera melek nih dengan hal ini. Untungnya HCS Approach ini mengeluarkan metode yang barunya. Semoga bisa didukung oleh banyak pihak ya demi fungsi hutan yang sesungguhnya. Aamiin

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam