Monday, 24 April 2017

Nasi Jagung, Kuliner Ndeso Penuh Kenangan


Assalamu’alaikum,
Setelah berhari-hari hiatus dan badan rasanya nggak jelas, saya pun memaksakan diri untuk menulis sesuatu, yang ringan saja. nulis apa dong? Hihi. Cerita tentang nasi jagung saja kalau begitu, salah satu kuliner ndeso yang selalu ngangenin. Kenapa ngangenin? Karena ada kisah tentang cinta dan perjuangan di dalamnya.
Maklum ya, sebagai anak desa sekaligus anak seorang petani, menu nasi jagung adalah santapan sehari-hari kami terutama saat paceklik atau saat kemarau dan hasil panen hanya jagung. Masa kecil kami dulu kadang merasa marah jika mamak setiap hari ‘memaksa’ kami makan nasi jagung. Terkadang sampai harus ‘mengungsi’ ke rumah mbah agar bisa menikmati nasi beras, sedikit selingan setelah berhari-hari terpaksa menikmati nasi jagung.

Beranjak besar kami semakin memahami bahwa hidup tak selamanya lurus dan mudah termasuk urusan makan. Mau tak mau jika adanya nasi jagung tentu kami harus ikhlas dan bersabar menikmatinya. Lama-kelamaan karena ribetnya proses memasak nasi jagung, bapak lebih sering menyimpan padi untuk bahan makan sehari-hari kami dibanding jagung. Selain karena harga jual beras lebih mahal, padi juga relatif lebih lama masa simpannya dibanding jagung.
semakin lama, keran jarang masak nasi jagung lagi, justru kami sering merindukan sensasi makannya. Benar-benar nikmat tak terhingga menyantap nasi jagung dilengkapi dengan sambal oblok teri (teri dimasak sambal dengan kelapa parut) dan lalapan sayur rebus, atau dengan sayur urap (gudangan) pedas dan ikan asin goreng. Hm... nikmatnya....!
kalau jaman kecil dulu sih kadang harus puas makan nasi jagung dengan ikan asin bakar atau goreng dengan sambal saja. etapi ikan asin bakar itu nikmat banget deh... aroma dan rasanya beda dengan ikan asin yang digoreng. Malah jadi pengen nih...
Teman-teman ada yang suka nasi jagung juga? Atau malah belum pernah makan nasi jagung?   
Konon jaman dulu ada 2 versi masak nasi jagung, pertama jagung yang masih basah dan belum begitu tua disisir lalu direbus dengan air hingga menjadi seperti bubur yang jika dingin akan berubah menjadi seperti nasi beras yang lembek. Hampir mirip bubur tapi sedikit lebih kental. Versi kedua adalah nasi jagung yang umumnya kita temui di penjual nasi jagung di pasar tradisional, yaitu dari jagung kering yang diolah menjadi tepung lalu dimasak sehingga menjadi nasi jagung yang siap dimakan.
Saya malah belum pernah mencoba makan nasi jagung versi pertama, karena orang tua tidak pernah memasaknya. Pernah saat SD dulu melihatnya di rumah teman, tapi tidak berani mencoba karena teksturnya yang lembek itu.
Baru-baru ini saya beli nasi jagung dari tukang sayur yang lewat gang depan rumah. Katanya dia bawa dari daerah Sumowono Kabupaten Semarang. Sedikit nasi jagung (kalau untuk sarapan seorang nggak kenyang, hanya sekitar setengah kepal nasi) lengkap dengan sayur gudangan (urap) dan ikan asin goreng. Harganya murah meriah, hanya seribu rupiah per bungkusnya. Makan dua bungkus sudah cukup lah untuk sarapan, tapi ikan asinnya pasti nyisa. Hihi.
Nasi jagung yang murah meriah itu, butuh proses panjang untuk memasaknya lho, tidak seperti beras yang begitu jadi beras lalu dimasak liwet (direbus saja sampai air kering) atau direbus kemudian ditanak (dikukus) sampai matang.
Jagung kering sebelumnya ditumbuk (sekarang biasanya digiling dengan mesin, jaman saya kecil itu masih menumbuk dengan alu sampai jadi tepung) untuk menghilangkan kulit ari dan bakal tunasnya. Setelah itu direndam dalam air selama 2-3 hari. Proses selanjutnya setelah perendaman adalah menggiling/menumbuknya agar menjadi tepung. Kalau sekarang tinggal dibawa ke tempat penggilingan, jadi deh tepung jagung yang siap diolah untuk nasi jagung.

Tepung jagung yang baru digiling langsung diayak
Setelah jadi tepung, nggak langsung dimasak ya, harus diayak dulu supaya butiran tepung yang kasar tidak ikut dimasak karena akan mengganggu citarasanya. Setelah benar-benar terpisah dari butiran tepung yang kasar, tepung dikukus menggunakan dandang tembaga dan kukusan (sekarang terkadang menggunakan dandan biasa dengan bantuan kain kasa/sarangan. Pengukusan awal ini tidak membutuhkan air karena tepung yang baru digiling biasanya masih mengandung air, ya kan jagungnya baru direndam, hihi. 

Masukkan tepung ke dalam dandang yang telah panas

kalau di rumah saya masih pakai tunggu kayu bakar
untuk memasak nasi jagung supaya hemat gas

Pengukusan pertama ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit, setelah empuk diangkat lalu dihancurkan dengan centong dan bantuan tangan agar tidak menggumpal. Kukus lagi sekitar 25-30 menit. Setelah itu dihancurkan lagi sembari ditambahkan air panas secukupnya. Oia, untuk nasi jagung instan (dikenal dengan sebutan oyek) prosesnya cukup sampai di sini. Nasi jagung setengah matang digemburkan lalu dijemur hingga kering).

Setelah 30 menit dikukus akan menjadi seperti ini
dihancurkan sampai menjadi butiran halus
untuk kemudian dikukus lagi
Sudah matang?! Belum! Masih harus dikukus sekali lagi sampai benar-benar matang.
Nah, ribet kan? Ngukusnya aja sampai tiga kali. Tapi kata mamak sih kadang ada yang hanya dua kali kukus, tapi hasilnya nasi jagung kurang empuk dan seret saat dimakan.
Karena itulah tadi saya katakan di balik nasi jagung ndeso itu ada perjuangan dan cinta si pembuatnya untuk orang-orang yang ia sayangi. Proses membuatnya saja sepanjang itu, kalau nggak cinta sama keluarga mana mungkin mau masak ya? Termasuk mereka yang membuat nasi jagung untuk dijual, selain melestarikan kuliner jaman dulu, ada perjuangan untuk bertahan hidup juga.
Jadi, ada yang penasaran dengan nasi jagung? Semoga nggak ngidam ya. Atau kalau sampai ingin sekali semoga tersedia di pasar tradisional terdekat.

Nikmatnya menyantap sepiring nasi jagung
Sebenarnya bagus juga ya jika nasi jagung ini diminati oleh banyak kalangan. Selain sebagai substitusi beras agar masyarakat Indonesia tidak tergantung pada beras (sampai harus impor juga) mengkonsumi nasi jagung jauh lebih sehat dibandingkan nasi beras. Pun jika makin banyak orang yang memerlukan jagung, daya jual komoditi satu ini bisa meningkat sehingga petani terbantukan. Selama ini harga jagung cenderung murah dan tidak sepadan dengan proses tanam hingga pengolahannya sebelum layak jual. Jika terpaksa menjual jagung saat masih basah (baru dipanen) pun harganya sangat rendah.
Terkadang para petani tetap bertahan menanam jagung karena hanya itu satu-satunya yang bisa mereka tanam saat musim kemarau. Urusan laba-rugi menjadi bias karena mereka juga butuh makan dari hasil panen (jika berhasil panen).
Masih ada yang penasaran dengan nasi jagung?
Di Wonosobo ada home industry yang memproduksi nasi jagung instan lho. Nasi jagung setengah matang yang sudah kering dikemas dengan plastik. Mengolahnya tinggal menambahkan air lalu mengukusnya hingga matang. Rasanya cukup enak lah, bagi yang lama merindukan nasi jagung, tapi tetap masih kalah dengan rasa nasi jagung yang diproses langsung hingga matang.
Semoga bermanfaat ya Temans,
Salam,

14 comments:

  1. aku belum pernah makan mb..tapi dicritain klo jaman kecilnya kakak sulungku juga nasi berasnya suka dicampur nasi jagung biar irit. klo sekarang,,nasi jagung masih sering lihat di pasar tradisional. Blm pernah mbeli...soalnya bingung, klo makan itu, lauknya pake apa yang enak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enaknya pakai gudangan/urap sama ikan asin Mba.. mantabs pokoknya

      Delete
  2. Beluum pernah nyobaa nasi jagungg nih mbaak :D Ibukku kalau dirumaah sering beli, tp aku selalu tidak kebagiaan :" Kalau di desakuu warnanya kuning mbaak nasi jagungnyaa. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. DI tempatku yang lebih umum pakai jagung putih, ada juga sih yang kadang masaknya pakai jagung kuning jadi warna nasinya kuning :)

      Delete
  3. Wah ada ya nasi jagung instant kapan2 pengen nyobain ah drpd bikin sendiri ribet hehehe ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas ke WOnosobo bisa bawa oleh-oleh itu Mba :)

      Delete
  4. Jadi lapaaar...aku juga kadang beli di pasar pedurungan, nasi jagung, urap plus ikan asin. Uenaaak tenan

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan Malem-malem aku jadi lapar, Mba Ika

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam