Friday, 24 March 2017

Berkah Silaturrahim yang Pernah Kurasakan




Pernah mengalami rasa tidak enak saat bertamu?
Saya sering *eh. Beberapa hari kemarin ‘nggak enak’ itu terjadi karena diri saya sendiri.
Saya menanyakan ke seorang teman apakah sore nanti di rumah karena saya ingin berkunjung, beliau menjawab silakan karena tidak pergi ke mana-mana. Rencana saya berangkat dari rumah ba'da ashar (begitu selesai shalat ashar langsung berangkat) perkiraan waktu maksimal pukul 15.30 sudah menuju ke sana.
Rupanya sikecil yang tidur siangnya terlambat belum bisa dibangunkan meski adzan ashar sudah berkumandang. Alhasil kami harus mundur dari waktu yang sudah direncanakan. Suami pun tiba-tiba harus mengerjakan pesanan dadakan (seperti tahu bulat aja nih digoreng dadakan).

Pukul 16.30 kami baru siap berangkat. Dihitung-hitung jika motoran agak ngebut dan jalanan tidak macet, sekitar 30-45 menit sampai sana. Seolah mengharap keajaiban karena itu rush hour, jam nya orang pulang kerja. Tambahan lagi di jalan siKecil selalu berteriak "Ayah dikit aja!" (maksudnya Ayah pelan aja) begitu ayahnya menambah kecepatan laju motor.
Kami hanya bisa nyengir daripada dia berontak meronta di atas motor dan membahayakan. Tahu berapa kecepatan maksimal kami? 30KM/jam!!!
Menjelang adzan maghrib kami baru sampai daerah tujuan, sama-sama di Semarang tapi kami dari ujung bawah beliau di ujung atas. Ba'da shalat di masjid terdekat barulah saya bisa mengabari teman jika saya baru sampai menjelang maghrib karena beberapa hal. Setelah itu kami langsung menuju rumhanya yang tak jauh dari masjid.
Inilah yang membuat kami tidak enak, bertamu ba'da maghrib. Karena tidak mungkin juga kami datang menunggu waktu isya. Perjalanan pulang juga butuh waktu lama dan si Kecil belum makan. Akhirnya kami tidak berlama-lama di sana. Eh, agak lama juga ding, ada 30 menitan mungkin.
Dan ini murni kesalahan kami yang alpa mengabarkan perubahan waktu datang. Harusnya jika ada hal-hal yang berubah tidak sesuai rencana/janji awal, kami harus mengkomunikasikannya.
Kebetulan sebelumnya juga di salah satu grup WhatsApp ada sedikit obrolan tentang bertamu dan menerima tamu. Ada yang jika tamu datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, bisa dipastikan akan mengacaukan rencana yang telah dibuat. Dan bagi ibu rumah tangga seperti kami, menyebabkan beberapa pekerjaan rumah tangga terbengkalai. Lain halnya ketika tamu yang datang sudah memberitahukan sebelumnya, si tuan rumah bisa bersiap-siap memilah pekerjaan mana yang akan diselesaikannya terlebih dahulu dan mana yang bisa ditinggalkan.
Bukankah mengabarkan rencana kedatangan ini adalah salah satu adab bertamu?
Hiks. Meskipun kadang saya pun tidak memberitahu apalagi jika berkunjung ke saudara yang lebih tua dan tidak ada kontak HP.
Banyak kan duka nya urusan tamu-bertamu ini? Tapi kita bahas suka-nya aja yuk? Duka-dukanya cukup jadi pelajaran buat kita aja. Oia, saya mau bahas tentang bertamu. Ini adalah salah satu tema yang diusulkan oleh Mba Munasyaroh dan disepakati dalam program Blogger Muslimah Sisterhood yang diadakan oleh komunitas Blogger Muslimah Indonesia. Program ini bertujuan untuk mengajak anggota supaya rajin menulis dan update blog, juga sebagai upaya kampanye #AyoMenulisLagi. Semantara ini member program ini masih terbatas pada grup Blogger Muslimah Priority, semoga kelak bisa berlanjut untuk semua anggota. Doakan ya Teman-teman.

Silaturahim Membuka Pintu Rejeki dan Memperpanjang Umur
Dalam sebuah hadits Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
”Siapa yang ingin rezekinya diperluas dan umurnya panjang maka hendaknya ia bersilaturrahmi.” (HR. Bukhari)

ilustrasi

Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi jika rejeki dan usia telah ditentukan oleh Allah di lauhul mahfudz?
Menurut beberapa pendapat, rejeki yang luas dan umur panjang ini tidak hanya diartikan secara tersurat tetapi mengandung makna tersirat. Misalnya, seseorang yang rajin silaturrahim tentu koneksi networking-nya lebih banyak dibandingkan orang yang hanya berdiam diri di rumah. Saat ada informasi mengenai peluang-peluang pekerjaan, pelatihan, dll orang-orang yang rajin ia kunjungi bisa jadi memberikan informasi kepadanya terlebih dahulu sebelum menginformasikan kepada orang lain.
Pun misalnya seseorang yang rajin berkunjung ini adalah orang yang baik hati, dermawan, dan selalu melakukan amal shalih lainnya, maka orang pun akan banyak mengingat amal shalihnya bahkan setelah lama ia meninggal dunia.
Konon para lansia yang sering bertemu temannya dan bersilaturrahim pun usianya lebih panjang dibandingkan yang lain. Tapi masalah ini kembali lagi kepada jatah umur yang sudah ditentukan olah Allah. Bisa jadi karena bertemu dengan temannya, saling bertukar cerita dll sehingga mereka lebih bahagia dan semangatnya kembali muda.

Kelengkeng dan Seporsi Sate Ayam
Ngomong-ngomong soal ini saya jadi ingat cerita bersama sahabat saya waktu masih kuliah. Boleh ya saya cerita-cerita? Hihi
Suatu hari kami sedang puasa sunnah Senin-Kamis, entah hari apa saya tak ingat. Biasalah ya, selain untuk menghidupkan sunnah, anak kos rajin puasa juga dalam rangka penghematan (haha jujur amat). Sahur cukup dengan 2 bungkus nasi kucing, dan buka puasa pun tak jauh-jauh dari nasi penyet tempe/tahu atau telur jika kantong masih cukup tebal.
Sahabat saya datang ke kos, lalu mengajakku untuk silaturrahim ke seorang ibu yang dikenalnya. Menurutnya, si Ibu ini mau memberi informasi seputar asuransi syariah dimana kami bisa menjadi agen-nya. Maka meluncurlah kami dengan sepeda motornya, membelah jalanan Kota Semarang yang cukup padat menjelang sore hari.
Saat itu musim buah kelengkeng dan sepanjang jalan berdiri kios atau kendaraan yang khusus menjual buah manis itu. Kami menelan ludah, sama-sama ingin membeli tapi persediaan uang saku jelas tak mencukupi. Kelengkeng adalah buah yang mewah bagi anak kos seperti kami.
Kelengkeng, buah mewah bagi anak kos
Belum hilang keinginan untuk membeli Kelengkeng, tak jauh dari lampu merah menguar aroma sate yang tengah dibakar. Makin mengucurlah ludah kami membayangkan lezatnya sate lontong pedas untuk berbuka puasa nanti. Hush! Lagi puasa ko malah bayangin makanan ya?
Sambil tertawa-tawa kami melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah si Ibu, kami disambut dengan sangat ramah. Tak hanya mendapatkan kesempatan menjadi agen asuransi syariah, kami juga mendapat tiket training gratis. Kebetulan suami beliau yang menjadi trainer.
Begitu mengetahui kami sedang puasa, beliau meminta kami untuk tinggal sampai waktu berbuka. Awalnya kami ingin menolak, tapi akhirnya mengiyakan. Nggak baik kan menolak rejeki? *alibi
Menjelang berbuka, yang beliau sediakan untuk kami adalah dua gelas air es yang telah ditambahi herbal Klorofil (waktu itu, suplemen ini sedang ngehits sekali) dan sepiring Kelengkeng yang baru keluar dari lemari pendingin. Kami berdua hanya tersenyum sambil berpandangan.
Ba’da shalat dan kembali ke ruang tamu, di meja telah terhidang dua porsi sate ayam lengkap dengan lontong dan ubo rampe-nya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Hari itu kami mendapat kenikmatan jauh melebihi ekspektasi kami, bahkan sesuatu yang dibayangkan sebelumnya dan seolah tak mungkin diwujudkan ternyata begitu saja kami dapatkan. Semua itu kami anggap sebagai berkah silaturrahim.
Masih banyak kisah seputar silaturrahim yang pernah kualami. Tak hanya soal mendapatkan rejeki berupa materi, tapi juga rejeki lain berwujud kelapangan hati, rasa syukur yang berlebih setelahnya, atau juga pelajaran/inspirasi lewat obrolan atau kejadian kecil di dalam rumah orang yang kita temui.
Meskipun kini teknologi menjadikan yang jauh terasa dekat, semoga tak membuat yang dekat menjadi jauh karena jarangnya kita saling mengunjungi. Kemudahan-kemudahan itu harusnya membuat kita semakin giat untuk menyambung hubungan kerabat atau pertemanan, bukan menjadikan kita korban teknologi menjadi egosentris. (ah, ini sih note to my self banget)
Semoga bermanfaat ya Temans,
Salam,

26 comments:

  1. Pas kepengen, pas dapet ya mba. Hehe

    ReplyDelete
  2. Silaturrahmi memang banyak manfaatnya dan yang paling penting membawa berkah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, terkadang ada masalah pun hanya butuh silaturrahim untuk penyelesaiannya :)

      Delete
  3. Setujukah jika kita ada perubahan waktu dalam bertamu seharusnya memang diinfokan di depan. Takutnya tuan rumah menunggu-nunggu kita dan mereka juga sengaja mengundur urusan yang mungkin juga penting. Kalau tidak ada kabar mereka pasti perasaan nya juga tidak enak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, kadang saya pun begitu jika ada yang mau datang tapi ternyata tidak jadi datang tanpa kabar padahal kita sudah menunggu :(

      Delete
  4. Ah,iya ya, aku juga merasakannya, Mbak. Sama ortu muridku. Tahu2 datang ke sekolah bawa ikan seplastik gedhe. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... Barakallah Mba.. rejekinya bu guru :*

      Delete
  5. Allah memang selalu tahu yang pas kita mau Mbak. Alhamdulillah banget dapat seporsi sate lontong. rejeki memang nggak bakalan ketuker :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi. Iya Mba, aku senyum-senyum sendiri kalau ingat kejadian ini :)

      Delete
  6. Saya ke rumah tante yang cuma jarak dua rumah aja, ngabari dulu. Takutnya Tante atau Om lagi tidur, lagi nyuci, atau ada hal lain dan kedatangan saya malah mengganggu. Lantas gimana kalau orang lain yang datang ke rumah? Kalau tamu saya, langsung tegas saya bilang, "Kabari dulu, karena gue lagi ada urusan yg harus segera diselesaikan."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Patut dicontoh nih.

      Tapi saya terlalu nggak enakan Mba kalau ada yang datang trus saya bilang gitu :D

      Delete
  7. Kok aku jadi pengen makan sate sama kelengkeng ya. Iya sih kalau bertamu mending kasih kabar dulu, biar Bisa beberes rumah, ga enak kan ada tamu rumah berantakan

    ReplyDelete
  8. Walaupun kelihatannya sederhana, tp memberi tahu sebelum bertamu penting banget. Selain agar bisa ketemu jg tak tak mengganggu pemilik rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup! kadang kalau rumah pas lagi berantakan kan tuan rumah ngerasa ga enak juga ya :D

      Delete
  9. alhamdulillaah... dibayar kes ya sama Allah keinginannya

    ReplyDelete
  10. Aku jg lebih seneng kalau mau ada yg bertamu ngasih tahu dulu, jadi bisa beberes rumah dulu, hehe, secara rumahku sering acak adut :D wah, mau dong join sama Komunitas blogger muslimahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mba, tapi pernah dengar kata seorang ustadzah katanya kalau mau silaturrahim ya tinggal datang aja, masalah bs ketemu atau tdk itu rejeki dan kita sdh dapat niat silaturrahimnya.
      Tapi aku pernah baca salah 1 adab silmi itu ngeasih tahu dulu kedatangannya..
      Allahua'lam mana yang bener

      Delete
  11. Rezeki memang takkan kemana ya mba. Duh, kok saya mendadak lapar membayangkan sate-nya.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk nyate Mba... di malaysia ada kan?

      Delete
  12. Berkah silaturrahim ya Mbak, akhirnya kelengkeng dan sate idaman kesampaian. ☺ #ngebayangin waktu kos dulu, itu makanan mewah bangets 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. makanan super duper mewwah Mba... haha

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam