Ketika Adik Bungsu Kesayangan Menikah
Assalamu'alaikum, Temans.
Saya mau berbagi kebahagiaan. Alhamdulillah, pertengahan Juni kemarin, adik bungsu kesayangan kami, si Anak cowok satu-satunya di keluarga kami, menikah dengan gadis pujaan hatinya.
Sebenarnya, sejak masih kuliah dia beberapa kali bilang ingin segera menikah. Namun, kami tetap menyarankan untuk menyelesaikan kuliah, pesantren, dan mendapatkan penghasilan terlebih dahulu, sebagai bentuk tanggung jawab seorang suami, kewajiban terhadap istri.
"Kalau nikah belum ada penghasilan, memangnya istri mau dikasih makan batu?" Begitu selorohku saat sedang bercengkerama dan dia pun membanyol bilang ingin cepat nikah.
Kehebohan De Sisters, Ketiga Kakak Perempuan
Begitu dapat kabar akan silaturahmi ke keluarga Kendal sekaligus melamar, kami pun heboh di WAG "rumpi" kami. Maklum ya, si Bungsu itu adik kecil yang lahir setelah anak ke-3 umur 9 tahun, dan saya anak pertama usia 16 tahun. Anak laki-laki satu-satu dari 4 bersaudara, dan cucu termuda Mbah Mujib. Paham dong, kenapa dia selalu jadi kesayangan. Saat balita, kalau nggak dibawa kakak sepupu, di rumah juga jadi rebutan ketiga kakaknya.
Makanya, momen si Bungsu menikah ini juga jadi momen kebahagiaan keluarga besar.
1. Terlaksana Bikin Baju Kembaran Sekeluarga
Sudah lama, rasanya ingin sekali bikin seragam untuk seluruh keluarga. Soalnya dari moment anak pertama (eh, saya) nikah, anak ke-2 dan 3 nikah barengan dan moment lain, belum pernah seragaman full sekeluarga.
Saya pun segera mengajukan proposal ke Pak Suami. Begitu di-acc, langsung bahas dengan adik-adik, hunting kain di toko orens, hunting model, dll. Alhamdulillah, dapat kain yang harganya masih masuk kantong dengan kualitas yang cukup bagus (kalau kata Kakak sepupu yang penjahit, kalau di Wonosobo kain itu harganya di atas 100rb/meter, padahal saya dapat hanya harga setengahnya di Sopi).
Berhubung kami sudah emak-emak dan gampang berkeringat, sengaja pilih bahan yang agak blink-blink, tapi furing-nya ambil bahan katun hero supaya lebih menyerap keringat.
Tentu saja semuanya dibeli di Orens juga, untuk memudahkan. Meskipun sempat ada drama penjualnya di deskripsi bilang "kain hero" tapi yang dikirim malah kain poliester "SPT". Alhamdulillah, bisa mengurus pengembalian dana, dan proses pengiriman barang dibantu Adik bungsu yang di kampung.
Pengukuran baju dan proses pilih model baju pun semuanya via online. Maklum ya.. berjauhan beda provinsi dan beda pulau juga.
Alhamdulillah, terbantu dengan teknologi sekarang, jadi ukur baju sambil video call, cari referensi model di pinterest, bahas di WAG, dll.
MasyaAllah... Senang dan bersyukur banget akhirnya bisa mewujudkan keinginanku untuk pakai seragam di hari istimewa adik. Untuk seragam kemeja batik bapak-bapak, saya percayakan ke Toko Orens saja. Soalnya sudah ribet banget milih kain, model dll untuk baju Buibu dan anak-anak cewek, jadi yang bapak-bapak beli jadi secara online.
Untuk bawahan, pakai rok tutu yang sebagian disponsori Kakak kedua juga. Untuk Mbak manten dan Ibu Hajat, menggunakan rok dari kain songket Bali (Kamen Bali) yang dijahit jadi rok. Sedangkan untuk anak-anak laki-laki, dipesankan oleh Kakak kedua, beli kain di toko online dan dijahitkan di adik sepupu yang di Wonosobo juga. MasyaAllah, malah bisa seragaman sampai ke bayi juga.
2. Kakak Ke-2 Effort Bikin Souvenir saat Hamil
Saat chit-chat di WAG, kami juga bahas tentang souvenir. Kami sepakat, kalau ada tuh bakal OK banget, kalau nggak ada juga nggak masalah. Tahu-tahu si Kakak kedua bebikinan charm yang lagi happening. Dari masih hamil besar sampai sudah lahiran masih dikerjain. Nggak tanggung-tanggung, bikin 200 pcs sendirian! MasyaAllah.. pantesan rajin banget dia belanja manik-manik. Hahaha.
Tentu saja, keluarga senang karena dapat privilege buat milih duluan souvenirnya. Sebagian malah boleh ambil masing-masing 2, termasuk diriku dan anak-anak. Bukan kemaruk, tapi karena charm-nya cakep-cakep dan sejak lama anak-anak sudah nge-cup mau minta gantungan buatan Bulik-nya.
Berhubung si Kakak kedua ini yang paling dekat dengan kampung halaman, maka dia pun ketiban sampur buat jadi asisten Bu Hajat khususnya selama acara. MasyaAllah, sudahlah repot dengan anak 3 (ada balita dan bayi), masih rempong juga ngurusin tetek bengek.
3. Kakak Ke-3 Mudik naik Bus kondisi Hamil Besar dan Bikin Souvenir Rajut
Tak kalah effort si Kakak ketiga, mudik Jakarta-wonosobo dalam kondisi hamil tua. Buibu tahu kan ya, gimana rasanya hamil sudah masuk 7 bulan ke atas. Ya begah, ya beser (gampang pipis), gampang capek, dll. Tetap saja, demi ngumpul edisi lengkap, dijabanin juga mudik dengan bawa 2 anak.
Nah, kalau si Kakak ketiga ini, ahlinya bikin rajutan. Mulai dari tas, dompet, sampai printilan kecil-kecil macam charm.
Souvenir istimewa hasil rajutannya khusus buat keluarga. Alhamdulillah, semua senang.
Subhanallah, MasyaAllah tabarakallah, bukan mau pamer effort kami atau pamrih, ya.. ini hanya cerita sebegitu semangat dan bahagianya kami menyambut hari bersejarah adik bungsu dan juga "adik baru" (baca: adik ipar). Tak ada yang merasa paling berjasa, paling sibuk, dan paling effort karena semuanya sudah mengerahkan usaha terbaiknya. Love you all sekebooon!
Hari H Akad Nikah
Oh ya, sebelum acara ngunduh mantu di Wonosobo, akad nikah sudah dilaksanakan di Weleri, Kendal, kediaman mempelai perempuan 2 pekan sebelumnya. Setelah akad, mereka LDM karena si Bungsu harus kerja di Wonosobo. Malam sebelum acara di Wonosobo, barulah dia diantar lagi ke Kendal, untuk ke Wonosobo lagi bersama rombongan keluarga istri.
Begitulah menikah zaman sekarang, ya, nggak ada lagi tradisi pingit-pingitan, karena faktor tuntutan pekerjaan, nggak bisa ambil cuti sampai lama.
Saat akad nikah, yang bisa hadir ke Kendal hanya sebagian keluarga Wonosobo dan Kakak kedua yang domisili di Semarang. Saya pun sudah rikues untuk minta tolong siapa saja yang di lokasi supaya live streaming via IG atau FB.
Sempat ada drama sedikit, saat yang di sana live di IG, tapi saya nggak bisa menyimak. Huhu... Akhirnya ada kakak sepupu yang live via FB, dan Alhamdulillah bisa terhubung.
Saat menyimak detik-detik prosesi akad nikah, sudah mewek aja dari sini. Antara terharu, bahagia, juga bangga, adik bungsu yang belum genap berusia 24 tahun itu sudah berani mengambil tanggung jawab besar ibadah setengah agama. Seperti biasa, saat menyaksikan prosesi akad nikah, jadi teringat saat saya menikah dengan suami.
Persiapan Ngunduh Mantu: Rapat Panitia Dadakan
Sebenarnya, "kesibukan" menyiapkan syukuran pernikahan si Bungsu ini bukan hanya terasa di dunia nyata, tapi di atmosfer WAG kami juga. Hampir setiap hari kami curcol, bingung menghadapi Mamake yang bingung juga. Wkwkkwkwkwk. Bolak-balik beliau bilang, "nanti deh kita bahas kalau semua sudah ngumpul."
Allahuakbar! Rasane trenyuh tapi juga geregetan. Pengen segera bisa pulang dan di sana sampai cukup lama, apalah daya, cuti Pak suami hanya 10 hari. Tentu saja, 10 hari termasuk perjalanan itu harus kami bagi 2 dengan keluarga Semarang, terlebih bapak mertua juga sedang sakit dan membutuhkan perhatian lebih.
Hikmahnya, kami jadi lebih sering video call, menanyakan kabar sekaligus update persiapan. Mungkin beliau bingung karena tidak ada teman "rasan-rasan", mau rasan dengan kakak-kakaknya pun sungkan.
Akhirnya, H-2 acara, barulah kami bisa rapat dadakan dengan saudara-saudara yang bersedia membantu khususnya di hari-H. Alhamdulillah, ada juga yang tidak bisa hadir rapat, tapi berkenan membantu. MasyaAllah tabarakallah, terima kasih banyak, jazakumullah khairan buat semuanya yang sudah membantu. Lemah teles, Gusti Allah sing mbales.
Malamnya, masih lembur lagi karena saat rapat Bapak tidak menyampaikan akan ada Pak Kyai yang ceramah, ternyata ada!
Akhirnya, tengah malam masih nyari referensi susunan acara dan teks MC pakai Bahasa Jawa yang bukan bahasa kelas atas, hihi. Alhamdulillah, akhirnya beres juga nyusun acara dan edit teks referensi buat MC.
Berkumpul saat Acara Ngunduh Mantu
Pagi-pagi kami telah bersiap. Saking hebohnya, sampai mandinya numpang ke rumah Mbah Om di sebelah. Hihi. Maklum ye, kalau di rumah antreannya banyak dan biasanya semuanya mandi air hangat, saking dinginnya udara dan air di Wonosobo.
Setelah semuanya siap dan keluarga Kendal sudah hampir sampai ke lokasi, kami pun bersiap menyambut di depan.
Oh ya, kami booking fotografer tapi versi hemat, sekadar untuk dokumentasi keluarga besar, mumpung sedang ngumpul semua. Apalagi, momen penting hampir semuanya sudah dilaksanakan di Kendal, jadinya di Wonosobo sekadar buat silaturahmi keluarga besar saja.
Mantennya pun sudah pesan Wedding Content Creator (WCC), yang ternyata teman kuliahnya sendiri.
Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar.
Dasar tukang mellow yah.. begitu manten dan rombongan keluarga datang, baru salaman, udah mewek aja diriku ini. Wkwkwkwkwk. Padahal konsepnya nggak gitu.. huhu.
Setelah rombongan keluarga duduk di tempat yang sudah disediakan, acara pun dimulai, lanjut serah terima manten, ceramah, doa, dan foto-foto.
Aih! Senangnya, akhirnya bisa foto bertiga, sekeluarga lengkap, dan ramean bersama para cucu Mbah Mujib dan Mbah Suyuti meskipun banyak yang nggak bisa hadir juga karena domisili di luar provinsi.
MasyaAllah tabarakallah... Lega, terharu, bahagia, sedih, dan segala macam rasa campur aduk di hari itu.
Sebenarnya, acara masih berlanjut 2 hari lagi, tapi saya harus segera kembali ke Semarang, dan lusa bertolak kembali ke Bali.
Sedih banget harus pisahan lagi, padahal baru 'sak nyuk' ketemu adik-adikku yang belum tentu bisa ketemu setahun sekali.
Alhamdulillah, semoga sedikit waktu kita bersama selalu terkenang dalam hati, dikasih umur panjang, kesehatan, dan rezeki yang berkah dan selalu cukup untuk kita nanti bersua lagi, ngobatin rindu.
Pesan Cinta untuk Mempelai Berdua, Danang dan Ifa
Hai Dear, kini kalian telah menjadi suami istri. Bersyukur dan bersabarlah, karena 2 "saudara kembar" ini adalah "ramuan" paling mujarab dalam rumah tangga. Jangan sampai terlupa, bahwa setiap tahap kehidupan pasti tersedia lengkap dengan masalah dan tantangannya. Jika lulus dalam masalah ekonomi, akan dikasih masalah yang lain, jika masalah lain sudah lolos, pasti juga ada masalah lain lagi. Karena memang jalan itu tidaklah lurus mulus, namun terjal berliku.
Namun harus diingat juga, bahwa Allah di balik kesulitan yang Allah beri, selalu ada jalan kemudahan. Teruslah bersandar pada Allah, bukan pada yang lain. Teruslah bergandeng tangan, saling menguatkan.
Barakallahulakuma wabaraka 'alaikuma wajama'a bainakuma fii Khair.
Temans, semoga berkenan untuk mendoakan adikku juga, ya.
Sekali lagi, mau ngucapin terima kasih buat semuanya. Mulai dari yang repot sejak awal sebelum akad nikah, mulai dari Pakdhe, Budhe, Bulik, Paklik, Mas, Mbak, adik-adik sepupu, tim masak-masak (dengan head chef-nya, Bulek Eni), tim acara, tim dekor dan tenda, MC, fotografer, WCC, tim wara-wiri, tim jaga makanan, tim bikin minum, tim bersih-bersih, dan semuanya yang nggak sempat disebut. Maturnuwun, jazakumullah khairan, terima kasih banyak atas bantuan dan atensinya. Semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan. Aamiin.. yaa Rabbal 'alamiin.
Semoga bermanfaat,
Salam,









Posting Komentar
Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)
Salam