Kejadian Tak Terduga di Awal Ramadhan, Sepercik Pengingat

Table of Contents

 

Asalamu'alaikum, Temans.

Selamat menunaikan ibadah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan 1447 H, semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT dan keluar dari "kelas" Ramadhan ini, menjadi manusia yang bertaqwa. Aamiin yaa rabbal 'alamin.

Ngomong-ngomong, soal penentuan tanggal 1 Ramadhan, kami selalu memilih untuk mengikuti keputusan pemerintah, dalam hal ini melalui keputusan sidang isbat. Meskipun di sekolah Kakak H yang berbasis Muhammadiyah sudah diberikan jadwal puasa mulai tanggal 18, kami masih belum berpuasa di hari tersebut. InsyaAllah kami akan berpuasa esoknya di hari Kamis, tanggal 19 Februari 2026

Angin Puting Beliung Menyapa di Sore yang Gersang

Rabu, 18 Februari 2026, Hari yang MasyaAllah panasnya.

Di rumah kontrakan yang kami tempati, baru selesai urusan pembuatan septic tank (atau biasa disebut "sapiteng" olah masyarakat) baru. Sebelumnya, 2 rumah petak menggunakan 1 sapiteng. Berhubung penghuni masing-masing rumah cukup banyak (kami berlima dan tetangga sebelah ber-4), ukuran sapiteng lama juga kurang besar, jadi cepat sekali penuh. Tak sampai setahun sudah harus sedot WC lagi. Sungguh melelahkan dan bikin boncos.

Selesai urusan sapiteng, lanjut urusan nutupin area jalan depan (yang jadi semacam halaman karena tidak ada rumah yang berhadapan) dengan paranet. Tiang penyangga paranet yang sebelumnya sudah rusak, tiap ada hujan dan angin, seolah mau ambruk.

Alhamdulillah, H-2 puasa akhirnya selesai juga, termasuk toilet kami yang mampet pun sudah teratasi. Lega, ada sedikit jeda sebelum lanjut memasuki bulan Ramadhan.

Suami saya yang 3 hari meriang, 2 hari sudah bolos kerja shift pagi, memaksa untuk tetap berangkat kerja.

Sekira pukul 16.23, saya yang sejak siang sakit perut dan tiduran, mau tak mau bangun karena si Kecil memaksa minta dikupaskan buah pir. Saat tengah duduk mengupas buah, terdengar angin kencang dan atap yang "gelodakan" dimainkan angin. Saya cuma sibuk istighfar, sambil membatin, "ada apa ini, nggak hujan ko anginnya kencang sekali?"

Lalu angin makin kencang, suara atap makin keras, berakhir seolah atap diangkat. Lalu tiba-tiba "Brugh!" atap asbes yang tadinya terangkat, jatuh kembali mengenai plafon rumah yang hanya terbuat dari triplek. Untunglah hanya sebagian yang ambrol sampai bawah. Anak-anak yang berlarian dan kebingungan pun akhirnya hanya bisa menghindar ke ruang tamu. Alhamdulillah, tak ada yang kena percikan potongan asbes. Hanya debu yang mengepul di dalam kontrakan dan bagian atap yang melompong.

Saat mencoba untuk lari ke luar rumah, rupanya angin masih kencang. Kami pun kembali "bersembunyi" di ruang tamu. Anak-anak diam dan merangkul menahan takut. Setelah suasana tenang, kami keluar rumah, mengamati apa saja yang rusak. Para tetangga pun sudah banyak yang berkumpul di sekitar rumah, mengamati dan bersimpati. Tak menduga, angin lesus/lisus tetiba datang di sore yang gersang namun tenang itu. 

Segera saya laporkan ke suami yang sedang kerja, kebetulan hari itu beliau masuk shift siang.

"Minta bantuan tetangga buat beli asbes dan yang dibutuhkan. Segera. Sebelum toko tutup," suami mengarahkan melalui telepon setelah sebelumnya memastikan kami baik-baik saja.

Rasa lega, terasa setengah masalah telah terselesaikan ketika melihat sosok tetangga yang ahli urusan renovasi, tukang yang biasa jadi andalan warga untuk jasa berbagai urusan rumah. 

Beliau bersama tetangga sebelah segera naik ke atap, melihat kondisi dan memantau apa saja yang harus segera dibeli.

Tak menunggu lama, mereka pun segera meluncur ke toko bangunan terdekat untuk membeli asbes dan barang lain yang dibutuhkan.

Menurut tetangga, toko sudah waktunya tutup. Kasir sudah beberes, tapi beliau memelas setengah memaksa karena jadi korban puting beliung dan butuh segera renovasi sebelum hari gelap. Akhirnya beliau membantu, namun tetap harus minta tolong dan bayar sendiri fee pengantaran pada sopir mobil pick-up. 

Alhamdulillah, Om tukang dan para tetangga gerak cepat membantu pemasangan atap asbes. Menjelang maghrib, kurang lebih 12 asbes telah terpasang kembali, namun belum bisa dicek apakah masih ada yang bocor atau tidak. Minimal malam itu kami sudah aman, kalau pun hujan, minimal sudah ada atap, tidak langsung terkena kucuran hujan dari langit. Dan benar saja, malamnya hujan, rumah sebelah banjir sedangkan di tempat kami ada beberapa titik bocor yang cukup deras juga.

Esoknya, Hari pertama puasa, pak suami ikut berpanas ria membantu Om tukang untuk beresin lagi atap dan menangani asbes yang retak penyebab bocor.

Subhanallah.. luar biasa panas dan capeknya, ditambah kondisi berpuasa, tidak bisa minum saat haus. Alhamdulillah, meski lelah luar biasa sampai sore, akhirnya masalah bocor sudah berhasil diatasi. 

Kebakaran Akibat Gas Bocor di Rumah Tetangga

Kami baru merasa lega, "ngeluk boyok" setelah beberapa hari sibuk urusan di kontrakan termasuk soal angin lesus, tetiba sore itu dikejutkan lagi dengan suara tetangga, "ada yang kebakaran! Gas meledak!" 

Sontak saya yang baru bersiap mau keluar karena ada kegiatan, langsung menuju TKP. Rupanya, tetangga yang selisih kurang lebih 6 rumah, tengah berteriak kepanasan. Terlihat dari jauh, tubuhnya hitam bekas terbakar dan tetangga lain sibuk mematikan api yang masih menyala di tubuh beliau, yang lain menutupi area sekitar dengan kain. Saya pun hanya melihat dari kerumunan, tak berani mendekat karena beliau berteriak kesakitan. Gak mentholo, kata orang Jatim. Iya, nggak sampai hati untuk melihat dari dekat. Hanya melihat dari perempatan dengan jarak kurang lebih 10 meter saja rasanya sudah nggak kuat. 

Allah.. gimana panasnya itu? Sedangkan saya yang baru kemarin kena cipratan minyak goreng saja masih terasa panas dan perih sampai sekarang.

Tetangga sekaligus saudara beliau, gercep menyiapkan kendaraan dan segera melarikan beliau ke rumah sakit.

Tetangga masih berkerumun, membahas kronologi kejadiannya. Rupanya, sore itu beliau tengah bersiap memasak untuk berbuka puasa. Ternyata, gasnya bocor, "ngowos" bahasa Jawanya. Beliau berinisiatif memasukkan gas tersebut ke dalam bak kamar mandi. Tak berselang lama, beliau mengambil gas baru, memasangnya, dan segera menyalakan kompor. Saat kompor menyala itu lah, api menyambar ke tubuh beliau dan ke area dapur hingga kamar mandi. Ledakan yang terdengar dari luar, ledakan dari kamar mandi. Dengan tubuh yang sudah terkena api, beliau masih sempat mematikan kompor lalu keluar mencari pertolongan. Sayangnya, saking panasnya udara di dalam rumah, selot pintu meleyot sehingga tidak bisa terbuka. Pintu terbuka setelah didobrak. Subhanallah, 80% tubuh beliau menderita luka bakar.

Kabarnya, beliau sedang dalam kondisi flu, sehingga tidak mencium bau gas. Padahal gas yang beliau masukkan ke dalam kamar mandi itu pastinya menguar keluar dan memenuhi area kamar mandi dan dapur. Lokasi tempat tinggal kami ini padat penduduk, dan umumnya tiap rumah memang hanya punya ventilasi dan akses keluar/masuk di depan. Samping kanan/kiri sudah menempel dengan tetangga, dan bagian belakang berbatasan dengan perumahan lain. Di rumah beliau sebenarnya ada exhaust fan, sayangnya sore itu beliau tidak menyalakannya. Qadarullah, sudah begitu jalan yang digariskan Allah.

Beliau pun dirawat di ICU RS Ngoerah (RS Sanglah Denpasar) setelah menjalani perawatan pertama di RS Balimed. Para tetangga bergantian membesuk ke RS, tapi karena di ICU dan saya punya anak kecil yang ke mana-mana ikut, saya memilih untuk menjenguk nanti saja setelah beliau diizinkan pulang. Kami optimistis beliau akan melewati masa sulit itu, seperti teman saya yang lain yang juga pernah mengalami hal serupa. 

Qadarullah, akhirnya beliau tidak sakit lagi, karena berpulang 3 hari setelah masuk ICU. Meskipun tahu kondisi beliau, tapi tetap saja rasanya ayok mendengar kabar beliau telah tiada. Apalagi kami sama-sama punya anak balita yang usianya hanya berjarak 5 bulan. Sering bertegur sapa atau ngobrol ringan saat bertemu. Usianya pun masih terbilang muda, baru 47 tahun. Inalillahi wa inna ilaihi raji'un.. semoga husnul khatimah dan keluarganya diberikan kesabaran dan ketabahan. Aamiin.

Pagi yang basah. Hujan sedari malam dan malah makin deras. Kami menunggu jenazah sampai ke rumah untuk takziyah dan mengantarnya untuk dibawa ke Jawa, dikuburkan di kampung halamannya. Tetangga yang hadir tak kuasa menahan air mata, terlebih saat menatap anak bungsunya yang masih balita itu. Subhanallah... Begitulah rahasia maut, tak ada yang tahu.

Kejadian-kejadian di awal Ramadhan 1447 H ini semoga menjadi pengingat untuk kita semua. Bahwa kelakuan Allah itu mutlak, di atas keinginan dan rencana manusia.

Alllahua'lam bishshawab,

Semoga bermanfaat,

Salam,

Posting Komentar

Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner