Ubah Bad Mood jadi Good Mood

Daftar Isi
tips untuk mengatasi bad mood

Siapa nih yang sering mengalami swing mood? Mudah banget jadi bad mood karena hal-hal sepele. Kalau bad mood sudah melanda, alamat urusan pekerjaan atau aktivitas harian jadi kacau balau. Makanya kita jadi sering mikir gimana caranya biar nggak bad mood? Gimana caranya biar nggak bete? Ya kan?

Mood sendiri adalah keadaan emosional yang timbul hanya untuk sementara. Pada dasarnya, perasaan ini terbagi menjadi dua, yaitu suasana hati yang baik (good mood) dan suasana hati yang buruk (bad mood).

Kalau pada orang dewasa, khususnya wanita, bad mood bisa terjadi karena perubahan hormon menjelang menstruasi alias PMS. Selain itu, tuntutan kerja, tekanan hidup, sedang lapar, sesuatu yang berjalan tidak sesuai harapan, dan perubahan-perubahan dalam kehidupan juga bisa memicu bad mood.

Tips Mengatasi Bad Mood

Sebelum membahas tentang bagaimana mengatasi rasa bete, terlebih dahulu kita harus menelusuri apa penyebab rasa bete itu muncul. Jika datangnya dari diri-sendiri, maka yang harus diatasi tentu kita sendiri. Namun jika penyebabnya adalah eskternal, sebenarnya tinggal kita hadapi atau hindari saja. Meskipun praktiknya tidak semudah itu ya, Temans. 

Kita tidak bisa mengendalikan respon orang lain terhadap diri kita, tetapi kita bisa mengendalikan diri-sendiri terhadap berbagai hal yang terjadi, kecuali hal-hal yang memang tidak bisa kita kendalikan.

Jadi, saat mengalami situasi yang tidak sesuai dengan harapan, agar tidak membuat suasana hati makin buruk, yang perlu kita lakukan adalah mengendalikan diri.

Kunci agar badmood berubah menjadi good mood adalah mood booster. Mood booster setiap orang pasti berbeda-beda, karena pemicu suasana hati buruknya pun berbeda.

Yuk, intip beberapa ide agar bad mood berubah menjadi good mood 

Bangun pagi

Mengawali pagi dengan suasana pagi yang syahdu, menghirup udara segar dalam-dalam, sebenarnya sangat manjur untuk memberikan asupan energi dan menghadapi berbagai persoalan sepanjang hari. 

Buat emak-emak macam saya dengan bayi yang sering bangun di malam hari, bisa bangun pagi dan menikmati suasana pagi itu hal yang “mahal” sekali. Tak jarang pagi pun harus kejar-kejaran dengan tangis bayi yang nggak rela emaknya beranjak dari sisinya. 

Nah, ini juga bisa jadi nggak berlaku buat kaum bangsawan (bangsa tangi awan) ups! 

Me Time 

Meskipun kata orang, “me time” itu hanyalah korban materialisasi, bagi saya punya waktu menyendiri sejenak juga cukup ampuh untuk membuat suasana hati menjadi lebih baik. Tak perlu muluk-muluk, sejenak beranjak dari aktivitas dengan ngopi, belanja ke minimarket, jalan kaki ke ujung gang tanpa “ditempeli” anak-anak, atau sekadar bisa mandi dengan tenang atau tidur siang tanpa gangguan. Versi lebih mahalnya, me time dengan kopdar dan jalan bareng bestie, atau perawatan ke salon. Selain itu, konsumsi makanan sehat juga bikin good mood, loh! Saya sih setuju dengan ungkapan good food good mood. Kalau kamu?

Berdamai dengan Diri-sendiri

Banyak hal yang membuat kita kecewa, maka rasa bete pun bisa semakin meningkat. Berdamai dengan diri-sendiri atas berbagai hal yang di luar kendali kita itu akan lebih baik. Jika hati terasa lebih lapang maka akan terasa lebih bahagia dan ringan. 

Bersyukur dan Menjaga Lisan

Sabar dan syukur itu “saudara kembar” yang bikin hidup terasa lebih bahagia. Setuju? Saya sih yes. Saat bisa bersyukur dengan apa pun yang kita miliki dan tidak memusingkan apa yang dimiliki orang lain, 

Belum lama ini saya mendapat wejangan, pengingat untuk menjaga lisan jangan sampai membuat orang lain merasa tidak bersyukur dengan kondisinya karena ucapan kita. Seperti cerita yang pernah viral di Facebook. 

Sebuah cerita di mana seorang ibu yang baru melahirkan, yang awalnya merasa baik-baik saja dengan kondisinya, menerima keadaanya sendiri, berakhir depresi akibat ucapan-ucapan dari orang yang menjenguknya. 

“Suamimu ke mana? Ko nggak jagain di RS. Orang habis melahirkan ko ditinggal sendiri.” 

Padahal sebelumnya dia baik-baik saja meski suaminya tidak bisa menemani dan berjaga di rumah sakit terus-menerus. Ada anaknya yang lebih besar yang juga membutuhkan perhatiannya, sehingga harus meninggalkan istrinya sendirian setelah sebelumnya memastikan semuanya baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. 

“ASI-mu belum keluar? Dulu ASI-ku sudah keluar malah luber-luber sejak sebelum lahiran.”

Padahal ia tengah membesarkan hati dan berusaha meyakini kata dokter, bayi masih bisa bertahan 3x24 jam tanpa konsumsi apa pun sementara ia terus berusaha menyusukan sambil berharap ASInya segera keluar. Ucapan itu membuatnya kembali berpikir dia belum pantas menjadi seorang ibu. 

Dan berbagai ungkapan lain yang mungkin terdengar baik-baik saja, tapi menjadi menyakitkan ketika terdengar oleh orang yang hatinya sedang tidak lapang, atau yang sedang tertatih untuk bersyukur. 

Bersyukur dan hati-hati dengan lisan pasti bikin lebih bahagia dan suasana hati baik terus.

Semoga bermanfaat, 

Salam,

Posting Komentar

Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner