Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjaga Kewarasan Ibu Rumah Tangga

Bagaimana menjaga kewarasan ibu di rumah

Menjalani pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (IRT) bukanlah pekerjaan yang mudah. Aktivitas satu ini ternyata sangat rentan memicu stres. Bagaimana tidak? Selama 24 jam IRT harus berkutat dengan rutinitas yang sama dan hanya bertemu dengan orang yang sama pula. Lalu bagaimana supaya kewarasannya terjaga, tidak mengalami masalah kesehatan mental?

Mumpung sedang momen World Mental Health Day alias Hari Kesehatan Mental Sedunia, tanggal 10 Oktober, yuk kita bahas menganai masalah yang bisa menyerang kesehatan mental IRT alias stay at home mom. 

Tips Menjaga Kesehatan Mental Ibu di Rumah

1. Me Time

Banyak orang mengatakan pentingnya "me time" atau waktu khusus untuk diri-sendiri. Waktu khusus ini tidak sama setiap orang. Misalnya bagi saya "me time" adalah ketika saya bisa ngopi dengan nyaman, tidur nyenyak tanpa diganggu, mengikuti kegiatan di luar tanpa membawa anak-anak, atau bisa terapi pijat seluruh badan dengan nyaman.

Meskipun disinyalir "me time" hanyalah rekayasa industri khususnya dengan target market perempuan, nyatanya perempuan, apalagi IRT memang membutuhkannya.Tak harus fancy me time dengan biaya selangit, setiap orang punya zona nyamannya masing-masing. 

2. Menurunkan Standar Kebahagiaan

Indikator kebahagiaan seseorang adalah ketika ia mensyukuri apa yang dimilikinya saat ini. Ketika bisa menikmati kebahagian yang kecil, niscaya akan semakin membuncah bahagia ketika mendapatkan kenikmatan yang besar.

Tak hanya standar kebahagian, berbagai standar dalam urusan rumah tangga pun perlu diturunkan agar tidak menjadi pemicu stres/depresi.

Sebagai contoh, kerapihan rumah, hal yang paling umum menjadi perbincangan kaum ibu. Jika dulu sebelum menikah, semua pakaian harus dalam kondisi licin disetrika, setelah menikah dan punya anak perlahan standar turun menjadi "yang penting rapi dan bersih."

Atau jika dulu menginginkan rumah selalu dalam kondisi rapi dan bersih, setelah memiliki anak dan anaknya tumbuh aktif, standar kerapian pun diturunkan.

Lain halnya jika beres-beres rumah adalah hal yang membahagiakan, atau menjadi "me time"-nya.  Kembali lagi, setiap orang punya zona nyamannya masing-masing.

3. Berdamai dengan Diri Sendiri

Sering merasa stres karena target-target yang tidak tercapai? Berdamai dengan diri sendiri, menurunkan ritme agar lebih terjangkau, dan jangan terlalu keras pada diri sendiri. Meski begitu, jangan juga terlalu lembek dan menggampangkan berbagai hal. Bersikap moderat jauh lebih baik.

4. Komunikasi yang Baik dengan Suami dan Supporting System

Komunikasi yang baik dengan suami atau supporting system yang kita miliki, akan mengurangi beban mental yang dihadapi seorang ibu rumah tangga.

Tabiat perempuan umumnya tidak mau mengakui berbagai hal di depan suami. Ia menuntut laki-laki untuk memahaminya hanya dengan kode-kode atau berharap ketika diam, suaminya mampu "membaca" keinginannya. Sedangkan laki-laki dengan kekhasannya yang mengedepankan logika dibanding perasaan, sehingga tidak mampu memahami kode-kode dari istrinya.

Apa jadinya jika seperti ini tanpa komunikasi yang baik? Istri merasa tidak diperhatikan dan dihargai, sedangkan suami merasa istrinya baik-baik saja. Tidak ada titik temu, bukan? Maka harus diambil jalan tengah. Suami lebih peka terhadap kondisi istri, sedangkan istri mencoba untuk mengurangi "bahasa kalbu" dan mengomunikasikan perasaannya.

Awal menikah dulu, saya sangat canggung ketika harus menyampaikan perasaan dan keinginan ke suami. Baper, merasa tidak diperhatikan, merasa diduakan oleh suami, berbagai perasaan lain muncul yang membuat insecure.

Perlahan saya mulai memahami, bahwa jika saya diam saja maka suami tidak akan mengerti perasaan saya. Saya mulai meminta bantuan ketika saya tidak sanggup lagi dengan urusan anak dan rumah tangga. Suami yang sebenarnya sudah akrab dengan beberapa urusan rumah tangga pun akhirnya mulai peka. Jika lantai kotor tapi istrinya masih sibuk handle anak, atau tengah berkutat dengan deadline, beliau akan membantu membersihkan.

Yeah, meski tak jarang saya juga sampai memohon, "Yah.. minta tolong bantu nyapu dan ngepel, masih banyak yang harus di-handle."

Tentu meminta bantuan seperti ini juga melihat kondisi, ya. Ketika suami tengah sibuk dengan pekerjaannya, lebih baik tidak mengganggu. Terima saja kondisi yang ada, dan saling memahami serta menerima kondisi tersebut.

5. Temukan Mood Booster 

Swing mood juga rentan dihadapi ibu rumah tangga. Terkadang, sedikit trigger bisa membuat mood-nya berantakan tak karuan. Menemukan mood booster bisa menjadikan ibu dalam kondisi mood yang baik. Misalnya makan cokelat, makan eskrim, mandi, spa ringan, nonton film, jalan kaki, dll. Jika sudah mengenali mood booster-nya, akan lebih mudah mengounter perasaan negatif yang muncul.

Menjaga kesehatan mental diri sendiri

Seorang ibu adalah poros dalam kehidupan rumah tangga. Kebahagian seluruh anggota keluarga salah satunya ditentukan oleh ibu. Jika ibu bahagia, maka seluruh anggota keluarga akan merasakan aura bahagia yang membuat nyaman.

Jangan lupa selalu bersyukur, menyayangi diri sendiri, dan tidak membandingkan hidup yang kita jalani dengan yang dimiliki orang lain.

Semoga bermanfaat,

Salam,

1 komentar untuk " Menjaga Kewarasan Ibu Rumah Tangga"

  1. Hari kesehatan mental kali ini pas banget, memang belakangan ini banyak masalah berkaitan kesehatan mental. Perlu banget melakukan hal ini untuk menjaga kesehatan mental, nih, terlebih me time.

    BalasHapus