Dine In di Hokben Mahendradatta Denpasar

dine in di hokben saat pandemi covid 19

Di masa pandemi, memilih untuk dine in alias makan di tempat adalah keputusan yang diambil setelah melalui serangkaian pertimbangan. Dan akhir tahun kemarin, setelah beberapa hari mager di rumah, kami memutuskan untuk refreshing keluar. Awalnya bingung menentukan tujuan, akhirnya pilihan jatuh ke Hokben. 

Alasan kami waktu itu memilih Hokben adalah karena ada hokben baru di dekat rumah yang baru diresmikan beberapa bulan terakhir. Letaknya berada di kawasan yang berdiri beberapa resto fastfood terkenal lainnya. Selain itu, sepertinya sudah hampir satu tahun kami tidak ke Hokben, sudah kangen menu bento-nya. Tentunya, karena udah ada label halal MUI-nya jadi kami merasa lebih aman dan nyaman untuk makan di sana.

Yah, begitulah, jarang-jarang kami makan ke resto fastfood baik ke Hokben maupun ke tempat lain. Lebih sering makan di pinggiran atau masak sendiri. Jadi, pandemi membuat kami kangen sekangen-kangennya makan di luar. 

Saat di jalan, kami sudah merencanakan plan B yaitu drive thru atau apes-nya beli nugget, ebi furai, dan sejenisnya di tempat lain jika ternyata di Hokben ramai. Yes, kami tidak mau mengambil risiko terlalu berdekatan dengan pengunjung lain di tempat umum apalagi indoor dengan AC. 

protokol kesehatan prokes masa pandemi di hokben

Prokes di Hokben saat Pandemi

Beruntung saat kami masuk, hanya ada beberapa kendaraan dan di lantai bawah di tempat pemesanan terlihat lengang. 

Sebelum melewati pintu masuk, kami harus mencuci tangan di tempat yang telah disediakan. Di sana terdapat kran dan sabun serta tisu. Setelah itu, karyawan Hokben menyambut kami dan cek suhu tubuh dengan thermogun. Lolos di situ, kami antre dan berdiri sesuai dengan tanda yang tertera di lantai. Di depan kami ada pengunjung yang sedang memilih pesanan. 

Oh ya, displai makanan yang biasanya terpampang, kini diberi pelindung plastik. Jadi, pengunjung masih bisa melihat displai makanan tetapi tidak bisa kontak langsung dengan karyawan yang menyiapkan makanan. konsekuensinya, kita harus bicara lebih keras saat memesan. 

Oh ya, nampan yang biasanya tersedia dan diambil sendiri oleh pengunjung, sekarang diambilkan oleh karyawan. Pengunjung cukup memesan dan membawa sendiri makanan pesanan ke meja. 

Kami memilih naik ke lantai 2, berniat menuju ruangan semi-outdoor. Sayangnya di sana sedang ada serombongan orang yang belum selesai makan. Kami pun memilih tempat di pojok yang paling nyaman untuk kami dan anak-anak.

Di lantai atas ini, meja/kursi telah disetting sedemikian rupa supaya setiap pengunjung bisa menjaga jarak. Pengaturan kursi dan tanda larangan duduk tertempel di lantai. Dengan pengaturan ini, bikin pengunjung merasa lebih nyaman untuk memilih tempat duduk. 

Tentunya, meskipun saat itu hanya ada kami berempat, kami tidak mau berlama-lama makan di tempat karena pasti akan datang pengunjung lain. Benar saja, sesaat sebelum kami menghabiskan makanan, 4 orang datang tetapi memilih ruangan indoor yang masih kosong. Tak berselang lama, masuk juga sepasang muda-mudi yang memilih duduk di pojok berlawanan dengan kami. 

Sebenarnya, layanan drive thru Hokben sudah oke punya dan tidak perlu memutar jauh. Namun kali ini kami benar-benar butuh refreshing ke luar, jadi memilih untuk dine in. 

Abi agedana mentai hokben

Mencoba Ebi Agedama Mentai

Jika ada kesempatan makan di Hokben, menu yang kami pilih tak pernah jauh-jauh dari Hokben Special Bento. Rasanya tuh udah paling ‘hokben’ buat kami. Anak-anak biasanya memilih Kidzu bento dengan ebi furai atau egg roll. Tentu, mereka lebih tergiur dengan hadiah mainan dan segelas es Milo dibanding dengan makanannya. 

Saat sedang memilih menu dan hampir menyebutkan salah satu varian bento spesial, pandangan mata tertuju pada poster menu mentai. Duh, sejak dengar kata ‘mentai’ dan melihat penampakannya di postingan para foodblogger, saya sudah ngiler. Maka saya putuskan untuk memilih Ebi Agedama mentai. Ada 2 varian mentai di Hokben, Ebi dan takoyaki. Saya memilih si Ebi karena memang lapar dan wajib makan nasi. Ups. 

Isinya berupa nasi khas Hokben yang dipadukan dengan ebi agedama. Setelah itu disiram dengan saus mentai. Di atasnya ditambah hana katsuoboshi dan potongan nori atau rumput laut kering. Rasanya gurih ada rasa manis dan asam, berpadu dengan udang yang krispi dan nasi pulen khas Hokben. Unch! Enaaaak! Well, saya belum pernah merasakan nasi mentai sebelumnya, jadi bagi saya ini sudah enak, karena tidak ada pembanding sebelumnya. 

Namun saat itu saya sedang super lapar, satu porsi ebi Agedama mentai yang juga dicomotin suami terasa kurang di perut. Ihik! Mau pesan lagi udah nggak mungkin, nggak mau ambil risiko makin lama di tempat.

Nah kan, nulis ini saya jadi kelaparan lagi membayangkan menu-menu di Hokben. Kangen special bento, takoyaki, ebi furay, siomay, sakana, koori konyaku, lychee tea, ocha. Trus masih penasaran sama iced coffee-nya. Hm... semoga nggak lama bisa main ke sana lagi. Aamiin. 

Semoga bermanfaat, 

Salam, 

No comments for " Dine In di Hokben Mahendradatta Denpasar"