Pantai Kuta Bali, Dulu dan Kini

pantai kuta di masa pandemi covid 19
Pantai kuta saat pandemi covid 19 tahun 2020


Napak Tilas Perjalanan di Pantai Kuta

Pesona pantai Kuta, Bali hampir selalu melekat dalam hati setiap orang yang pernah mengunjunginya. Keindahan matahari terbenamnya masih memukau hingga kini.

Ya, Kuta adalah tempat paling mainstream yang selalu dikunjungi orang. Pesona matahari terbenamnya masih menjadi primadona hingga sekarang. 

Tiga belas tahun yang lalu, di tahun 2007 saya pertama kalinya menginjakkan kaki di Pulau Bali. Waktu itu saya mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) sebagai salah satu mata kuliah non-SKS. 

Setelah melalui serangkaian acara kunjungan ke IALF - Bali TV dan Angkasa Pura, pastinya tak terlewatkan untuk mengunjungi tempat wisata menarik di Bali.

Sore itu kami antusias menuju Kuta, pantai yang kami kenal lewat lagu. Bis parkir di central park, lalu kami mendapatkan 1 tiket PP menggunakan kendaraan wisata. Bentuknya mirip dengan minibus zaman dulu yang dicat serupa graffiti supaya menarik. Semilir angin menerpa wajah-wajah lelah namun bahagia kami, para mahasiswa yang jarang bertamasya.

Sampai di Kuta, hal pertama yang ada di kepala adalah amazed, karena akhirnya bisa sampai di pantai Kuta, tujuan wisata di Bali yang sering dibicarakan banyak orang. Kami puas menikmati pemadangan dan menunggu sunset. Duduk di pasir, berfoto di tempat-tempat ikonik seperti di landmark gitar-nya Hotel Hardrock yang berada tepat di seberang pantai, juga menikmati pemadangan penduduk lokal yang tengah mengadakan acara agama. 

Sayang, sore itu mendung menggelayut langit. Awan kelabu memenuhi horizon. Kami pun gagal menikmati keindahan matahari terbenam di Kuta. Matahari malu-malu muncul dari balik awan. Ada rasa kecewa di hati kami, tapi tak mengalahkan rasa bahagia telah sampai di pulau dewata. 

Tak dinyana, suami saya mendapat tugas kerja di Bali, sehingga kami sekeluarga pindah ke pulau berbentuk ayam ini. Sejak tahun 2018 kami pindah, belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Kuta, karena malas dengan ramainya suasana di sana. 

Barulah sejak bulan Agustus, setelah masa adaptasi kebiasaan baru diberlakukan, kami berani menyambangi Kuta dan mengenang perjalanan 13 tahun yang lalu. Meski dulu kami jalan sendiri-sendiri, saya dengan gank perempuan dan dia dengan teman-temannya. Benar, tak pernah menyangka kami akan dipertemukan dalam pelaminan, membina rumah tangga bersama. 

Ketika datang pertama kali di masa pandemi itu, saya terpukau menatap langit dan matahari yang merangkak menuju peraduan. Sebelumnya tak terbayangkan jika Kuta akan sesepi itu. Tak ada penjaja makanan, tak ada ibu-ibu yang menyewakan tikar, tak ada payung-payung dan kursi malas untuk berjemur, tak ada jasa pijat dan lukis kuku. Kuta seperti hampir mati. 

Hikmahnya, kami merasa nyaman untuk datang ke sana, karena bisa menjaga jarak dengan pengunjung lain dibanding di pantai Kelan atau pantai sekitar Kedonganan. Selain itu, cukup aman dari ‘polusi mata’ para bule berpakaian minim. 

Sejak Agustus, akhirnya kami sering sekali menyambangi Kuta. Bahkan pernah sampai sepekan dua kali karena anak-anak ingin bermain pasir. 

pantai kuta dalam kenangan tahun 2007
Pantai Kuta tahun 2007 bersama teman kuliah

Pilihan Aktivitas Menarik di Pantai Kuta

Mau ngapain di pantai Kuta? Sebenarnya banyak aktivitas menarik yang bisa kita lakukan di sana. Sesuaikan dengan kondisi masing-masing apakah sendiri, bersama rombongan kecil, rombongan besar, bersama keluarga, dll. Yuk, simak apa saja yang bisa dilakukan di sana.

Duduk Menanti Sunset

Kelihatannya menjenuhkan sekali ya? sebenarnya, bagi orang-orang tertentu (termasuk saya), menanti sunset dengan hanya duduk di pinggir pantai, menikmati kesiur angin, mengamati ombak yang berkejaran, rasanya sungguh menenangkan. Iya, sesederhana itu bahagia. Apalagi kalau menanti sunset-nya di pantai Kuta. 

Bermain Pasir Bersama Anak-anak 

Favotir anak-anak saat ke pantai: main pasir! Berhubung tempat tinggal kami cukup dekat dengan Kuta, hanya sekitar 20 menit perjalanan dengan kendaraan roda dua, kami pun sesekali main ke pantai. Anak-anak antusias ketika ada rencana ke pantai. Mereka sendiri yang heboh menyiapkan mainan cetakan istana pasir dan printilannya. 

Jika tidak membawa cetakan, bisa memanfaatkan barang apa saja. Bermain pasir tanpa alat pun menyenangkan sekali, melatih sensory dan kreativitas anak-anak. 

Surfing atau Renang

Yup! Bali adalah surga surfing, termasuk di Kuta. Biasanya ramai sekali orang-orang yang surfing di sana, menjadi pemandangan menarik bagi pengunjung lain yang tidak bisa surfing. Tak bisa surfing? Bisa sekadar berenang atau bermain ombak. 

Gelombang di pantai Kuta relatif aman kecuali di saat-saat tertentu. Beberapa kali kami mendapati air pasang cukup tinggi sehingga penjaga pantai siaga penuh di sana. Tak jarang pula air surut dan bisa bermain pasir hingga cukup jauh dari jalan masuk. 

Piknik 

Piknik di pantai itu mengasyikkan! Jika masa-masa normal, ada persewaan tikar dan penjual lalu-lalang menawarkan dagangannya. Kami memilih untuk membawa tikar dan bekal sendiri. terkadang hanya membawa minum air putih dan beberapa lembar roti, atau membawa bekal snack yang kami beli di minimarket di perjalanan. 

Memilih tempat yang cukup teduh, gelar tikar, duduk dan menikmati makanan sambil menunggu matahari terbenam. Salah satu alternatif quality time yang mudah dan menyenangkan, bukan?

Mewarnai Kuku 

Mewarnai kuku dengan cantik bisa mengesankan kalau habis dari Bali, dan mempercantik feed instagram (penting kan bagian ini bagi milenials. Ups).

Sebenarnya banyak tempat wisata di Bali dimana banyak perempuan Bali menawarkan jasa cat kuku cantik (nail art). Mereka membawa katalog dan alat lukis kuku. Harga yang ditawarkan pun cukup murah, mulai 10 ribu untuk 10 jari. Ingin mencoba? 

Temans, ada ide menarik lain yang bisa dilakukan di pantai Kuta? Feel free to share, ya! 

Pantai Kuta saat Pandemi Covid-19

Akhir September lalu, kita dikejutkan dengan berita yang cukup mengaduk-aduk emosi, berita penutupan McD Kuta beach, yang tepat berada di seberang pantai Kuta. Dunia maya terutama para penggemarnya heboh, menyaksikan bagaimana gerai fastfood paling populer di Indonesia dan telah berdiri selama 20 tahun di sana tergerus akibat pandemi.  

Ya, wilayah Kuta yang dulunya menjadi surga bagi para wisatawan dan pekerja sektor wisata, kini hampir mati suri. Hotel berbintang selama beberapa bulan menutup sementara operasionalnya, tersisa hotel-hotel budget. Meski kini sektor wisata domestik mulai berjalan lagi, dan hotel-hotel besar mulai menerima tamu lagi, suasananya jauh berbeda dengan sebelumnya. 

Dulu, yang menjadi pertimbangan suami menolak ajakan saya ke Kuta adalah macet, apalagi jika tujuan saya untuk menunggu sunset, sedangkan di sana tidak ada masjid terdekat maka kami akan melewatkan waktu maghrib. 

Kini selain sepi, _dan memang ada larangan untuk berjualan bagi penjual asongan_ juga hanya ada segelintir turis asing yang masih bertahan di Bali. Bisa jadi mereka termasuk orang-orang yang terjebak pandemi dan belum bisa pulang ke negaranya.

Pengunjung diwajibkan memakai masker dan mencuci tangan di tempat yang disediakan serta menjaga jarak dengan pengunjung lain. Pintu-pintu masuk yang terdapat di sepanjang jalan Kuta pun sebagian besar ditutup, hanya pintu utama yang dibuka sebagai akses keluar/masuk pengunjung. 

Hikmah bagi alam yang telah lama tereksploitasi, kini bisa istirahat dan ‘self healing’. Meski bagi manusia, ada dampak resesi ekonomi yang mengancam semua pihak. 

Tentu kita semua berharap agar pandemi covid-19 ini segera berlalu dan dunia kembali pulih. Aamiin. 

Kami tunggu di Bali setelah aman, ya!

Semoga bermanfaat, 

Salam, 

No comments for " Pantai Kuta Bali, Dulu dan Kini"