5 Tips Fotografi Perjalanan ala Fotografer Profesional

tips fotografi perjalanan dan fotografi jurnalistik dari fotografer prosesional
sumber gambar: Pixabay

Halo, Assalamu’alaikum! 

Senang banget rasanya kemarin saya dapat kesempatan untuk mengikuti kelas online Sekolah TelusuRI tentang fotografi perjalanan atau travel photography. Sebenarnya kelas diadakan via zoom, tapi sayang saya terlambat mendaftar. Untung ditayangkan juga di youtube, jadi saya bisa mengikuti keseluruhan acara dan mendapatkan tips fotografi perjalanan dari 2 narasumber yang keren banget. 

Narasumber yang pertama adalah Mas Ranar Pradipto, beliau seorang fotografer perjalanan dan founder Potret Indonesia Tour. Narasumber kedua Mas Ricky Martin, seorang fotografer di National Geographic Indonesia. Nggak keren gimana coba kedua pembicara di acara ini? wuah! Buat saya yang masih belajar fotografi meskipun belum punya perlengkapan yang memadai, bisa mendengar speech dari mereka secara langsung sudah membuat hati membuncah bahagia.

Langsung saja deh ya, saya rangkum beberapa tips yang disampaikan oleh kedua pembicara. Sebenarnya temans bisa mengakses di youtube TeluruRI, saya sekadar berbagi dan sebagai catatan untuk saya pribadi. 

1. Persipan yang Matang sebelum Melakukan Perjalanan dan Memotret

Saat ini traveling dan mengunggah foto di media sosial adalah tren yang digemari segala usia khususnya kaum milenial. Hayo... ngaku deh, siapa yang nggak suka posting hasil jalan-jalan dan hunting foto-nya di medsos? ups! 

Bagi saya yang masih awam, apalagi masih hanya menggunakan kamera HP, tiap akan bepergian ke suatu tempat rasanya saya tidak pernah melakukan riset seputar foto yang akan saya ambil di lokasi. Saya hanya sedikit mengulik informasi seputar rute perjalanan, biaya tiket, manajemen waktu termasuk tempat shalat/rest area, dll. Maklum lah ya, saya belum menjadi seorang fotografer perjalanan. Meskipun seharusnya hal ini saya perhatikan mengingat saya kerap membagi cerita perjalanan saya di blog ini. fix habis ini kalau mau ke suatu tempat saya harus lebih detail melakukan persiapan.

Apa saja persiapan yang harus dilakukan? Menurut Mas Ranar, sebelum melakukan perjalanan, seorang fotografer perjalanan harus mengumpulkan informasi detail seputar lokasi tujuan, sejarah, kearifan lokal, cuaca, hingga review foto yang sudah ter-publish. Berbekal semua informasi itu kita bisa menentukan di lokasi mana akan mengambil gambar (jika mengambil gambar pemandangan). Ranar bahkan search image seputar lokasi tujuan di google, lalu memerhatikan setiap foto yang ada. Untuk apa? Tentunya untuk mempelajari foto yang sudah ada dan jika memungkinkan, membuat foto unik yang belum ada. Perlu juga mengumpulkan informasi teknis foto yang menurut kita menarik. 

Selanjutnya, menyiapkan perlengkapan, dalam hal ini kamera, lensa, tripod, dan printilan lainnya. Tentunya kita akan memilih membawa peralatan sesimpel mungkin mengingat ini adalah traveling. Lagi-lagi ini berhubungan dengan hasil riset dan konsep yang akan dibuat. Buat yang masih mengandalkan HP, yuk jangan berkecil hati, maksimalkan perangkat yang ada. Kamera terbaik adalah kamera yang kita punya. 

Perhatikan juga waktu terbaik untuk mengambil foto, cuaca di lokasi, dll. Ini akan sangat membantu supaya kita tidak kecewa saat sampai di tempat tujuan. Sayang kan, jika sudah mengagendakan matang-matang ternyata gagal mendapatkan foto menarik.

2. Memahami Cakupan Travel Photography

Apa konsep foto yang akan dihasilkan? Tentunya berkaitan dengan tempat tujuan dan konsep kita sendiri. Cakupan travel photography meliputi landscape, human interest, portrait, culture, street photography, dll. 

Mengambil foto landscape paling umum dilakukan oleh seseorang yang melakukan perjalanan. Tempat yang indah akan terlihat lebih indah saat dibidik oleh lensa kamera. Kita pun berhak untuk mennyunting hasil foto, tetapi jangan berlebihan supaya tidak terkesan lebay atau tanpa sengaja ‘menipu’ orang lain jika foto tersebut diunggah ke media sosial. 


contoh foto landscape dalam travel photography


Human interest (HI), tentang bagaimana kita menceritakan kegiatan/aktivitas keseharian atau pekerjaan penduduk lokal di tempat tujuan. Hal yang perlu diperhatikan dalam foto HI adalah komposisi dan angle, bagaimana membuat foto yang bercerita dan unik, membuat foto tunggal yang kuat, bercerita, dan lengkap.

Sedangkan untuk foto portrait, PR-nya adalah menghasilkan foto yang memiliki jiwa. Background yang polos menjadi penting supaya benar-benar fokus di objek foto, perhatikan ekspresi, mata, dan cahaya. “Mengambil foto seperti ini bisa menggunakan lensa fix 50mm,” lanjut Ranar sembari memperlihatkan foto portrait-nya yang menarik saat perayaan di India. 

Ranar juga memberikan tips bagaimana supaya kita bisa mengambil foto HI atau portrait dengan menarik dan santai. Yang pertama dilakukan adalah membaur dengan penduduk setempat, ajak ngobrol, dll. Setelah mereka terbuka dan terkesan akrab barulah kita mengambil foto, jangan terburu-buru dan perhatikan momen yang muncul. 

3. Memahami Fotografi Jurnalistik

Seorang fotografer perjalanan dituntut untuk bisa bercerita melalui foto yang dihasilkan. Untuk itulah ia harus memahami kaidah-kaidah jurnalistik terlebih dahulu. 

Mengenai fotografi jurnalistik disampaikan oleh Mas Ricky Martin. Konon beliau memulai profesi fotografernya sebagai wedding photographer. Awalnya memotret hanya sekadar hobi saat masih kuliah, namun hobi yang mahal ini akan membuat kantong jebol jika tanpa pemasukan tambahan, maka beliau dan teman-temannya merambah dunia foto pernikahan. Karier jurnalistik beliau dimulai di majalah Bobo, berpindah majalah lain dan sekarang berkarier di National Geographic Indonesia. 

Jurnalistik sendiri merupakan bidang pekerjaan yang berhubungan dengan publikasi pesan-pesan di mesia massa yang terbit secara periodik. “Pada dasarnya, pekerjaan jurnalistik adalah menceritakan kejadian atau keadaan kepada khalayak, dengan tujuan tertentu yang mudah dipahami oleh khalayak luas. Seorang jurnalis harus memperhatikan fakta dengan rumus 5W+1H,” ujar beliau. 

Cakupan Foto Jurnalistik:

  • Hardnews: aktualitas yang terikat dengan waktu
  • Feature: faktual yang terikat oleh waktu
  • Potret: fokus utama pada ekspresi seseorang
  • Ilustrasi: informasi pelengkap dari sebuah tulisan
  • Photo story: sejumlah foto yang tampil berurutan saling menguatkan antara foto yang satu dengan lainnya. 
foto human interest dalam travel photography

Bercerita dengan foto (photo story):

  • Deskriptif: kumpulan foto-foto yang disusun membentuk sebuah paparan suatu peristiwa/kejadian. Namun tak memiliki alur cerita yang lengkap. Sifatnya informatif
  • Naratif: kumpulan foto-foto yang disusun membentuk sebuah hubungan saling terkait dan memiliki alur cerita. Membentuk sebuah makna tertentu bagi yang melihatnya. 
  • Essay: sudut pandang pemotret terhadap sebuah kejadian/peristiwa
  • Series: memotret sebuah objek/keadaan yang berbeda dengan sudut pandang, teknik foto yang serba sama. 
  • Dyptich: menyandingkan dua buah foto yang berbeda untuk menghasilkan makna baru.

Seorang fotogafer jurnalistik dituntut untuk bisa menulis, minimal menulis deskripsi foto karena foto yang diberi penjelasan akan lebih mudah dipahami. Selain itu, jika memiliki kemampuan menulis yang baik, bisa mengantarkan pesan visual kepada publik. Riset – memotret – menulis – editing- publish, demikian alur yang disampaikan oleh Mas Ricky.

4. Terapkan Etika Fotografer

Dalam fotografi juga ada etika yang harus diperhatikan, termasuk fotografi perjalanan. Saat mengunjungi suatu tempat, kita harus berprinsip ‘di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’. Jangan mentang-mentang sebagai turis kita bersikap seenaknya atau arogan terhadap tempat atau penduduk setempat. Perhatikan juga larangan atau hal yang tak boleh dilakukan ketika di tempat khusus misalnya di desa adat, tempat ibadah, dll.  

Etika fotografer

  • Awali dengan riset sebelum melakukan pemotretan di lapangan
  • Lakukan pendekatan sosiologi dan psikologi terhadap objek foto (terutama jika memotret manusia)
  • Membaur dengan penduduk lokal
  • Jujur kepada setiap narasumber. Jika tidak, kita sendiri yang akan menanggung akibatnya
  • Bertanggung jawab secara moril terhadap karya fotografi 

5. Dokumentasi Sebanyak Mungkin dan Kelola Data 

Saat mengabadikan setiap hal dalam perjalanan, usahakan untuk mengambil foto yang hampir jadi atau jika memungkinkan, foto jadi sehingga meminimalkan proses editing. Ambillah dokumentasi sebanyak-banyaknya dan setelahnya lakukan manajemen data.

Manajemen data sangat penting bagi seorang fotografer. Selain membutuhkan ruang penyimpanan yang besar juga butuh software untuk ketegorisasi data/file foto. “Setelah mendokumentasikan, pilah-pilah foto, ganti nama file, buang foto yang tidak perlu, ambil sekitar 10 – 15 foto untuk dipublikasikan dan jangan lupa back up di google drive,” ujar Ranar. 

“Pastikan untuk memberikan nama dan kategori yang jelas dan detail untuk setiap file dan folder foto supaya mudah jika akan ‘memanggil kembali’ foto tersebut,” lanjut Mas Ricky. 

Hm... masyaAllah, waktu kurang lebih 2 jam rasanya belum cukup untuk mengulik seputar fotografi perjalanan. Kedua narasumber memberikan ilmu dengan menarik dan detail, jadi yang menyimak pun rasanya puas sekali. 

Terakhir, Tips Sukses di dunia travel photography menurut Ranar Pradipto

  • Konsistensi
  • Personal branding 
  • Terus belajar berkarya lebih baik
  • Perbanyak jaringan 
  • Fotografi untuk masa depan 

Semangat! Semoga ilmunya bermanfaat. 

Salam, 

No comments for "5 Tips Fotografi Perjalanan ala Fotografer Profesional"