Tradisi yang Dirindukan Saat Lebaran: Sungkeman Keliling Kampung

Tradisi sungkeman keliling kampung saat lebaran
Sungkeman kolektif ke tokoh masyarakat


Saat ini kita telah memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Saat yang mendebarkan karena menurut berbagai riwayat, di sepertiga akhir inilah terdapat malam lailatul qadar dengan keutamaannya yang melebihi 1000 bulan. MasyaAllah!  Selain itu, masyarakat juga mulai menyiapkan pernak-pernik lebaran. Ah! Apa sih yang dirindukan saat lebaran? Kalau saya, merindukan sungkeman keliling kampung.

Ya! Di tempat lahir saya, ada tradisi sungkeman keliling kampung setelah salat idulfitri. Sebenarnya tak hanya sungkeman yang dirindukan, tapi menurut saya ini tradisi yang unik dibandingkan di aktivitas idulfitri lainnya.

Warga desa saya memulai aktivitas di hari raya dengan ziyarah ke makam sejak masih pagi buta. Pukul 3 pagi, makam telah ramai dikunjungi orang, masing-masing membawa senter, bahkan tak jarang membawa obor atau lampu petromax. Maklum, pemakaman berada di ujung desa dengan jalan tanpa lampu penerangan. Pemakaman lainnya lebih dekat dari desa, namun kondisinya sama gelapnya karena berada di balik hutan bambu.

Bakda subuh, aktivitas persiapan salat idulfitri mulai terlihat. Panitia menyiapkan terpal untuk jamaah di halaman masjid. Warga pun mulai berdatangan supaya mendapat tempat di dalam masjid. Terlambat sedikit saja, seringkali tak mendapat saf, dan harus rela hanya ‘menonton’ salat id di belakang jamaah.

Seperti di Indonesia pada umumnya, setelah salat id kami sungkeman, meminta maaf kepada orang tua dan keluarga yang lebih tua. Namun tradisi di keluarga kami hanya sungkeman kepada orang tua. Saya sebagai anak sulung sungkan jika harus menerima sungkem dari adik-adik. Jadi berasa tua banget nggak sih? ups! Kami hanya saling memaafkan dan mendoakan dengan gaya kami dan sambil guyon.

Tibalah saatnya kami akan roadshow dari ujung ke ujung kampung. Tak seperti tradisi di Semarang _di komplek perumahan mertua saya_ yang hanya keliling rumah lalu saling bersalaman dan mengucapkan selamat idul fitri disertai permohonan maaf, di desa kami lebih dari itu. Meskipun sama-sama keliling kampung untuk meminta maaf dan mengucapkan selamat idul fitri.

Setidaknya begini adatnya saat kami sungkeman keliling:

Pertama, mengucapkan salam sebagaimana adab bertamu

Kedua, setelah dipersilakan masuk, kami duduk di tempat yang disediakan. Biasanya tuan rumah langsung mempersilakan untuk mencicipi hidangan yang tersedia.

Ketiga, kami pun sejenak menikmati hidangan lebaran berupa kue-kue atau jajanan yang umumnya dikemas dalam stoples klasik. Cara ini sekaligus melihat apakah tuan rumah siap untuk sungkem, atau masih ada pengunjung yang datang sebelumnya.

Keempat, setelah tak ada antrean sungkeman, bergantian kami maju untuk sungkeman dengan tuan rumah terutama yang dituakan.

Kelima, saat sungkeman mengucapkan teks yang kurang lebih berbunyi: “Keparing matur, Bapak/Ibu.. sepindah kula ngaturaken sugeng riyadi, kaping kalih kula nyuwun agunging samudra pangaksami menawi kathah klenta-klentu kawula. Mugi-mugi saged kalebur wanten ing dinten riyaya punika, lan ugi nyuwun berkah do’anipun saking Bapak/Ibu” (Bapak/Ibu, pertama saya mengucapkan selamat idul fitri, kedua saya mohon maaf sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang telah saya lakukan. Semoga dosa-dosa saya terlebur di hari raya ini. Saya juga memohon doa restu dari Bapak/Ibu). Iyes! Harus ngapalin dulu teks-nya.

Kurang lebih begitulah yang diucapkan, kadang cuma disingkat jadi ‘Ngaturaken sugeng riyadi.. sedaya lepat nyuwun pangapunten, berkah do’anipun Bapak/Ibu kula suwun..” setelah itu meng-amin-kan do’a-do’a yang terlantun dari mereka. Ah, indahnya silaturrahmi... mulai dari do’a agar sukses dunia akhirat, do’a agar sekolah dan ngajinya lancar berkah, sampai do’a agar dapat jodoh, momongan, juga pengingat agar sabar dan tegar berumah tangga, menjadi keluarga sakinah, mawaddah, rahmah.

Keenam, setelah masing-masing yang antre sungkeman mendapat giliran, kami pamit untuk melanjutkan ke rumah yang lain sampai selesai.

Ketujuh, begitu seterusnya diulangi dari langkah pertama setiap memasuki rumah.

Tahun-tahun belakangan, karena ribet dan lama antre jika harus sungkeman satu persatu, para pemuda menginisiasi untuk sungkeman kolektif. Kami pergi dengan rombongan (biasanya satu gang), lalu ada satu orang yang didapuk untuk menjadi juru bicara. Jubir inilah yang mengucapkan permohonan maaf dan memohon doa dari sesepuh yang dikunjungi.

Alhamdulillah, dengan cara ini sungkeman pun menjadi lebih efektif dan efisien. Kami tak perlu antre panjang dan menghabiskan waktu lagi untuk sungkeman satu persatu.

Qadarullah, tahun ini kami tidak mudik, maka tradisi sungkeman keliling inilah yang paling dirindukan saat lebaran. Sambil nulis ini sudah mewek membayangkan lebaran di sini lagi, dan hanya bisa ‘berjumpa’ dengan keluarga via sambungan video call.

Bagaimanapun, ini adalah ikhtiar yang harus kita lakukan sebagai upaya mengurangi penyebaran virus corona. Kita semua berharap agar covid-19 segera berlalu. Mari, perbanyak doa di 10 hari terakhir Ramadhan supaya rindu akan kampung halaman segera bermuara. Aamiin.

Semoga bermanfaat,

Salam,

1 comment for "Tradisi yang Dirindukan Saat Lebaran: Sungkeman Keliling Kampung"

Post a comment

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam