Mengukir Kenangan Lebaran di Bali saat Pandemi

Lebaran di Bali saat pandemi
sumber gambar: freepik @pikisuperstar


“Mbak, nanti pas lebaran ke sini, ya. Aku open house, ntar kita makan gulai daging bareng. Bundaku pinter masak gulai.”

Undangan ini masuk ke whatsapp-ku menjelang lebaran. Undangan sederhana dan biasa saja, tapi tidak bagi kami yang di rantau dan pertama kalinya sekeluarga merayakan idulfitri di Bali. Jauh dari keluarga, jauh dari kenalan, komplek rumah sepi karena ditinggal mudik penghuninya, lengkaplah sudah ini akan menjadi idulfitri yang menyedihkan, pikir saya waktu itu. Mendapat undangan makan-makan membuat hati meleleh teramat bahagia.

Ternyata idul fitri di pulau lain tidak separah yang kubayangkan, justru lebih menyedihkan saat harus LDR saat hari raya dan selalu mendapat pertanyaan, “Ayahnya nggak mudik? Sabar ya... !” duh! Pengen gigit nastar banyak-banyak jadinya.

Lebaran tahun kemarin, kami mulai mengubur dalam-dalam impian untuk mudik setiap idul fitri. Selain pertimbangan waktu yang mana suami tidak bisa mengambil cuti sebagaimana kebijakan instansi, juga pertimbangan biaya tiket perjalanan yang harganya meroket saat musim mudik.

Lalu akan berlebaran di mana tahun ini? di Bali (lagi) dong! Tepatnya di kota Denpasar termpat kami bermukim saat ini.

Tahun kemarin kami melaksanakan salat id di lapangan dekat rumah. Jamaah laki-laki ditempatkan di lapangan basket umum, sedangkan jamaah perempuan menempati saf di halaman sekolah SMA dan SMP di sebelah lapangan. MasyaAllah, trenyuh sekali saat sayu-sayup mulai terdengar takbir terlantun, melihat bapak-bapak polisi, pecalang dan bahkan polisi militer berpatroli di sekitar lokasi salat id.

Bakda salat lalu kembali ke rumah, rupanya masih ada beberapa tetangga yang memutuskan untuk merayakan idulfitri di sini, tidak pulang kampung dengan pertimbangan biaya dan masa pendaftaran sekolah anak. Kami pun silaturrahim ke tetangga yang masih bertahan di perantauan.

Tahun kemarin kami juga masih bisa silaturrahmi ke tempat lain, ke teman-teman yang open house. MasyaAllah... rasanya seperti mendapat keluarga baru senasib seperjuangan di perantauan. Apalagi ketika saya akhirnya menerima undangan makan gulai bersama.

Menempuh jarak sekitar 7KM, kami menuju ke rumah kenalan kami. Oh ya, beliau ini sebelumnya hanya saya kenal di medsos via seorang teman sebelum kepindahan kami ke Bali. Saya banyak tanya ini-itu ke beliau. Pertemuan perdana adalah saat menghadiri pernikahan beliau. Selanjutnya, kami intens berkomunikasi via WA dan sesekali berbalas komentar di facebook.

Saat itulah saya merasakan kembali bahwa persaudaraan itu bukan hanya karena ‘darah’. Meski jauh dari keluarga, kami mendapatkan keluarga baru yang baik dan hangat, serasa menemukan harta karun di tumpukan jerami *eh.

Tahun ini, beliau kembali mengundang kami untuk makan gulai bersama. Sayangnya beliau tinggal di zona merah covid-19. Terlebih per hari ini, 15 Mei 2020 mulai diberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) (PSBB_red). Warga yang akan melewati batas tertentu harus melampirkan surat tugas dan mengikuti aturan standar pencegahan covid-19. Kemungkinan kami tak bisa memenuhi undangan beliau kali ini.

Hingga hari ini, ketika saya (terpaksa) harus ke warung, terkadang bertemu tetangga dan ngobrol tipis, mereka pun curhat dan mengatakan akan merayakan idul fitri di sini. Tak ada pilihan lain, begitu alasannya. Saya pun merasakan hal yang sama. Tahun ini lebaran di Bali, karena tak ada pilihan lain. Jika nekat untuk mudik, justru membahayakan diri-sendiri bahkan berpotensi membahayakan orang lain juga.

Lebaran di Bali tahun ini, pasti akan berbeda dengan tahun sebelumnya. Komplek perumahan ramai penghuni tapi kami pun tak bisa open house, mungkin hanya sekadar saling bertemu dengan tetap menjaga jarak aman.

Lebaran di Bali saat masa pandemi covid-19, akan menjadi kenangan tak terlupakan, yang melengkapi cerita idulftri kami dari tahun ke tahun.

Teman, kamu memilih untuk lebaran di domisili kamu saat ini, bukan? Semangat ya! Kita pasti bisa melewati semua ini dengan saling mendukung dan mendoakan.

Semoga bermanfaat,

Salam,


No comments for "Mengukir Kenangan Lebaran di Bali saat Pandemi"