Wednesday, 6 November 2019

Kenapa Harus Mengejar #LayanganPutus?!

Bagi temans yang beberapa hari terakhir memantau jagad sosial media pasti sudah kenyang dengan bahasan seputar #LayanganPutus 

Kisah #LayanganPutus awalnya diunggah oleh seorang ibu dengan 4 putra di Denpasar, Bali. Seseibu mengatakan beliau menulis kisah tersebut untuk self healing.
Tak jauh beda dengan saya kali ini, yang sudah terlalu banyak input jadi butuh untuk dituangkan.

Kisah tentang poligami, yang menjadi viral karena beliau menambahkan hashtag #TrueStory di ujung postingan. Sebenarnya di grup menulis tersebut bertebaran kisah serupa, yang selalu dibanjiri komentar meski bagi sebagian orang sudah tahap memuakkan saking seringnya diangkat.

Berbekal beberapa kata kunci, warganet di grup komunitas tersebut memburu informasi, dan muncullah beberapa nama yang berhubungan dengan si Ibu. Padahal beliau menggunakan akun dummy, masih juga ditemukan akun-akun yang disinyalir sebagai tokoh dalam kisah beliau.

Jujur, hati saya ikut terisis membaca kisah itu. Ya, hati perempuan mana yang tak ikut merasakan pilu-nya seorang istri yang ikut berjuang bersama suami hingga dalam posisi mapan secara ekonomi, juga telah dikaruniai 5 putra (1 meninggal) malah ditinggal nikah lagi.
Saya pun ikut kepo, dan menghabiskan hampir 2 jam scroll medsos sana-sini. Entahlah, biasanya saya tidak sekepo ini dengan berbagai berita yang beredar. Mungkin karena domisili beliau di Denpasar sehingga saya makin kepo. Dan benar, saya menemukan beberapa orang yang saya kenal berada dalam lingkaran pertemanan dan aktivitas beliau.

Begitu suami pulang kerja, saya langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan dan cerita #layanganputus.

"Hati-hati, jangan gegabah. Nggak perlu men-judge karena kita tidak tahu kebenarannya. Hanya dengar dari satu pihak, dan kita tidak kenal. Bahkan ketika kita mengenalnya dengan baik pun, tak dibenarkan untuk ghibah, apalagi sampai menghujat dan caci-maki. Cukup kita ambil pelajaran saja."

Saya terdiam, merasa malu dengan ucapan suami. Benar juga, apa manfaatnya saya kepo sampai sebegitu dalamnya?

Yayaya! Tak hanya kali ini, sebelumnya pun kadang tanpa sadar larut dalam ruang ghibah baik di sosmed maupun di dunia nyata. Asyiiik sekali ngobrol, tahu-tahu sudah panjang aja chat yang isinya ngomongin orang. Hiks. Semoga lain kali sadar sebelum terlanjur panjang.

Sayangnya, warganet yang sebagian besar emak-emak terlanjur sakit hati dengan kisah #layanganputus. Malah ada yang membuat tulisan dengan nada yang setajam silet menyindir suami si ibu dan istri barunya, juga memberikan clue yang gamblang tentang nama-nama mereka. Belakangan tulisan tersebut dihapus juga.

Sedemikian haus kah, masyarakat Indonesia dengan berita semacam ini? Teringat dulu Aa Gym yang sampai dihujat dan ditinggalkan jamaahnya karena poligami. Sekarang terbukti beliau makin harmonis dengan keluarganya. Alhamdulillah.

Saya belum menjadi istri yang siap punya madu, namun bukan berarti saya membenci poligami. Beberapa teman saya (teman komunitas, namun belum pernah bersua) bahkan menawarkan istri baru untuk suaminya. Dia mengaku ikhlas, meskipun pada awalnya tetap muncul rasa cemburu dan sakit.

IMHO, terang-terangan poligami (tentu dengan cara dan adab yang baik, bukan mengkhianati istri) dan mampu berlaku adil terhadap istri dan keturunannya, jauh lebih mulia dibanding mereka yang main belakang apalagi 'jajan'. Na'udzubillah min dzalik.

Nahnah! Malah bahas poligami. Namanya juga curhat random, yes. Jadi mohon maaf jadi kemana-mana ini.

Kembali ke #layanganputus, saking kesalnya, emak-emak beringat sekali komentar di berbagai akun tokoh-tokohnya. Sampai ada yang mengatakan akun YouTube dakwah yang dikelola si Suami subscriber-nya turun drastis (dari 12 juta menjadi 1,7juta). Bodohnya saya sempat percaya (saya subscribernya, tapi tidak terlalu teliti dengan jumlah) dan kemudian sadar, bahwa  yotuber Indonesia yang followernya di atas 10 juta baru ada Atta Halilintar dan Ria Ricis (bener kan ya? Takut salah lagi). Mungkin sebenarnya 1,2 juta, bukan 12 juta. Hehehe.

Lalu muncul tanggapan lain yang (awalnya) membuat saya insecure.

'Makanya, jadi perempuan tuh harus mandiri, harus punya penghasilan sendiri, harus kerja, kalau nggak, harga dirimu akan diinjak-injak suamimu.'
Hm... kalau suami nggak gitu gimana? Masih banyak suami yang mendukung istrinya baik yang bekerja di luar maupun di ranah domestik. Tentunya dia suka istrinya punya penghasilan, tapi nggak pernah menuntut karena tahu bahwa mencari nafkah adalah tanggung-jawabnya.

"Hati-hati nggak bisa dandan, nanti suami diembat sama yang lebih cantik di luar sana."
Oke, saya setuju hal ini untuk urusan 'merawat fisik' namun saya tak sepakat dengan 'berlenong' setiap saat.

"Makanya... Jadi istri jangan terlalu nurut."
Hm... Bukankah kewajiban istri adalah taat pada suaminya selama tida melenceng dari syariat?

"Makanya...."
"Makanya...."

Saya memilih untuk mendekap erat suami dan anak-anak dengan doa dan pengharapan yang baik. Karena kalau mau mendengarkan semua kata orang, adanya malah bikin pusing dan tak ada habisnya. Bahagia kita sendiri yang menciptakan, bukan karena tanggapan dan komentar orang lain.

Ya, tak ada gunanya ikut sibuk dengan urusan orang lain. Cukup jadikan pelajaran tanpa merasakan sakitnya luka, kata Mak Icik (ssst! Diam aja, jangan bilang Mak Icik kalau saya ngutip kalimatnya :D).

Lagi-lagi ini juga jadi pelajaran untuk kita semua, untuk lebih bijak bersosial media. Saring before sharing apapun. 

Menulis untuk self healing, namun jika dirasa kurang pantas untuk dipublish, cukup tulis dan simpan dalam ruang pribadi.

Yuk, lanjutkan aktivitas. Tak perlu menjadi detektif infotainment yang hobinya ngulik kehidupan pribadi orang. Muehehehe.
Biarkan urusan #layanganputus itu diselesaikan oleh mereka sendiri. Cukup doakan yang terbaik untuk mereka, doakan si Ibu kuat menghadapi.

Salam, selamat hari Rabu, selamat menunggu weekend tiba 😆

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam