Wednesday, 18 September 2019

Waspada Penipuan Berkedok Penawaran Kontrak Rumah Murah


Waspada Penipuan Berkedok Penawaran Kontrak Rumah Murah

16 September 2019
Terminal Domestik Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali
Meja no. 13 gerai Solaria

“Gimana? Udah ada perkembangan?” tanyaku pada teman yang tengah menunggu seseorang. kami sengaja duduk di meja yang berbeda untuk menyamarkan dan demi keamanan.
X, teman saya ini melakukan janji temu dengan Y, seseorang yang belum pernah ditemuinya namun membuat hidupnya sebulan terakhir menjadi lebih ruwet.
“Belum, katanya masih otw. Nanti kalau sudah jam 11 langsung masuk aja. Pasrah,” ujarnya pias.
Kami kembali menunggu dalam resah.
Pukul 11, tak ada tanda-tanda Y akan datang, kami pun menuju terminal keberangkatan.
“Ini betul-betul perjalanku pulang/pergi Bali yang paling menyiksa. Nggak menikmati perjalanan sama sekali, justru gemetaran dan degdegan terus. Biasanya lihat mural-mural gini udah pengen selfie,” ujarnya sembari mencoba bercanda.
Saya pun mengiyakan, mencoba memahami perasaannya. Dia telah kehilangan uang beberapa juta rupiah (X tidak mengizinkan saya menyebut nominalnya), tiket PP Balikpapan-Bali, dan biaya akomodasi selama di Bali.

Sebelum saya lanjutkan ceritanya, saya ingin menjelaskan bahwa tulisan ini saya publish atas persetujuannya. Semua nama bahkan nama pelaku pun disamarkan karena teman saya ini (selanjutnya kita sebut X) tidak ingin berurusan lebih jauh dengan pelaku (kita sebut saja Y). Tidak ada maksud untuk menjelekkan pihak tertentu, hanya untuk diambil pelajarannya supaya kita semua waspada.
Sekitar sebulan yang lalu, X memberi kabar bahwa suaminya akan dipindahtugaskan ke Bali. Saya sebagai teman kuliahnya bersorak gembira, akan bertemu dan cukup dekat dengannya yang lama tak bersua meski dulu cukup akrab saat di kampus. Terus terang, di Bali tidak ada kenalan lama, begitu ada teman yang akan pindah ke sini saya merasa senang sekali.
X membutuhkan info rumah kontrakan atau kos, saya hanya bisa membantu sekadarnya. Ia pun terus mencari melalui media sosial dan beberapa situs yang menyediakan informasi seputar kos.
“Alhamdulillah, aku sudah dapat rumah kontrakan. Di daerah Kediri, Tuban,” ujarnya via WA.
Saya senang dengan berita ini, daerah itu memang ideal karena kantor suaminya tak jauh dari sana.
“Tengah bulan aku ke Bali, mau serah terima kunci sama yang punya rumah.”
“Oke! insyaAllah kita ketemu, ya!”
Saya pun tak sabar menunggu kedatangannya. Sayang saat hari H, saya ada agenda sampai malam dan suami pun masuk malam sehingga tidak bisa langsung bertemu.

14 September 2019, Lepas Maghrib
“Aku nginep di tempatmu aja boleh? Di sini kurang tenang,”
“Takut ya... di hotel sendirian? Hihi,” jawabku meledek.
Akhirnya ia pun datang menggunakan taksi online sampai kontrakan saya. Alhamdulillah, meski malam hari dia sampai dengan selamat.
Malam itu, akhirnya ia terbuka tentang kalimat yang sebelumnya pernah ia sampaikan, ‘nanti ya, aku ceritain kalau kita sudah ketemu,’ ujarnya waktu itu saat saya menanyakan perihal bagaimana dia mendapatkan kontrakan.
Menurutnya, dia mencari informasi kontrakan melalui grup marketplace di facebook. Seseorang tiba-tiba berkomentar, ‘Mbak, kalau mau tinggal di rumah saya, saya sedang mencari orang untuk tinggal di rumah karena saya mau pindah ke Papua.’
Mendapat kesempatan emas, X tidak menyia-nyiakannya, dia pun menghubungi Y melalui messenger. Tak lama mereka berlanjut membicarakan tentang kontrakan itu via WA.
Tak ada yang mencurigakan, Y pun dengan senang hati mau melakukan video call dengan X, untuk memastikan bahwa penawarannya tersebut bukan hanya modus penipuan.
“Mbak, nanti Mbak cukup bayar 3 bulan pertama saja, 1.200x3 bulan. Selanjutnya free sampai saya kembali lagi dari Papua.”
Saat itu, Y hanya mengatakan kalau rumahnya ada di Jalan Kediri, dan nanti serah terima disaksikan Provost setempat. Tapi dia mendesak agar X segera membayar bianya 3 bulan pertama terlebih dahulu.
X tak langsung menyepakati, ia masih menggali informasi seputar rumah kontrakannya. Y terus meyakinkan bahwa dia tidak akan melakukan penipuan, dan mengatakan sudah merasa cocok dan percaya jika rumahnya ditinggali oleh X dan suaminya selama dia di perantauan.
Y juga mengirimkan pesan suara yang menjelaskan tentang rumahnya dan beberapa hal. X luluh, dia pun membayar sejumlah uang sesuai yang diminta Y melalui transfer bank.
Esoknya, Y mendesaknya lagi untuk sekaligus membayar listrik sejumlah 500 ribu. Tak punya feeling bahwa ini modus penipuan, X pun menyanggupinya. Sayang esoknya Y kembali meminta sejumlah uang hingga total –sekian-  juta telah ditransfer oleh X ke rekening Y.
“Aku pasrah, Rin. Mbak-nya tiap dihubungi jawabnya lama dan katanya sibuk. Malah dia yang galakin aku,”
“Duh.. aku hampir yakin ini penipuan. Kita laporin aja gimana?”
“Jangan deh, aku takut. Di FB-nya ada foto suaminya anggota TNI. Waktu tanya via WA sih dia jawab kerjanya negeri, gitu aja.”
Duh! Kenapa justru saya yang geregetan?! Rasanya pengen tak uleg itu si Y, enak aja menguras uang orang dengan entengnya dan terus-terusan mencari alasan untuk tidak ketemu.
“Tadi aku WA, dia nggak mau aku datang ke rumahnya. Ngajak ketemu di warung tapi nggak bilang jam berapa dan dimana.”
Fyuuuh.... masih banyak orang yang tega begini sama orang lain. Hiks.
Malam itu kami ngobrol hingga larut, rencana esoknya akan bertemu Y. Sayang hingga siang pun dia tak juga memberi kabar. Kami putuskan untuk hunting kontrakan lagi di wilayah yang tak jauh dari tempat kerja suaminya. Nihil. Kos di sekitar sana kebanyakan full.

15 September 2019
Setelah pulang dengan tangan kosong, malam harinya saya mencoba mencari info seputar Y. Saya scroll dan kepo akun FB-nya, bertanya ke beberapa orang termasuk kenalan anggota TNI.
Saat saya tunjukkan akun FB Y, teman saya langsung mengenali pangkat dan satuan kerja suaminya dari foto yang ada di sana. Saya pun segera mengirimkan video kondisi rumah yang dikirimkan oleh Y kepada X.
“Wah, iya Mbak. Ini rumah dinas di satuan XXX. Tentunya rumah dinas TNI tidak bisa ditempati orang luar apalagi dikontrakkan.”
Terkonfirmasi begini, saya makin geregetan dengan Y. Apalagi ada informasi tambahan bahwa dari Bali tidak ada yang diberangkatkan ke Papua. Jika diberangkatkan pun, maksimal hanya selama 1 tahun dan istri/keluarga tidak turut serta.
“Kita laporain aja ya, besok. Ke satuannya langsung.”
“Jangan lah, aku takut. Ini aku yakin lagi dikasih teguran sama Allah. Hiks.”
“Iya, selalu ada hikmah di balik kejadian. Tapi kalau kita nggak lapor, takut ada korban lain.”
Rupanya malam itu Y menghubungi lagi. Dia cukup terkejut saat X mengatakan punya teman di Bali. Y bahkan menjawab ‘soal ini cukup intern kita aja ya. Jangan dikasih tahu ke temannya sebelum ketemu saya’.
Lagi-lagi saya geram. Enak aja orang ini ngomong seenteng itu. Uang sekian juta hasil menabung berbulan-bulan! Kalau memang mau berniat baik, kenapa sampai saat ini tidak mau memberi tahu lokasi rumahnya, tidak juga segera merespon untuk bertemu tapi selalu ngeles ini-itu dan terkesan mengulur waktu.

16 September 2019
Kami batal melaporkan Y ke kesatuannya, karena dia berjanji akan menemui X di bandara.
Turun dari taksi online, kami langsung menuju Solaria, memesan minuman dan duduk di meja yang berbeda. X gelisah tak karuan, saya pun duduk dengan perasaan tak menentu.
“Mbak di bandara dengan siapa? Kalau sampai jam 11 saya belum datang nanti saya minta no. HP temannya aja ya,” Katanya via WA.
Saya makin mangkel. Bagaimana mungkin terlambat selama itu?! Sejak pagi sudah berjanji akan bertemu di bandara. Pukul 10 kami sampai di bandara, dia masih beralasan ini-itu. Ya ampun! Jarak Kediri sampai bandara hanya memakan waktu sekian menit, di jam lengang seperti itu. Kecuali dia memang tidak ada itikad baik.
Ya, akhirnya X kembali ke Kalimantan dengan tangan kosong. Niatnya untuk serah terima kunci kontrakan berakhir di-‘bola pingpong’-in penipu.
“Kalau nggak gini, kita belum tentu bisa silaturrahim, ya!” ujarku berusaha bercanda meski garing dan bukan tempatnya. Ya, saya bingung mau bagaimana lagi.
Sampai saat ini, X belum berniat untuk melaporkan. Baiklah, meski kesal saya hanya bisa memberi masukan. Semoga X dibalas oleh Allah atas kesabarannya, dan Y pun mendapat hidayah dari Allah, dan tidak lagi ada korban di tangannya. Saya sebenarnya ingin sekali misuh-misuh dan mendoakan yang jelek untuk Y, tapi untuk apa? Bukannya kita nggak boleh mendoakan yang buruk? Makanya doakan saja supaya dia dapat hidayah, apalagi profil Fb-nya menampakkan seorang perempuan muda yang cantik dan (katanya) lulusan perguruan tinggi.

Tips Aman dari Modus Penipuan Kontrakan Rumah
Oke, saya mencoba menyimpulkan beberapa hal dari kejadian yang dialami oleh teman saya, X. Semoga tidak ada lagi korban dengan modus yang sama, terutama bagi teman-teman yang sedang mencari kontrakan untuk pindah ke luar kota/pulau.
1. Carilah info dari sumber yang valid. Hati-hati, karena di marketplace juga banyak modus yang sama,
2. Hubungi kontak yang tersedia, tahan dan jangan terburu-buru mengiyakan apalagi membayar sejumlah uang jika orang tersebut terus mendesak,
3. Pelajari baik-baik profil FB-nya, apalagi marak akun FB bodong atau kloningan,
4. Jika jarak jauh, pastikan untuk meminta alamat yang jelas dan mencari informasi sebanyak mungkin,
5. Segera hentikan komunikasi ketika ada hal yang mencurigakan,
6. Jangan tergiur oleh harga murah yang ditawarkan pelaku, gali informasi mengenai pasaran harga di kota setempat,
7. Laporkan segera jika sudah menemukan bukti-bukti penipuan. Lapor ke kantor polisi dan ke Bank untuk dilakukan pemblokiran rekening.
Tentu masih ada orang baik yang benar-benar berniat membantu seseorang, misalnya dengan menawarkan tempat tinggal gratis/murah. Namun sepertinya, jika di Bali hanya ada 1/1000 orang yang mau seperti ini.
Sekali lagi tidak ada maksud untuk menjelekkan siapapun, hanya semoga diambil pelajaran bagi kita semua untuk lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan yang dilakukan oleh siapapun dengan profesi apapun.
Saya selalu meyakini bahwa di manapun, masih jauh lebih banyak orang baik dibanding orang jahat. Semoga kita selalu dipertemukan dengan orang baik. Pun jika sesekali bertemu mereka yang berniat buruk, bisa jadi adalah teguran dari Allah atas apa yang kita perbuat ataupun ujian dariNya.
Semoga bermanfaat,
Salam,

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam