Friday, 20 September 2019

Dini.id hadir sebagai Startup yang membantu Orang Tua Menangani Speech delay Anak

Startup Dini.id hadir untuk membantu Orang Tua Menangani Speech delay Anak



“Ayah! Ayah!”
“Mamamama!”
“Papapapapa!”
Hingga usianya sampai 23 bulan, Baby Salsabila masih bubling, belum bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas. Hanya kata ‘Ayah’ saja yang sangat jelas berikut intonasinya saat memanggil. Hal ini tentu membuat saya sebagai ibunya merasa khawatir, jika dia mengalami speech delay, sesuatu yang menjadi momok bagi orangtua.

Saya terus menggali informasi tentang speech delay, sembari terus memberikan stimulasi dan motivasi untuk Salsabila bicara. Sebulan lagi jika perkembangannya belum baik, rencana baru akan saya bawa ke dokter tumbuh kembang anak. menurut beberapa orang, Salsa malas ngomong, karena ketika diperi instruksi dia selalu menjalankan dan esoknya pun masih mengingatnya. Allahua’lam, saya masih butuh eksplorasi lebih dalam mengenai tumbuh kembang anak terutama urusan kemampuan bicaranya.
Sayangnya, banyak orang tua yang masih kurang aware terhadap masalah speech delay. Mereka menganggap sepele mengenai keterlambatan berbicara pada anak usia dini. Beberapa ada yang percaya mitos bahwa perkembangan berbicara anak bisa saja terlambat karena perkembangan di bidang lain lebih cepat.
Menurut Psikiater Konsultan Anak & Remaja, dr. Anggia Hapsari, SpKJ (K) , perkembangan berbicara pada anak memiliki tolok ukur. Misalnya usia 12 bulan anak harus memiliki 1 kosa kata baru selain kata yang sudah harus dimiliki sebelum usia tersebut. Dan seterusnya.
 “Tolok ukur perkembangan bicara dan bahasa itu sebagai tolok ukur perkembangan kognitif mereka, intelektual mereka. Jadi menentukan perkembangan pada tahap-tahap selanjutnya,” katanya saat ditemui di Apple Bee Playground, Mal Taman Anggrek, Jakarta, Sabtu (31/8/2019).
Lebih lanjut dr. Anggia mengakatakn bahwa mereka yang mengalami speech delay akan memiliki risiko terkena gangguan jiwa juga ternyata, depresi, ansietas/kecemasan. Bagi mereka semua perasaan itu tidak nyaman, tapi mereka belum bisa mengungkapkan emosi mereka. Perasaan sedih, marah, kecewa, dll belum bisa tersampaikan karena mengalami keterlambatan berbicara.
Menurut penelitian, ada banyak faktor penyebab speech delay, salah satunya faktor lingkungan yang deprivasi. Faktor ini dapat dilihat ketika orang-orang di lingkungan mengharapkan kemampuan anak yang lebih dari milestone-nya.
“Contohnya, ada anak baru umur 3 tahun udah pakai 3 bahasa: Indonesia, Mandarin, Inggris. Kalau anak yang nggak ada gangguan itu nggak masalah, tapi anak dengan gangguan itu kacau balau,” jelasnya.
Kalau dipaksakan kepada anak yang tidak mampu, imbuhnya, itu akan mempengaruhi kemampuan kognitif mereka. Dampak lain yang mungkin terjadi seiring perkembanganya yaitu prestasi akademik akan berkurang, anak menjadi pencemas tinggi, interaksi sosial anak juga akan memburuk. Hal ini tentu sangat membahayakan masa depan anak itu sendiri.
Oleh karena itu, orang tua perlu melakukan upaya pencegahan maupun penanggulangan kepada anak yang terdeteksi speech delay. Anggia menganjurkan untuk sering mengajak anak bermain, bukan hanya memberikan mainan.
Masalahnya, saat ini banyak orangtua yang mengabaikan anaknya karena gadget dan membiarkan mereka terpapar gadget juga. Kejadian seperti ini membuat anak bersikap pasif.
“Harus terjadi interaksi dua arah antara orang tua dengan anak. Dengan interaksi dua arah itu, akan membantu anak berkembang kosa katanya, kemampuan emosinya juga akan berkembang. Ajak main sesering mungkin, bermain yang bener-bener bermain,” katanya menganjurkan.
Cara lain selain bermain, yakni dengan bercerita, bernyanyi, bermain peran, berinteraksi dengan anak sebayanya, serta memberikan tanggungjawab sesuai dengan usia anak. Ia melanjutkan tiap usia memiliki standar yang harus dilalui anak agar tidak terjadi speech delay.
“Latih anak untuk bisa mengucapkan kata-kata konsonan, misalnya, dilatih dengan flash card,” pungkasnya.
Para peserta dan pembicara launching website www.dini.id
(Foto: dok. Faidah Umu Sofuroh)

Terkadang orangtua mengalami kesulitan dalam memberikan stimulasi terhadap anak. faktor kurangnya informasi menjadi penyebab utama. Oleh karena itu, kini hadir solusi yang bisa dipilih oleh orangtua untuk melakukan stimulasi dan intervensi dalam tumbuh kembang anak yaitu Dini.id.
Dini.id adalah startup yang khusus dirancang untuk memberikan program stimulasi dan intervensi dalam tumbuh kembang anak dengan memadukan antara teknologi, ilmu psikologi, orang tua, dan tim ahli.
Meski tergolong baru, Dini.id telah memiliki beberapa Program, yaitu:
  1. Sistem assessment online gratis di website www.dini.id yang dapat mengidentifikasi keterlambatan dan potensi dalam perkembangan anak.
  2. Kelas stimulasi dan intervensi sambil bermain yang dilakukan di playground-playground mitra  yang dirancang untuk mengaktifkan neuron dalam otak sehingga meningkatkan perkembangan kognitif dan menjadi dasar perkembangan tahap selanjutnya terutama untuk belajar.
  3. Program assesment, observasi & investigasi berkala yang disupervisi oleh psikiater dan psikolog klinis untuk mengoptimalkan perkembangan anak yang berbeda-beda dan unik.

Semoga dengan fasilitas dan program yang disediakan oleh Dini.id, orangtua akan lebih mudah mendapatkan informasi untuk stimulasi anak. selain itu, dengan stimulasi dan intervensi dalam tumbuh kembang anak, diharapkan speech delay yang terjadi pada anak akan menghilang.
Semoga bermanfaat,
Salam,

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam