Saturday, 28 September 2019

Senja di Taman Indonesia Kaya


Senja di Taman Indonesia Kaya

Sore itu, saat rindu masih memenuhi kalbu. Meski telah sepekan kembali ke kampung halaman, namun rasa hati masih enggan untuk kembali ke perantauan. Apa daya, jatah libur suami hampir habis, mau tak mau harus kembali ucapkan selamat tinggal. ‘Sampai jumpa lagi’, mungkin lebih terasa nyaman.
Taman Indonesia Kaya, menjadi tujuan kami untuk melepas rindu. Rindu pada jalanan yang dulu akrab menyapa, pada gedung-gedung yang kini terpoles indah, juga pada rekan-rekan yang lama tak bersua. Taman yang dulu dikenal dengan Taman KB kini telah disulap menjadi Taman Indonesia Kaya yang menyuguhkan nuansa berbeda.
Jika dulu kami biasa melepas penat sembari menikmati aneka kuliner kaki lima di sekeliling Taman, sekarang Taman Indonesia Kaya  terlihat lebih modern dan bersih. Taman hasil kerjasama Pemkot Semarang dengan CSR Djarum Foundation tersebut telah diresmikan pada Oktober tahun lalu. Peresmian dilakukan oleh Walikota Semarang dan dihadiri wakil walikota serta perwakilan dari Djarum Foundation.
"Tujuannya untuk mempercantik Kota Semarang. Semua telah melewati kajian dengan proses panjang, hingga akhirnya terwujud pembangunan Taman Indonesia Kaya," kata Hendi, Walikota Semarang.
Saat kami menyusuri sekeliling taman, kami dapati berbagai patung dan mural yang menambah estetika taman. Bersamaan dengan itu, tengah diadakan food festival di sepanjang jalan Menteri Supeno tepat di sebelah kanan taman. Kemeriahan di panggung utama festival membuat suasana taman makin semarak meskipun tidak sedang ada acara di galerinya.
Taman yang berada di Jl. Menteri Supeno ini merupakan taman dengan panggung terbuka pertama di Jawa Tengah. Hal ini disampaikan oleh Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian yang menghadiri peresmian bersama wali kota dan wakil walikota Semarang.
Destinasi baru yang dibangun Pemkot Semarang dan Bakti Budaya Djarum Foundation itu cukup luas mencapai 5000 meter persegi. Sejumlah fasilitas menarik dihadirkan untuk memanjakan para seniman serta masyarakat secara gratis. Mulai dari panggung terbuka berukuran jumbo dengan berbagai fasilitas pendukung seperti ruang make-up ber AC. Daya tampung kawasan ini mencapai 1000 penonton. Kabarnya, akan diadakan gelaran budaya secara rutin di panggung tersebut.



Paling menarik diantara lainnya adalah adanya dancing fountain atau air mancur menari. Air mancur yang dilengkapi warna-warni dari lampu LED ini akan menari mengikuti irama lagu yang dimainkan berupa lagu perjuangan Indonesia yang dijadwalkan akan menyala pada pukul 19.00 – 20.00 dan hingga pukul 21.00 di akhir pekan. Sayangnya kami hanya di sana sampai isya karena anak-anak sudah jenuh, kantuk pun mulai melanda.  
Selain itu, berbagai sisi Taman Indonesia kaya juga didesain sedemikian rupa agar mengikuti konsep kekinian yang instagramable dan menarik pengunjung dari kalangan milenial. Mural, patung, dan berbagai ornamen dibuat supaya cantik dan menarik untuk difoto dan ditampilkan di media sosial.
‘Malam terakhir sebelum kembali ke perantauan,’ unggah suami dalam status whatsapp-nya. Agak aneh, karena update status adalah sesuatu yang hampir tak pernah dilakukan. Wajar, karena Semarang adalah tanah kelahiran sekaligus tempatnya dibesarkan. Orangtua pun masih tinggal di Kota Atlas ini. Kerinduan di dalam hatinya pasti jauh lebih besar dibanding saya.
Tak banyak yang kami lakukan selain berjalan berkeliling mengamati taman. Banyak juga yang berkeliling seperti kami lalu asyik mengambil foto di spot-spot yang menurutnya menarik. Sementara di tengah panggung beberapa orang duduk melingkar dan asyik dalam obrolan.



Menuruti anak-anak yang haus dan kelaparan, kami menyisir ke sebelah, tempat diadakannya food festival. Hm... hampir tak ada makanan yang cocok karena setiap yang ingin kami coba rupanya sudah habis, sedangkan beberapa menu yang menggugah selera rupanya menu pedas yang tak mungkin kami beli. Akhirnya si Kakak membeli Ice Cream Rolled, dan saya memilih bakso-cumi bakar yang harganya cukup mahal (30K) tapi rasanya jauh dari ekspektasi.
Saat malam makin menua, kami pun beranjak pulang. Menyimpan rapat-rapat sekelumit kenangan di senja itu, kala Taman Indonesia Kaya begitu meriah. Kami akan selalu merindukan, karena Semarang adalah pulang.
Salam,

1 comment:

  1. wah aku kira ini Indonesia Kaya yang di Jakarta. apakah sama? :O

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam