Saturday, 11 May 2019

Perhatikan Hal Ini Sebelum Tergiur Promo Belanja Online Jelang Lebaran


Prinsip sebelum tergiur promo belanja online jelang lebaran

Bulan Ramadhan, selain surga bagi yang mengejar pahala ibadah, juga surga bagi penjual berbagai barang perlengkapan lebaran. Permintaan bertambah, penjual pun berusaha menarik pembeli dengan berbagai iming-iming diskon maupun promo lainnya. Tak terkecuali di toko online, penjual berusaha memberikan promo belanja online semenarik mungkin supaya meraup pembeli sebanyak-banyaknya.
Siapa sih yang tak tertarik dengan diskon terutama ketika harga-harga bahan pokok terus meningkat? Diskon ibarat setetes air dingin yang masuk kerongkongan saat tengah dahaga. Nggak berlebihan, tapi itulah yang saya rasakan.

Namun harus diingat, ketika pengeluaran di bulan Ramadhan ini meningkat drastis, kita harus memastikan masih ada simpanan dana untuk bulan berikutnya. Cashflow harus tetap aman, jangan sampai menjadi bumerang di bulan-bulan berikutnya karena harus mencicil pengeluaran Ramadhan dan lebaran.
Apalagi belanja online, memang lebih praktis dan bisa dilakukan di mana saja selama ada jaringan internet. Parahnya, belanja online terkadang melenakan, tahu-tahu rekening terkuras untuk menuruti keinginan berburu diskon. Jadi, perhatikan hal berikut supaya tidak terjebak dengan promo belanja online.

1.Pikirkan lagi, Benar dapat untung atau malah rugi?
Saat sedang memilih barang belanjaa, tiba-tiba muncul promo besar-besaran peralatan dapur yang sebenarnya telah dimiliki dan fungsinya masih baik. Tergiur diskon, akhirnya membeli barang tersebut tanpa memikirkan anggaran apa yang terpakai.
Apakah benar untung karena diskonnya besar? Atau rugi karena sebenarnya sudah ada barang yang sama masih berfungsi dengan baik? Silakan jawab sendiri.
Mungkin ada yang menjawab, barang yang lama masih bisa dijual lagi. Oke, tapi harganya pasti jauh dari harga belinya, bukan? Lalu kita juga direpotkan dengan urusan menjual barang second hand tersebut.

2.Utamakan Kebutuhan, bukan keinginan
Beberapa kali saya bercerita tentang saya bersama seorang sahabat sejak kuliah yang selalu mengafirmasi diri sendiri dengan kalimat ‘Beli karena butuh, bukan karena ingin!’. Kalimat itu kami ucapkan dengan cukup keras ketika sedang ngobrol tentang keinginan yang bermacam-macam, atau saat sedang tergoda membeli barang.
Sebarnya kaidah ini juga sangat lazim terutama untuk mencegah terjadinya besar pasak daripada tiang.
Jika menurutkan keinginan, tentu tak ada habisnya. Punya gadget canggih dengan teknologi ter-update, belum cukup jika belum memiliki smartwatch-nya, lalu ingin membeli aksesoris lain yang tak kalah mahal. Tak berapa lama, muncul gadget baru yang lebih canggih pasti ingin mengganti yang lama dengan keluaran terbaru. Begitu seterusnya, jika dituruti tak akan ada habisnya.
Jika ingin membeli sesuatu, bahas juga dengan orang lain misalnya suami, anak, kakak atau adik, sahabat dan siapa saja yang bisa dimintai pendpatnya. Kadang, yang kita pikir adalah kebutuhan sebenarnya hanyalah alasan supaya keinginan terpenuhi.

3.Tahan Jika Anggaran tidak Memenuhi
Sebenarnya butuh sesuatu, tapi anggaran tak memenuhi. Bagaimana solusinya?
Buat skala prioritas. Misalnya, kebutuhan yang sifatnya wajib harus didahulukan (seperti menguluarkan zakat dan membayar utang_jika ada). Setelahnya ada kebutuhan yang penting dan mendesak, lalu kebutuhan penting tapi tidak mendesak, dan seterusnya.
Jika sudah memiliki skala priotitas terutama kebutuhan bulanan dan khususnya kebutuhan selama bulan Ramadhan dan idul fitri, akan lebih mudah mengatur mana yang harus didahulukan dan mana yang masih bisa ditunda.
Jadi, ketika godaan promo belanja online mulai bermunculan lewat beranda media sosial, tahan jempol untuk scrolling toko karena bisa berakibat check-out barang dan isi rekening melayang *eh. Saya juga kadang kalap kok dengan banyaknya promo belanja online, maka strategi saya sebelum membeli adalah laporan kepada suami. Karena saat ini hanya suami yang bisa mengingatkan kalau saya mulai tergoda ini-itu (ya iya sih, kan saya tinggal sama suami dan anak-anak; sedangkan mereka masih kecil :P).
Selamat berbelanja! Eh, selamat menahan diri dari lapar dan dahaga serta dari rayuan promo belanja online!
Salam,

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam