Wednesday, 22 May 2019

Kenangan Ramadhan saat Masa Kecil di Kampung


Kenangan Ramadhan saat Masa Kecil di Kampung
Kisah Ramadhan saat Masa kecil


Kaki-kaki kecil itu berjalan beriringan. Udara pagi selepas salat subuh masih menggigit, namun tak dihiraukan. Mereka berjalan masih dengan mukena menempel di badan. Ya, begitu salam salat subuh, mereka bergegas. Tak takut dengan gelap dan cahaya yang minim sepanjang jalan.
Tujuan mereka adalah sebuah kolam sumber air hangat, sekitar 500 meter dari masjid. Suara kodok dan jangkrik masih bersahutan saat melewati persawahan. Bintang-bintang di langit pun masih menampakkan diri sebelum tersapu mega.

Mereka akan menghabiskan pagi dengan bermain di sekitar kolam air panas, sampai suasana jalanan ramai. Setelah puas bermain mereka akan pulang ke rumah masing-masing sebelum kembali bermain bersama teman-teman.
Anak-anak, memang paling betah melek. Hampir tak ada waktu untuk tidur siang, karena asyik bermain. Namun bagi mereka cara itulah yang efektif untuk mengalihkan perhatian dari rasa lapar dan haus.
Menjelang ashar, mereka akan kembali berjalan cukup jauh. Ke sawah, ke sungai, atau ke manapun yang jaraknya kurang lebih 500 m dari kampung. “Nanti tahu-tahu sudah sore,” begitu alasannya.
Paling menyenangkan saat bermain di pinggir sungai. Sebagian berani berenang, sebagian yang lain hanya duduk di batu sambil mencelupkan kakinya dan sesekali memainkan air. Khas anak-anak yang tinggal tak jauh dari aliran sungai serayu. Benar saja, begitu mereka kembali ke rumah, adzan ashar telah berkumandang di masjid. Saatnya mereka mandi lalu bersiap menuju masjid untuk mengikuti semaan Alquran.
Namanya anak-anak, kesempatan untuk datang ramai-ramai di semaan Alquran itu juga dijadikan ajang pamer bekal untuk buka puasa. Ya, di masjid sudah disediakan menu berbuka puasa ala kadarnya sumbangan dari masyarakat sekitar masjid. Namun bagi anak-anak, hampir setiap hari mendapat opak singkong goreng dan segelas teh tawar panas tentu sangat membosankan. Tapi mereka tak banyak cakap, ketika dibagi opak singkong pasti menerima dan dibawa pulang. Jangan heran jika di rumah menumpuk berplastik-plastik opak singkong yang dibawa pulang dari masjid.
Saat itu, masyarakat di sana menyediakan makanan berbuka yang hampir sama setiap hari. Jika satu orang membawa opak singkong, hari-hari berikutnya pun akan banyak opak singkong yang datang. jika musim kerupuk, maka akan menumpuk kerupuk. Begitu juga dengan snack lain, bahkan pernah sampai biskuit dijadikan mainan saking bosannya dengan biskuit yang keras itu. Semoga sekarang tak lagi terjadi hal yang sama. Aamiin.
Ketika adzan isya berkumandang, anak-anak kembali berlarian menuju masjid, mengejar waktu adzan dan iqamat yang sangat singkat. Sejurus kemudian mereka mengikuti salat tarawih 23 rakaat dengan kecepatan layaknya kilat ekspress.
Bukan salat tarawih yang dinantikan anak-anak, melainkan keseruan melantunkan syair ‘wujudan’; Sifat Allah dan Rasulullah dalam Bahasa Jawa dan dilantunkan dengan nada yang menarik. Iringan bunyi bedug membuat kantuk mereka sedikit sirna. Setelah wujudan, mereka pun pura-pura menikmati kultum untuk kemudian memburu Imam salat dan pembawa kultum untuk meminta tanda tangan di buku Ramadhan. Tentu, masih ada lagi keseruannya, yakni saat pembagian makanan dan sedikit berebut.
Ah, masa Ramadhan yang tak akan pernah terulang, karena kini setiap hal pasti telah berubah. Semoga anak-anak sekarang juga selalu mengingat setiap momen berharga selama Ramadhan yang telah mereka lewati. Aamiin..
Semoga bermanfaat,
Salam,  

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam