Saturday, 20 April 2019

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbagi



Sebutir Pasir Kubagi, Sebongkah Emas Kudapatkan

Pagi itu tak berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. rutinitas pagiku di rumah kost tak ada yang istimewa selain antre mandi dan bergegas menuju kampus untuk kuliah di jam pertama. Tanpa sarapan, tentu saja. Petugas piket masak belum bersiap, imbasnya kami yang harus kuliah pagi tak mendapat jatah sarapan. Biarlah, nanti bisa beli makan di kampus saat jam kosong, sekalian brunch supaya tidak perlu lagi beli untuk makan siang.
‘Rin, katanya bapak belum bisa kirim uang. Maaf ya, sabar dulu’.

Pesan singkat masuk ke HP bututku, membuatku tersenyum kecut. Jawaban dari pesan yang kukirimkan kemarin, melalui kakak sepupu. Ya, bapak dan mamakku belum punya alat komunikasi sehingga aku harus menumpang SMS lewat sepupuku itu.
Baiklah, percaya saja pasti ada jalan. All is well! Gumamku sambil menekuri jalanan menuju kampus. Mau bagaimana lagi? Gaji mengajar les privat pun baru sepekan lagi jadwalnya, itu jika si Ibu tidak terlambat atau lupa seperti bulan-bulan sebelumnya.
Percayalah, Rin... jika sumur telah kering, artinya hujan akan segera turun dan mengisinya lagi. Bisikku pada diri sendiri, sekadar menyemangati dan berbaik sangka kepada Allah.
***
Jadwal kuliah jam pertama telah usai, masih ada waktu untuk brunch sambil menanti jadwal kuliah selanjutnya.
Saat berjalan melewati selasar kampus, kudapati seorang adik kelas yang tengah murung dan seperti habis menangis.
“Mbak Arin, HP ku dicuri orang, Mba…” kata Santi, setelah kutanya. Kegundahan terlihat jelas di wajah manisnya.
“Hilang dimana, Dek?” tanyaku prihatin.
“Di bis sepertinya Mbak. Tadi bis penuh, berdesak-desakan. Dompet Santi juga hilang.”
Kucoba menghubungi nomor HP Santi. Masih aktif, tapi direject oleh seseorang. Sepertinya harapan untuk kembalinya HP itu sudah sangat tipis. Kasihan sekali, apalagi dompet lengkap dengan isinya raib. Tentu akan lebih ribet lagi karena ia harus mengurus surat-surat di dalamnya.
“Nanti pulangnya gimana, Dek? Ada barengan nggak?”
 “Nggak tahu Mbak, sekarang Santi nggak ada uang sama sekali,” jawab Santi setengah menangis. Mimik mukanya masih shock dengan kejadian yang baru menimpanya itu. Terlebih tadi ia bilang itu HP baru yang dibelikan ibu khusus untuknya. Tentu ia juga merasa sangat bersalah atas hilangnya HP pemberian ibunya itu.
Kulirik selembar 20 ribu rupiah satu-satunya yang tersisa di dompet. Uang terakhirku bulan ini. jika kuserahkan uang ini untuk Santi, bagaimana aku besok? Tapi tak tega rasanya kalau harus meninggalkan Santi tanpa membekalinya dengan sejumlah uang, minimal untuk makan siang dan ongkos pulang. Membayangkan diriku berada di posisinya saja sudah membuatku ingin menangis.
Kuhampiri teman-temanku dan berharap ada yang bisa memberi  bantuan, tapi ternyata kondisi kami tak jauh berbeda. Kami sama-sama mahasiswa pemburu beasiswa dan harus berjuang lebih untuk menambah uang saku karena jatah bulanan dari orangtua datang tak tentu.
Tak ada pilihan lain. Kutukarkan uangku menjadi pecahan yang lebih kecil. Biarlah, nanti di kos pasti ada yang bisa berbagi mie instan seperti biasanya. Jika tidak, aku bisa menagih teman yang sebelumnya meminjam stok mie instanku. Untuk urusan makan tak jadi soal, tapi urusan tugas kuliah masih memberatkanku. Sudahlah, nanti pasti ada jalan, sekarang ia lebih membutuhkan, bisik hatiku.
“Santi, maaf, Mbak cuma bisa membantu ini, sekadar untuk makan siang dan ongkos pulang ke rumah,” kataku sambil mengangsurkan beberapa lembar uang.
“Makasih banyak, Mbak. Jadi nggak enak sama Mba Arin, merepotkan. Semoga Mbak dimudahkan rezekinya.”
“Aamiin. Terima kasih juga doanya. Sudah ya, lain kali lebih berhati-hati. Mbak mau menyelesaikan tugas dulu, ada yang belum kelar.”
Kulihat mata Santi berkaca-kaca saat bersalaman dan memelukku. Aku hanya bisa berdoa semoga ibunya tak marah dan membuatnya makin merasa bersalah.
Aku kembali berkumpul dengan teman-teman sekelompok untuk menyelesaikan tugas kuliah. Sementara aroma lontong sayur yang menguar semakin membuat perutku bernyanyi-nyanyi. Bayangan sepiring lontong sayur untuk sarapan saat jeda kuliah musnah sudah.
Baiklah. Sabar, sabar.... Kembali kulirik dompetku yang kini hanya berisi beberapa lembar seribuan. Setidaknya sepiring nasi pecel tanpa lauk masih bisa terbeli nanti, sekadar mengganjal perut yang sejak pagi belum terisi. Aku yakin Allah akan memberikan rezeki kepada hamba-Nya dari jalan yang tak disangka-sangka.
***
Hari yang padat dan melelahkan. Setelah kuliah usai, aku harus mengerjakan beberapa tugas organisasi yang menjadi kewajibanku. Alhasil, hingga sore aku masih beredar di sekitar kampus.
Aku teringat dengan jadwalku mengajar TPQ sore itu. Hampir saja terlupa. Maka kubelokkan langkah kaki menuju TPQ di Masjid Al-Huda tak jauh dari rumah kost. Saat aku tiba di halaman masjid, anak-anak telah menunggu dengan riang.
“Mbak Arina datang...!” teriak mereka sembari berebut bersalaman. Ah, bertemu tangan-tangan mungil itu selalu menjadi hiburan tersendiri bagiku.
Bu Nur, pengelola TPQ tergelak melihat tingkah anak-anak. Aku pun segera menghampiri beliau dan menyalaminya, lalu bergegas dan bersiap memantau anak-anak mengeja huruf hijaiyyah di kitab Iqro’-nya. Bersama mereka, membuatku sejenak melupakan beban-beban yang menumpuk di pundak.
Satu persatu anak-anak usai mengaji. Biasanya setelah itu kami akan berdiskusi sebentar membahas perkembangan anak-anak, rencana TPQ, atau sekadar curhat dan membahas resep masakan.
Saat kami sedang membereskan peralatan mengaji, Bu Nur tiba-tiba mengangsurkan amplop kecil putih.
“Ini ada titipan dari takmir masjid untuk Arin.”
Apa itu, Bu?”
“Terima saja, jumlahnya tak seberapa. Untuk guru TPQ, begitu pesan beliau tadi.”
Meski sedikit bingung, kuterima amplop itu dan menyimpannya ke dalam tas. Tak biasanya pengurus memberikan uang lelah kepada guru ngaji di TPQ. Namun aku tak banyak bertanya, justru terharu karena sejujurnya aku tengah bingung bagaimana bertahan untuk besok tanpa utang ke teman kos.
“Terima kasih, Bu. Tolong sampaikan terima kasih juga untuk takmir.”
Bu Nur hanya mengangguk. Beliau tengah kesulitan membawa perlengkapan TPQ kembali ke rumahnya. Aku pun menawarkan diri untuk membantunya sampai rumah. Beliau mengiyakan, dan sejurus kemudian aku mengekor beliau menuju rumahnya yang tak jauh dari masjid.
 Setelah semua urusan selesai, aku berpamitan. Tiba-tiba beliau mengangsurkan kantong plastik berisi makanan. Maka sore itu aku pulang kos dengan membawa seplastik sayur dan lauk yang cukup untuk dimakan 3 orang.
Aku terdiam, memikirkan setiap kejadian yang kulalui seharian. Rasanya seperti ada rencana saling berkaitan. Bagaimana tadi aku yang hampir lupa jadwal mengajar TPQ akhirnya ingat tepat di belokan sebelum jalan menuju kost, juga tentang kegundahanku yang belum menemukan cara untuk esok hari.
Masyaallah, mungkin ini balasan langsung dari Allah atas beberapa ribu yang kusedekahkan tadi pagi. Semakin bertambah syukurku saat kubuka amplop dan mendapati jumlah yang berkali-kali lipat dari lembaran yang kukeluarkan, cukup untuk menyambung hidup sampai ada kiriman uang dan gaji les privat.   
Masyaallah walhamdulillah… aku seperti memberikan sebutir pasir namun mendapat balasan sebongkah emas.
***

Dulu, saya menganggap sedekah adalah hal yang sangat sulit, terlebih saya lebih sering tidak memiliki uang dibanding memegang uang sebagai tabungan. Namun, hidup bersama teman-teman di rumah kos mengajarkan saya banyak hal, termasuk saling menanggung beban saudaranya.
Kos muslimah itu dikelola oleh mahasiwa tingkat akhir, sehingga jaringannya cukup luas meliputi seluruh fakultas di kampus. Penghuninya rata-rata pengurus Rohis dan aktivis kampus lainnya.
Di sana, setiap ada berita duka atau musibah menimpa salah satu penghuni kos, akan ada relawan yang door to door mengetuk pintu kos di jaringan kos muslimah. Kami pun belajar untuk berempati dan menyisihkan sebagian dari yang kami punya untuk membantu saudara kami yang tengah kesusahan. Oh, indahnya masa-masa itu, saat susah dan senang kami lalui bersama.
Salah satunya adalah kisah di atas yang saya alami saat masih menjadi mahasiswa. Meski sebelumnya ragu dan berat untuk berbagi, akhirnya mulai muncul kesadaran bahwa ketika ada orang lain yang lebih membutuhkan kita bisa menyisihkan sebagian untuk mereka. Rasa bahagia dan nikmat ketika bisa berbagi untuk orang lain juga menjadi cambuk semangat. Nominalnya mungkin tak seberapa, tapi memulai langkah itu yang lebih utama.


The Formula of Charity

Dalam Alquran Allah berfirman: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui." (Al-Baqarah: 261).
Di sini, Allah berjanji bahwa sedekah yang kita keluarkan akan mendapat balasan 700 kali lipat. Namun bukan berarti kita harus menghitung setiap yang kita keluarkan itu untuk kemudian berharap balasan sebanyak 700 kali lipatnya. Karena bisa jadi, Allah memberikan balasan tidak hanya melalui materi, melainkan dalam bentuk lain yang nilainya jauh lebih besar. Kesehatan, ketentraman hati dan keluarga, kemudahan dalam beribadah, kemudahan dalam menjalani hidup, dll.
Dalam suatu obrolan bersama teman-teman, kami pernah membahas tentang ‘the formula of charity’ ini. Kesimpulan yang kami dapatkan adalah pada makna ikhlas, berbagi tanpa berharap imbalan. Jika ditilik menggunakan rumus matematika, maka 1/0 = ∞ dengan kata lain jika kita mengeluarkan satu rupiah tanpa mengharapkan apapun, bisa jadi Allah justru akan membalasnya tak terhingga, tidak sekadar seperti apa yang kita harapkan.
Allahua’lam bishshawab.

Keutamaan Bersedekah/Berbagi

Islam mengajarkan umatnya untuk bersedekah, dan telah dituangkan dalam Alquran dan hadis. Berbagai kisah kedermawanan para sahabat Rasulullah di masa itu pun terdegar indah hingga sekarang.
Dalam agama islam, ada sedekah wajib yakni zakat. Zakat diperuntukkan bagi orang yang mampu. Sedangkan sedekah sifatnya sunnah dan sangat dianjurkan oleh siapa saja baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Begitu besarnya keutamaan sedekah sampai dalam Alquran diabadikan kisah mereka yang menyesal semasa hidupnya tidak mau mengeluarkan sedekah. Sehingga mereka berharap jika diberi kesempatan untuk hidup kembali, senantiasa akan rajin bersedekah.
Allah berfirman: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (Al-Munafiqun:10)


Merpati Tak Bertelur Sebesar Burung Unta

Banyak orang yang masih berpikir ‘untuk apa saya berbagi? Saya sendiri belum selesai dengan urusan pribadi. Saya sendiri juga masih butuh’.
Ungkapan seperti itu kurang tepat dan kurang bijak, karena sebenarnya kita bisa berbagi dan memberdayakan diri sendiri dengan apa saja yang kita punya. Idealnya memang berbagi dengan materi agar secara nyata bisa memberi manfaat yang lebih luas. Namun, di luar itu mereka juga butuh uluran tangan berupa tenaga, pikiran, ilmu, bahkan senyum dan cara kita yang santun saat bertemu.
Belum bisa menjadi donatur, kita bisa menjadi duta zakat _seperti yang rutin saya lakukan tiap bulan Ramadan_, atau bisa menjadi relawan/volunteer untuk kegiatan dan program-program LAZ, menyebarkan informasi tentang program LAZ di dunia maya, dll.
Setiap orang bisa berbagi dengan caranya sendiri. Ada salah satu kaidah jika akan berbagi, tetap utamakan urusan kewajiban, seperti nafkah untuk keluarga.
Seperti halnya saat rasulullah menerima donasi dari para sahabat terutama menjelang keberangkatan perang, beliau selalu menanyakan apa yang ditinggalkan sahabat tersebut untuk keluarganya.
Berbagi sesuai dengan kemampuan itu yang utama. Ibaratnya, seekor merpati akan mengeluarkan telur yang kecil sesuai ukuran tubuhnya. Namun burung Unta juga bertelur besar sebagaimana tubuhnya yang tinggi besar. Akan berat ketika merpati bertelur sebagaimana burung Unta, atau burung unta bertelur sebesar telur merpati, menggelikan ya kedengarannya.


Sedekah Produktif dan Memberdayakan

Konsep sedekah yang dikelola oleh lembaga amil zakat (LAZ) adalah pemerataan dan pemberdayaan. Jangkauan LAZ seperti Dompet Dhuafa tentu lebih luas dibanding jangkauan pribadi, sehingga kemanfaatannya akan lebih luas pula.
Analoginya, ketika banyak individu menyalurkan bantuannya langsung kepada seseorang, besar kemungkinan bantuan akan menumpuk di salah satu orang. Sementara ada orang lain yang lebih membutuhkan namun dia tidak mendapat bantuan. Berbeda ketika dana dikelola oleh LAZ. Mereka telah memiliki jaringan yang luas dan memiliki data akurat mengenai calon penerima manfaat, sehingga dana yang tersalurkan akan lebih merata. Selain itu, LAZ juga telah memiliki program-program pemberdayaan sebagai wujud penyaluran dana yang terhimpun. Misalnya program pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, dll.
Harapannya, para penerima manfaat (mustahik) tidak selamanya menjadi mustahik, namun akan naik kelas menjadi muzakki (donatur). Karenanya, banyak program LAZ yang bersifat pemberdayaan produktif.
Saat saya masih mengabdi di LAZ daerah, kami pernah memiliki program pemberdayaan pendidikan. Program tersebut semacam pesantren yatim dan dhuafa, namun hanya terdiri dari 5 orang karena menyesuaikan dengan dana penghimpunan yang masuk setiap bulan.
Diantara 5 anak yang dibiayai selama sekolah SMA tersebut, 2 diantaranya berhasil melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi. Sementara 3 lainnya memilih untuk bekerja, karena ada ibu dan adik-adik yang membutuhkan perhatiannya.
Alhamdulillah, si Anak yang melanjutkan kuliah bisa berprestasi di kampusnya. Kini ia bersama rekan-rekannya membentuk komunitas yang menghimpun dana dari donatur untuk disalurkan kepada yang berhak.
Inilah contoh kecil mustahik yang kemudian menjadi muzakki, meskipun levelnya masih belum benar-benar menjadi muzakki (masih seperti amil zakat), sangat mungkin jika kelak ia pun menjadi seorang muzakki. Aamiin.


Tips Ringan Berbagi

Masih terasa berat untuk berbagi? Mari kita coba terapkan beberapa cara mudah dan ringan untuk memulai rutin bersedekah.
1. Keluarkan secara rutin sebagian pendapatan yang diterima. Prioritaskan untuk zakat (bagi yang sudah wajib zakat) dan atau sedekah.
2. Sedekah setiap hari melalui tabung sedekah yang disediakan oleh LAZ, setorkan secara rutin tiap bulan.
Sedekah setiap hari seperti ini akan terasa ringan, tak harus ditentukan besarannya setiap hari, namun belajar untuk konsisten mengisi tabung. Untuk memberikan semangat, pasang hadits ini besar-besar di dekat tempat menyimpan tabung sedekah.
“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)
3. Bersedekah setiap hari Jumat.
Hari Jumat adalah hari raya umat islam. Salah satu satu ibadah yang dianjurkan adalah berdoa. Bersedekah lalu mengiringinya dengan doa insyaAllah akan lebih baik.
4. Bersedekah dengan tenaga, pikiran/ide, ilmu, dan bahkan senyuman
Hal ini juga pernah saya lakukan saat menjadi relawan di LAZ. Meski tenaga dan pikiran terkuras terutama ketika mengadakan kegiatan penyaluran/pemberdayaan, tapi melihat wajah bahagia dan senyum sumringah anak-anak yatim/dhuafa membuat saya tertular bahagia. Trenyuh dan sangat mengesankan, juga membuat saya menjadi lebih mudah bersyukur dengan apapun nikmat yang Allah berikan.
Semoga dengan memulai dari yang kecil dan telah menjadi kebiasaan, saat dalam kondisi lapang kita tidak lagi mencari banyak alasan untuk menunda berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Terlebih berbagai kemudahan dari LAZ sangat membantu donatur. Misalnya sedekah dengan aplikasi, autodebet setiap turun gaji, via transfer bank, layanan jemput zakat, dll. Jika kesulitan menghitung jumlah zakat, tim LAZ pun akan dengan senang hati membantu menghitungnya. Di web Dompet Dhuafa bahkan telah tersedia kalkulator zakat sejak beberapa tahun terakhir sehingga donatur bisa menghitung sendiri total zakat yang harus dikeluarkan.
Jangan takut berbagi, dan tak perlu menunggu nanti. Karena sejatinya dengan berbagi, harta menjadi suci. Dengan berbagi, harta menjadi lebih berkah dan bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan. Jangan takut berbagi, karena itu adalah investasi ‘masa depan’ yang sesungguhnya. Berbagi tak akan membuat rugi, karena ‘kalkulator Allah’ lebih canggih dan rinci.
Semoga bermanfaat,
Salam,


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi 
yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

27 comments:

  1. Masyaallah, bersedekah itu memang kontan balasannya ya, mbak. Hehe.
    Cuma ya itu, memang sulit bangettt meyakinkan hati bahwa sedekah enggak akan merugikan kita, termasuk saya sendiri yang masih sering urung sedekah karena takut ini dan itu. Astagfirullah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga selalu istiqomah ya Teh. Akupun masih sering mikir buat diri sendiri

      Delete
  2. Alhamdulillah..langsung kembali berlipat-lipat kali ya Rin.. Berbagi tak akan pernah rugi. Aku percaya sekali akan hal ini dan Alhamdulillah sudah terbukti beberapa kali. Gusti Allah tidak sare dan tidak pernah ingkar janji...
    Semoga sukses Rin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohya, tulisan2 seperti ini tuh membuka mata hati kita bahwa tidak harus menunggu kaya untuk bisa berbagi. Karena semua berasal dari niat, dari hati..

      Delete
    2. Betul, Mbak. Ibaratnya kalau mau nunggu kaya, trus kapan sedekahnya? Orang yang kelihatan kaya belum tentu merasa sudah cukup 😊

      Delete
  3. Masya Allah, postinganmu ini benar2 luar biasa Arina. Jadi membuka hati, bikin gemeter loh. Semudah itu sebenarnya ya konsep berbagi. Hanya saja masih banyak yang belum memahami dan menganggap membantu orang lain itu hanya akan menyusahkan diri sendiri saja.

    ReplyDelete
  4. keajaiban sedekah ya, mbak.. MasyaAllah.. langsung dibayar kontan ma Allah! Allah memang Maha Baik ❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, kalau pas lagi berat untuk sedekah, aku selalu mengingat pengalaman ini biar semangat lagi. Bukan mengharap balasan berkali lipat, tapi mengingat Allah yang begitu baik sama aku 😊

      Delete
  5. setuju, berbagi juga bisa dari hal apa saja, nggak hanya materi. oh ya, aku juga sama-sama yakin kalau berbagi itu pasti diganti Allah SWT yang jauh lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup! Betul Mbak. Meskipun balasannya nggak tentu berupa materi

      Delete
  6. Memang ya janji Allah tu pqsti bener. Sadaqah tu seringkali dibayar kontan sama Allah bahkan lebih. Ga harus besar asalkan rutin insyaallah barakah

    ReplyDelete
  7. BAnyak kisah bersedekah yang membawa inspirasi, dan selalu bikin takjub yang mengalaminya. Masya Allah, selalu ada pintu-pintu rejeki bagi mukmin yang mudah membantu dan tawakal ya Rin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting bersyukur dengan nikmat Allah ya Mba, rezeki seberapapun lebih utama halal dan berkahnya 😊

      Delete
  8. Semoga kita menjadi hamba-hamab yang istiqomah bersedekah ya mba Arin, Bismillah
    Aku juga berusaha melakukannya, meski sedikit insyaAllah saya bahagia melakukannya

    ReplyDelete
  9. Terharu banget bacanya Rin, kebayang mahasiswi yang lapar karena duitnya tinggal selembar, mampu bersedekah untuk bantu temannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau lihat seperti adik kelasku itu, ngrbayangin kalo aku di posisinya dan ga ada yg bantuin.. 😢

      Delete
  10. Bersedekah di kala lapang itu mudah. Tapi pas sempit. Subhanallah luar biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu yang namanya pembiasaan ya Mbak, biar pas lapang udah enteng mau sedekah

      Delete
  11. Aku suka cerita pembukanya.
    Emang, ketika kita bersyukur, semesta pun memberi jalan untuk hidup.
    Emang gampang diucap, dan harus terus dilatih sepanjang hidup untuk terus bersyukur, & pastinya berbagi.

    ReplyDelete
  12. Aku pernah mengalami sendiri bagaimana Allah mencukupkan rezeki makhlukNya yang sedang dlm kesulitan. Ketika uang di dompet tinggal tak seberapa aku berikan ke embah2 tua, tak berapa lama Allah ganti ratusan kali lipat.
    Masyaa Allah

    ReplyDelete
  13. Barokallah, terima kasih atas sharing nya Mbak.

    ReplyDelete
  14. Subhanallah... Sangat menginspirasi sekali, baca cerita awalnya terharu... Kita harus selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada kita, namun itu semua hanyalah titipan dariNya. Sebagian dari harta kita adalah hak orang lain.
    Semoga bisa menjadi hamba yang senantiasa ikhlas berbagi, istiqomah bersedekah, dan selalu bersyukur. Aamiin

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam