Friday, 18 January 2019

Ningrum Sang Pahlawan Lingkungan




Ningrum tengah berjalan menyusuri  trotoar di sepanjang jalan Dieng. Hujan masih terus mengguyur Wonosobo sejak pagi tadi, membuat udara yang telah dingin menjadi semakin dingin menusuk kulit dan tulangnya. Jaket yang membalut tubuhnya berkali-kali ia kencangkan untuk mencegah hawa yang semakin membuatnya tak nyaman.
Ia terus menyusuri jalan itu, menuju rumahnya di kampung Rowopeni. Sesekali ia mengibaskan tangan saat percikan hujan mengenai wajah dan tangannya. Payung kecil yang ia kenakan rupanya tak mampu menghindarkannya dari kejaran hujan.

Masih setengah perjalanan lagi untuk sampai ke rumahnya. Seharian bersama anak-anak didiknya yang menyita perhatian tak membuatnya lelah untuk berjalan kaki pulang. Ia selalu mengusahakan berjalan kaki bukan karena tak punya uang, gajinya sebagai pengajar lebih dari cukup untuk menghidupi dirinya sendiri, tetapi ia ingin berolah raga dan mengurangi polusi. Motor hadiah dari ayahnya tahun lalu sangat jarang ia pakai kecuali saat terburu-buru. Jiwa sosialnya berkata jika ia naik angkot maka akan sedikit membantu pekerjaan para sopir angkot, ia pun menjadi lebih bersyukur akan nikmat dari Allah untuk dirinya.
Tiba-tiba hujan menderas, arus air dari utara mengguyur aspal dan jalanan itu berubah seperti sungai yang memuncratkan air saat terlewati kendaraan. Ningrum mengernyitkan dahi, kenapa bisa begitu? Padahal daerah ini cukup tinggi. Oh, rupanya selokan mampet dan airnya membludak ke jalan, ke trotoar bahkan ke rumah dan kantor di sepanjang jalan itu.
“Banjiiiir!! Banjiir! Selamatkan barang-barang yang di bawah!” teriak seorang perempuan dari sebuah kantor. Lalu terlihat beberapa orang yang mondar-mandir dan panik mengangkat barang-barang yang tergeletak di lantai dan mencegah lebih banyak air yang masuk. Ningrum pun tergerak untuk membantu.
“Sini Mbak, saya bantuin nyogokin selokannya,” katanya ramah saat melihat salah satu dari mereka mencoba mengaduk-aduk selokan agar airnya lancar.
“Iya Mbak, terimakasih. Pakai kayu ini saja, saya bereskan yang di dalam lagi ya Mbak,”
“Oke,” Dan tanpa banyak bicara Ningrum segera bekerja. Ia tak begitu terkejut saat berhasil mengambil setumpuk sampah plastik dari sana. Botol air kemasan ukuran besar dan bungkus snack serta beberapa plastik limbah rumah tangga.
‘Pantas saja daerah sini banjir, selokannya saja berisi sampah…’ gumam Ningrum prihatin.
“Sudah mulai surut Mbak, terima kasih banyak…” kata si empunya kantor tulus.
“Sama-sama Mbak, saya pamit dulu. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam…”
Setelahnya Ningrum tak bisa melepaskan diri dari memikirkan berbagai alternatif untuk ‘menyelamatkan’ daerahnya sendiri agar tak lagi banjir saat musim hujan tiba. Miris  rasanya, Wonosobo yang notabene wilayah pegunungan sering mengalami banjir juga. Ia pun mengingat bencana banjir bandang di dataran tinggi Dieng beberapa tahun lalu yang diyakininya akibat ulah manusia sendiri.
Ningrum mencoba brainstorming seputar sampah dan lingkungannya
Hingga larut malam, Ningrum masih berkutat dengan konsep yang dinamainya PROYEK PENYELAMATAN. White board di kamarnya penuh dengan berbagai coretan dan gambar-gambar dari masalah-masalah yang telah timbul akibat sampah atau lebih tepatnya akibat pengelolaan sampah yang kurang tepat. Padahal ia tahu, setiap pagi petugas DPU selalu datang mengambil sampah-sampah di sana, mengapa masih ada saja yang menyumbat selokan? Apa masyarakat terlalu malas untuk sekadar membuang sampahnya ke tempat yang telah di sediakan? Entahlah… Ningrum terlalu lelah untuk memikirkan semuanya.
Malam ini ia telah mengantongi beberapa ide dan program untuk misinya itu. ia membaginya menjadi beberapa tahap: dimulai dari dirinya sendiri, keluarganya, lalu masyarakat di sekitarnya.
Seharian besok ia libur sehingga bisa browsing dan mencari info tentang segala hal yang berkaitan dengan sampah dan pemanfaatannya. Ia pun akan menghubungi teman-temannya yang telah memahami ‘dunia persampahan’ untuk belajar pengolahan sampah.
Selanjutnya, ia akan berkampanye tentang sampah kepada keluarganya. Selama ini ia telah mulai memisahkan sampah organik dan non-organik, membagi lagi sampah non-organik ke dalam beberapa jenis, dan seterusnya. Tetapi lebih sering anggota keluarga yang lain mengabaikannya maka ia harus menggalakkan program itu kembali.
Sambil menjalankan program untuk keluarganya, ia akan mencoba mencari dukungan lewat ketua RT dan ibu-ibu PKK di sekitarnya. Mencoba melempar isu dan wacana tentang sampah; menyampaikan informasi, masalah, dan berbagai fakta yang telah dianalisa lalu mengajak mereka untuk ikut berperan menanggulangi masalah itu.
Ia sadar semua itu bukan hal yang mudah, butuh energi yang banyak dan kesabaran ekstra. Tapi ia yakin dan akan berusaha apapun hasilnya kelak.
***
Contoh tempat sampah untuk pemilahan sampah
Pagi ini Ningrum akan menjalankan misinya di keluarga. Pagi-pagi ia telah menyiapkan 3 tong sampah sedang yang ia letakkan di dapur, 3 tempat sampah kecil ia letakkan di kamar orangtuanya, kamarnya sendiri, dan kamar Nina dan Neni adik kembarnya. Ayah dan Ibu Ningrum tak ada satupun yang memprotes karena mereka sudah paham anak sulungnya itu memang selalu dijuluki ‘sang penyelamat lingkungan’.
“Kak Ningrum! Ribet tau kalo ada 3 tong sampah di dapur!” seloroh Neni dengan muka ditekuk. Ningrum hanya tersenyum menanggapinya, ia sepenuhnya paham kedua adik kembarnya itu sebenarnya penurut hanya perlu sedikit penjelasan.
“Nggak ribet ko Dik, Neni kan tinggal masukin aja sampahnya ke salah satu tong, semua udah ada tulisannya”
“Tetap aja ribet! Apalagi kalau kita punya banyak macam sampah. Masa’ musti buang sampahnya berkali-kali juga!” kali ini Nina urun suara dengan nada yang sama.
“Adik sayang…, mau kan berbagi kebaikan untuk banyak orang? Nah.. salah satunya dimulai dari sampah-sampah itu”
Meskipun masih terpaksa si kembar Nina dan Neni pun menerimanya.
Alhamdulillah, keluarga tidak ada masalah. Berarti tahap awal ini semuanya lancar, bisik Ningrum penuh kesyukuran. Senyum bahagia tergambar jelas di wajahnya.
Rencana selanjutnya segera disiapkan. Ningrum mengeluarkan dus dari gudang, dus yang berisi sampah kemasan plastik yang telah dikumpulkannya sedari dulu. Dulu ia hanya berfikir suatu saat sampah-sampah itu akan bermanfaat.
Mula-mula ia pilah sampah-sampah itu sesuai ukuran dan warnanya lalu ia cuci bersih di pancuran. Untuk beberapa yang berminyak ia rendam sebentar dengan sabun lalu ia jemur di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering. Sembari menunggu plastik-plastik kemasan itu kering, Ningrum membuat beberapa pola dan menyiapkan mesin jahit tua milik ibunya. Tak lupa ia siapkan gunting, penggaris, bolpoin, dan perlengkapan jahit lainnya.
“Mau buat apa, Ning?” sapa ibu saat melewatinya.
“Hm, Ningrum mau coba buat sesuatu yang bermanfaat dari sampah plastik, Bu”
“Bagus. Siapa yang ngajarin?”
“Otodidak, Bu. Sebelumnya sudah ada bayangan, lalu nyari di internet Alhamdulillah dapat contohnya jadi tinggal nyoba buat”
“Semoga berhasil, Nak” kata Ibu tulus.
“Terimakasih, Bu. Do’akan ya semoga bermanfaat”.
Satu setengah jam kemudian plastik yang dijemur telah mengering. Ningrum bersyukur karena hari ini matahari bersinar cerah di Wonosobo, tidak seperti beberapa hari terakhir. Selanjutnya ia asyik menggunting dan merapikan, memadukan warna yang pas dan harmonis, lalu menjahit plastik-plastik itu menjadi lembaran sesuai ukuran yang ada di polanya. Akhirnya jadilah sebuah map meskipun belum sempurna dan masih perlu finishing agar telihat lebih cantik. Siapa sangka jika map itu dari kemasan plastik yang sudah tak terpakai sama sekali?. Puas melihat hasil kerjanya, Ningrum melirik laptop dan membuka beberapa gambar kreasi sampah plastik yang telah diunduhnya lewat internet. Ide-ide bermunculan di kepalanya dan tak sabar untuk segera direalisasikan.
***
“Begini Bu, saya prihatin melihat kondisi lingkungan sekitar kita. Beberapa hari ini banjir karena selokan mampet sehingga air meluap ke jalan dan ke rumah-rumah. Setelah saya amati, sebagian karena sampah yang menumpuk di selokan. Saya ingin mengajak warga khusunya ibu-ibu untuk bijak mengelola sampah, Bu” kata Ningrum saat menemui Bu Rahma, istri ketua RT.
“Hm.. saya pun punya pikiran yang sama dengan Mbak Ningrum. Cuma ya itu, saya belum punya programnya. Apa Mbak Ningrum sudah ada usulan?”
“Alhamdulillah, sudah Bu Rahma. Saya sudah mencoba membuat kreasi sampah menjadi barang yang bermanfaat; contohnya seperti ini” kata Ningrum sembari mengangsurkan map hasil karyanya. Alhamdulillah, jika penggerak PKK telah mendukung ia optimis rencananya akan berjalan lancar seperti yang diharapkan.
Hari ini sepekan sejak pertemuanya dengan Bu Rahma, Ningrum tengah menanti kedatangan ibu-ibu PKK untuk datang ke rumahnya. Sejak pagi ia telah menyiapkan segala perlengkapan untuk presentasi dan peralatan praktik tak lupa makanan ringan dan minumannya telah siap menemani para ibu berkreasi.
Bu Rahma telah datang meskipun terlambat beberapa menit dari waktu yang disepakati, menyusul Bu Desi dan Bu Febri 10 menit kemudian. Ningrum mulai gelisah karena menunggu hampir 30 menit baru tiga orang yang datang. 15 menit kemudian datang Bu Siti dan Bu Rani yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Ningrum. Tak mau menunggu lebih lama lagi, Bu Rahma membuka acara dan selanjutnya menyerahkan acara kepada Ningrum.
Semangat Ningrum cukup menciut dengan hadirnya 5 orang dari 25 orang yang diundang apalagi yang tampak antusias hanya Bu Rahma, Bu Desi dan Bu Febri, barangkali Bu Siti dan Bu Rani hanya datang atas alasan tidak enak jika tidak datang.
“Baiklah, Ibu-Ibu, bagaimana tanggapannya?” Ningrum mengakhiri presentasinya.
“Bagus, Mbak. Sepertinya menyenangkan membuatnya. Tapi, yang dibuat Mbak Ningrum itu kan baru sampah plastik dan membuatnya pun menggunakan mesin jahit. Solusi bagi kami yang belum punya mesin jahit bagaimana Mbak?” tanya Bu Febri.
“Pertanyaan yang bagus sekali, Bu Febri. Sebenarnya banyak sekali kreasi yang bisa dibuat dengan ataupun tanpa mesin jahit. Ada yang dianyam, ada yang cukup dilem, ada juga yang menggunakan jahit tangan. Untuk membuat dompet kecil atau tempat HP bisa dengan anyaman, bros dan bunga yang cantik dengan jahit tangan dan perekat. Kuncinya mudah karena plastik kemasan itu bahan yang tidak mudah rusak dan fleksibel jadi lebih mudah dibuat berbagai macam bentuk” jelasnya sembari memperlihatkan gambar-gambar di laptopnya.
“Wah,, bagus-bagus ya Mbak.. ayo, kapan-kapan kita ngumpul lagi buat belajar” kali ini Bu Desi yang terlihat antusias.
“Silakan, Bu. Dengan senang hati, saya insya Allah akan menemani, kita belajar berkreasi bersama” sahut Ningrum lega. Setidaknya sudah ada niatan dan satu-dua pionir untuk proyeknya. Bukankah sesuatu yang besar selalu dimulai dari yang kecil? Bisik Ningrum untuk dirinya sendiri.
***
Memanfaatkan berbagai barang bekas untuk menanam
“Assalamu’alaikum, terimakasih sudah berkenan datang kembali Bu Rahma, Bu Desi, dan Bu Febri. Bu Rani dan Bu Siti berhalangan” Ningrum membuka pertemuan dengan singkat dan melanjutkannya dengan cukup santai.
Canda dan tawa mewarnai sore yang cerah itu, apalagi saat ibu dan si kembar ikut bergabung meramaikan. Kali ini mereka akan berkreasi dengan jahit tangan dan lem serta anyaman. Ningrum tak lupa mengingatkan mereka agar tak menyisakan sampah lain karena sisa-sisa guntingan masih bisa digunakan untuk isian bantal kursi atau kreasi lain.
“Mbak, apa ada ide untuk pengolahan sampah organik?” tanya Bu Rahma. Ningrum tersenyum, pertanyaan yang telah dinantinya akhirnya muncul.
“Insya Allah ada bu, dan membuatnya pun cukup mudah. Pertama kali yang harus kita lakukan adalah membuang sampah pada tempatnya, tidak lagi di selokan atau di kali. Selanjutnya, kita menyediakan dua buah tempat sampah yaitu organik dan non organik. Untuk sampah organik, bisa langsung kita buat pupuk cair dengan bantuan MOL (Mikro organisme lokal). Pembuatan MOL pun cukup mudah dan bisa menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita” Ningrum berhenti sejenak, namun semangatnya tengah membara dan mimpinya seakan berada di hadapannya untuk segera diraih dan dibuat nyata. Mimpinya untuk menjadikan Wonosobo kota yang bersih dan bisa mengelola sampah yang berlimpah.
“Pernah membuat MOL Mbak?” tanya Bu Desi.
“Pernah, Bu. Dan Alhamdulillah berhasil. saya sudah punya beberapa botol pupuk cair” jawab Ningrum mantap.
“Oia, untuk sampah non-organiknya, bisa kita pisahkan menjadi beberapa bagian seperti plastik, kertas, dan kaleng. Untuk kertas bisa kita daur ulang untuk dijadikan kerajinan tangan atau kertas hias. Untuk plastik bisa kita kreasikan seperti ini, dan kaleng-kaleng bisa kita manfaatkan untuk yang lain atau bisa juga kita jual”
“Saya punya ide untuk membuat Bank sampah, Mbak”
“Bisa minta tolong dijelaskan, Bu Rahma?” lagi-lagi Ningrum bersorak dalam hati karena bank sampah juga menjadi salah satu agendanya.
“Begini, kita masing-masing di rumah menyediakan 3 tempat sampah seperti yang Mbak Ningrum sampaikan. Sepekan sekali kita kumpulkan sampah dari rumah ke rumah. Sampah organik kita buat pupuk, sebagian sampah plastik dan kertas kita jadikan kerajinan, lalu sebagian yang lain bisa kita jual. Hasilnya untuk kas kita dan untuk biaya promosi barang-barang yang kita hasilkan karena saya ingin semuanya bisa bernilai ekonomis sehingga bisa membantu penghasilan ibu-ibu yang akhirnya akan bermanfaat untuk banyak orang” serentak tiba-tiba mereka bertepuk tangan dan tertawa gembira mendengar penjelasan Bu Rahma.
“Bagus, Bu Rahma. Saya setuju” Bu Desi langsung menanggapinya.
“Lalu, pupuk cair yang nantinya kita hasilkan akan diapakan, Mbak?” tanya Bu Febri.
“Sebagian mungkin bisa kita jual, Bu. Tapi lebih baik kita manfaatkan sendiri. Caranya tentu saja dengan kita galakkan gerakan menanam di halaman rumah. Kita menanam sayuran, bumbu dapur, juga tanaman hias. Tanaman hijau di halaman rumah kita tentu akan mempercantik pemandangan dan menyejukkan mata”
“Betul juga ya Mbak? Kita bisa memanfaatkan untuk semuanya dan kalau kita bisa menanam sayuran tentu saja akan menghemat pengeluaran kita untuk masak”
“Benar, Bu. Sepertinya kita memang harus melakukan semuanya ya? Kalau mau lingkungan benar-benar bersih dari sampah” sahut Bu Desi.
“Nanti saya siap untuk membantu menggerakkan warga, tapi tentunya kita juga harus bergerak terlebih dahulu dan membuktikan pada mereka bahwa program ini mudah dan menyenangkan bahkan bisa menghasilkan uang” kata Bu Rahma bersemangat, ia tertawa gembira.
“Saya sepakat. Ayo Mbak Ningrum, Mbak saja ketuanya ya, nanti yang mengkoordinir dan membuat rencana. Kita jalankan bersama-sama. Yang lain setuju?” Bu Febri melirik dua orang temannya dan memandang Ningrum penuh harap.
“Setujuuuuuu!!” sahut Bu Desi dan Bu Rahma berbarengan.
Maka resmilah Ningrum ‘menjabat’ menjadi ketua dan mendapat kehormatan untuk memimpin orang-orang yang lebih tua darinya. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. ide-ide yang terkurung di kepalanya menunggu untuk dibuktikan. Senyum cerah merekah di wajah manisnya.
***
Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL),
memanfaatkan lahan di sekitar rumah untuk bertanam
sumber gambar: monitor

Setahun berlalu, Ningrum berjalan kaki di trotoar saat hujan menderas. Namun tak seperti tahun sebelumnya kali ini ia tak mendapati banjir. Yang ia dapati adalah selokan yang lancar, rumah-rumah yang halaman dan terasnya terlihat hijau, tong-tong komposter yang tergeletak di halaman rumah, serta halaman dan jalanan yang bersih dari sampah.
Ia patut tersenyum dan bersyukur atas perjuangannya selama ini dengan bantuan Ibu-ibu PKK yang bersemangat.
“Assalamu’alaikum, Mbak Ningrum”
“Wa’alaikumsalam, Bu Desi. Sedang panen apa, Bu?”
“Alhamdulillah, Mbak. Ini sedang metik sayur bayam. Oh iya Mbak, pameran kita bulan depan bagaimana?”
“Insya Allah jadi, Bu. Persiapan sudah hampir selesai. Kita tinggal memastikan persediaan sayur organik kita cukup banyak untuk dipamerkan,”
“Siap, Mbak Ningrum! Semuanya sudah OK” kata Bu Desi sembari mengacungkan dua jempol tangannya.
“Semua warga sudah saya hubungi, termasuk untuk kerajinan dan pupuk cair semuanya tinggal dibawa untuk pameran,” Imbuhnya
“Alhamdulillah… semoga semua lancar sampai hari H, Bu”
“Aamiin..”
“Mari Bu Desi, saya permisi dulu,”
“Iya Mbak, silakan….”
Lagi-lagi buncah kebahagiaan memenuhi dada Ningrum. Perjuangannya selama setahun ini membuahkan hasil. Terimakasih, Yaa Allah.. aku cinta Wonosoboku yang bersih ini. Aku cinta Wonosoboku yang indah dan hijau ini…. Ningrum berbisik penuh makna.
Pikirannua terus mengembara, mencari solusi tak hanya untuk lingkungannya. Ya, masih jauh dari mimpinya agar menerapkan gaya hidup zero waste, bebas sampah atau paling tidak minim sampah. Namun semoga ia bisa melakukan yang terbaik untuk bumi tercinta.

Baca juga: Ecobrick untuk solusi penumpukan sampah plastik
*Kisah ini terinspirasi dari seorang ibu peduli lingkungan di Kota Semarang, pendiri Bank Sampah Resik Becik dan seorang ibu yang menggalakkan pengelolaan sampah dan kebun organik KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari_program PKK) di salah satu desa di Kabupaten Banjarnegara.



26 comments:

  1. Jika saja ada Ningrum-Ningrum di setiap daerah..insya Allah zero waste tidak hanya menjadi mimpi ya...

    ReplyDelete
  2. Mbak Arina, aku juga pernah bekerja sama dgn Bank Sampah Resik Becik kayanya waktu kuliah dulu. Inspiratif yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, keknya sering kerjasama sama mahasiswa FKM ya :)

      Delete
  3. Baru tahu istilah mikro organisme lokal untuk pupuk cair. Inspiratif!

    ReplyDelete
  4. Terima kasih informasinya, sangat membantu :)

    ReplyDelete
  5. Thanks your for sharing mom

    ReplyDelete
  6. Keren mbak tulisannya. Dan keren sekali si Ningrum. Semoga semakin banyak Ningrum-Ningrum yang lain di Indonesia. Aamiin.

    ReplyDelete
  7. Bravo buat Ningrum. Dan semoga kita juga termasuk dalam Ningrum-Ningrum itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. yaa Rabb... semangat belajar bareng ya Mba :)

      Delete
  8. inspirtaif sekali tulisan dan isinya mbak...krn saat ini minim sekali orang yang sadar akan cinta lingkungan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita bisa menjadi bagian kecil itu ya Mba :)

      Delete
  9. Sama di rumahku juga aku milah sampah ke 3 bagian, organik non organik (kertas dan plastik) dan yang organik kami olah jadi pupuk untuk tanaman yang kami tanam di halaman lumayan bisa hemat beli pupuk dan bermanfaat :)

    ReplyDelete
  10. Kalo di rumahku baru 2 tong sampah sih, baru misahin sampah yg sekiranya mau pemulung ambil sama yg enggak. Pengen juga belajar mengolah sampah organik di rumah kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah lagi nggak konsisten nih Mbak.. huhu.. kudu ditabok nih

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam