Wednesday, 12 December 2018

Tentang Penyesalan Itu


Menyesal selalu di belakang. Iya, karena jika di depan namanya tiang bendera. Ups.
Jika setiap hal bisa diprediksi akan berpeluang akan mengecewakan dan berujung penyesalan, tentu makin sedikit orang yang akan menyesal. Namun, makin sedikit pula yang belajar berproses dan menjadi lebih tangguh dengan setiap fase yang harus dilalui.
Ada banyak hal yang saya sesali hingga saat ini. Utamanya adalah kesadaran untuk memperkaya diri dengan ilmu di luar spesifikasi.
Rasanya dulu hanya berkutat dengan itu-itu saja, hanya sedikit belajar tentang ilmu berumah tangga sehingga cukup gagap dalam melangkah. Terlebih setelah diberi amanah seorang anak dalam keluarga kecil kami yang masih baru.

Rupanya ilmu kecil mulai dari bagaimana caranya agar pekerjaan rumah tangga efektif dan efisien, urusan dapur dan keuangan rumah tangga, pendidikan anak, dan tetek bengek urusan berumah tangga lainnya.
Beruntung dengan dukungan teknologi seperti sekarang ini, kita jauh lebih mudah untuk mengakses informasi. Berbagai ilmu bisa kita dapatkan melalui gawai yang digunakan termasuk ilmu parenting dan rumah tangga lainnya. meski praktiknya jauh lebih rumit dibandingkan teori. Setidaknya, sudah ada pondasi yang cukup kokoh untuk menghadapi masalah yang ada.
Ah ya, saya juga menyesal dulu tidak serius belajar menjahit. Keluarga besar saya hampir semuanya bisa menjahit dan profesinya sebagai penjahit. Pakdhe, budhe, bulik, dan kakak-kakak sepupu rata-rata bisa menjahit dan turun temurun menjadi penjahit juga. Mamak saya pun bisa menjahit dan seringkali menerima pesanan jahitan. Yang lebih oke lagi, mamak spesialis bordir baju atau jilbab. Rata-rata jilbab saya dulu adalah hasil bordir mamak menggunakan mesin jahit biasa sebelum beliau memiliki mesin bordir. Dan diantara anak-anak mamak dan bapak, hanya saya seorang yang tidak pandai menjahit.
Dulu saya berlatih menjahit di tempat budhe. Mulai dari memasang kancing, memasang hak baju, ngesum, dan menyerika. Untuk urusan nyetrika, juga tidak semudah yang saya bayangkan. Pakaian yang telah dijahit harus disetrika sesuai dengan garisnya agar rapi dan licin, dan itu lebih rumit dibanding menyetrika pakaian yang sudah dipakai.
Di rumah, jika mesin jahit mamak menganggur, saya sering mencoba menjahit kain dan membjat garus lurus. Hasilnya?! Jangankan garis lurus, yang ada malah jarum patah, benang kusut bin mbundhet, kain yang ‘lari’, dan kaki pegal mengayuh pedal mesin jahit. Jangan bayangkan mesin jahitnya sudah menggunakan listrik, ya!
Semakin lama, saya mulai bisa membuat garis lurus dengan mesin jahit. Mulai berkreasi dengan kain-kain perca yang diambil dari rumah budhe. Dan karya saya yang paling fenomenal adalah membuat tas dari celana jins bekas.
Awalnya saya lihat ada beberapa celana jins yang telah kekecilan. Sepertinya itu celana lungsuran dari kakak sepupu yang tidak bisa saya pakai lagi, lebih tepatnya tidak boleh digunakan lagi karena bapak anti sekali dengan celana jins. Daripada nganggur tak terpakai, terpikir untuk memanfaatkannya. Jadilah tas dengan 2 tali (tote bag dilengkapi tali panjang) yang bisa saya pakai untuk sekolah dan jalan-jalan. Lumayan loh, hasilnya. Sombong!
Waktu itu saya hanya mengawang-awang dan melihat tas sekolah yang sudah rusak. Tanpa membuat desain tas langsung main gras-gres gunting sana-sini lalu jahit. Setelah mematahkan beberapa jarum jahit ukuran 21_yang sebenarnya cukup kuat untuk menjahit bahan jeans_ akhirnya jadi juga tas meski di beberapa bagian jahitannya kurang rapi. Terlebih ada beberapa yang potongannya tidak pas. Well, alhamdulillah tas itu bisa dipakai sampai sekolah bahkan sempat saya pakai ngampus juga. Sekarang masih ada loh, entah disimpan di mana di rumah Wonosobo.
Setelah itu, saya disibukkan dengan urusan sekolah dan organisasi, lalu kuliah ke Semarang dan hampir tidak pernah lagi menyentuh mesin jahit. Selepas lulus kuliah sudah tak terpikirkan lagi untuk mencoba kembali mesin jahit di rumah yang telah dilengkapi dengan dinamo listrik.
Apalagi di otak saya telah tergambar budhe dan kakak sepupu yang sangar perfeksionis dalam urusan jahit-menjahit. Sebelum memotong kain, setelah kain dijahit, dan sebagainya jika ada bagian yang kurang pas sedikit saja maka akan didedel dan dijahit ulang berkali-kali. Duh, pusing dan ribet sekali menjadi seorang penjahit, pikir saya.
Menikah, punya anak dan menerima peran sebagai ibu rumah tangga tulen, saya merasa menyesal kenapa dulu tidak serius belajar menjahit. Kebutuhan akan pakaian dan perlengkapan rumah tangga bisa sangat menguras anggaran, maka beruntunglah yang bisa menjahit minimal untuk pakaian keluarga dan menjahit barang-barang yang diperlukan di rumah. Benar-benar bisa menghemat anggaran dan bisa menjadi ladang penghasilan.
Namun kemudian saya bisa menerima kenyataan dan berdoa semoga rejeki kami Allah lewatkan jalan lain. Itung-itung membantu perekonomial tetangga yang menjadi penjahit juga kan? Coba kalau semua orang bisa menjahit pakaian sendiri, mereka akan mendapat penghasilan dari mana? Hehe.
Saya nulis dan ngeblog aja dulu deh, sambil belajar keahlian lain yang semoga kelak bermanfaat. Aamiin.
Kamu punya penyesalan juga? ceritain dong... #KepoModeOn

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam