Friday, 7 December 2018

Surat untuk Mamak, Perempuan Tangguh



Mak, apa kabar? Pasti kau merindukan sangat ketiga anak perempuanmu yang kini telah jauh. Kini kami harus mengabdi kepada suaminya masing-masing. Kami yang kini berjarak sekian kilometer bahkan anak tertuamu di luar pulau.
Ah, sedih membayangkan rumah sepi hanya ada bapak dan mamak. Bapak yang sejak pagi harus berjibaku di sawah, sedang sore dan malam harinya sibuk dengan pengajian atau urusan lain.
Maafkan anakmu, Mak. Yang sering terlupa untuk sekadar menanyakan kabarmu. Ah, cucumu yang menyita perhatian selalu dijadikan alasan. Padahal pagi mengagendakan untuk menelepon, sampai malam jelang terlelap kami terlupa.

Mak, kami rindu nasi jagung buatanmu, yang kau masak sepenuh cinta meski harus berkali-kali melalui proses pengukusan-bongkar-kukus lagi hingga matang. Juga rindu menyesap pedas-asin-manisnya sambal oblok-oblok ikan teri asin khas yang tak bisa tertandingi oleh siapapun. Rindu saat kau menunggui kami makan dengan lahap. Kau bilang senang sekali jika melihat kami makan menghabiskan berpiring nasi dan sayur buatanmu.
Kami rindu pohon duku tinggi menjulang yang memberikan keteduhan di halaman rumah kita. Juga buahnya yang ranum saat musim panen tiba. Buah duku yang kami sebut berkah, karena selalu bisa berbagi untuk sekeliling. Pada pohon jambu biji yang terpaksa ditebang karena tak lagi berbuah dimakan usia. Juga pada tanaman pagar yang kau rawat sepenuh hati. Tanaman pagar yang selalu kau bersihkan, kau pangkas rapi agar terlihat seperti tembok hijau. Selalu kuingat, Mak. Tanaman pagar yang kami tanam saat kami kecil, karena asyik menginginkan kita memiliki tanaman yang bisa dihias.
Mak, ingin rasanya memelukmu lalu berkeluh kesah di hadapanmu, seperti dulu. Tapi kami tahu, ada hal yang harus kami jaga untuk diri kami sendiri meski rasanya sungguh menyakitkan. Ada hal yang hanya boleh kami simpan rapat-rapat. Bukan apa-apa, hanya kami tak ingin membuatmu khawatir dengan kami yang jauh dan tak bisa kau rengkuh.
Kami juga rindu semua sudut rumah. Dapur tempat kita beramai-ramai menyiapkan makanan. ruang tengah tempat kita duduk selonjoran melepas penat setelah seharian beraktivitas. Ah, tepatnya itu ruang serbaguna, ya Mak. Tempat untuk makan, tidur, ngobrol, lipat pakaian, bahkan tempat menyiapkan bahan makanan jika ada acara khusus.
Oia Mak, kami ingat selalu pesan seseorang bahwa seorang anak tidak akan merasakan besarnya perjuangan seorang ibu sebelum ia hamil dan melahirkan. Benar, Mak. Kami baru merasakannya sekarang. Rupanya hamil itu memang berat dan semakin bertambah berat. Lalu melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Belum lagi mengurus anak-anak, Mak. Yang ternyata menguras tenaga dan emosi kami. Mungkin kami saat kecil juga seperti itu, ya Mak. Selalu membuatmu sibuk dan tak pernah membiarkanmu beristirahat barang sejenak.
Mak, kami merindukan masa-masa kita merajut mimpi di pematang sawah. Memandang hijau rerumputan dan bercengkerama. Kita sama-sama menggantungkan harapan di tiap bulir padi yang tertanam, atau benih-benih cabai dan sayur yang ada di sana. Juga umbi singkong dan ketela atau jagung saat musimnya. Ah, menjadi petani sebenarnya sangat berat ya. Apalagi petani kecil seperti bapak dan mamak.
Kami selalu ingat, Mak. Dulu kita pernah hampir tidak punya makanan, bahkan jagung pun harus beli atau meminjam simbah. Sekarang kami belajar untuk menghargai setiap apapun yang didapat. Kini kami paham kenapa kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan. sangat paham bahwa dalam setiap bulir beras ada keringat para petani yang terperas.
Kami memang pernah membencimu, Mak. Benci karena setiap pagi Mamak selalu bawel membangunkan kami di dingin yang menggigit. Juga selalu menyisir kami ke tempat saudara saat waktunya mengaji tapi kami melarikan diri untuk nonton TV. Juga saat Mamak menegur pakaian kami yang terlalu ketat, atau kurang panjang dan sebagainya. Benci karena terus-menerus menyuruh kami salat.
Baru kami tahu setelah jauh darimu, Mak. Bahwa tugas dan mamak sungguh berat, memiliki 3 anak perempuan dan 1 laki-laki. Berat, karena salah-salah kami menyeretmu ke neraka. Na’udzubillah min dzalik.
Alhamdulillah, kini kami bersyukur terlahir dari rahimmu, Mak. Meski tak ada keluarga yang sempurna. Bangunan keluarga itu selalu ada sisi yang rapuh, selalu ada bagian yang tak presisi. Karena memang bukan milik kita-lah kesempurnaan itu.
Kini kami bersyukur dengan masa kecil yang kelam itu, sehingga kami belajar untuk tidak melakukan perundungan dan semena-mena terhadap orang lain, terlebih saudara sendiri.
Kami mewarisi sifat sensitifmu, Mak. Tak apalah, seorang perempuan tangguh tak harus menyembunyikan tangisnya. Karena tangis itulah yang menguatkan.
Terima kasih, Mak. Semoga mamak dan bapak sehat selalu. Kini kami hanya bisa mendoakanmu di sujud-sujud kami, dari jauh. Tak ada lagi bersalaman setelah salat. Hanya Allah yang bisa membalas jasamu, Mak, Pak.
Maturnuwun...
Kami, anak-anak perempuanmu.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam