Sunday, 11 November 2018

#NamakuSendy Sebuah Memoar Perjuangan Hijrah Perempuan Bipolar



Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrem berupa mania dan depresi, karena itu istilah medis sebelumnya disebut dengan manic depressive. (sumber: wikipedia)

Sang Pahlawan Jiwa

Sungguh, sangat tidak mudah untuk mengatakan kepada dunia tentang apa yang terjadi dalam hidup kita. Sebagian orang akan menjadikannya sebagai pelajaran dan inspirasi, sebagian yang lain bisa jadi menganggap itu hanya bagian dari pamer, mencari sensasi, dan sebagainya.
Butuh energi yang luar biasa untuk mengakui kesalahan di masa lalu, juga untuk menghapus rasa sakit yang terlanjur menghujam di dalam hati.
Lalu ketika ia telah selesai dan berdamai dengan diri sendiri serta masa lalunya, ia akan melesat jauh menggapai impian dan masa depan. Dialah sang pahlawan itu, pahlawan bagi jiwanya. Dan Kamu adalah pahlawan bagi dirimu sendiri.
Maka dipilihlah momen Hari Pahlawan untuk launching buku ke-2 Sendy Winduvitri yang berjudul #NamakuSendy.
Bertempat di Night Market Cafe and Co Working Space Denpasar, acara launching buku berlangsung dengan lancar dan mengharukan.
Tamu undangan telah memenuhi tempat di ruang utama kafe yang telah diatur sedemikian rupa. Semua tak sabar menantikan penulis #NamakuSendy yang tak lain adalah Mba Sendy Winduvitri sendiri_yang selanjutnya saya sebut ‘Sendy’ saja tanpa mengurangi rasa hormat terhadap beliau.  
Ya, buku tersebut merupakan kisah perjalanan hijrah Sendy dan lika-liku kehidupannya sebagai seorang dengan gangguan bipolar.

#NamakuSendy dan Potret Orang dengan Gangguan Bipolar (ODB)

Membaca buku pertama Sendy Winduvitri berjudul "Menemukan-Mu dan Menemukannya" seolah saya kembali ke masa lalu. Potongan-potongan layar kelam seolah terpampang kembali di hadapan tanpa mampu kubendung. Rasa itu masih sama: pedih. Perih. Nyeri.
Tak ayal saya juga melihat kembali frame sesiapa yang dulu melakukan perundungan terhadapku. Hikmahnya, saya menjadi paham kenapa perundungan sangat dikecam. Ya, tak ada alasan lain selain karena perundungan itu adalah ancaman berat yang akan membunuh karakter korbannya.

Buku pertama Sendy Winduvitri
credit Arina Mabruroh
Penderitaan yang dialami Sendy kecil jauh lebih berat dari yang saya hadapi. Sejak belia ia telah menjalani kehidupan yang keras. Bahkan mengalami pelecehan oleh kakaknya sendiri.
Jiwa anak-anaknya terluka oleh perlakuan dan perundungan dari orang di sekitarnya. Pun karena kurangnya perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya.
Menginjak remaja, perundungan bukannya berhenti malah semakin membuatnya sesak. Ia pun mulai memberontak untuk mencari perhatian dari orang-orang yang seharusnya selalu peduli padanya, yang seharusnya selalu ada untuknya. Hinaan, cacian, fitnah, masih terus menimpanya. Berkali-kali masuk hotel prodeo pun pernah dialaminya.
Sendy tak pernah tahu bahwa dirinya mengalami gangguan kejiwaan (mental disorder), bipolar. Yang ia pahami, ia merasa lelah kenapa jalan hidupnya harus selalu berupa jalan terjal mendaki. Sesaat ia merasakan kebahagiaan, maka akan ada saja pihak yang berusaha memecahkannya.
"Hidupku tak ubahnya sinetron dengan aku sebagai lakon yang selalu mendapat tekanan dari para antagonis," ungkap Sendy.
Saat fase manik (salah satu fase gangguan bipolar), ia bisa bertindak 'gila' dan mengabaikan apapun di sekitarnya. Lain halnya saat fase depresi, ia bahkan tak mampu untuk sekadar menegur pembantu rumah tangganya yang berbuat salah.
Membaca buku itu sungguh mengaduk-aduk emosi, seperti diajak melaju kencang di jalanan berliku lalu dilemparkan ke udara dan ditangkap rollercoaster yang tengah berlari kencang.

Acara inti launching buku #NamakuSendy

Titik Nadir Perjalanan Sendy dan Kembalinya kepada Jalan Allah

"Mungkin di mata banyak orang aku adalah Sendy yang selalu berulah. Sebetulnya mereka tidak tahu, aku adalah Sendy yang sedang merasa lelah." (Sendy Winduvitri).
Sendy selalu menyimpan pertanyaan ada apa dengan dirinya, apa yang salah dengannya. Hingga ia bertemu dengan psikolog, Bunda Agus, namanya.
Menemukan gejala bipolar pada diri Sendy, Bunda Agus menyarankannya untuk berbenah. Beliau menawarkan pilihan untuk sembuh dengan obat atau tanpa obat.
Sendy memilih untuk sembuh tanpa obat. Artinya ia akan menjalani terapi dengan Alquran, dengan mendekatkan diri kepada Allah dan dilengkapi dengan islamic hypnotherapy.
Selama masa mengenali hingga menerima dengan ikhlas bahwa dirinya memiliki gangguan bipolar, Sendy tak sendiri lagi. Ia didampingi suami yang sabar dan menerimanya tanpa memandang kekurangan yang telah melekat dalam diri Sendy. Anak-anak pun kooperatif dan berperan penting dalam masa terapinya.
Meski begitu, masalah demi masalah terus mendera kehidupan Sendy. Namun kini ia bisa menghadapi masalah itu dengan berseru lantang. Ia mampu menghadapinya dengan keyakinan bahwa karena Allah lah masalah itu datang padanya, dan Allah jualah yang akan memberi jalan penyelesaiannya.

Sebagian produk Dapur Rumahan
credit: Arina Mabruroh

Dapur Rumahan, Media Aktualisasi Diri

"Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu"
"Barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya."
Ungkapan ini disampaikan oleh Raditya Riefananda, seorang penulis yang menjadi keynote speaker dalam launching buku #NamakuSendy.
Penulis yang datang dari Semarang ini memberikan pendapatnya mengenai buku ke-2 Sendy Winduvitri. Menurutnya, buku tersebut sangat keren dan sarat inspirasi. Mengenai perjalanan hidup seorang Sendy menemukan sesuatu yang berbeda dalam dirinya, yakni bipolar.
Lambat laun Sendy dan orang-orang di dekatnya bisa menerima kondisi yang berbeda itu. Ia pun menyalurkan energinya untuk ikhtiar bumi_meminjam istilah Sendy_ dengan membuka usaha rumahan, Dapur Rumahan.

Sendy bersama Tim Dapur Rumahan dan sahabatnya
credit: FB #namakuSendy

Berawal dari kepiawaiannya mengolah makanan lezat dan kondisi terdesak ia mencoba memasarkan hasil masakannya. Rupanya respon pasar sangat baik.
Ikhtiar buminya mulai membuahkan hasil, ia pun mulai melebarkan sayap dengan menggandeng para produsen. Kini, 12 produsen melangkah bersama dalam Dapur Rumahan dipimpin oleh Sendy. Berbagai produk mulai dari sambal, kopi, bubuk cokelat siap minum, puding sedot, bumbu dasar, dll.

Kata Mereka, Para Pejuang dan Penyintas Bipolar

Acara launching buku #NamakuSendy juga menghadirkan para penggiat  peduli bipolar, yakni mereka yang tergabung dalam komunitas Bipolar Care Indonesia.
Mereka para penyintas bipolar yang mengalami sulitnya menjadi ODB di tengah pandangan sinis orang lain. Pada fase depresi, sejatinya mereka membutuhkan dukungan dan dekapan hangat dari orang lain, meski kenyataanya mereka lebih banyak merasakan kesendirian yang bisa berujung pada kasus bunuh diri.

Sendy bersama penggial Bipolar Care Indonesia
credit: FB #NamakuSendy
Sekilas tak ada yang berbeda antara pengidap bipolar dengan manusia pada umumnya. Namun sejatinya mereka membutuhkan penerimaan dan bantuan dari psikolog, psikiater maupun orang di sekitarnya.
Agus Hasan Hidayat yang akrab disapa Agus, adalah salah satu pengurus BCI pusat yang menjadi narasumber. Menurutnya, BCI hadir sebagai sarana agar ODB menemukan 'rumah' dan memiliki teman senasib sehingga tidak merasa sendiri dan berniat bunuh diri.
Hadir sebagai narasumber juga Chalva Lazuar yang akrab disapa Icha. Icha menjalani masa sulit sebagai seorang bipolar dalam dunia kerja sekaligus saat ia menjadi seorang ibu dari bayinya. Tekanan du dunia kerja dan masa transisi menjadi ibu baru membuatnya depresi. Terlebih ketika rekan kerjanya mengetahui kondisinya yang ‘sakit’ (baca: mengidap bipolar), mereka seakan menjauh dan sering kasak-kusuk di belakangnya.
Akhirnya Icha mampu membuktikan kepada dunia bahwa seorang bipolar pun bisa survive memainkan perannya sebagai seorang ibu bekerja.
Lain halnya dengan Asri Simanjuntak dari BCI Jogja. Ia mengalami gangguan bipolar akibat dari kedua orantuanya yang over protective bahkan hingga usianya telah mencapai 25 tahun sekarang ini. Meskipun sering gamang ketika akan terjun ke masyarakat, Asri mampu bertahan hingga sekarang dan nanti, semoga.
Cerita lain datang dari narasumber terakhir yakni Dinar Wulandari, perwakilan dari BCI Semarang. Dinar mengalami gangguan bipolar akibat dari tekanan ayahnya yang memaksa dirinya untuk masuk jurusan kuliah pilihan ayahnya. Meski tekanan bertubi-tubi dan sering mengalami perundungan dari teman kuliahnya, Dinar tak mau menyerah begitu saja. Dalam fase manic-nya, ia manfaatkan agar bisa menyelesaikan skripsi.
Setelah berhasil mendapatkan gelar sarjana dari jurusan yang tak diinginkannya, sekarang ia melanjutkan kuliah S2 psikologi di universitas ternama Jogjakarta, sebagaimana yang dicita-citakannya dulu.
Tentu, saya terharu sekaligus takjub mendapati kisah mereka yang begitu menggugah. Air mata tak mampu terbendung bahkan sejak pertama acara dimulai.

Menyempatkan foto bersama penulis usai acara

#NamakuSendy_Sebuah Sinopsis

Sendy Winduvitri namanya. Kerap disapa Sendy. Si bungsu berdarah Sunda itu tidak sebahagia yang orang lain lihat.
Masa kecil hingga dewasanya penuh air mata. Meski bergelimang harta sejak lahir, namun ia lebih memilih untuk hidup dari nol DEMI MENCARI SIAPA SOSOK SENDY SEBENARNYA.
Pelecehan, penghinaan, fitnah, cacian, sel tahanan, perceraian, vonis BIPOLAR, semua ia lalui sampai pada titik menghafal Al Qur'an dan maknanya bersama sahabat setianya DAHLIA.
Ya, sosok mungil pewangi lemari itu selalu menemani kesedihan bertubi yang dialami Sendy. Hanya DAHLIA satu-satunya penenang Sendy saat gelisah, sedih, marah, hanya DAHLIA.
Perjalanan hidupnya iti sudah ia dedikasikan untuk semua wanita Indonesia dalam buku pertamanya MenemukanMu dan Menemukannya yang ia tulis HANYA 2 HARI!!
Tidak hanya sampai disana ...
Kini ia mulai menceritakan kembali kisah perjuangannya menyembuhkan BIPOLAR itu dengan caraNya.
Bipolarnya menyebabkan Sendy harus melalui fase mania yang akhirnya menjerumuskannya pada hutang sebesar 7 M. Tapi, ia selesaikan amanah itu dengan BIPOLAR nya.
Sendy memang penyandang bipolar. Namun, ia tak pernah sadar bahwa ia memiliki segudang kreatifitas. Memasak enak, menulis, membaca psikologis orang lain, dll.
Dari keahlian alamiahnya itulah ia selsaikan amanah 7 M tersebut dengan izin Allah. Sejak itulah ia mulai mengenal siapa dia. Untuk apa Sendy diciptakan? Untuk siapa Sendy harus berjuang? Mengapa Sendy harus bertahan dengan semua penderitaan yang dialami sejak kecil? Mengapa Sendy harus melalui fase Bipolar?
Semua ia tulis kembali di buku ke 2 #NamakuSendy.

Momen mengharukan bersama suami dan mama Sendy
dalam launching buku #NamakuSendy
credit Arina Mabruroh

Dari Sendy saya belajar bahwa tak ada sesuatu pun yang sempurna, tak ada seujung kuku kita berhak untuk menyombongkan diri. Kesempurnaan hanya milik Allah, dan teladan utama hanya Rasulullah.
“Sekarang saya tak takut lagi merasa kehilangan, merasa kecewa dan sebagainya. Karena sekarang saya meyakini hanya Allah tempat kita bergantung dan hanya Rasulullah yang menjadi panutan,” jelas Sendy dalam sambutannya.
Jelas saya belum seperti Sendy. Saya masih merasa kecewa ketika di suatu pagi mendapati seseorang yang begitu memukau di atas panggung namun tanpa sengaja kemudian kudapati media sosialnya yang penuh makian dan ujaran kebencian. Hm... tentu saya sadar tak berhak untuk kecewa apalagi setelah mendapatkan pengingat dari Sendy.
Kita memang tak berhak mengajukan protes atas apa yang telah Allah gariskan kepada kita. Yang bisa dilakukan adalah mengikuti setiap peran yang dipilihkanNya dengan ikhlas, dan melihat dengan sudut pandang lain bahwa Allah selalu punya hikmah dalam setiap peristiwa di episode kehidupan kita. Bukankah tak ada satupun yang Allah ciptakan dan menjadi sia-sia? cukup kita menjalani lakon kehidupan sebaik mungkin. 
Tentang menjadi seorang bipolar, juga merupakan bagian dari skenario-Nya. Permasalahan utama adalah seberapa banyak seseorang mengenali dirinya sendiri dan seberapa besar dukungan dari lingkungannya.
Sejenak saya merenung, apakah saya juga seorang bipolar? Sama seperti Sendy?
Atau mungkinkah Kamu juga bagian dari Sendy-Sendy lainnya?
Allahua’lam,   

33 comments:

  1. Aku masih terharu mengingat kisah yg dipaparkan mbak Sendy....orang awam seperti tak mungkin mampu melalui rentetan masalah itu setegar mbak Sendy. Mungkin yg bisa kuambil hikmahnya saat ini bahwa aku akan berusaha menjadi pribadi yg lebih baik dg tetap berpegang teguh pada iman dan taqwa kepada Allah SWT...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget Mba.. MasyaAllah tangguh banget ya Mba Sendy

      Delete
  2. Inget Marshanda jadinya dia juga bipolar..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, makanya kan dia beberapa kali bikin hal 'gila'

      Delete
  3. Aku kok jadi ngerasa aku juga bipolar ya? Tapi aku sadar aku punya mental illness. Apalagi ak seringnya ga bisa nahan emosi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga mbak kayaknya. Bipolar sih enggak, cuma aku sadar kalo ada kecenderungan punya mental illness. Keterbukaan dan mau ngakuin kalo kita punya masalah menurutku penting sih.

      By the way, aku jadi ikut terharu nih baca tuisan Mbak Arina. Sepertinya makin kesini kita emang kudu aware sama mental disorder atau mental illness ini ya. Biar ga gampang menghakimi.

      Delete
    2. Sama.. Aku moody banget dan gampang marah 🙈🙈

      Delete
  4. Masalah kesehatan mental ini memang kudu diperhatikan, supaya bisa didukung dan hidup sebaik mungkin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, sayang kadang dari pelakunya sendiri nggak mau terbuka ya

      Delete
  5. Banyak yg ga sadar dg bipolar ini ya, kita mudah melabeli orang lain dg sebutan moody, labil dsb tanpa tau masalah sebenarnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, efeknya yang ngeri kalo pas ngerasa sendiri ada kemungkinan bunuh diri

      Delete
  6. Intinya mesti mendekatkan diri dengan Allah, dan banyak caranya ya Rin. Seperti baca Alquran, itu ampuh banget bikin hati damai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, setuju banget, baca Alquran tuh bikin adeem

      Delete
  7. Selama ini belum pernah ketemu orang bipolar langsung. Cuma nonton dari drama Korea. Tapi emg mental illness itu bisa nyerang siapa aja ya. Aku kayaknya jg pengen periksa kondisi kesehatan jiwa deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, paling banyak penyebabnya karena pola asuh dan perundungan

      Delete
  8. Jika merasa diri kita ada gangguan mang sebaiknya konsultasi pada ahlinya agar bisa diatasi

    ReplyDelete
  9. Inspiratif.
    Baik buku, juga ulasan mbak Arina.

    Salam pagi dari Lombok.

    ReplyDelete
  10. Lagi booming ya,org2 yg akhirnya berani terbuka bhw dia kena perundungan,mentally disorder ,dsb. Jd makin aware utk concern kpd anak2 spy jgn sampai terkena bipolar...
    Nice review

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, habis acara ini aku jadi makin ngaca terutama soal pola asuh anak

      Delete
  11. Aku seneng kalo ada orang dengan gangguan mental berani untuk cerita, bersuara dan melawan gangguan diri sendiri dengan berkarya. 😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, orang lain jadi tahu masalahnya dan ga gambang ngasih stigma ke orang lain

      Delete
  12. Jadi ingat ada kolega yang cerita kalau salah satu keponakannya adaya yang kena bipolar juga gara-gara pola asuh yang salah, salah satunya kurangnya kasih sayang kedua orang tua dan anak yang diasuh ART galak dan suka main fisik. Semoga kita sebagai orang tua semakin aware dan lebih memperhatikan tumbuh kembang anak-anak kita amin

    ReplyDelete
  13. Wah, aku baru tahu tentang Sendy ini. Menarik, dan juga kagum dengan kekuatannya. Aku termasuk orang yang memiliki gangguan mental. Oleh psikiater aku didiagnosis OCD dan depresi berat tapi sekarang membaik. So I feel her 💖

    ReplyDelete
  14. Bipolar. Aku penasaran dengan gangguan jiwa type ini. Salut untuk Sendy yg berhasil keluar dari masalahnya dan membukukan pengalaman hidupnya utk jadi pelajaran bagi orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, hanya orang kuat yang bisa bertahan.
      Keknya spt Marshanda itu bipolar

      Delete
  15. Mbak Sendy luar biasa sangat nenginspirasi, terima kasih mbak Arina telah menulis tentang kisah mbak Sendy.

    ReplyDelete
  16. Terharu bgt bacanya. Setuju sama paragraf pertama. Semoga kita senantiasa menjadi pejuang bagi jiwa kita sendiri

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam