Monday, 26 November 2018

Bangunan Bersejarah Wonderful Indonesia: Lawang Sewu Kini tak Lagi Sendu




Jika ada bangunan bersejarah ikonik di Kota Semarang, ia adalah Lawang Sewu dengan daya tarik arsitekturnya yang sangat menarik ditambah dengan cerita mistis yang ada di baliknya.
“Ih, aku tuh ngeri kalau mau ke Lawang Sewu, bayangin aura mistisnya itu loh,” kata seorang teman saat kami berbincang tentang tempat wisata bersejarah tersebut.
“Iya, apalagi kalau mau turun ke terowongannya. Hiii! Becek, banyak kelelawar dan penampakan.” Sontak saya mendelik mendengar ucapan teman yang lain lagi.
“Katanya tuh ya, terowongan itu nyambung sampai SMA 1, di bawah panggung aula gitu gosipnya. Selain itu nyambung sampai RS. Karyadi.... blablabla..”

Obrolan itu masih terus berlanjut tapi saya sudah tidak tertarik lagi untuk mengikutinya. Bayangan tempat yang menyeramkan sudah membuat bulu kuduk berdiri. Sebagai mahasiswa kere dengan uang saku pas-pasan dan sering terlambat datang, saya pikir datang ke sana dengan membeli tiket itu tidak sepadan karena yang didapatkan justru kengerian dari ‘dunia lain’.
Maka selama hampir 5 tahun kuliah di Undip, dengan jarak kampus yang hanya sekian kilometer dari Lawang Sewu, bahkan sering berjalan kaki melewatinya, saya tidak pernah tertarik untuk masuk dan menjelajah. Duh, kalau ada yang mistis-mistis begitu, saya lebih memilih untuk menyingkir, udah keder duluan.
Lorong panjang di Lawang Sewu
berasa mistis nggak sih?
Setelah menikah dan pindah menjadi warga Kota Semarang, saya tergelitik ketika banyak yang mencibir ‘orang Semarang ko belum pernah ke Lawang Sewu’. Ini semacam pukulan telak. Lawang Sewu yang semudah itu mencapainya saja tidak pernah mau mengunjungi, lalu siapa yang akan nguri-uri sejarahnya? Begitulah kira-kira.
Maka saat ada kesempatan bersama adik yang juga kuliah di Semarang, kami janjian untuk bareng-bareng ‘momong bocah’ ke Lawang Sewu. Kami memilih akhir pekan, meskipun si Ayah tidak libur tapi bisa mengantar saya dan anak sampai depan Lawang Sewu.
Jam buka-tutp Lawang Sewu
Kami menunggu kedatangan adik dengan duduk di bangku yang tersedia di trotoar di samping pintu masuk Lawang Sewu. Si Adik sempat mengabarkan ia masih berada di BRT (Bus Rapid Transit) alias bus Trans Semarang dari Tembalang. Iya loh, padahal semudah itu menjangkau Lawang Sewu dari seluruh wilayah di Semarang. Apalagi sekarang menjamur jasa transportasi online yang memudahkan wisatawan untuk berkeliling Semarang.
Hasna tak sabar ingin masuk, apalagi ada bapak-bapak seperti pemulung yang membawa karung dan menggunakan penutup muka, sibuk bertanya ini-itu kepada kami. Terlihat dari wajahnya Hasna sangat tidak nyaman, namun saya juga belum menemukan tempat lain yang teduh untuk ‘melarikan diri’.
Oh! Saved by the bell! Dari kejauhan si Bulbul-nya Duo Kurnia terlihat berjalan menghampiri sambil tertawa lebar.  

Tanpa membiarkan Buliknya Hasna istirahat setelah menempuh perjalanan dari Tembalang, kami langsung membeli tiket masuk. harganya cukup murah, 10 ribu rupiah/orang dewasa dan 5 ribu rupiah untuk anak-anak.   Oia, Lawang Sewu buka setiap hari pukul 07.00 – 21.00 WIB.
Hamparan rumput hijau langsung menarik perhatian Hasna, maka ia pun berlarian tak sabar mengikuti tanda panah sebagai petunjuk bagi pengunjung. Nah, rupanya malah ia tertarik untuk duduk-duduk di bangku di bawah pohon, tepat di tengah halaman yang luas. Belum juga mulai jalan, dia sudah mau menghabiskan bekal jajanan dari rumah.
Setelah si kakak puas, kami mulai menjelajahi ruang demi ruang yang terdapat di Lawang Sewu. Berbagai manuskrip peninggalan sejarah dibingkai apik sehingga para pengunjung bisa membacanya.
Gedung yang dibangun sejak tahun 1904 ini sangat kahs dengan arsitektur Belanda. Bangunan yang tinggi, dengan pintu dan jendela kayu berkisi-kisi.

Manuskrip sejarah kereta api di Lawang Sewu
Pertama kali bangunan ini digunakan sebagai stasiun kereta api. Berada si seputaran Tugu Muda Semarang tepatnya di sudat Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Lokasi yang sangat strategis sehingga sangat mudah dijangkau baik dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.
Bangunan tiga lantai ini memiliki jendela kayu yang sangat banyak, sehingga disebut sebagai Lawang Sewu (seribu pintu, Jawa_red). Jendela kayu yang berjejer di sisi bangunan tersebut memang terlihat seperti pintu sehingga masyarakat menyebutnya lawang sewu, meskipun jumlahnya tak sampai seribu seperti namanya, hanya sekitar 400-an buah.


Kesan mistis tak lagi terasa karena Lawang Sewu telah dipugar dan lebih ‘terbuka’. Sejak tahun 2011 Lawang Sewu bisa digunakan oleh masyarakat umum untuk berbagai acara mulai dari expo hingga perhelatan resepsi pernikahan.
Melewati lorong demi lorong di Lawang Sewu, kami seperti diajak untuk menjelajah waktu menuju masa penjajahan dulu. Di mana stasiun masih beroperasi dan aktivitas stasiun pun selalu sibuk mengangkut penumpang dan barang.
Kami pun menuju lantai 2, penasaran dengan struktur bangunan di lantai atas. Untuk menuju ke atas, harus melalui tangga melingkar yang cukup terjal sehingga cukup riskan untuk ibu hamil dan anak-anak. Harus ekstra hati-hati.


Rupanya di lantai 2 kami tidak menemukan banyak manuskrip dan informasi seperti di ruang-ruang lantai bawah. Hanya saja, bisa melihat keindahan arsitektur seperti di bangunan gereja dengan ukiran kaca yang berwarna-warni. Selain itu, dari selasar kita bisa menikmati udara yang sangat sejuk dan bisa melihat sekeliling Lawang Sewu dari ketinggian. Tentu, akan lebih menarik jika melihatnya dari lantai 3, lantai paling atas. Namun sewaktu kami berkunjung, ada larangan untuk naik ke sana sehingga kami hanya sampai di lantai 2 dan melanjutkan berkeliling di gedung lain.


Di salah satu gedung _saya lupa gedung sisi mana_ terdapat miniatur lokomotif dan sejarah perketaapian. Ada diorama yang menunjukkan perkembangan kerta api dari awal hingga sekarang. Di sana juga terdapat televisi yang berisi film dokumenter pendek kereta api di Semarang. Sayang sebagian besar manuskripnya berbahasa Belanda sehingga kami tidak memahaminya.



dunia milik berdua, *eh
iseng banget candid orang nonton film dokumenter *piss

Lelah berkeliling dan mengambil foto serta tak lupa selfie mainstream di deretan pintu dan jendela lawang Sewu, kami beristirahat sembari menunggu waktu salat dhuhur tiba. Kami menuju toilet untuk mengambil air wudlu dan menunggu di ruangan yang difungsikan sebagai musala.
Ruangan yang cukup lebar tersebut seperti ruang kelas, dengan lantai tegel seperti halnya di seluruh ruangan lainnya. Lantai musala diberi alas karpet sajadah beberapa deret, menyisakan lantai yang masih berupa tegel. Juga dilengkapi dengan mukena dan sarung, meskipun hanya beberapa. Di luar ruangan tersedia rak untuk menyimpan sandal pengunjung yang akan melaksanakan ibadah salat. Alhamdulillah, di sini cukup sejuk dan nyaman untuk melepas penat sebelum melanjutkan berkeliling.


Berhubung kami datang di akhir pekan yakni hari Sabtu, pengunjung yang datang cukup banyak baik dari warga sekitar Semarang maupun dari luar kota. Sesekali terlihat juga turis mancanegara meski hanya segelintir jumlahnya.
Kami juga melewati pintu masuk untuk ke terowongan bawah tanah, namun hari itu sedang ditutup karena ada perbaikan. Memang, saya masih belum berminat untuk mencoba menjelajah ruang bawah tanah Lawang Sewu. Terlebih membawa balita.


Setelah puas berkeliling dan melihat-lihat peninggalan sejarahnya, kami sempatkan untuk mengambil foto di lokomotif yang diletakkan di halaman samping gedung,  tepat di pinggir jalan Pemuda. Sejatinya kami ingin juga menjelajah perpustakaannya, namun si Kecil sudah merengek kelelahan sejak pagi berkeliling Lawang Sewu.


Alhamdulillah, senang rasanya bisa mengunjungi bangunan bersejarah salah satu bagian dari pesona Indonesia alias wonderful Indonesia Ini.

Kini Lawang Sewu telah terpoles cantik, tak lagi terkesan kusam dan mistis seperti dulu. Meskipun bisa jadi bagi orang-orang yang sensitif dengan keberadaan makhluk astral akan merasakan kehadiran mereka, namun tampilan luar keseluruhan Lawang Sewu tak lagi beraura mistis.
Semoga makin banyak pengunjung yang datang ke Lawang Sewu dan nguri-uri sejarah serta budaya. Alangkah lebih baik jika terdapat panggung atau pentas budaya mengenai sejarah Lawang Sewu, Pertempuran 5 hari di Semarang, dll yang akan menambah daya tarik pengunjung.
Jika akan ke Semarang, pastikan berkeliling Lawang Sewu juga, ya!

Tulisan ini diikutkan dalam Wonderful Indonesia BlogCompetition
Pastikan Kamu juga ikut lombanya, ya Temans!
Salam,

4 comments:

  1. Waah..apa iya Lawang Sewu nyambung dg SMA 1 almamaterku itu? Hehe.. Tapi aku setuju, Rin..Lawang Sewu makin cantik dan terawat ya.. Oya semoga sukses di lombanya ya..

    ReplyDelete
  2. Lawang sewu sekarang sudah terang, bersih, dan tidak terlalu seram.
    Tapi sama kok mbak...saya sebagai warga semarang sejati (halah) juga baru 2 tahun ini menginjakkan kaki ke lawang sewu. Dulu bawaannya serem.

    ReplyDelete
  3. aku blm pernah ke lawang sewu, tapi anakku pernah :) gedung bersejarah yang berada di tengah kota kan ya mba?

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam