Friday, 16 November 2018

5 Jurus Jitu Anti Baper



Baper (v): bawa perasaan
Siapa sih, tak kenal istilah satu ini? Atau mengalaminya?
"Aku baper, datang ke kondangan ditanyain mulu kapan nikah. Sebel kan?!"
"Baper itu, ketika ditanya kapan si kakak punya adik. Yakali bisa beli di warung sebelah!"
"Baper tingkat nasional, saat ada idola yang nikah."
 Pernah ada yang begini? Hihi. Kalau saya sih baper kalau dibilang ijazahku nggak bermanfaat karena nggak kerja.
Well, sekarang nggak pakai baper lagi kalau dikomentari semacam itu. Karena saya katakan pada diri sendiri bahwa saya juga bekerja, di ranah domestik. Saya tidak mendapat gaji, maka semoga Allah yang langsung 'menggaji' saya. Aamiin..
Sekarang saya kadang baper ketika diri sendiri sedang badmood.
Coba yuk, 5 hal berikut bisa mengurangi kebaperan:

 1. Keep Positive Thinking
Baper bisa terjadi ketika kita sudah berpikiran negatif terlebih dahulu. Negative thinking alias suudzon alias berburuk sangka nggak bagus kan?
Kalau sudah berburuk sangka baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, biasanya otak tidak mampu 'zero mind process'_meminjam istilah Ary Ginanjar_ sehingga yang baik bisa terlihat buruk dan sebaliknya.
So, menyebarkan aura positif akan mengurangi tingkat baper.

2. Selalu Melihat Satu Hal dari Berbagai Sisi
Tidak 'diangkut' ke whatsapp group (WAG) alumni sekolah dan atau kuliah? Tak perlu baper, artinya semakin sedikit grup yang diikuti, semakin sedikit kerja smartphone, akan makin memudakan pekerjaan yang biasa dilakukan lewat gawai tersebut. Asyik kan?

Tiba-tiba nggak diajak hang out sama teman se-gank. Nggak perlu baper apalagi emosi. Nggak hang out artinya nggak perlu keluar kocek untuk jajan/makan di luar, dan ada waktu yang bisa dimanfaatkan untuk hal lain misalnya membaca buku, nulis, mewarnai, mencoba hal baru, atau sekadar tidur nyenyak tanpa gangguan.
Hey! Dengan seperti itu kita bukan juga menjadi makhluk anti-sosial ko! Kita tetap harus berinteraksi dengan teman dan tetangga, namun sewajarnya saja. Jika ada hal yang membuat kita tidak nyaman, selalu lihat dari sisi lain atau posisikan diri kita sebagai orang tersebut.

3. Jauhi Sumber Pembuat Baper
Pernah mengalami baper memuncak tingkat dewa ketika bertemu seseorang? Saya pernah dong!
Ceritanya ada kenalan yang (sebenarnya) orangnya asyik buat ngobrol karena supel banget. Tapi bicaranya selalu tinggi, terkesan selalu menganggap orang lain nggak tahu apa-apa dan nggak punya apa-apa.
Yang dibicarakan selalu yang berkaitan dengan uang, harta, punya uang segini lah, punya itulah, ga suka begini, habis jalan ke mana, habis makan di mana, dll. Bagian ini saya nggak baper sih, cuma malas ngobrol aja jadinya, haha.
Parahnya lagi, jika sedang ngobrol sering bertanya "tahu istilah ini kan Mba?" dan itu untuk bahasa-bahasa umum yang sering dipakai. Hm.. Kalau bahasa daerah yang saya nggak paham sih wajar ya, tapi kalau bahasa Indonesia atau istilah asing yang sering digunakan, ko wagu banget kalo ditanyain ke lawan bicara 'paham istilah ini apa nggak'.
Saya sampai membatin, "apa se-oneng itu ya tampangku kalau lagi ngobrol sama dia?" wkwkwwkwk. Entah itu memang gaya bicaranya atau bagaimana saya kurang paham.
Tapi akhirnya saya memilih untuk meminimalisir bertemu dan ngobrol dengannya. Saya memilih untuk menjauhi sumber yang membuat saya cepat baper dan mood saya jelek.
Sialnya jika orang yang membuat kita sering baper ini harus sering-sering dekat dan berinterksi, misalnya teman satu kos atau seorganisasi. Solusinya? Tetap sama, meminimalisir berinteraksi selain hal-hal penting yang dibutuhkan, dan sabarkan hati seluas-luasnya karena mau tak mau akan sering bertemu.

4. Berdamai dengan Diri Sendiri
Seringkali, rasa baper muncul karena kekecewaan terhadap diri sendiri dan keadaan sekitar. Dalam kondisi seperti ini, lalu mendapat pemantik dari ucapan atau tingkah laku seseorang, maka muncullah baper tingkat akut.
Berdamai dengan diri sendiri adalah kunci utamanya. Iya, kadang kita terlalu under estimate dengan diri sendiri. Jangan over confidence juga sih, seimbang saja. Mana yang memang menjadi kemampuan kita, kembangkan dan mana kelemahan kita, minimalkan.
Cintai dirimu, minum yakult tiap hari *eh bahagiakan dirimu.

5. Jadi Orang Cuek (Juga) Baik
Dulu, saya adalah orang yang sangat mudah tersinggung. Entah karena perasaan yang sangat halus atau karena bibit baper yang muncul karena perlakuan di masa lalu.
Ada yang sedikit-sedikit membicarakan saya karena status FB yang saya buat, ada yang ngomongin saya di belakang (dan akhirnya saya dengar juga) padahal di depan berlagak baik, atau membicarakan orang-orang terkasih saya dengan semena-mena. Suami saya selalu menjadi teman curhat dan luapan emosi saat saya sakit hati mendapat perlakuan seperti itu.
Lama-kelamaan saya merasa lelah dengan semuanya. Lelah memikirkan saya harus membuat mereka senang, lelah harus berbaik-baik di hadapan mereka padahal saya menyimpan sakit hati yang teramat sangat.
Akhirnya saya belajar untuk cuek, belajar untuk terus berjalan meski dengan tatapan sinis dan cibiran mereka.
Seperti kata Tere Liye, kita tak bisa memaksa seseorang untuk menyukai atau membenci kita.
Yup! Yang bisa kita lakukan adalah berproses untuk menjadi baik dan lebih baik, seterusnya.
See?! Jadi cuek dan mencoba menutup telinga dari cibiran orang ternyata bermanfaat juga. Nah, jadi nggak sering baper lagi kan?
Selain itu, tips klasik mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat juga cara ampuh agar terhindar dari baper. Saat mood jelek, mending berdiam diri dulu dan tidak 'menyentuh' media sosial lalu 'berlaga' lagi setelah hati stabil.
Temans punya tips lainnya nggak nih? Jangan ragu buat sharing ya!
Salam,

3 comments:

  1. Kalau baper baik gimana, Mbak? Dalan arti baper lalu jadi motivasi untuk bergerak maju.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau baper yang seperti itu menurutku harus banget. Seperti iri yang dibolehkan kepada orang yang berilmu, orang yang berharta dan dermawan, trus sama siapa lagi lupa 🙈

      Delete
  2. Kalau baper ya makan #eh, wkekek... Btw boleh nih tips nya. Ta catet ya biar ak ga gemuk gegara baper trus makan :D

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam