Sunday, 6 August 2017

Hati-hati! Jaga Ucapan Saat Emosi


Saat emosi seseorang tengah memuncak, apapun bisa dilakukannya dengan serta-merta dan energi yang melebihi keadaan normalnya. Sering terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) karena salah satu atau keduanya lepas kontrol saat sedang dalam kondisi marah. Lebih fatal bisa memantik hingga terjadinya pembunuhan. Na’udzubillahi min dzalik.
Bagi seorang muslim, tentunya kita percaya jika perkataan adalah do’a, pun apa-apa yang kita ucapkan dalam hati meski tak sampai keluar lewat mulut kita. Padahal, seringkali sesumbar mulut adalah yang paling mudah saat diri tengah dikuasai emosi. Astaghfirullah, acapkali saat siKecil berulah dan saya lepas kendali, yang menjadi perhatian adalah mulut yang begitu cepat dan mudahnya membombardir mengeluarkan peluru-peluru tajam. Bersyukur ada suami yang selalu mengingatkan bahwa saat marah, perbanyaklah istighfar dan mendoakan yang terbaik, bukan mengumpat yang bukan-bukan apalagi persoalan anak. Jangan sampai masa depannya buruk karena ‘do’a tak sengaja’ yang kita lontarkan saat marah.

Suami dan saya sama-sama punya pengalaman tentang hal ini, dan akibatnya kami juga yang harus menanggung. Hm.. semoga bukan semacam membuka aib ya, temans. Hanya ingin berbagi pelajaran semoga yang lain tidak mengalami seperti kami.
Sekitar 2 tahun yang lalu, suami mengabdi di lembaga sosial. Saya paham dengan konsekuensinya, karena saya pun pernah bekerja di lembaga yang hampir sama sebelum menikah. Hari libur yang hampir tak pernah libur, pulang malam dengan membawa setumpuk pekerjaan, lembur – lembur, dan banyak hal yang harus dikorbankan. Puncaknya adalah saat lembaga mengadakan event, rasanya sedikit sekali waktunya di rumah.
Saya yang awalnya memahami kondisi lama kelamaan tersulut juga emosinya. Kadang saya sudah mengagendakan hari libur untuk quality time bersama keluarga, nyatanya harus gagal karena suami ada agenda mendadak. Tak hanya sekali dua kali, akhirnya saya pun sering protes jika suami pulang larut malam atau membatalkan rencana yang sudah kami buat karena ada agenda pekerjaan yang harus diselesaikan meski hari libur.
Puncaknya, suatu hari kami mengagendakan pulang kampung dengan sepeda motor. Kalau tidak salah ingat waktu itu idul adha. Berhubung ada banyak acara selain penyembelihan hewan qurban rutin, kami harus menunda rencana kepulangan kami hingga 2 hari ke depan. Meski kesal dan kecewa, saya pun harus menerimanya. Bagaimana lagi? Itu bagian dari tanggung jawabnya di tempat kerja.
Kami sepakat berangkat pagi – pagi untuk menghindari hujan dan kesorena di jalan, kasihan si Kecil kalau kedinginan. Namun tiba-tiba ada panggilan masuk ke HP suami, ada masalah yang harus diselesaikan segera. Saya hanya diam, meski rasanya ingin menumpahkan emosi seketika. Baiklah, semoga siang nanti sudah selesai sehingga kami bisa langsung berangkat.
Tunggu punya tunggu, ba’da dluhur suami belum pulang dan tak jelas kabarnya. Hanya sempat membalas WA dan berjanji akan pinjam mobil jika kesorean dan tidak memungkinkan berkendara dengan sepeda motor membawa batita. Saya sudah tidak peduli dengan apa yang dijanjikan, terlanjur kesal karena menghubungi berkali-kali tidak nyambung. Rasanya campur aduk antara marah, sedih, kecewa, kesal, dan capek menunggu seharian. Belum lagi jika teringat saya sudah kehilangan moment yang sudah dibahas bersama adik-adik saya sebelumnya jika saya pulang kampung.
Mungkin karena bisikan setan juga (bukan meng-kambing hitamkan setan loh :D), kekesalan itu berbuntut pada umpatan tak jelas terhadap suami (astaghfirullah) mulai dari yang nggak memperhatikan keluarga lah, hanya mikirin kerjaan lah, dan entah apa lagi yang sudah tak kuingat. Intinya siang itu ingin membuang kekesalan tapi salah jalur.
Menjelang maghrib barulah suami pulang dan kami langsung bersiap berangkat. Saya sempat memintanya menunda berangkat hingga esok pagi agar bisa istirahat terlebih dahulu tapi tak digubris. Bismillah, kami berangkat dan suasana hatiku mulai berangsur membaik.
Di tengah perjalanan, kami belum ke luar dari Kota Semarang tepatnya, ternyata HP suami yang biasanya tersimpan di tas kecilnya telah raib! Dihubungi berkali-kali nomor aktif tapi tak ada yang menjawab teleponnya. Hm.. kemungkinan besar HP kesayangan yang baru dibelinya dua bulan yang lalu itu terjatuh dalam perjalanan mengurus acara tadi.
Deg! Astaghfirullah...! saya menganggap ini adalah tamparan untuk saya, bukan untuk suami. Ya, teguran langsung dari Allah bahwa saya sebagai istri harusnya bersyukur dengan bagaimanapun kondisi suami, dan mendoakan yang baik baginya. Saat sedang marah, berusahalah untuk cepat-cepat cooling down, atau katakan saja padanya ‘saya sedang marah’ (pasti malah jadinya lucu), dan doakan yang terbaik, jangan sampai lepas kontrol menjadi ucapan buruk yang didengar Allah dan malaikat.
Hiks. Siapa yang tak sedih? HP belum lama dan artinya harus beli lagi karena itu kebutuhan primer untuk support pekerjaan suami.
Lalu beberapa waktu yang lalu saya mengalami (lagi) kejadian yang hampir sama. Sekitar bulan Maret saya mendapat hadiah 1 unit smartphone dari lomba. Senang dan syukurnya bukan main, karena ini HP pertama yang didapat dari lomba blog. Saat hadiah itu sampai di tangan, suami pu n berpesan “Ingat lho, jangan sampai kalap setelah punya HP 2. Manfaatkan sebaiknya tapi jangan lupa waktu.”
Beberapa hari setelahnya saya sempat mengisi baterai saat pagi hari dan 2 HP dalam kondisi mati hingga saya menyelesaikan urusan rumah dan anak. Kadang jam 10 atau lebih (biasanya setelah baterai benar-benar full) baru saya nyalakan kembali. Har-hari itu suami saya juga sedang sibuk merintis usaha bersama temannya. Beberapa kali butuh menghubungi saya untuk sharing ini – itu atau sekadar tanya beli apa di mana, endebrebrebre.
“Kalau ngecaz malam aja tho Bun, biar pagi kalau dihubungi nggak susah,” saya pun mengiyakan dan berusaha mengisi daya saat malam hari. Tapi tak berlangsung lama, lagi-lagi saya kembali pada kebiasaan isi batterai pagi hari. Dan akibatnya suami harus rempong bolak – balik ke rumah untuk keperluan yang seharusnya bisa saya lakukan jika saya bisa dihubungi via telpon.
Menjelang idul fitri tiba – tiba si HP ngadat, tak mau dicaz. Saya pun galau, bagaimana mungkin HP baru langsung rusak? Sakitnya tuh di mana-mana. Ya mungkin juga sebenarnya wong barang elektronik mah nggak bisa ditebak meski sudah dengan penggunaan yang teratur dan rajin merawatnya. Dicoba dengan charger HP lain pun tetap tak mau mengisi daya. Yasudah, berhubung masih moment lebaran saya simpan HP itu dan menunggu ada kesempatan bisa datang ke service center-nya di Semarang.
“Maaf ya Bun, itu HP rusak sepertinya teguran buat Ayah,”
“Ko bisa?”
“Itu lho, pas Bunda nggak bisa dihubungi padahal Ayah lagi riweuh, dalam hati dongkolnya bukan main dan terucap ‘buang aja HP-nya! HP 2 nggak ada yang bisa dihubungi’ dan entah apa lagi yang hanya terucap di hati.”
Saya hanya diam, karena hilangnya HP kesayangannya dulu juga ‘berkat’ ‘do’a’ saya.
“Maaf juga Yah, HP Ayah yang hilang dulu itu kasusnya juga hampir sama... blablabla... “ mengalirlah cerita lama yang sebenarnya ingin kuhapus itu.
Siang itu kami belajar (lagi), bahwa benar sekali jika ucapan adalah do’a, maka usahakanlah yang keluar dari mulut adalah apa-apa yang baik saja. Mau itu untuk diri sendiri, untuk suami, keluarga, apalagi untuk anak. Jangan sampai masa depannya tergadaikan karena perkataan yang kita lontarkan saat emosi. Na’udzubillah min dzalik.
Semoga bermanfaat,
Salam,


14 comments:

  1. Aku masih harus banyak belajar mengendalikan ucapan saat marah nih mbaak...makasih sharingnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mba, aku masih mudah banget meledak :(

      Delete
  2. Benar sih, kalau udah emosi, kata2 yang nggak pantes pun suka kelepasan keluar. Intinya, harus pandai2 mengatur emosi. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. AKu masih sering kelepasan juga Mba... :(

      Delete
  3. Ucapan memang kudu dijaga dengan baik ya? Apalagi ucapan seorang ibu pada anaknya. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, ucapan ibu ke anaknya yang paling didengar sama ALlah

      Delete
  4. Setuju, mba. Hanya kadang susah juga ya ngerem. Akhirnya saya lebih baik memilih diam daripada ngomel ngomel nggak karuan dan buat yang lain sakit hati. Tapi seringkali keceplosan juga sih :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau sudah emosi memuncak banget, saya pilih ke kamar, rebahan. harusnya wudlu dulu ding :D

      Delete
  5. banyak yang tidak tau hal semacam ini. jadi ingat imam masjidl harom

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, yang disumpahin ibunya jadi imam masjidil haram ya Pak

      Delete
  6. Baru nyesel setelah kejadiah ya, Mbak. Dari sini sesungguhnya pelajaran penting ya, Mbak, untuk hati-hati bila emosi mulai naik, daripada bicara yang tidak terkontrol lebih baik direm dengan wudhu, banyak istighfar, memejamkan mata sambil mengatur nafas lalu pelan-pelan membaca tahmid. Setelah itu emosi mulai tenang biasanya ada saja jalan keluar yang lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget... nyesel senyeselnya.

      makasih tambahannya :)

      Delete
  7. Masya Allah, kisahnya menginspirasi ka..
    Kadang aisyah lebih suka nangis kalau emosi, susah mengungkapkan lewat kata-kata..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun kalau sudah puncak gitu bisanya nangis, Dek. soalnya nahan banget pengen teriak :(

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam