Tuesday, 8 September 2015

Dian Nafi: 5 Buku dalam Setahun


“Menjadi penulis itu seperti dipaksa menjadi gila. Iya! Bayangkan harus menulis sesuatu yang ada di kepalanya, kalau perlu sampai nangis agar emosi keluar dan menjiwai tulisan....”

Itu yang kudengar saat memasuki Gramedia Pandanaran tempat diadakannya launching novel Matahari Mata Hati karya penulis asal Demak itu. Oh, ternyata ketinggalan info kalau acaranya diajukan agar bisa selesai sebelum maghrib. Alhamdulillah, untungnya masih belum tertinggal lama. 
Meskipun tak mendengar paparan langsung
dari beliau tentang proses kreatif dibalik novelnya itu, sejak awal langsung penasaran dan pengen segera baca. Apalagi behind the scene-nya adalah kisah Mba Dian dan orang-orang di sekitarnya. 
Mba Dian Nafi with 'Matahari Mata Hati'
Kalau belajar nulis ya sama pakarnya, iya kan?! Nah, makanya bener banget belajar sama Mba Dian. Orangnya asyik dan apa yang disampaikan langsung mengena. Sst...! beliau itu lulusan Arsitektur Undip lho.. keren yak! Arsitek jadi penulis novel. Meskipun sudah banyak juga sih, orang berlatar belakang eksak tapi menjadi penulis fiksi yang handal. Semuanya tentang mau dan terus mengasah kemampuan. Semakin banyak menulis, semakin banyak membaca, semakin lihai merangkai kata.
Ketika ada yang bertanya tentang bagaimana mengatur waktu dan ide sampai dalam setahun bisa menuntaskan 5 buku dengan berbagai genre, dengan renyah Mba Dian menjawab kalau sebenarnya semua ide sudah ada di kepala, langsung membuat outline lengkap mulai dari awal sampai akhir cerita berikut konfliknya. Ide-ide yang sudah berbentuk draft itu akan ditulis kemudian dengan penambahan dan edit hingga minimal lima kali. 

Kopdar Singkat Ibu-ibu ketjeh IIDN Semarang
Agar konsisten menulis, juga harus punya waktu khusus dan target misalkan minimal one day one page, lanjutnya. Ide pun bisa bermunculan dari mana saja, bahkan dari curhatan-curhatan teman dengan dramatisasi dan penajaman konflik, curhat sepele bisa menjadi cerpen yang layak muat. Tapi yang perlu diingat juga, kita tidak bisa memaksa suatu ide yang kecil bisa menjadi novel. Kalaub hanya bisa jadi cerpen, jadikanlah cerpen; kalau bisa jadi cerpan, novel, jadikanlah. Harus proporsional.  

Terakhir, beliau menyampaikan jika baginya, menulis novel bisa menjadi jalan untuk menghilangkan trauma, jalan tasawuf dan pendidikan. MasyaAllah... membuat saya iri dengan banyak karyanya.
'Tak cukup mimpi, butuh jua energi dan sinergi tuk bersinar seperti mentari’ itu tagline di sampul depan novel Matahari Mata Hati. Penasaran?! Saya juga. Yuk ah. Mau lanjut baca novelnya.  

9 comments:

  1. Aku belum selesai bacanya, Rin.

    Eh iya, sayang kemarin nggak bertemu dalam forum yg sama ya, hehehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku jg blm slese baca Mba... kucing2an sama sikecil ^^

      Iya, sayang banget mau ikut dua2nya malah yg siang ga bisa

      Delete
  2. Replies
    1. Keren mbak liputannya *jempol :)

      Delete
    2. Keren mbak liputannya *jempol :)

      Delete
    3. Terimakasih Mba @Dian Jumhan, masih belajar nih... ditunggu masukannya :)

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam