Jaga Kesehatan, Waspada Long Covid bagi Penyintas

Daftar Isi
menjaga kesehatan agar bisa melalui post covid syndrom

Ketika Long Covid Melanda 

Istilah 'long covid' dikenal sebagai istilah yang merujuk pada post-covid syndrom. Sebuah kondisi di mana seorang penyintas covid masih merasakan berbagai gejala dan menurunnya kinerja tubuh meskipun telah dinyatakan sembuh dari penyakit yang menyebabkan pandemi ini. 

Gejala yang muncul ini bisa terjadi bermiggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan menetap. Analogi awamnya semacam kita terluka dan sudah sembuh, bekas lukanya masih menimbulkan rasa nyeri hingga waktu yang cukup lama. 

Seperti yang dilansir dari Tirtoid, gejala long covid dialami oleh pasien anak-anak dan dewasa baik yang mengalami gelaja ringan, sedang, maupun berat. Ada 35 persen pasien yang dinyatakan sembuh dan tidak kembali pulih seperti sebelumnya setelah menderita covid-19. Sejumlah 20 persen pasien Covid-19 dengan usia 18-34 tahun mengalami sejumlah gejala yang berkepanjangan meskipun sudah dinyatakan negatif dan kondisi kesehatannya masih prima.

Gejala Long Covid yang paling umum dialami adalah kelelahan kronis, sesak napas berat, jantung berdebar-debar, nyeri pada sendi, dan nyeri otot. Sementara sebagian lainnya mengalami masalah dengan indera penciuman dan perasa, masalah pencernaan, hingga kesehatan mental. 

Bulan Juli 2020 saya dan suami menderita gejala yang sangat mirip dengan covid-19. Gejala yang kami alami mulai dari demam, napas berat seperti saat pagi-pagi di pegunungan, nyeri sendi, badan lemas, dan saya juga mengalami anosmia atau hilang penciuman, dan berubahnya kemampuan lidah untuk merasakan makanan. 

Waktu itu memang kami tidak melakukan tes PCR karena terkendala biaya dan berinisiatif untuk isolasi mandiri. Anak-anak tidak kami biarkan keluar rumah, di dalam rumah kami selalu menggunakan masker, pesan makanan secara online dan menginfokan jika kami sedang sakit. Beruntung saya terbiasa mempunyai stok bahan makanan untuk beberapa hari di kulkas dan freezer, sehingga saat tiba-tiba tidak bisa keluar untuk belanja, masih cukup aman. 

Kurang lebih dua pekan saya merasakan nyeri sendi dan lemas, sedangkan suami hanya mengalami gejala beberapa hari. Waktu itu belum ada istilah ‘long covid’, saya hanya heran dengan kondisi tubuh yang semakin lemah. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya pun napas sudah ngos-ngosan dan terasa sangat capek, menemani anak-anak bermain, dan aktivitas lain yang sebelumnya terasa ringan menjadi lebih berat. 

Terlebih saat saya hamil anak ketiga. Sangat mudah merasa lelah dan napas pendek. Memikirkan hal ini sampai membuat saya makin stres membayangkan kuat atau tidak mengejan, mengingat untuk berbicara agak lama saja sudah bengek. 

gejala long covid bagi penyintas covid-19

Healthy Lifestyle untuk Atasi Post Covid Syndrome 

Saya pikir tidak ada solusi lain selain menerima dengan pasrah kondisi ini sembari mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. 

Asupan Nutrisi dan Suplemen 

Sejak pandemi, kami menjadi lebih aware dengan masalah kesehatan. Di rumah, jika sebelumnya hanya tersedia madu sebagai suplemen wajib dan sesekali kurma, sekarang menjadi lebih beragam. Multivitamin, vitamin C, Vitamin B Complex, tak ketinggalan empon-empon sebagai dopping saat sinyal tubuh sudah menandakan gejala kurang sehat/drop.

Olah Raga Secara Teratur 

Tubuh yang terlatih akan lebih ‘bandel’ menerima beban. Jadi jika sudah terbiasa work out, otot tidak kaku, tubuh pun lebih bugar. Luangkan waktu sekitar 30 menit untuk menggerakkan tubuh, berolah raga secara rutin supaya daya tubuh makin meningkat. 

Konsumsi Air Putih yang Cukup 

Jangan lupakan juga ‘keajaiban’ air putih agar tubuh senantiasa terhidrasi dan tetap bugar. Konsumsi air putih yang kurang bisa menyebabkan masalah ginjal dan kulit kering serta kusam. Oleh karena itu, kita harus memastikan air yang kita minum sudah cukup. 

Umumnya kita mengenal kebutuhan air putih kita dengan “minimal 2 liter per hari”. Lebih tepatnya, kita bisa menghitung kebutuhan air putih sesuai dengan berat badan. Rumusnya adalah berat badan dikalikan 30ml. Contohnya, jika BB 50 Kg, maka kebutuhan air putihnya adalah 50 x 30 ml = 1500ml atau 1,5 liter. 

Kebutuhan tersebut adalah porsi minimal yang akan bertambah seiring dengan banyaknya aktivitas, keringat yang dikeluarkan, juga cuaca. Biasanya kebutuhan cairan bagi ibu hamil dan ibu menyusui pun bertambah.

Jaga Kesehatan Mental 

Berbagai berita kematian datang bertubi-tubi sejak pandemi. Berita peningatan kasus dan berbagai persoalan akibat pandemi yang muncul membuat hidup serupa naik roller coaster makin terasa. Banyak orang menjadi lebih rentan stres dan depresi. Jika terkena trigger sedikit saja, emosi dan stres bisa langsung memuncak. Untuk itu, harus aware banget dengan kondisi mental. 

Saya memilih untuk selow dengan banyak hal, menurunkan standar, dan mengatakan ‘tidak’ untuk hal-hal yang tidak bisa saya handle. Terlebih ada bayi dan dua kakaknya yang aktif. Setiap saat kepala terasa mau meledak ketika menghadapi rutinitas ditambah dengan polah anak dan tangisan bayi. Fyuuh... 

Selain itu, meningkatkan spiritualitas juga bisa meningkatkan kesehatan mental, menjaga semangat hidup agar tetap on the track. Saya biasanya meminta nasihat dari orang-orang yang saya kenal dan biasanya memberikan insight tanpa judging. Tentu selain dengan curhat-curhat baik di catatan, curhat dengan suami, atau dengan teman-teman di WAG dalam circle yang bisa menyimpan rahasia. 

Harapannya, semoga pandemi segera berlalu. Jika pun ternyata masih panjang perjalanan menuju endemi dan dunia kembali pulih, mari sama-sama berdoa semoga Allah menguatkan jiwa dan raga kita untuk menghadapi semuanya. Covid-19 dan Long covid itu nyata, terlepas dari perkara apakah ini konspirasi atau bukan, kita tetap harus menghadapi pandemi di depan mata. 

Sehat selalu, ya, Temans. 

Semoga bermanfaat,

Salam, 


Posting Komentar

Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner