Sukses VBAC Bukan Kesombongan

Daftar Isi
cerita VBAC adalah pemberdayaan diri dan ridha Allah

Suatu saat saya pernah membaca pendapat seseorang tentang kisah sukses VBAC. Menurutnya, cerita VBAC dari seorang ibu biasanya mengandung kebanggaan bahkan kesombongan.

Sungguh, sebenarnya saya muak dengan mom war yang terus berkembang dan tak ada habisnya. Mulai dari ASI Vs susu formula (sufor), bekerja di rumah atau di luar, clodi Vs popok sekali pakai (pospak), dan sederet urusan lain termasuk melahirkan pervaginam vs SC dan Re-SC atau VBAC
Semua kembali kepada pilihan dan prinsip hidup masing-masing. Mana yang lebih sesuai dan paling nyaman buat seseorang belum tentu cocok bagi orang lain, begitu sebaliknya. 

Namun ketika dikatakan semua ibu yang berhasil VBAC itu menjadi sombong, saya tidak setuju. Dengan izin Allah, saya bisa melalui persalinan VBAC pada tahun 2017, 3 tahun 8 bulan setelah persalinan SC anak pertama.

Sewaktu hamil anak kedua, keinginan untuk bisa melahirkan pervaginam sangat kuat. Saya merasa trauma dengan proses SC yang sebelumnya saya lalui dengan drama panjang pasca ketuban pecah dini (KPD). Maka saat hamil lagi, saya berusaha mengumpulkan info sebanyak-banyaknya tentang VBAC. 

Saya makin optimis setelah mendengar banyak teman mengalami hal yang sama. Saya juga mencari provider (dokter kandungan) yang mau membantu saya persalinan normal meskipun bidan dan dokter di rumah bersalin tempat saya periksa selalu mengatakan saya harus SC lagi karena sebelumnya SC.

Saya butuh dokter yang mendukung bukan berarti menggantungkan nasib pada dokter. Saya hanya berpikir bahwa dokter dan perawat/bidan yang akan menangani persalinan nanti lebih tahu ilmunya dibanding saya. Jadilah saya lakukan apa yang disarankan dokter sambil tetap mencari ilmu dari internet.

Saya ingat, waktu itu dokter terus mewanti-wanti agar saya menjaga jangan sampai KPD lagi. Jika KPD, beliau tak mau menunggu, akan langsung melakukan bedah SC. Rupanya, ketuban pecah juga saat saya masih di rumah. Bedanya, waktu itu bukaan sudah 4 begitu sampai di RS dan dicek VT. Skenario Allah pun berjalan, dokter saya tengah cuti sehingga saya memilih didampingi dokter lain dan akhirnya melahirkan pervaginam (VBAC).

See? Siapa yang paling berperan di sini? Iya. Allah. Nggak ada alasan sama sekali untuk menyombongkan diri bukan?

Ikhtiar VBAC dengan Memberdayakan Diri

Saya mengenal istilah "memberdayakan diri" bagi ibu hamil setelah bersama dua orang sahabat membuat Komunitas Support VBAC (KSV). Berawal dari proyek menulis birthstory VBAC dalam antologi keroyokan, mengadakan kuliah WhatsApp (Kulwap) sebagai bagian dari bedah buku dan promosi, lalu antusias peserta yang sungguh di luar dugaan. Banyak yang antusias mengenai dan ingin ikhtiar VBAC.

Selepas proyek buku, berbekal bismillah kami membuat komunitas, mengumpulkan para ibu dengan bekas sayatan di perut dan meraka yang ingin menambah ilmu seputar kehamilan, persalinan, dan bayi.
Kami gali informasi dari para ahli, mengenal tubuh dan kondisi ketika hamil, membahas persalinan dan hal-hal yang berkaitan.

Ya, salah satu kunci untuk bisa VBAC adalah memberdayakan diri: menyiapkan mental dan fisik, juga dukungan dari orang terdekat. 
Memberdayakan diri mulai dari upgrade ilmu, menjaga asupan nutrisi, menyiapkan mental dan menjaga kesehatannya, olah fisik seperti senam hamil rutin, dll.

Pasrah dengan Semua Ketentuan Allah

Meskipun kami selalu mengajak para bumil agar berdaya dan mengambil peluang 80% ibu  SC bisa VBAC, kami juga tetap merangkul para ibu yang re-SC. Karena melahirkan dengan cara apapun adalah pertarungan nyawa seorang ibu dan bayinya.

Ikhtiar pemberdayaan diri harus selalu disertai dengan permohonan kepada Allah. Pada akhirnya, Allah jua lah yang menyiapkan akhirnya: pervaginam atau SC. Ikhtiar untuk menyiapkan persalinan normal pun tetap harus dibarengi dengan pantauan terhadap kondisi ibu dan bayi. Jika ternyata tidak memungkinkan untuk persalinan alami, maka mau tak mau harus kembali menjalani prosedur sectio

Jadi, berhasil VBAC "hanyalah" suatu bentuk kepasrahan kepada Allah setelah ikhtiar yang optimal, karena jika Allah belum berkehendak, sebanyak apapun usaha, tak akan menuju hasil yang diinginkan.
Allahua'lam bishshawab.

Semoga bermanfaat,

Salam,

2 komentar

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam
Comment Author Avatar
24 November 2021 pukul 09.29 Hapus
Masyaallah saya salut sama kesabaran dan ketegarannya semoga sehat selalu dan anaknya menjadi anak yang berbakti ke orang tua nantinya.
Comment Author Avatar
24 November 2021 pukul 12.52 Hapus
Aamiin... terima kasih, Bund
Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner