Puasa di Masa Pandemi Covid-19, Ramadhan Bersejarah Sarat Hikmah

Daftar Isi


Saat wabah covid-19 masuk ke Indonesia di bulan Maret, saat itu terpikir juga bahwa sebentar lagi Ramadhan akan tiba. Kita semua harap-harap cemas, bagaimana nanti menjalankan ibadah di bulan Ramadhan? Sementara untuk menjalani hidup ‘normal’ saja mengalami kesulitan dan masih gagap menyesuaikan diri dengan segela perubahan yang terjadi. Namun mau tak mau, puasa di masa pandemi covid-19 harus kita jalani.

Fakta-fakta Ramadhan di Masa Pandemi

Sebelum melanjutkan pemahasan tentang puasa di masa pandemi covid-19, kita inventaris dulu fakta-fakta yang terjadi di Ramadhan tahun ini berkaitan dengan pandemi tersebut.

  • Tidak ada kegiatan buka bersama, yang biasanya menjadi ajang untuk reuni dan berakrab ria dengan sahabat atau kolega yang jarang bertemu
  • Tidak ada shalat jamaah di masjid, termasuk shalat jumat dan tarawih. Di kampung halaman saya yang awalnya masih mengadakan salat tarawih berjamaah karena warga merasa masih aman, akhirnya meniadakan setelah di-sweeping polisi
  • Tidak ada kegiatan sahur bersama, sebelumnya banyak yang mengadakan kegiatan sahur on the road
  • Tidak ada ‘kentongan sahur’ keliling kampung,
  • Kemungkinan besar shalat idul fitri tidak diadakan terutama di daerah zona merah
  • Pelarangan takbir keliling
  • Larangan mudik, yang biasanya menjadi tradisi perantau untuk bertemu keluarga setahun sekali

 

Tips Semangat Beribadah Ramadan di Masa Pandemi

Rasanya kangen dan mellow sekali ketika Ramadan tiba, sementara ibadah yang sebelumnya bisa kita lakukan berjamaah harus dilaksanakan di rumah masing-masing, hanya berjamaah bersama keluarga. Saat ‘sendiri’ seperti ini adalah saat yang rawan karena mood naik/turun dan semangat ibadah pun bisa timbul tenggelam. Berikut beberapa tips supaya ibadah di bulan Ramadhan tetap terkontrol dan grafiknya naik atau stabil.

1. Buat jurnal Ramadhan

Bagi temans yang rajin journaling atau membuat jurnal, pastinya tak akan melewatkan kesempatan untuk membuat jurnal Ramadhan. Beberapa waktu yang lalu saya pernah menyimpan jurnal ramadhan untuk muslimah, sayang gagal tercetak karena corona. Beruntung saya diajak menulis buku antologi yang dicetak sendiri oleh salah satu penulis, dan di dalamnya berisi jurnal ramadhan yang bisa saya gunakan. Alhamdulillah.

2. Punya Catatan Target dan Pencapaian Ibadah

Di bulan Ramadhan, Allah memberikan ‘diskon pahala’ besar-besaran, makanya kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin dengan menggenjot ibadah. Buat target ibadah bulan Ramadhan, lalu cetak dalam selembar kertas dan kita bisa memantau perkembangan dan evaluasi ibadah kita setiap hari.

3. Niat Ikhlas Beribadah karena Mengharap Rida Allah

Ini penting sekali, supaya semangat kita tidak tergerus. Memang, saat melakukan kegiatan bersama-sama, secara langsung kita tersemangati oleh orang di sekitar. Namun saat sendiri, bisanya godaan aktivitas lain pun besar dan bisa membuat terlena

4. Kurangi Aktivitas dengan Smartphone Terutama di Medsos

Aktivitas di depan layar smartphone memang seringkali melenakan, apalagi untuk scroll media sosial. Hm... waktu 1 jam rasanya baru sekian menit berlalu, tahu-tahu sudah waktunya masak, tahu-tahu anak-anak bangun, dst. Ups. Itu sih saya, nggak tahu yang lain. Hehe.

Tahun ini, tantangan besar bagi saya karena berusaha mencari solusi baca Alquran agar lembaran alquran aman dari jamahan anak-anak. Saya mencoba membaca Alquran lewat aplikasi Quran digital di ponsel. Awalnya, saya kurang bisa konsentrasi akibat banyaknya notifikasi yang masuk saat saya sedang membaca Alquran. Saya pun mencoba mematikan akses internet jika sedang membuka alquran. Lama-kelamaan, saya mulai terbiasa dan bisa dengan santai mengabaikan notifikasi itu. Alhamdulillah.

Sayangnya, untuk medsos saya baru bisa mengurangi, apalagi jika bosan beraktivitas di rumah, biasanya mencari hiburan di dunia maya khususnya medsos. Paling tidak sudah mengurangi, ya.

5. Saling Mengingatkan Antaranggota Keluarga

Dulu saya sebel ketika ditanya kakak senior saat di kos, “Tilawahnya bagaimana? Sudah khatam berapa juz?” dst.

Setelah melewati sekian tahun, barulah saya paham bahwa yang dilakukan oleh kakak senior tersebut adalah untuk memantik semangat kami supaya tidak terlena dengan waktu luang di bulan Ramadhan.

Tidur di bulan Ramadan adalah ibadah, tetapi akan lebih bernilai jika tidak sepanjang hari dihabiskan dengan tidur, bukan? Saya sendiri tetap tidur di waktu-waktu tertentu, bergantian dengan suami.

Subhanallah, rasanya yang paling berat dari hari-hari puasa di masa pandemi ini adalah aktivitas monoton di rumah dan waktu senggang. Waktu senggang masih bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk tilawah, membaca buku, beraktivitas bersama anak, dll. Masalah yang lebih berat justru kejenuhan karena setiap hari melakukan kegiatan yang monoton. Solusinya, kita buat kegiatan menarik di bulan Ramadhan bersama keluarga. Jika masih saja jenuh, istirahatlah dan buat diri menjadi bahagia supaya bersemangat kembali menyambut setiap ladang pahala di Ramadhan.

Semoga bermanfaat,

Salam,  


Posting Komentar

Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner