Monday, 3 December 2018

Tempat Persinggahan yang Akan Selalu Dikenang



Wonosobo, Kampung Halaman yang Selalu Dirindu
Di pelosok desa di kota kecil inilah mamak melahirkanku 31 tahun silam. Menurut orang-orang, bobotku hanya 1.500 gram. Lahir saat usia kandungan masih 8 bulan, begitu katanya. Saking kecilnya, ada yang mengatai diriku sebesar manuk alias burung.  Alhamdulillah,  nyatanya saya bisa tumbuh hingga sebesar ini. Mengalahkan postur mamak meskipun tetap menjadi yang  paling kecil diantara 4 bersaudara.
Pendidikan SD hingga SMA saya habiskan di Wonosobo,  tempat yang dulunya tidak begitu saya sukai. Ya,  dulu saya cenderung membenci kota ini karena begini begitu dan ada luka masa kecil yang masih tersisa.

Mulai sangat mencintai Wonosobo sejak kuliah dan bisa melihat dengan lebih luas bahwa Wonosobo adalah kota kecil dengan potensi wisata yang sangat besar. Dan benar, sejak beberapa tahun terakhir Wonosobo dengan Dieng dan berbagai destinasi wisata di sekitarnya menjadi primadona wisatawan. Event tahunan Dieng Culture Festival (DCF) selalu sukses menghadirkan ribuan wisatawan untuk mengikuti setiap event di negeri atas awan.
Kini, Wonosobo selalu kurindukan. Pada pohon duku besar tinggi menjulang di depan rumah,  pada rumah papan yang mulai lapuk,  pada bapak dan mamak yang mulai menua,  pada adik bungsu yang remaja,  pada desir angin dari hutan bambu di bukit, pada makam simbah di balik bukit bambu, pada masjid yang didalamnya kami mengaji a-ba-ta hingga ya. Ah,  rindu sungguh.
Tapi jika ditanya apakah ingin tinggal di Wonosobo? Saya ingin menjawab tidak. Biarlah ia menjadi tempat persinggahan.  Karena setiap pulang ke sana,  aromanya adalah aroma liburan: malas bangun pagi, inginnya jalan-jalan dan makan. Di Wonosobo itu seperti tinggal di villa, serasa liburan di villa pribadi, kata suami saya.

Semarang, Ada Kenangan yang Tak Kan Lekang
Kota pertama yang menjadi perantauan saya adalah Semarang. Ibu kota provinsi Jawa Tengah ini menjadi saksi bagaimana seorang gadis desa nan lugu dan minderan berhasil menyelesaikan kuliah.
Kurang lebih 5 tahun berjibaku dengan dunia kampus membuat saya mengenang setiap sudut kos, kampus, dan tempat-tempat yang biasa kami lalui untuk ke kampus atau agenda di luar kampus. Saat melewati jalanan di depan R.S Roemani, pasar Wonodri, Jalan Hayam Wuruk, Pleburan, Singosari, dan sekitarnya seolah melihat seorang mahasiswi berjilbab yang selalu membawa ransel besar dan berjalan cepat terkesan terburu-buru. Terkadang ia berjalan sendiri, tak jarang bersama dengan teman kos-nya. Iya, itu saya yang selalu berjalan kaki, naik kendaraan umum atau nebeng teman ke manapun.
Setelah lulus kuliah dan pulang ke Wonosobo, saya mendaoat pekerjaan di salah satu lembaga amil zakat daerah. Selama kurang lebih 2 tahun mengabdi di sana, saya memutuskan untuk resign sebelum menikah. Setelah menikah, saya kembali ke Semarang mengikuti suami. Dan akhirnya tinggal di Kota Atlas selama kurang lebih 5 tahun sebelum suami mendapat tugas kerja di Bali.
Banyak orang mengatakan tidak menyukai suasana Semarang, namun bagi saya, Semarang akan selalu menjadi home sweet home ke-2. Di sana lah saya menemukan ‘keluarga’ meski sebenarnya bukan. Di sana lah saya pertama kalinya bertemu dengan orang-orang yang mengabdikan dirinya dengan tulus dan tak mengharapkan imbalan selain dari Allah, di sana saya bertemu dengan orang-orang yang selalu peduli kepada orang lain. Semarang yang panas dan banjir, tapi menyimpan berjuta kenangan.

Denpasar, Memulai Perjalanan Baru
Pindah ke Denpasar bagi saya adalah memulai petualangan baru. Karena pertama kalinya kami tinggal terpisah dengan orangtua. Jauh dari karib kerabat, hanya bersama suami dan anak yang masih kecil adalah tantangan bagi kami.
“Tenang, di manapun berada ini adalah bumi Allah, yakin saja masih jauh lebih banyak orang baik daripada orang jahat,” begitu pesan seorang sahabat yang telah merantau ke luar pulau sejak masih kuliah. Kalimat inilah yang meyakinkanku untuk memantapkan hati mengikuti suami ke Bali.
Alhamdulillah, tinggal di Denpasar tidaklah semengerikan yang saya bayangkan. Di sini kami masih bisa mendengar suara adzan, masih banyak perantau yang sebagian besar dari Jawa, dan masih cukup mudah menemukan warung makan dan bahan makanan halal.
Kota ini sangat nyaman dan aman, pantas saja jika menjadi impian banyak orang. Meskipun untuk urusan harga properti (termasuk kos dan kontrakan) dan biaya pendidikan jauh lebih mahal dibandingkan di Semarang apalagi di Wonosobo.
Entah sampai kapan kami akan tinggal di sini, tapi selalu ingin kembali ke Jawa yang lebih dekat dengan keluarga. Iya... pusing mikir biaya tiket untuk mudik, hehe.
Mohon doanya ya, Temans! semoga kami tetap bisa selalu berbakti kepada orangtua dan keluarga.
Salam,

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam