Sunday, 2 December 2018

5 Kota Impian untuk Dikunjungi di Dalam dan Luar Negeri

Kiriman seorang sahabat, Jun


Merindukan Baitullah (Makkah dan Madinah)

Jika ada kota yang paling ingin kami kunjungi melebihi kota lainnya, ialah Baitullah Makkah dan Madinah. Sedemikian hebatnya rasa rindu untuk bisa mengunjunginya. Harapan untuk bisa berziarah ke makam Rasulullah dan para sahabat, menapak tilasi perjalanan Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad.
“Aku maunya kita pertama ke luar negeri itu buat umrah atau haji,” kata suami saya, yang saya tanggapi dengan bercanda bahwa apa salahnya ke luar negeri yang terdekat? Hitung-hitung latihan sebelum menempuh perjalanan suci ke Makkah dan Madinah.

Ya, kota impian saya (dan suami) di luar negeri yang pertama adalah Makkah dan Madinah. Setiap ada kabar saudara, teman atau tetangga yang mendapat panggilan beribadah ke tanah suci, rasanya hati selalu tergetar hebat dan muncul rasa iri. Kapan giliran kami? Maka kami tak pernah lelah untuk berdoa dan berikhtiar, juga memohon bantuan doa dari mereka yang ternga beribadah di sana.
Semoga terselip diantara doa-doa itu, harapan kami untuk bersegera menuju Rumah Allah saat masih muda, saat fisik dan energi kami masih prima. Semoga telah tercatat di langit sana, nama-nama kami untuk bisa thawaf mengelilingi Kakbah, sa’i menapaktilas perjalanan ibunda Hajar, Mabit di Musdalifah, Wukuf di ‘Arafah dan semua rukun umrah/haji lainnya. aamiin...

Credit park of Indoenesia

Makassar

I’m a butterfly lover. Entahlah, setiap melihat kupu-kupu selalu takjub dengan keindahannya. Juga selalu teringat dengan perjuangan bagaimana seekor ulat bisa menjadi kupu-kupu yang cantik. Tentang bagaimana ia bersabar, bertahan dan mengikuti setiap proses yang harus dilalui untuk mencapai tujuannya.
“Ayok, ke Makassar, ada taman Bantimurung di sana. Taman kupu-kupu.” Kata kakak kost waktu itu. Beliau seorang dosen yang mendapat tugas belajar S2 di Undip. Logal khas Makassar-nya sangat kental saat kami ngobrol di kost.
“Oia?! Benar Mba?! Indah banget dong?!” Mataku membulat takjub mendengar hal itu. Terbayang di kepala tentang indahnya taman yang menjadi habitat ribuan aneka kupu-kupu.
“Iya, nabung dulu lah... kalau mau hemat, naik kapal aja meskipun perjalanan jadi lebih panjang.”
Namun harapan itu belum terpenuhi hingga sekarang. Keinginan untuk menginjakkan kaki di Sulawesi Selatan khususnya Makassar dan sekitarnya masih terbelenggu di wang-awang.
Semoga kelak jika bisa menjelajah ke sana, kami juga bisa bersilaturrahmi dengan kakak kost yang juga teman sekamar. Mba Suriani dari Kabupaten Maros. Adakah mungkin Temans yang mengenal beliau?
Credit Toba photo gallery


Sibolga

Kota ini menjadi salah satu kota impian karena di sanalah saat ini (entah sampai kapan) adik ipar beserta istrinya tinggal. Adik ipar kesayangan, Om-nya Duo Kurnia yang paling ganteng itu mendapat tugas kerja di Sibolga sejak sepekan saya menikah dengan suami dan pindah ke Semarang. Semacam menggantikan posisinya di rumah. Satu orang datang, namun satu orang juga pergi. Impas.
Setelah menikah April tahun 2018 ini, dia memboyong istrinya ke sana. Praktis sekarang kami terpisah di 3 pulau yang berbeda. Adik ipar di Sumatera, Bapak dan Ibu Mertua di Jawa, kami di Bali.
Sangat jauh lebih mudah menjangkau Bali dibanding Sibolga. Untuk mencapai tempat tinggal adik ipar, harus menempuh perjalanan darat dengan travel selama 9 jam dari Medan atau 12 jam dari padang. Ada fasilitas pesawat terbang hingga Sibolga namun tentu dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Kami berharap bisa traveling ke sana bersama keluarga, lalu ‘melipir’ ke Danau Toba dan Pulau Samosir meski tak bisa dibilang dekat. Yeah... Sibolga itu kota kecil, tempat wisata-nya ke kota lain dong... hehe. aih, mungkin kita juga perlu menjelajah pantai di Sibolga.

Credit The Jakarta post


Labuan Bajo

Setahun berlalu, batalnya saya pergi ke Labuan Bajo masih menyisakan sesak di dada. Bukan, bukan karena saya menyesali dengan hadirnya bayi mungil anak kedua. Namun, harapan untuk bisa ke sana pun masih tersimpan di dalam hati.
Sejak kepindahan ke Bali, saya selalu mengatakan pada diri sendiri bahwa jarak saya dengan Labuan Bajo sudah lebih dekat dibanding saat kami di Semarang. Harga tiket pesawat dari Bali ke berbagai daerah wisata pun terbilang lebih murah karena intensitas penumpang yang terbilang ramai.
Doakan kami ya, Temans! saat ini memang masih sangat repot untuk bepergian, bahkan sekadar bertemu teman blogger di penginapannya (yang jarkanya sekitar 30 menit perjalanan dengan sepeda motor) pun harus dengan segembol peralatan bayi.
Sabar aja deh, dinikmati setiap prosesnya. Kelak saat anak-anak sudah besar pasti akan merindukan masa-masa ini. Atau mungkin itulah saatnya kami bisa mengunjungi tempat impian. Semoga. Aamiin..
Punya tempat impian juga? sharing yuk, Temans!

2 comments:

  1. AMIIIIN semoga kita berkesempatan ke Baitullah ya Mbak.
    Btw aku pernah baca tuh mbak ada kapal dari Bali ke Labuan Bajo, lebih murah dari pesawat. Siapa tau bisa jadi referensi mumpung tinggal di Bali :D

    ReplyDelete
  2. Aamiin Ya Allah semoga kita semua bisa berdoa baitullah.
    Dulu prioritasnyaku adventure ke gunung gunung bhakan Himalaya menjadi obsesi. Semakin kesini dan punya anak. Aku lebih memilih kota kota impian yang terdekat dengan rumah kita dulu. baru mengejar Kota impian nan jauh disana.

    sampeyan tinggal di Bali, banyak banget destinasi asyikk untuk dikunjungi. di kahatamin sekalian simpen uang buat menjejak kota impian. Aamiin

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam