Wednesday, 14 February 2018

Selamatkan Generasi Kita dari Bahaya Perilaku Menyimpang


Pagi mendung, membuat kami enggan beranjak dan memilih bergelung selimut. Seseorang datang mengabarkan duka dari kerabat jauh.
"Oh, dia yang benc*ng itu ya?" kata mamak setelah si pembawa kabar duka pamit pulang. Pertanyaan itu diiyakan oleh bapak.
Bapak pun takziyah ke sana, bersama si adik yang masih SD karena mamak pergi ke tempat lain dan si Adik tak ada yang menenami di rumah.
"Tadi waktu takziyah banyak teman-temannya yang datang. Pada pakai kebaya dan sepatu tinggi," kata adik begitu pulang takziyah.
Saya melongo, geli sekaligus sedih mendengar kabar duka itu. Saudara jauh yang sebenarnya saya pun belum pernah bertemu, hanya mendengar sepotong-sepotong kisahnya.

"Dia sudah hampir sembuh, tapi kembali mejadi benc*ng setelah ketemu teman-temannya lagi."
Sedih mendengar kenyataan itu, terlebih seseorang yang masih muda. Belum genap 30 tahun usianya.
Ah ya, isu-isu seputar HIV/AIDS masih belum santer beberapa tahun silam, saat kejadian itu terjadi.
Dan baru sekarang lah saya berburuk sangka tentangnya. Semoga Allah berkenan mengampuni kesalahannya. Aamiin...
Di tempat yang lain, seorang perempuan meninggal dalam kondisi yang mengenaskan. Bisik-bisik tetangga mengatakan ini-itu tentang si Mbak yang meninggal karena AIDS. Bukan, si Mbak bukan perempuan yang 'nakal'. Hanya saja takdir tak mengenakkan memghammpirinya. Dengan terpaksa ia harus menikah dengan seorang preman kampung dan harus berakhir setragis itu. Konon hampir tak ada tetangga yang berani mengurus jenazahnya.
Kisah lama ini kembali terangkat dalam memori demi berbagai berita tentang kasus penyimpangan seksual yang makin mengkhawatirkan. Berbagai kasus penyimpangan makin marak diberitakan dan bahkan terasa sangat dekat di sekitar kita.
Kisah berbagai penyimpangan ini telah terukir dalam sejarah. Tengoklah kisah kaum nabi Luth di Sodom dan bagaimana penduduk Pompeii terkubur di balik reruntuhan gunung.
Ah, apalah saya menuliskan tentang ini, hanya sekadar curhatan emak-emak di tengah dunia yang rasanya semakin carut-marut ini. bukan mengesampingkan segala kemudahan yang dicapai dengan teknologi yang ada, namun juga kita harus menanggung akibat-akibat buruk yang ada.
Arus nformasi membuat setiap orang bisa mendapatkan berita secepat kilat namun juga bisa menjadi ‘ruang belajar’ bagi mereka yang berniat buruk dengan meniru apa yang mereka dapatkan lewat berita, termasuk berbagai perilaku menyimpang.
Saya pernah bergidik ngeri ketika seorang kawan bercerita tentang betapa banyaknya grup di facebook yang berisikan kaum G*y, Lesb*an, P*dofil, dll (terutamanya memang hal ini yang paling marak). Terbengong mendapati ribuan anggota yang tergabung dalam grup yang lingkupnya kecamatan atau bagian kota, misalnya tertulis member blablabla Semarang Timur, dll. Sedekat itukah hal seperti ini dengan kita?
Bagaimana dengan anak-anak kita kelak, jika tantangan yang harus dihadapi sedemikian berat? Dan PR bagi kita adalah untuk KEMBALI KEPADA KELUARGA, yakni menjadikan keluarga sebagai pondasi yang kokoh untuk pendidikan dan penjagaan setiap anggota keluarga terutama anak.
Ketahanan keluarga menjadi hal fundamental untuk membangun masyarakat yang  kokoh dan akan meluas menjadi sebuah negara yang memiliki bargaining position tinggi di hadapan negara lain. Ketahanan keluarga juga yang akan berfungsi ‘memeluk’ abak-anak dari bahaya yang mengancam di luaran.
Meskipun di balik kata hak Asasi manusia (HAM) banyak perilaku menyimpang yang kemudian mendapatkan tempat, kita tidak bisa menutup mata atas berbagai dampak buruknya. Jika seseorang telah terkena penyakit HIV/Aids misalnya atau penyakit menular seksual lainnya, siapakah yang akan menemaninya melewati hari-hari berat jika bukan dirinya sendiri dan keluarga?
Saya pun teringat dengan sebuah hadits, yang juga pernah dibahas dalam pertemuan dan sharing bersama salah satu tokoh parenting terkenal di Indonesia.
Perintahkan anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan di antara mereka tempat tidurnya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh An Nawawi dalam Riyadhus Shalihin dan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Dari sini jelas bahwa sejak kecil setelah orangtua menjelaskan tentang identitas diri laki-laki/perempuan kepada anaknya, juga harus memberikan pengertian tentang hijab. Salah satunya dengan memisahkan tidur anak laki-laki dan perempuan. Pun sesama anak laki-laki/perempuan tidak tidur dalam satu selimut. Siapa menjamin jika kulit-kulit mereka bergesekan setiap hari dan akhirnya naluri-nya berubah menyukai sesama saudaranya dengan rasa yang berbeda? Na’udzubillah..
Selain keluarga, penting bagi kita adalah menjaga tetangga kita. Namun sayangnya masyarakat sekarang cenderung abai dan segan ketika harus mengingatkan tetangga atau perhatian terhadap mereka. Seringkali yang muncul adalah dibilang terlalu ikut campur atau terlalu kepo dengan urusan tetangga.
Seperti saya, yang seringkali masih merasa segan untuk menegur perlahan anak-anak tetangga yang bermain di luar hanya dengan mengenakan pakaian dalam. Padahal tetangga tempat anak-anak kita bermain dengan anak mereka juga penting untuk bersama-sama mendidik anak. Di rumah diajarkan A bisa menjadi B,C, dan seterusnya jika tetangganya seperti itu.
Dan kita adalah tetangga bagi tetangga kita, maka menjadi individu dan keluarga yang saling menjaga adalah tanggung jawab kita. Tanggung jawab untuk menyelamatkan generasi dari bahaya perilaku menyimpang.
Allahua’lam bish shawab,
Semoga bermanfaat
Tulisan ini diikutkan dalam program #PostinganTematik Blogger MuslimahIndonesia.
#Postem
#PostinganTematik

#BloggerMuslimah

13 comments:

  1. Kelemahan kita seringkali segan untuk saling menasehati dalam kebenaran ya, Mbak Arin. Saya juga sama. Masih ada ewuh kalau menegur teman/tetangga.

    ReplyDelete
  2. Iya nih, kadang kalau menasehati anak tetangga malah disuruh jangan ikut campur, padahal kita kan niatnya baik.

    ReplyDelete
  3. Sebagai tetangga yang baik emang harus saling mengingatkan yaa, apalagi sama-sama punya anak.

    ReplyDelete
  4. sedih banget itu sampe ga ada yg mau ngurus jenazahnya :( bener banget harus ada edukasi yang di mulai dari keluarga

    ReplyDelete
  5. Ngomongin anak tetangga yang sering pakai celdam aja saat main. Suami saya pura-pura sok galak bilang kalau mau maen ke rumah harus pake baju lengkap.jadinya anak-anak terbiasa gitu juga hehehe

    ReplyDelete
  6. Ah, iya. Segan menegur. Itu problem akuh...hihihi

    ReplyDelete
  7. sedih, apalagi saat ini lagi maraknya kasus lgbt :(

    ReplyDelete
  8. Aku ada teh tetangga yang jarang banget pakein celana ke anaknya. Katanya anaknya enggak mau pake celana, padahal udh mau tiga tahun, maen kemana mana atuh enggak pake celana. Khawatir aja liatnya. Sediih. Takutnya ada yang berbuat tidak tidak, naudzubillah

    ReplyDelete
  9. Serba salah memang kalau punya tetangga kayak gini. Merawat penderita aids saya yakin sangat berat, disatu sisi bisa dimengerti, disisi lain kasihan juga penderitanya terutama jika dia tertular karena perilaku suaminya.
    Tapi jika penderitanya seorang gay, jujur saya nggak yakin apaskah akan punya rasa kasihan atau tidak

    ReplyDelete
  10. Aih, biasanya aku memanfaatkan anak2 sih untuk menegur temannya. Kan sesama anak biasanya ga baper.
    Ortunya pun mo kesel jg susah. Masa mo ngelawan anak2 hehehe..

    ReplyDelete
  11. Tetap saja akan ada korban....duh moga-moga pada segera bertobat

    ReplyDelete
  12. Nah kadang urusan negur menegur ini Mbak yang masih jadi peer, :(

    ReplyDelete
  13. Makin sedih kalau ada yang masih ngedukung perilaku-perilaku menyimpang ini 😭😭😭 padahal mah banyak bgt mudharat nya kan

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam