Tuesday, 28 November 2017

Tentang Mangga Alpukat yang Ngehits di Media Sosial

Assalamu'alaikum, Temans.
Masih musim mangga-kah di tempat kalian? 

Di tempat saya mulai berkurang nih, alhamdulillah sempat mencicipi mangga setelah melahirkan bulan kemarin. Waktu hamil mah bersliweran gambar Mango sticky rice alias ketan mangga dan Mango Thai smootie tapi saya nggak bisa menikmati karena harus diet gula dan karbohidrat, termasuk buah yang mengandung banyak gula dan karbohidrat.

Baru-baru ini ramai dibicarakan seputar Mangga alpukat. Namanya aneh, jadi ini mangga atau alpukat? Alpukat atau mangga? Hehe. 

Pertama kali saya melihatnya dari postingan seorang teman, Mbak Diah yang mengunggah video cara makan mangga alpukat di facebook. 

Mangga Klonal 21 (Mangga Alpukat)
Sumber gambar: web litbang kementrian pertanian

Besoknya makin ramai orang membicarakan perihal mangga alpukat. Saya makin penasaran, tapi dengar-dengar harganya mahal maka saya pun urung hunting buah yang satu itu. Apalagi saya sedang rempong dengan bayi umur sebulan.

Namun tiba-tiba ramai orang membicarakan bahwa mangga alpukat adalah mangga biasa yang dijual dengan harga mahal. Mangga alpukat hanyalah trik marketing dan akal-akalan penjual buah supaya mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

Ooh... Begitu tho..?! Kata saya menanggapi berbagai status dan gambar yang berseliweran tentang 'cara makan mangga alpukat'. 

Namun saya perhatikan lagi, rupanya di kulit mangga alpukat yang diunggah oleh teman saya ada stiker khas buah kualitas unggul. Coba deh cek di supermarket, buah-buah yang diberi stiker/label di setiap bijinya pasti buah kualitas tinggi kan? Baik buah impor maupun buah lokal.

Saya makin penasaran dan akhirnya googling info seputar mangga clonal/klonal 21, si mangga alpukat yang sedang jadi trending topik itu.

Ternyata, dari pencarian google muncul berita sejak tahun 2016 bahwa mangga alpukat ini merupakan varietas mangga unggulan dari Kabupaten Pasuruan. Pasuruan ingin membranding kabupatennya sebagai penghasil mangga, dan lebih spesifik lagi penghasil mangga alpukat/klonal 21.

Dikenal juga dengan nama mangga Gadung klonal 21, sejak awal dikenalkan pun cara makannya yang khas dan unik. Yaitu dengan membelah tepat di bagian tengah mangga, memutarnya sedikit lalu membukanya. Saking empuknya buah mangga ini, cukup disendok dari kulitnya, tak perlu dikupas dan diiris.

Berdasarkan berita yang dilansir oleh detiknews pada Maret 2016, Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan Doddy Setiawan mengatakan bahwa mangga klonal 21 sudah memperoleh Sertifikat Prima III, yakni aman pangan. 

"Kalau sudah dapat sertifikat ini, setiap buahnya sudah bisa diberi label berupa stiker. Mangga Klonal 21 juga bisa dijual di pasaran internasional," ujar beliau.

Beliau juga mengatakan bahwa untuk bisa dikenal sebagai "Mangga Pasuruan" di pasaran luar daerah, klonal 21 membutuhkan proses branding sejak 2007, meski sudah digagas sejak 1994.

Nahnah! Ternyata penelitiannya sejak tahun 1994! Branding sejak tahun 2007 dan baru booming seantero Indonesia di akhir tahun 2017. 

Jadi ikut sedih dengan pihak yang mengatakan mangga alpukat ini sekadar akal-akalan penjual saja. 

Patut dikasih standing aplause dan apresiasi yang tinggi nih untuk para peneliti yang konsisten hingga berhasil menciptakan varietas unggul mangga ini. Apalagi jika pemasarannya pun hingga kancah internasional.

Mangga Alpukat yang dibeli secara online
Sumber foto: Mba Diah A

Harganya memang mahal dong?
Kepo, saya pun tanya ke teman saya lagi terkait harganya. Kata beliau, satu dus mangga alpukat dibanderol 190 ribu diluar ongkos kirim. 1 dus berisi 12 mangga alpukat ukuran besar. Cara mengemasnya pun dengan diberi sekat di setiap biji buah mangganya sehingga relatif aman saat proses pengiriman. 

"Rasanya juga beda dengan mangga Arumanis, Rin. Lebih manis dan lebih lembut," tutur Mba Diah.

Hm.. Jadi untuk kualitas mangga unggulan, wajar jika harga yang ditetapkan pun lebih mahal daripada mangga yang biasa beredar di masyarakat. Kalau tidak salah mangga gadung memang harganya mahal kan ya? Saya mah nggak begitu paham jenis-jenis buah mangga, jadi nggak bisa membedakan.

Ngehits-nya mangga alpukat di seantero jagad maya bisa menjadi peluang bagi (utamanya) warga Pasuruan untuk makin melejitkan buah khas daerahnya tersebut. Bisa dengan menawarkan berbagai paket wisata menikmati buah mangga, atau paket wisata edukasi seputar pohon dan buah mangga sehingga bisa menarik makin banyak wisatawan. Peluang berjualan mangga alpukat secara online pun makin terbuka lebar. Tentu dengan cara begini petani mangga juga akan sangat diuntungkan.

Semoga tidak hanya mangga alpukat namun juga hasil pertanian lokal lainnya makin dikenal dan diminati masyarakat. 

Kapan lagi petani Indonesia akan berjaya jika tidak disokong oleh berbagai pihak? 

Semoga bermanfaat,
Salam,



4 comments:

  1. Mudah-mudahan buah lokal Indonesia bisa seperti Thailand yang juara soal buah itu. Dan masyarakat kita lebih menghargai perkembangan teknologi pertanian. Berharap banget...

    Aku sendiri belum pernah makan mangga alpukat ini, mb. Kayaknya enak. Penasarannya baru 2 hari ini

    ReplyDelete
  2. Baca tentang berita ini,tapi pas beli Mangga kesukaan di rumah enggak pernah coba cara mengupas mangga yang seperti mangga alpukat tersebut.

    ReplyDelete
  3. Semoga teknologi pertanian di Indonesia semakin maju

    ReplyDelete
  4. Iya, pernah baca juga kalo mangga alpukat itu mangga biasa. Duh kasihan aja jd menjatuhkan pandangan org tentang mangga alpukat. Udah gitu yang komen rata2 blm pernah nyobain.

    Semoga teknologi pertanian seperti ini bisa semakin membuat para petani berjaya. Aamiin

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam