Sunday, 29 October 2017

Mau KolPri Pakaian? Pikir Lagi Yuk!


"Yah, ini bagus deh. Warnanya cantik banget. Pas lagi di aku, nggak kegedean ga ngepas badan jadi ga membentuk tubuh"
"Hm.. Terus?" jawabnya pura-pura nggak paham apa maksudku.
"Aku ambil aja ya? Aku pakai sendiri," jawabku sambil nyengir manja *eh
"Memangnya bajunya sudah nggak ada yang bisa dipakai?"
"Ya masih...." jawabku alot
"Trus kenapa mau beli lagi?"
"Ini kan limited edition, banyak banget yang nyari motif ini tapi barangnya cuma sedikit. Trus masa kemana-mana pakai baju itu-itu terus?"
"Ada gitu aturan tiap mau pergi harus pakai baju yang beda? Lagian, baju sama jilbab kan buat menutup aurat, ngapain sih banyak-banyak? Itu lemari hampir nggak muat lho"
"Yaelah lemari kecil juga.." 

Bukan untuk menyindir atau menjudge siapapun yang suka belanja, ini hanya catatan kecil saya, untuk pengingat diri. Prioritas dan pertimbangan tiap orang berbeda kan?

Fragmen seperti di atas hampir terjadi setiap kali gamis &jilbab kulakan untuk jualan sampai di rumah. Saat saya bongkar-bongkar rasanya semua ingin diambil untuk dipakai sendiri.

Dalam posisi saya sebagai penjual, tentu saja saya happy selangit kalau ada pelanggan yang sering repeat order. Siapa yang nggak mau dagangannya laris? 😅

Tapi sebagai konsumen, tak jarang akhirnya saya tergoda untuk 'menambah koleksi' gamis, ngekepin gamis jualan untuk masuk lemari.

Memang sih, lemari saya kecil. Sebenarnya lemari standar hanya saja harus berbarengan dengan tempat nyimpan macam-macam jadinya kecil deh! 😂😂

Tapi lemari itu memang sudah cukup penuh dengan gamis-gamis dan jilbab. Sayangnya lagi sebagian jarang dipakai. Sebagian sayang dikeluarkan karena pemberian orang, sebagian lagi gamis lawas yang sudah tak pantas dihibahkan, dan sebagian lainnya hasil kolpri (koleksi pribadi) dari barang jualan. 

That's the point! Sekadar 'menambah koleksi'. Hiks. Kalau sudah begini, perkataan suami yang terngiang-ngiang..

"Hati-hati ya, apa-apa yang kita gunakan di dunia ini akan dimintai pertanggung jawabannya. Termasuk pakaian yang kita punya. Jangan sampai menambah berat timbangan keburukan kelak.." 
😭😭😭 

Iya padahal kalau gamis kolprian itu ya bayarnya juga pake duit (masa pakai daun). Tambahan lagi duit laba pun belum tentu cukup untuk menebus sehelai gamis. 

Paling tidak butuh laku 10-15 gamis untuk bisa dapat 1 gamis gratis. Nggak percaya ya nggak apa-apa, yang tahu rasanya cuma para penjual di online shop yang statusnya masih reseller/dropshipper seperti saya. Hehe. 
Jadinya tekor lagi deh kalau nambah koleksi gamis. 

Besok-besok kalau mau beli gamis harus 1 in 1 out. Jual atau dikasihkan orang lain. 
Lebih amannya, seperti suami yang bertahun-tahun tidak mau beli baju baru kalau baju yang lama belum rusak.
Cukupkan dan syukuri. 

Bagaimana jika dicap 'pakai baju itu-itu terus?' Hm... Apa salahnya? 

Dulu saya termasuk orang yang sangat peduli dengan hal ini. Malu jika ternyata dalam setiap acara, setiap foto bersama teman-teman saya terlihat memakai pakaian yang sama...

Namun saya mendapat 'teguran' lewat seorang ustadzah yang bersahaja. Bukan beliau menegur saya secara langsung, tapi dalam salah satu tausyahnya beliau bercerita bahwa pakaian kebesarannya adalah hitam dan putih, atau sesekali biru dongker. 

Beliau memilih warna tersebut karena tidak mau diributkan dengan urusan mematut diri terlalu lama di depan kaca dan bingung memutuskan mengenakan pakaian yang mana hari ini.

Otomatis karena semua gamis beliau berwarna hitam dan jilbab putih, mau pilih motif/model yang manapun terlihat selalu sama.

"Jangan sampai waktu kita habis hanya untuk urusan berbusana. Simpel saja. Ada banyak urusan dakwah menanti, ada banyak kegiatan dan persoalan yang harus kita hadapi. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya." kurang lebih begitulah yang beliau sampaikan. 

Maka sekarang saya tak lagi risau jika ada bisik-bisik tentang 'baju itu-itu saja' atau 'tak punya baju' dll. Anggap saja dengan itu menjadi personal branding, bahwa si A adalah orang yang seperti ini, pakaiannya selalu begini, dll. 

Allahua'lam bishshawab, 
Semoga bermanfaat, 
Salam, 

4 comments:

  1. Tamparan keras untukku, Mbak. :') Jadi malu. Padahal masih banyak hal berguna lain, ketimbang menghabiskan waktu di depan cermin.

    ReplyDelete
  2. Subhanallah, Mbak. Betul sekali. :) Sampai speechless

    ReplyDelete
  3. Hiks, aku tertohok. Yah meski gak terlalu sering beli baju. Namanya perempuan ya. Teteup aja, kalau liat baju bagus pengen punya. Tapi langsung sadar begitu inget biaya sekolah 2 anak plus kuliah bapaknya. Plak... Eh, Dila gak usah tergiur

    ReplyDelete
  4. Saya juga suka begini..makasih diingatkan

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam