Tuesday, 24 October 2017

Menjaga Kewarasan Diri-sendiri

Menjaga Kewarasan DIri Sendiri, Menjaga Kewarasan Ibu Rumah Tangga


Saat masih berstatus mahasiswa, selalu mendapat pertanyaan "Kapan lulus?"
Begitu sudah lulus, muncul pertanyaan baru: "Kapan kerja?"
Setelah memasuki dunia kerja, giliran ditanya: "Kapan nikah?"
Setelah mendapat pendamping dan memulai bahtera rumah tangga, menuai pertanyaan baru: "Kapan punya anak?"
Setelah memiliki momongan dan sedang beradaptasi dengan perubahan hidup yang sangat drastis, juga belajar menjelajahi proses tumbuh kembang untuk pertama kalinya, orang-orang di sekitar mulai rusuh :"Kapan punya adik? Ayo nggak usah ditunda-tunda! Si kakak sudah besar, saatnya dibikini adik." Hello!!  Memangnya siapa sih yang berhak ngasih anak? Situ?!
Lalu jenis pertanyaan akan beralih pada "Ko mau sih masih ngontrak terus?!" atau "Hari gini masih tinggal dengan mertua?! Apa kata dunia?!"

Hff...!  Tak akan ada habisnya jika kita hidup menurutkan apa kata orang, apa pendapat orang terhadap kita, dll. 
Sebagai seorang ibu rumah tangga yang masih belajar, tentu banyak jomplang sana-sini, banyak titik noda, banyak... Ah! Banyak belum benarnya.
Memiliki anak yang super aktif (baca: kelebihan energi) juga menjadi tantangan tersendiri. Apalagi jika sedang bersama anak-anak tetangga lalu muncul ungkapan tak memgenakkan. Ungkapan yang lebih kepada judging dan membedakan anak saya dengan anaknya. 
Fyuh, rasanya ingin meledak saja. Bagaimana mungkin anak dengan selisih umur bisa disamaratakan? Jelas berbeda, itu pasti!
Sebenarnya saya tak ingin mengambil hati apa kata orang tentang saya, tentang anak saya, tentang suami saya, juga tentang keluarga saya. 
Namun ada kalanya saat hati terasa sempit, sumbu kompor menjadi pendek dan kepala begitu mudahnya memunculkan tanduk berasap. 
Astaghfirullah...  Aaarrg! Rasanya ingin tenggelam ke dasar bumi! ((emang bisa?!)
Jika dulu membaca Alquran, membaca buku, dll adalah aktivitas yang sangat mudah dilakukan, maka sekarang semuanya menjadi sangat berat. Padahal itulah obat stress paling mujarab. 
Sekarang, baru saja membuka halaman Alqur'an atau buku, sikecil merengek, minta makan, pipis, pup, atau lainnya. Tak jarang buku yang sedang dipegang pun menjadi incaran cari perhatian dari bundanya. 
Baiklah, masa-masa ini memang masa emas baginya. Masa yang akan kurindukan kelak jika ia beranjak besar. 
Tapi, mengapa begitu sulit untuk melapangkan hati dan memanjangkan urat leher? 
Sabar itu berat, Jendral! 
Bukan tak bersyukur dengan karunia anak yang aktif, hanya sesekali saya membutuhkan ruang untuk sendiri, untuk tidak mendengar komentar orang, untuk menikmati banyak hal.
Tapi, namanya orang selalu bebeda karakter, seringkali yang ditemui justru yang tak diinginkan.
Coba bayangkan jika ada yang datang ke rumah tapi niatnya curhat? Eits!  Tak masalah jika sekadar curhat dan kami cukup jadi pendengar setianya. Tapi ini curhat sekaligus ngomongin orang! 
Aaarrggh!!  Rasanya makin bikin kepala senut-senut. 
Kalau sudah begitu, maka yang sedang berjuang mencari nafkah di sana menjadi sasarannya. 
"Aku stress, Yah!" 
"Baru jam segini sudah mutek kepala!" 
Dan ungkapan senada lainnya, yang biasanya dibalas dengan diawali emoticon tertawa terbahak-bahak. Lalu "Katanya mau punya anak banyak, baru 1 ko sudah ngambekan, sudah gampang stress?!"
Ahahahah!  Jika kata-kata ini keluar dari mulut tetangga, di kepala saya sudah muncul tanduk lagi. Tapi tidak jika dia yang bicara, karena dia tahu bagaimana berlebihnya energi si kecil.
Ah ya, pernah saya sedang sangat tidak mood, sikecil banyak tingkah sebelum beragkat sekolah, sekonyong-konyong ada yang nyelutuk "Sabar!  Anak baru satu aja sudah suka marah-marah! Kalau punya anak lagi gimana?! Duh!  Pengin tak kepruk, Kowe! Mentang-mentang sudah punya anak dua jadi bisa ngomong begitu.
Apalagi dia itu yang suka membandingkan anaknya dengan anak saya.
Akhirnya saya mencoba pura-pura cuek!  Ya, ini cara saya agar tetap waras sepanjag hari. Pura-pura cuek dengan bisikan-bisikan orang, dan lama-lama menjadi cuek beneran. Tak lagi menggubris mereka. 
Apalagi caranya agar waras terus-menerus? 
Bertemu dengan banyak orang yang memiliki hobi yang sama. Makanya saya rajin mengikuti kegiatan pekanan, untuk mendapatkan semangat. Recharging soul setelah sepekan bergumul dengan rutinitas yang itu-itu saja.
Di lingkaran itu selalu mendapat pencerahan dari murabbiyah, juga dari teman-teman dengan khas nya masing-masing. I luph u pull, saudaraku! 
Jika memungkinkan untuk datang ke acara blogger maka saya pun akan mengusakahan datang. Bisa bertemu, ngobrol bareng, ketawa-ketiwi sepanjang acara bisa membuat kadar kewarasan saya meningkat. Aih!  Thanks berat buat teman-teman blogger tercinta. 
Menjaga kewarasan, juga dengan tidak menggubris ungkapan kekecewaan kakek/nenek terhadap cucunya, meski tak diungkaplan secara langsung.
Menjaga kewarasan dengan tidur siang, dengan menulis, dengan membaca, dan paling penting sejenak mengurangi aktivitas buka-tutup media sosial.
Menjaga kewarasan dengan membiarkan kamar berantakan sejanak, cucian terpending sementara, dan sebagainya.
Saya, ibu rumah tangga yang pernah ingin bekerja di luar. 
Saat kadar kewarasan menurun, artinya saya butuh sandaran dan butuh lebih banyak mengingatNya. 
Bagaimana dengan kamu, Temans? 








6 comments:

  1. Perlu ya mbak menjaga kewarasan diri dan lagi pula harus senantiasa mendekatkan diri pada-Nya.

    ReplyDelete
  2. Nice infonya mbak, perlu banget mewaraskan diri sendiri agar bisa berkreasi

    ReplyDelete
  3. Kalau ngikuti kata orang, nggak ada benarnya. :'D Aku juga pernah ngerasa sangat down karena omongan orang, Tapi, mending bangkit lagi biar bisa berkarya lagi.

    ReplyDelete
  4. Menjaga kewarasan diri memang sangat penting. Caranya, terus mendekatkan diri pada Allah.

    ReplyDelete
  5. huhu, aku kangen melingkar mbak. tp susah banget sekarang cari waktu yg pas :(

    ReplyDelete
  6. Setuju mewaraskan diri sendiri itu perlu banget

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam