Tuesday, 31 October 2017

Kematian adalah Sebaik-baik Nasihat


Pagi ini, saya mendapati kabar duka. Kabar kematian nenek di Wonosobo (sebenarnya adiknya nenek saya, tapi sudah seperti nenek ‘asli’ karena rumahnya berdampingan dengan rumah kami). Beliau telah lama menderita kanker usus. Baru kemarin lusa mendapat kabar beliau masuk rumah sakit lagi dengan kondisi yang lebih parah dan menanti rujukan ke RS Karyadi/Sardjito. Pagi tadi mendapat kabar lagi sakitnya semakin parah dan menjurus gejara stroke, lalu tak ada satu jam berikutnya, Mamak mengirim SMS simbah telah berpulang.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un... semoga husnul khatimah, Mbah... maaf karena cucumu ini belum bisa takziyah ke Wonosobo.
Beberapa saat yang lalu, kudengar banyak berita duka yang membuat tertegun seolah tak percaya. Pertama, seorang adik kelas meninggal setelah menderita  maag akut. Lalu ada kabar duka dari adik kelas lainnya yang juga menjadi pembina di kos adik kandungku, meninggal karena komplikasi dan sakit TBC stadium akhir. Sakitnya itu telah menjalar hingga otaknya, ia pun koma selama beberapa hari, begitu berita yang kudengar pagi sebelum ada berita ia meninggal sore harinya. Keduanya belum menikah bahkan baru mendapat gelar sarjana beberapa bulan sebelumnya.

Sepekan setelah itu, seorang sahabat membawa kabar duka dari sesama teman kuliah yang ditinggal mati suaminya. Ia juga bercerita teman kami itu belum lama menikah dan belum dikaruniai keturunan.
Lalu kabar seorang teman kuliah yang kehilangan bayinya saat masih dalam kandungan; Seorang dosen berpulang setelah malam sebelumnya ada kabar beliau masuk rumah sakit karena penyakit tiroid. Terakhir, seorang kawan lama terbaring koma di ICU setelah melahirkan bayi laki-lakinya. Malang tak dapat ditolak, bayinya meninggal sementara ia masih berjuang menunggu keajaiban dari Allah.
Yang bisa kulakukan hanya mendo’akan mereka semoga husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah, diampuni dosa-dosanya dan keluarga yang ditinggalkan pun tabah dan sabar atas pengingat dari Allah itu. Sungguh betapa beratnya meengikhlaskan kepergian orang tercinta yang telah sekian lama hidup bersama, atau sikecil dalam kandungan yang telah lama dinanti.
Kabar kematian yang berturu-turut itu mamaksaku untuk merenungi diri sendiri. Sanggupkah jika saya berada dalam posisi meraka?! Ah, tak terbayangkan rasanya. Meskipun berkali-kali diingatkan dalam ayat-ayatNya bahwa setiap orang akan menemui ajalnya, hanya soal waktu dan tempat tak ada yang bisa menerka.
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.  Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali 'Imran : 185) .
Dengan berbagai peristiwa kematian ini, saya tersadarkan kembali bahwa maut tak kenal usia. Ada bayi yang bahkan belum dilahirkan sudah meninggal, ada pula lansia yang masih segar bugar. Ada pula seseorang yang tengah mengendarai sepeda motor tiba-tiba berhenti dan dia meninggal seketika. Tak ada yang menjamin kita masih bisa bernafas bahkan menit berikutnya.
Jika begitu, masihkah berpayah-payah hanya untuk mengejar dunia?! Tanpa memikirkan kehidupan sesudah mati?! Astaghfirullahaladzim....
Pun menjelang persalinan kedua saya Kamis lusa, sejak memasuki kehamilan trimester 3 rasanya bayang-bayang proses melahirkan selalu bersanding dengan kematian. Saya bahkan telah berpesan kepada suami untuk mengurus beberapa hal jika ternyata Allah mengambil saya terlebih dahulu.
Alhamdulillah, Allah masih memberi saya napas hingga saat ini. Semoga menjadi sarana untuk terus memperbaiki diri dan menyiapkan untuk kehidupan selanjutnya yang kekal abadi. Kata orang Jawa, urip iku mung mampir ngombe (hidup hanya seperti bertandang untuk minum air saja). hanya sementara, hanya sebentar.
Semoga Allah menjadikan kita makhluk yang beruntung di dunia dan di akhirat. Mahkluk yang saat di dunia memberi manfaat sebanyak-banyaknya dan kematiannya dirindukan oleh para penghuni langit.
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
(QS. Ali Imron ayat 169 – 170)

Allahua’lam bishshawab,

Semoga bermanfaat,

salam, 




3 comments:

  1. Betul Mbaaaa...kalau ingat kematian, duh....

    ReplyDelete
  2. Innalillahiwainnailaihirojiun .... Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya. :( Aamiiin ....

    ReplyDelete
  3. Kematian nggak nunggu manusia untuk siap. Kalau udah saatnya, mau gak mau, lagi sakit atau sehat, tua atau muda, dia juga bakal datang.

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam