Monday, 2 October 2017

Jasmerah dan Kacang Lupa Kulitnya



Bismillah, mengawali postingan pertama #ODOPBloggerMuslimahOkt17 dengan tema Jangan Melupakan Sejarah. Tema yang berat menurut saya, meski bahasan 'sejarah' itu cakupannya sangat luas. Mau membahas sejarah nasional negara kita, sejarah islam, sejarah batik yang diperingati hari ini (tanggal 2 Oktober), sejarah sang mantan *eh, buku sejarah, tanggal bersejarah, situs bersejarah, baju bersejarah, eh ko malah ngelantur.

Setiap orang pasti pernah mendengar ungkapan populer 'jangan sekali-kali meninggalkan sejarah' atau 'jasmerah' yang diucapkan oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno.
Tapi kali ini saya justru lebih tertarik untuk melihat dari sisi yang lain, sebuah peribahasa Indonesia yang juga tak kalah populer, 'kacang lupa kulitnya'.

Kenapa kacang bisa lupa kulitnya? Yaiyalah, setelah isi kacang dimakan kulit dibuang dan dilupakan, masa mau dimakan juga? Atau mungkin masih bisa dimanfaatkan untuk dijadikan kerajinan tangan atau didaur ulang bagi mereka yang memiliki jiwa kreatif.
Menelisik kembali dari mana kita berasal
Mari sejenak kita memikirkan, kita yang sudah menjadi seorang manusia sesempurna ini, dengan dibekali perengkat untuk memahami apa-apa yang ada di dunia masihkah merasa sombong dengan apa yang dimiliki? Yang sejatinya hanyalah titipan dari Allah SWT.
Sangat tidak etis ketika seseorang merasa sombong terlebih di hadapan Allah, karena awalnya semua manusia berawal dari hal yang sama, hanya garis takdir-Nya lah yang membuat seseorang berbeda. Dan lagi, paling mulia di hadapanNya adalah yang bertaqwa.
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.” (Q.S Al-Hajj: 5)
Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman:
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S AL-Mu’minun: 4)
Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik, dengan diberi kemuliaan akal yang membedakannya dari makhluk Allah yang lain. Tentu, jika mempelajari bagaimana proses penciptaan itu tak ada yang menghalangi hati untuk tergetar dan berucap syukur dengan segala kesempurnaan prosesnya.
Bagaimana rahim disiapkan untuk menerima ‘tamu’ di dalamnya, sperma yang berjuang untuk mencapai dan membuahi telur, lalu sel-sel yang menyiapkan diri, hormon yang mengikuti setiap prosesnya, dan segala macam kejadian yang berlangsung dalam rahim seorang ibu. Tak ada yang lepas dari pengawasanNya dan kalkulasi detail yang sangat presisi.
Itulah ‘sejarah’ kita yang sesungguhnya, yang semoga tidak menjadikan kita terlena dan terlupa jika ‘telah menjadi orang’ saat ini atau kelak.
Dan makhluk yang berjasa dalam sejarah itu tak lain tak bukan adalah ibu. Ibu yang 9 bulan menjaga titipan-Nya dalam rahim, berjuang saat masanya titipan itu melihat dunia, yang mendidik hingga dewasa. Entah ia ibu yang bekerja atau ibu rumah tangga, seorang ibu yang memberi ASI hingga 2 tahun atau yang diberi ujian ASI-nya kurang lancar, ibu yang berpendidikan tinggi maupun ibu yang yak mampu mencicipi bangku sekolah. Semua sama, dengan panggilan dan jiwa ibu dalam dirinya.
Maka jangan sampai kita melupakan semuanya, sejarah dan perjuangan yang telah mereka lewati.
Ah ya, saya pernah merasa dikecewakan oleh orangtua karena kekecewaan mereka pada saya. Dan saat itu rasanya ingin membuat pernyataan bahwa jika ada orangtua merasa kecewa pada anaknya, maka jangan salahkan jika ada anak yang kecewa pada mereka. Nyatanya, harusnya kita tak usah kecewa pada manusia karena tak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milikNya. Saat merasa dikecewakan, tugasnya hanyalah untuk introspeksi dan menelisik kembali ke dalam diri, apa yang salah dengan saya.
Semoga, kita tak menjadi sebiji kacang yang lupa kulitnya, menjadi manusia yang sadar dari mana asalnya sehingga tak terbersit kesombongan di dalam diri.
Allahua’lam,
Semoga bermanfaat,
Salam,







Tulisan ini diikutkan dalam program One Day One Page (ODOP) BloggerMuslimah Indonesia Oktober 2017 

6 comments:

  1. Tulisan ini bikin hatiku berdesir. Betul sekali, Mbak. :) Jangan sampai kita menjadi kacang yang lupa kulitnya.

    ReplyDelete
  2. Aamiin .... :) Apa yang bisa disombongkan manusia? Toh, gelar akhir tetap sama.

    ReplyDelete
  3. aaamin, makasih banyak mbak, sudah diingatkan

    ReplyDelete
  4. Saat merasa dikecewakan, tugasnya hanyalah untuk introspeksi dan menelisik kembali ke dalam diri, apa yang salah dengan saya.

    ____
    Karena segala sesuatu yang baik atau yg buruk akan kembali pada kita juga ya, mba

    ReplyDelete
  5. Semoga, kita tak menjadi sebiji kacang yang lupa kulitnya, menjadi manusia yang sadar dari mana asalnya sehingga tak terbersit kesombongan di dalam diri. <<<---- Dalem banget nih :-)

    ReplyDelete
  6. Sejarah adalah alasan kenapa Kita Ada di Sini sekarang :)

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam