Thursday, 19 October 2017

Introspeksi: Cermin Bening untuk Mengoreksi Diri Sendiri



Cermin bening, introspeksi, muhasabah, urgensi muhasabah, pentingnya introspeksi diri

Assalamu'alaikum,
Hari ini masih ramai ya membahas pribumi, bikin suasana makin panas aja, padahal katanya matahari sudah banyak yang collaps harusnya nggak makin panas dong. Entahlah, mungkin yang hobi ngomongin itu adalah prilangit entah itu bidadari atau saudara kandungnya Mbak Kunti. Prihatin sih sebenarnya sama yang nggak berprikemanusiaan dan priketuhanan apa prikehewanan. Dan ini ngomongin apa sih? Dari pribumi sampai primata eh maksudnya priksamata supaya kalau melihat jadi lebih jelas. Apaan coba?!
Nahloh! Kalau emak lagi galau tuh gini, mau bahas apa malah jadinya ngomongin apa!  Jaka sembung, jek!  Eh mana Jaka-nya? 🙊
Sudahlah!  Malas ngomongin soal pribumi, prilangit, primars, privenus dan priplanet lainnya. Bukan skeptis tapi buat apa ditanggapin? Toh hanya bikin makin panas dan kacau saja.
Yuk ah, bahas tentang muhasabah aja. Kebetulan banget baru dapat pencerahan tentang hal itu.
Yup! Kita sebut dia muhasabah atau introspeksi.

Sudah sangat sering dengar ungkapan/peribahasa "Semut di seberang lautan tampak namun gajah di pelupuk mata tidak tampak" untuk menggambarkan seseorang yang punya hobi melihat dan ngorek-orek kesalahan orang lain tapi tidak mau menilai kesalahan diri-sendiri.
Yah, wajar sih ya. Namanya orang berdiri menghadapi banyak orang pasti yang pertama terlihat adalah orang-orang yang ada di hadapannya, bukan dirinya sendiri. Kecuali ia mau berkaca pada cermin yang bening, sangat bening.
Jika tidak bening, ia bisa saja mengaburkan noda-noda yang menempel pada tubuh.
Sahabat Umar Ibn Khattab berkata: "Hisablah diri kalian sebelum dihisap, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk yaumul akbar. Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan bagi orang yang menghisab dirinya di dunia."
Hmm.. Yang dibahas disini bukan ahli hisap-hisap nikotin itu ya..  Hehe kidding!
Katanya orang yang cerdas itu yang bisa memuhasabahi diri sendiri lho. Kita eh saya sudah cerdas apa belum ya?
Pentingnya kita menginstrospeksi diri juga karena kelak kita akan menghadap Allah sendiri-sendiri.
Allah berfirman: "Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari kiamat." (Q.S Maryam:95)
Satu lagi nih, dikatakan oleh Maimun Bin Mihran: "Seorang hamba tidak dikatakan bertaqwa hingga ia memghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya."
cara introspeksi atau muhasabah diri sendiri
Mencatat dan introspeksi diri sebelum tidur
Bagaimana cara kita memuhasabahi diri sendiri?
Cara paling efektif adalah dengan memperbanyak istighfar setiap saat, setiap hari.
Lalu sebelum tidur, sediakan waktu untuk merenungkan setiap hal, setiap kejadian sejak bangun tidur hingga bersiap tidur saat itu. Periksalah mana laku diri yang tidak sesuai dengan jalanNya, sikap mana yang melukai orang lain, perkataan apa yang sia-sia atau menyakiti sesama, perbuatan apa yang tidak sesuai tuntunanNya, kebaikan apa yang telah dilakukan, dan sebagainya.
Apa-apa yang salah hendaknya tak diulangi esok dan seterusnya, dan apa yang baik pertahankan dan diperbaiki agar terus memberi manfaat.
Begitu setiap hari hingga setiap saat dalam hidupnya terisi proses perbaikan dan perbaikan.
Tak ada salahnya menghitung-hitung kebaikan yang telah dilakukan jika tujuannya bukan untuk melihat berapa banyak pahala yang akan diterima. Namanya pahala kan hak prerogatif Allah, mau dikasih atau nggak kita tak pernah tahu. Tujuan menghitung kebaikan adalah agar esok hari bisa berbuat lebih banyak lagi dan lebih, seterusnya.
Apakah saya sudah melaksanakan ini secara rutin? Hiks. Belum. Seringkali lupa, atau bahkan tertidur belum membaca doa cry semoga menjadi pengingat untuk diri saya sendiri untuk senantiasa bermuhasabah.
Apa saja sih yang perlu dimuhasabahi?
Ada beberapa aspek, yaitu:
1. Aspek Ibadah
Dalam Qur’an surat Adz-dzariyat ayat 56 Allah berfirman:
"Dan Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaNya."
Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah. Hal ini bukan berarti Allah membutuhkan penyembah, tetapi kita lah sebagai manusia yang membutuhkanNya.
Bagaimana ibadah kita?  Apakah sudah sesuai dengan tuntunan? Sudah mencukupi syarat wajib dan sunnahnya? Sudah sah? Dan sebagainya perlu kita teliti agar tidak melenceng.
Selain ibadah wajib/sunnah yang berupa ritual keagamaan (baca:shalat, puasa, dzikir dll) hendaknya kita meniatkan setiap hal untuk beribadah kepada Allah, termasuk tidur. 

Aspek Pekerjaan dan Perolehan Rizki dari sumber halal atau tidak adalah hal penting untuk diintrospeksi

2. Aspek Pekerjaan dan Perolehan Rizki
Setiap (khususnya) kepala keluarga tentu ingin memberikan nafkah terbaik untuk orang-orang tercinta. Utamanya, nafkah yang diberikan haruslah halal dan thayyib karena akan mengalir ke dalam darah anak keturunannya.
Untuk itu perlu diperhatikan benar-benar sumber penghasilannya, bagaimana cara memerolehnya, mengandung harta haram atau tidak, dll.
Tentu tidak ingin orang terkasih terseret dosa yang kita perbuat, bukan?
Jika yang halal itu hanya sedikit, tentu lebih baik karena terdapat berkah di dalamnya dibanding yang banyak tapi haram karena akan menjadi sumber siksa neraka.
Jika rizkinya halal, berkah dan melimpah tentu jauh lebih baik karena akan menjadi jalan untuknya bisa berbuat lebih banyak bagi sesama.
3. Aspek Kehidupan Sosial Keislaman
Manusia adalah makhluk sosial yang mana sangat membutuhkan interaksi dengan orang lain.
Kewajibannya tidak hanya terhadap keluarga tetapi juga untuk tetangga dan masyarakat sekitarnya. Seperti halnya saat mendidik anak, maka anak tetangga pun perlu dididik agar tidak memberi pengaruh buruk.
4. Aspek Dakwah
Bagi seorang muslim, sejatinya dia adalah seorang da'i sebelum segala sesuatu. Di pundaknya terpikul beban untuk amar ma'ruf nahi munkar. Untuk itu, aspek dakwah juga harus dimuhasabahi.
Dakwah tak melulu dimaknai sebagai aktivitas pengajian/taklim yang melibatkan banyak orang. Mendidik anak, keluarga, dan tetangga sekitar pun merupakan bagian dari dakwah.
Dengan bermuhasabah artinya kita memiliki planning besar untuk menggapai Ridha Allah. Dengan memiliki visi besar, dilakukan dengan perencanaan, strategi pelaksanaan dan evaluasi.
Kita pun sering mendengar bahwa kunci sukses adalah evaluasi dan bertindak kembali setelah proses evaluasi.
Evaluasi/muhasabah/introspeksi inilah yang akan membawa kita menuju kesuksesan dunia akhirat. InsyaAllah.
Semoga bermanfaat,
Salam,





Sumber bacaan: Buku Tarbiyah Dzatiyah

2 comments:

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam