Wednesday, 11 October 2017

Aktivitas ini Bisa Mencegah Kamu Terserang Post Power Syndrome di Masa Tua


Post power syndrome adalah gejala yang biasanya terjadi pasa orang tua yang menjelang atau telah memasuki masa pensiun. Seseorang mengalami gejala ini saat merasa kehilangan ‘sesuatu’ dari masa lalunya. Umumnya tentang kejayaannya, keberhasilan, kecantikan, ketampanan, dll yang menjadi kebanggannya di masa lalu. Orang-orang seperti ini biasanya bangga dengan keberhasilan di masa lalunya sehingga tidak bisa menghadapai realita yang terjadi di hadapannya sekarang.
Post power syndrome juga terjadi pada mereka yang dalam masa pensiun-nya menjadi lebih pasif, karena tidak lagi disibukkan dengan urusan pekerjaan. Hidupnya menjadi kurang bersemangat dan cepat bosan karena tidak ada rutinitas sebagaimana saat tubuhnya masih kuat.
Pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini?

Saya mengalaminya dulu dan sekarang. Dulu saya tinggal bersama keluarga di rumah Mbah. Mbah kakung adalah seorang pensiunan pegawai KUA kecamatan. Setelah masa pensiun, konon Mbah Kakung selalu disibukkan dengan aktivitas mengisi pengajian dari dusun ke dusun dengan berjalan kaki. Saat tidak ada jadwal pengajian, setiap hari Mbah pergi ke sawah/ladang. Ada saja yang dikerjakannya mulai dari mencangkul tanah, menanam sayur, singkong, dll.
Saat di rumah, beliau pun tak bisa ‘diam’. Ada saja yang dikerjakannya untuk menutupi waktu senggang. Terkadang bongkar-bongkar dipan kayu yang mulai lapuk, reparasi rak piring tua, membuat bakiak untuk dipakai sendiri, bahkan membuat alat-alat yang sekiranya bisa membantu perkerjaan di ladang (tapi lebih banyak gagal untuk bagian ini). Beliau juga selalu terlihat membaca buku atau Alqur’an di waktu-waktu tertentu seperti ba’da subuh, ba’da maghrib dan isya.
Menurut bapak, aktivitas mbah kakung (terutama ke ladang dan bongkar-bongkar barang di rumah) sering menuai masalah dengan mbah putri. Mbah putri merasa terganggu dengan apa yang dilakukan mbah kakung karena barang-barang berserakan dan harus mengubah posisinya. Bagi mbah kakung, aktivitasnya itu adalah untuk mengatasi masa-masa sulit setelah pensiun. Untung masih bisa ke sawah, coba kalau tidak?
Dan sekarang, gejala post power syndrome mulai terlihat pada bapak mertua. Beliau memasuki masa pensiun sejak awal tahun 2017, menjelang bulan Ramadhan yang lalu.
Bukan mau ngerasani beliau, hanya sekadar mengambil contoh bahwa masa-masa pensiun memang menjadi masa rawan bagi orangtua. Yah, selain modal yang belum cukup, alasan ini juga yang membuat kami masih bertahan tinggal bersama orangtua. Mereka butuh teman dan kesibukan, paling tidak dengan ‘keramaian dan kehebohan’ yang disebabkan ulah cucu mereka tak benar-benar kesepian.
Setiap hari beliau berusaha mengerjakan apa saja yang bisa dilakukan. Nyapu-ngepel, ngajakin cucunya jalan pagi, bongkar-bongkar dipan, bersih-bersih gudang, ngecat rumah, bersihin kipas angin (yang karena saking rajinnya malah jadi cepat rusak *ups), dan segudang aktivitas lainnya. namun siang/sore hari beliau kebanyakan berdiam diri menonton TV/mendengarkan radio. Kenapa? Karena beliau tidak ada aktivitas lain.
Saat-saat diam itulah yang menjadi masalah, berakibat pada beliau yang memikirkan banyak hal yang seharusnya tak perlu dipikirkan. Terkadang mengenang masa lalu saat masih bekerja, atau memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan anak/cucu yang sebenarnya hal kecil.
Inilah yang membuat kami terkadang kasihan tetapi tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa support dan meyakinkan beliau bahwa kami baik-baik saja. untungnya di masa purnanya, beliau berubah menjadi lebih religius dan sangat rajin datang ke masjid. Semoga istiqomah, ya Mbah...
Tentunya kita tidak ingin masa tua kelak (jika masih diberi umur sampai tua) akan berakhir menderita disebabkan post power syndrome, bukan? Karenanya kita perlu menyiapkan masa-masa itu dari sekarang.
Bagaimana menyiapkannya? Dengan membiasakan aktivitas-aktivitas yang akan menyibukkan kita di masa tua nanti. Yuk, kita ulas satu persatu.



1. Membaca dan Menulis
Dua aktivitas ini sangat ajaib dan efektif untuk mengasah otak agar terus bekerja dan tidak buntu. Membaca Alqur’an, Membaca buku, koran dll bisa kita lakukan setiap hari di masa tua. Sekarang, yang perlu dilakukan adalah membiasakan diri membaca dan menulis, juga mengumpulkan buku sedikit demi sedikit agar kelak memiliki perpustakaan pribadi.
Teman-teman pernah kan mendengar penelitian bahwa membaca dan menulis bisa mengurangi resiko penyakit alzheimer alias pikun? Yup! Jadi kudu disiapkan dari sekarang, jangan sampai sudah pikun baru mau memulai membaca.
Di luar negeri, semua orang sangat biasa beraktivitas di perpustakaan. Namun di Indonesia, jarang sekali oma-opa yang mau menyambangi tempat ini. mungkin kita kelak yang akan membiasakannya? Duh, kelamaan dong ya. Hehehe


2. Berkebun
Aktivitas berkebun bisa mengurangi stress dan membuat bahagia. Iya loh, membuat taman yang indah dan memandangi tanaman hijau serta bunga warna-warni akan membuat hati nyaman dan segar. Belum lagi jika di taman ditambah dengan suara gemericik air, aneka macam ikan di kolam dan suara cicit burung. Makin sempurna jika suasana ini di tempat yang sejuk semacam kota kelahiran saya, Wonosobo. Oh, tentramnya... ((nahloh malah saya yang bermimpi. Hihi).
Berkebun aneka tanaman bisa juga memberi manfaat untuk sekeliling, misalnya menanam tanaman Toga atau apa saja yang berguna. Daun pandan, daun jeruk, serai, kunyit, jahe, kencur, daun kari, daun suji, dan banyak lagi bisa ditanam di halaman sempit maupun di kebun yang tentunya bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Mencoba metode menanam hidroponik untuk sayur, tabulampot, budidaya anggrek, dll pasti akan menyenangkan.
3. Membiasakan Berolah Raga
Membiasakan berolah raga dan gaya hidup sehat akan sangat bermanfaat untuk hidup di hari tua. Masa-masa pensiun biasanya identik dengan datangnya berbagai penyakit. Untuk itu jika sudah membiasakan berolah raga dan gaya hidup sehat, masa tua akan lebih mudah dihadapi karena tubuh masih fit dan jauh dari penyakit.
Berolah raga ringan juga bisa menjadi aktivitas menyenangkan di pagi hari. Jogging atau bersepeda bersama pasangan, ikut klub jantung sehat, bersepeda keliling komplek, atau sekadar jalan kaki ke pasar terdekat bersama pasangan adalah moment menyenagkan untuk menghabiskan masa tua.
4. Mempunyai Usaha Ringan
Merintis usaha sebelum masa pensiun juga sangat berguna agar setelah pensiun bisa beraktivitas dengan usaha tersebut. Misalnya memiliki toko buku, usaha fotocopy, toko pakaian, atau usaha di rumah lainnya yang tidak menyita banyak energi tapi cukup sebagai pengalih perhatian dan pembunuh waktu agar tidak ngelangut sepanjang hari. Usaha ringan juga bisa sebagai sumber penghasilan setelah tak lagi menerima gaji.

Mengembangkan hobi dan skill di masa tua untuk mencegah post power syndrome

5. Mengembangkan Hobi dan Skill
Selain kegiatan yang sudah disebutkan di atas, mengembangkan hobi dan skill adalah cara efektif terhindar dari post power syndrome. So, dari sekarang pahami betul apa kesukaan dan skill kalian ya Temans, lalu tekuni untuk bekal di hari tua nanti. Hihi.
Btw ngapain sih, bahas masa tua? Pan kita masih muda harusnya mikir aja gimana biar awet muda. Iya sih, berjiwa dan bersemangat muda itu harus. Tapi kan berusaha jangan sampai masa tua kelak menjadi beban buat anak dan keluarga. Setuju?
Semoga bermanfaat,
Salam,

8 comments:

  1. Eh, iya, masa ini juga pernah terjadi pada alm bapakku..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga beliau dilapangkan kuburnya.. aamiin..

      Delete
  2. Terima kasih banyak infonya Mbak. Logikanya memang setelah berhenti bekerja, harus menyiapkan aktfitas lain, supaya otak dan badan tetap bekerja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, beraktivitas dengan apa yang disukai :)

      Delete
  3. Bacaan menginspirasi, makasih Mb Arina. Bisa dishare ke orang-orang terdekat yang hampir purnatugas. Buat diri kita juga bisa jadi investasi pengetahuan dan kegiatan sebelum masa itu datang. Siapkan sejak dini dan semoga bisa melewati masa-masanya dengan tetap bermanfaat buat orang lain atau minimal tidak jadi beban yang merepotkan. Biasakan membaca dan berolahraga yu dari sekarang.
    Be smart, be healthy.
    Mensana In Corpore Sano ��

    ReplyDelete
  4. Jadi ingat cerita suami, mb. Ada kawannya udah pensiun. Ada usaha yang dirintis sebelum pensiun. Secara materi lebih dari cukup lah. Nah, setelah pensiun itu beliau merasa sering nyeri dada. Periksa ke dokter didiagnosa stress. Atas saran dokter disuruh beraktifitas kantor lagi. Akhirnya beliau kerja lagi. Eh sembuh loh

    Dan disitu, aku sadar ternyata orang yang pernah bekerja sebagai pegawai kantoran. Rasa kehilangan setelah pensiun itu ya aktivitas kerja itu. Buat mereka, bekerja itu menyenangkan. Bentuk aktualisasi diri tentunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bisa ketemu solusinya ya Mba..

      memang berat sih, ngalamin dari yg biasanya mobile trus harus stay di rumah aja berat apalagi bagi yg sudah bertahun2 bekerja. ikatan batinnya sudah sangat kuat

      Delete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam