Wednesday, 27 September 2017

Laritza Donat & Macarons, Produk Rumahan Bercita Rasa Tinggi



Assalamu’alaikum, Temans. Siapa suka makan kue bulat bolong tengahnya alias donat? Hampir tiap orang nggak bisa berpaling dari penganan manis ini. Bentuknya yang menarik dan tampilannya yang beraneka warna semakin menggoda lidah untuk segera menyantapnya.
Saya nih, termasuk salah satu pecinta makanan manis meskipun kalau kebanyakan juga blenger jadinya. Ehm, bukan hanya makanan manis sih, lebih tepatnya doyan makan *ups. Karena suka donat, saya sering membuat sendiri dan penasaran dengan donat yang enak banget tapi saya belum berhasil juga membuatnya. Iya, saya lebih sering membuat donat ekonomis terutama saat hati sedang nggak karuan. Kalau sedang galau dan bermacam cara belum mempan ngobatin, mukul-mukul adonan donat cukup bisa meredam panasnya hati *halah.
Berbeda dengan saya, ada seorang dokter yang berhasil membuat donat rumahan yang rasanya tak kalah dengan merk ternama. Itu lho, merk yang kalau pas ngasih diskonan antrian pelanggannya bisa sampai mengular panjang.
Bersyukur banget sewaktu di lingkungan RW tempat tinggal saya ibu-ibunya bersemangat untuk membentuk KUBE (Kelompok Usaha Bersama) dan berlatih berbagai macam keterampilan. Salah sau agenda rutin bulanan adalah sharing dari pengusaha yang sudah berhasil. Waktu itu kami mengundang owner Laritza Donat & Macarons, dr. Eko Setyowati untuk berbagi pengalaman dan memberikan suntikan semangat untuk kami yang masih sangat pemula.
Ibu tiga anak yang berprofesi sebagai dokter ini mengaku mengawali usahanya karena hobi dan jenuh di rumah. Saat sedang tidak ada jadwal praktik di klinik tempatnya mengabdi, beliau menganggur sedangkan di rumahnya sudah ada asisten rumah tangga (ART) yang meng-handle pekerjaan rumah. Beliau pun mengutarakan keinginannya kepada suami. Suaminya yang juga seorang dokter menyetujui dan mereka pun berkolaborasi untuk membuat resep donat yang enak dan tahan beberapa hari. Beliau memilih donat karena suka makan donat dan hobi mencoba berbagai resep.

Toko yang dirintis sejak Maret 2016
di Parang Kembang Raya Tlogosari

Oktober 2015 beliau mulai menerima pesanan, promo hanya dari mulut ke mulut. Proses pembuatan donat masih dilakukan manual dan mengandalkan sinar matahari untuk mengembangkan adonan. Berkali-kali beliau mengalami kegagalan. Tak hanya sekali-dua kali mendapat komplain dari pelanggan mulai dari pesanan yang terlambat, rasa yang tidak sesuai, juga pembatalan sepihak yang beliau lakukan karena ternyata adonan donatnya tidak bisa mengembang dan waktunya tak cukup lagi untuk membuat adonan baru.
Berbagai pengalaman pahit itu tak membuatnya patah arang, justru makin bersemangat untuk menciptakan resep baru khas Laritza dan sesuai dengan yang beliau inginkan.
“Saya ingin sekali bisa membuat donat seperti JC*, yang empuk dengan topping bermacam-macam dan sampai sekitar 3 hari pun teksturnya tak berubah menjadi keras, tapi tetap menjaga tidak menggunakan pengawet,” ujar beliau di hadapan ibu-ibu anggota KUBE yang antusias.
Tak berapa lama, tepatnya pada April 2016 beliau membuat gebrakan dengan membuka toko yang diberi nama Laritza. Laritza diambil dari nama kedua anaknya, Sahla dan Maritza. Memiliki gerai sendiri adalah bukti komitmennya terhadap usaha yang telah dirintis bersama suaminya.
Lambat laun beliau mulai menambah peralatan yang sebagian merupakan modifikasi dengan memesan ke pengrajin, seperti mixer berkapasitas besar yang beliau pesan dari pengrajin aluminium di sekitar Barito, Semarang. Hal ini semata-mata dilakukan agar bisa menekan biaya operasional sekaligus memiliki alat yang awet dan tehan banting. Setelah memiliki alat yang memadai mulai dari mixer, pengembang adonan, sampai oven dengan kapasitas besar, produksi donat beliau semakin meningkat.
Kurang lebih setahun akhirnya beliau menemukan resep yang fix, setelah mencoba berbagai cara dengan mengkombinasikan aneka bahan dan proses pembuatan. Resep inilah yang kemudian dipakai seterusnya untuk produksi donat Laritza. Dengan bantuan alat, kini beliau bisa membuat donat yang sama enaknya, tak tergantung lagi dengan cuaca dan kondisi badan.
Anggota KUBE Lazata berfoto bersama dr. EKo 

Anggota KUBE pun pernah berkesempatan datang ke workshop alias dapur Laritza di kediaman dr.Eko.  kami disambut dengan ramah oleh tuan rumah dan berkesempatan mencoba resep beliau. Waktu itu kami belajar membuat donat dan roti manis. Hm... menyenangkan sekali, dan ternyata buat pemula sekadar membentuk bulatan untuk roti manis pun belum bisa serapi dr.Eko dan asistennya.
Dari sini kami juga paham bahwa salah satu ciri donat yang berkualitas baik adalah ada tanda cincin di tengahnya. Tanda cincin ini muncul karena proses penggorengan yang hanya sekali balik. Jadi, adonan donat yang sudah siap dimasukkan ke dalam wajan dengan minyak yang panas, beberapa detik lalu balik, tunggu lagi beberapa detik dan angkat. Praktis menggorengnya harus satu persatu supaya tidak gosong dan tidak merusak tampilan.

Donat yang oke itu, yang ada tanda cincinnya
Setelah puas melihat proses pembuatan donat dan roti manis, kami juga mencicipi langsung dan masih dibekali untuk dibawa pulang. Waduh, jadi enak deh.. donatnya memang lembut banget. Oia, kami juga belajar membubuhkan topping donat. Begini pun butuh ilmu dan ketelatenan lho, terbukti donat yang kami kreasikan kebanyakan belepotan karena tangan yang belum terampil. Nggak apa sih, rasanya tetap sama dengan yang ada di toko Laritza.
Nah, ceritanya kemarin bumil pengen banget makan donat Laritza. Sebelumnya memang belum pernah beli langsung ke tokonya, terakhir makan ya waktu dibawain donat setelah ke workshop-nya itu. Duh, kebayang-bayang terus empuk-manis-lumernya donat Laritza. Nggak ngidam sih, cuma pengen aja. Hehehe.
Sudah nahan diri buat nggak kepengin makan yang manis-manis dan banyak karbo, tapi akhirnya ke Laritza juga. Tak apalah, sekalian buat latihan foto produk lagi karena sudah lama malas gelar properti foto. Makan dikit boleh kan? *ngeles.

Rasa Matcha yang menggoda
Sampai di Toko yang masih di wilayah Tlogosari itu, sedang ada beberapa pelanggan yang antre. Saya gunakan kesempatan ini untuk berfoto-foto seperti biasa. Nggak! nggak narsis ko! foto sekitar toko, bukan foto selfie.
Untuk donatnya, harga per box isi 10 Rp. 35.000. Kita juga bisa juga beli satuan dengan harga @Rp. 4.000. Awalnya saya pengen beli beberapa aja tapi karena tergoda dengan semua varian topping cokelat dan taburannya jadi beli se-box deh. Topping-nya semua terbuat dari cokelat, ada rasa cokelat, teh hijau/greentea/matcha, strawberry, vanilla, cappucino, Mango, dan Tiramisu. Pilihan taburannya ada Oreo, Gula Halus, Meses, Sprinkle butir, Chocochip, Sprinkle live dan kacang tanah. Hm... yummy semua kan? Bingung memilih, saya pun minta semua rasa diacak supaya bisa merasakan kesemuanya.
Sampai rumah, sebelum dimakan tentunya difoto dulu. Wkwkwkw. Banci foto banget yak! Nggak sih, Cuma lagi belajar foto produk aja. Sayang banget kalau ada makanan cantik warna-warni nggak dimanfaatin buat foto-foto. Dan begitu sesi foto selesai, si kecil langsung menyerbu kotak donatnya lalu nyomot dan nyomot lagi. Duh, dia makan 4 biji, Temans! Emaknya gigit jari karena ingin makan semuanya tapi takut kebanyakan asupan gula. Hiks.
Saya paling suka yang cokelat, tiramisu, dan mango. Hm... toppingnya manis banget, jadi cocok buat teman minum kopi hitam pahit atau teh pahit. Duhduh, mendadak pengen ngopi ditemani Laritza lagi, nih! Teman-teman ada yang suka ngopi sambil nyemilin donat juga?

Segigit, mana cukup?
Trus, nama Tokonya kan Laritza Donat & Macarons, jadi disini juga jual kue manis dengan warna-warni menggoda itu. Kue yang terbuat dari tepung almond itu konon awalnya berasal dari Italia namun lebih populer di Prancis.
Asli saya belum pernah merasakan macarons (bukan macaroon, yes! Itu kue yang terbuat dari bahan berbeda), makanya kemarin ingin beli juga beberapa. Tapi rupanya  sedang kosong karena Mr. Koki-nya baru sakit dan masih dalam masa pemulihan. Semoga lekas sembuh dan produksi lagi sehingga pelanggan Laritza Macarons bisa menikmatinya. Aamiin...
Ssttt! ini cocok juga buat oleh-oleh atau bingkisan lho..!
“Jangan ada kata malu, pesimis, su’udzon. Selalu berpikir positif bahwa apapun usaha yang kita geluti pasti akan ada jalannya,” imbuh dr.Eko yang kini sibuk melayani orderan hingga 500 box donat tiap bulannya.  
Tak lupa, beliau pun mengingatkan untuk berhati-hati dengan modal usaha yang digunakan. Sebisa mungkin berusaha untuk menghindari riba meskipun kita tak bisa lepas dari lingkaran setan yang satu itu.
Sukses dan berkah selalu untuk dr.Eko dan suami dengan Laritza Donat & macarons-nya. Semoga perjuangan di balik manis-empuk-meler-nya donat yang dijual menjadi inspirasi untuk banyak orang.
Semoga bermanfaat,
Salam,

6 comments:

  1. emmhh mantab, saya suka donat, apa lagi istri Bund, suka banget, tapi ada hal yang tidak bisa dimakan dari donat.

    ReplyDelete
  2. Waah pengen ngincipiii, bisa lewat go food ngga yah?

    ReplyDelete
  3. Jgan kebanyakan mbak, ntar melar hhhe

    ReplyDelete
  4. Mbaakk, aku pengen nyobain. Aku cari di go food kok gak ada daftar menunya yah :(

    ReplyDelete
  5. Im one of doughnut loverssss nih mbaa. Postingannya sukses bikin ngiler deh. Btw suka pesan tearkhirnya untuk menghindari riba. Yesss kecil sih tp itu poin yg utama untuk para pebisnis ya

    ReplyDelete
  6. Haduehhh ngiler, kok donatnya menul menulll

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam