Sunday, 20 August 2017

Tergoda Nila Goreng Kriuk Warung Ayam Bakar Wong Solo Cabang Semarang


Assalamu’alaikum, Temans,
Ahad ini hectic sekali buat saya. Pagi tadi saya berencana mengikuti workshop SEO for blogging and Online Marketing yang diadakan oleh komunitas RELI (Relawan Literasi) Jateng. Sudah siap mau berangkat, si Kecil yang biasanya manis kalau mau ditinggal-tinggal ternyata malah ngambek dan nggak mau lepas dari emaknya. Akhirnya bisa berangkat setelah dirayu kakeknya dengan jalan-jalan keliling naik motor. Fyuuh...
Rencananya sih ingin segera sharing tentang workshop tadi pagi, tapi saya pusing....! bingung mau mulai dari mana karena banyak bahasa teknis dan lagi tadi saya banyak ngantuknya *tepokjidat* gimana sih, katanya pengen belajar SEO malah pas workshop ngantuk. Hiks. Apalagi sore tadi sepulang dari sana malah si Kecil ngaduk-aduk tas, ngolesin body butter ke handphone dan mouse. Nasib baik HP-nya nggak kenapa-napa tapi mouse yang baru 2 hari dipakai dan dibeli dengan perjuangan ternyata mati. Hiks. *emakcurhatlagi*

Saya cerita yang ringan dulu ya, nggak ada sangkut pautnya sama workshop, eh masih ada ding, yakni menu makan siangnya yang pesan di Ayam Bakar Wong Solo Cabang Semarang. Wkwkwkwk. Maafkan bumil yang makin sering bahas makanan yes! Bukan nggragas, tapi selain ngopi memang mencoba makanan baru itu bikin bumil bahagia *modus*
Menu makan siang di workshop adalah salah satu menu paket nasi kotak dari Ayam Bakar/Penyet Wong Solo. Kalau mendengar nama warung Ayam Bakar Wong Solo, ingatan saya melayang ke tahun-tahun pertama kali saya mendengar namanya. Waktu itu masih mahasiswa dan pernah membaca profil ownernya di majalah/koran.
Salut dengan perjuangan beliau membangun Ayam Bakar Wong Solo dan mengusung konsep ‘halalan thayyiban’ sementara masyarakat waktu itu belum begitu peduli dengan sertifikat halal pada rumah makan/restoran. Wong sertifikat halal pada produk-produk makanan saja belum gencar dilihat dan diproses oleh perusahaannya, apalagi makanan yang fresh, hehe.
Saat masih mahasiswa sih malah jarang sekali mencoba makan Ayam Bakar Wong Solo, bisanya makan saat dapat gratisan *eh* tetapi sering memesan untuk pembicara/pemateri saat mengadakan acara organisasi kampus. Harganya terjangkau, paketnya komplit dari nasi, ayam, sayur dan lauk tambahan, plus yang paling penting bisa dapat free delivery order meskipun pesan hanya beberapa. Maklum, saya nggak bisa naik motor tapi sering jadi PJ konsumsi waktu itu.
Setelah tidak lagi berkecimpung di dunia organisasi kampus, praktis saya tidak pernah lagi memesan Ayam Bakar Wong Solo ataupun makan di restorannya. Lebih-lebih melihat tempat yang dulu biasa saya pesan telah berganti brand restoran lain. Hm... jangan-jangan collaps? Batinku waktu itu.
Rupanya sekarang (nggak paham sejak tahun berapa, kalau tidak salah sekitar 2 tahun lalu) bermunculan lagi Ayam Bakar Wong Solo sekaligus branding baru Penyet Wong Solo. Hm... keren juga sih sampai sekarang jaringan Wong Solo masih bertahan dan bersaing di tengah tingginya persaingan bisnis kuliner. Tapi, lagi-lagi saya belum kesampaian datang ke restorannya langsung.
Siang tadi, saat makan siang panitia memesankan paket nasi kotak Ayam Bakar Wong Solo. Sebagian dengan lauk ikan nila goreng dan sebagian lagi ayam goreng. Saya pilih Nila gorengnya karena memang belum pernah nyoba. Dan wow! Isinya seekor Nila yang cukup besar (standar porsi makan untuk 1 -2 orang sih) yang masih panas. Ikan nila-nya digoreng kering dan sepertinya dicemplungin ke tepung dulu tapi hanya tipis-tipis. Bagian ikan yang lembek seperti daerah perut sangat garing, kriuk-kriuk tapi bagian dagingnya masih empuk, masih terasa lembut. Hm... yummy banget! Sebenarnya ikan-nya nggak berasa asin sampai ke daging, tapi begitu dicocolin sambal rasanya jadi endeus, apalagi sambalnya tidak terasa pedas di lidah saya. Maklum, perut sedang sering protes jika saya makan yang terlalu pedas.

Menu Paket Nila, sumber instagram Ayam Bakar Wong Solo
Selain Ikan Nila, ada sepotong tahu dan tempe goreng yang juga digoreng krispi dengan sedikit tepung, sambal goreng terong, bihun goreng dan sayur trancam. Oia, tambah sambal yang tidak terlalu pedas juga. Hm... bumil makan besar hari ini. biasanya kan kalau makan banyak nggak habis ada suami yang siap ngabisin. Kali ini berusaha menghabiskan sendiri meskipun jadinya paling akhir selesai makannya.
Alhamdulillah... kenyang dan nikmat sekali makan siang tadi. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
Nah, kenapa sampai sekarang saya masih terbayang kriuk-nya ikan Nila goreng dicocol sambal, coba?! Padahal masih terasa kenyang nih. Semoga lain kali bisa mampir ke Ayam Bakar Wong Solo dan makan di sana, mencoba menu makanan lain dan minuman yang tak kalah menggoda.
Oia, hasil inti-intip instagram, harga paket Nila  harganya Rp. 22.500/porsi. Isinya ada Nasi, Sayur Urap/trancam, Balado Terong, Tahu & Tempe, Sambal Bawang (kalau tadi ada tambahan bihun goreng tapi tidak ada potongan timun).
Yang ngiler, monggo langsung ke warungnya saja, atau telpon karena mereka punya layanan free delivery. Ayam Bakar Wong Solo sudah tersebar di berbagai kota di Indonesia, di Papua pun ada cabangnya lho! Juga di Kuala Lumpur dan Singapura. Bukan iklan apalagi endorsement, Cuma review ala-ala saja. #ODOP #BloggerMuslimahIndoesia

Ayam Bakar Wong Solo Cabang Semarang
Jl. Simongan No 54 Semarang
Telp 024 – 7663249 / HP 082273684943

6 comments:

  1. Di Kalsel ini Ayam Bakar Wong Solo banyak banget dan gampang ditemukan mbak, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang Dek Lulu pindah kalsel tha?

      iya, memang cabangnya ada dimana-mana ya

      Delete
  2. Banyak juga ya cabangnya. Gue paling suka ayam bakarnya. Terlebih deket sama rumah.

    ReplyDelete
  3. Sederhana namun sedap dipndang dan rsanya yg mengedepankan halal nilai plusny

    ReplyDelete

Terimakasih Telah membaca dan memberikan komentar di blog ini.

Mohon tidak menyematkan link hidup dan spam lainnya :)

Salam